Tampilkan postingan dengan label ABNS HIDAYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABNS HIDAYAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Januari 2016

Lucy Bushill-Matthews, Menemukan Damai dalam Islam


Menjadi mualaf di negara mayoritas non-Muslim, dibutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra untuk menghadapi setiap tantangan. Bila tak kuat, bukan tak mungkin, Islam hanya akan menjadi olok-olokan dan cemoohan banyak orang.

Namun, bila berhasil menaklukkan tantangan itu, cahaya Islam akan senantiasa menyinari setiap sanubari manusia.

Situasi seperti inilah yang dialami Lucy Bushill-Matthews, perempuan asli Inggris yang telah menjadi Muslimah selama 21 tahun. Perkenalan Lucy dengan Islam terbilang sangat sederhana. Dalam buku memoarnya yang berjudul “Welcome to Islam”, ibu dari tiga orang anak ini menuturkan kisah perjalanan hidupnya dalam menemukan Islam.

Saat itu, usianya baru menginjak 16 tahun. Oleh kedua orang tuanya yang asli Inggris, ia dimasukkan ke sekolah berasrama (boarding school) tradisional Inggris.

Sebelumnya, Lucy selalu menempuh pendidikan di sekolah khusus perempuan yang siswanya beragama Kristen. Di sekolah baru ini siswanya campur, laki-laki dan perempuan.

Saat mengenyam pendidikan di sekolah barunya inilah, Lucy berkenalan dengan Julian, seorang pemuda Muslim berdarah campuran Inggris-Iran. Secara fisik, sosok Julian tak ada bedanya dengan pemuda Inggris lainnya.

Namun, perilaku dan kebiasaan Julian, membuat Lucy tertarik. Julian tidak pernah minum minuman yang mengandung alkohol. Bahkan, segelas anggur pun tak akan disentuhnya. Kebiasaan ini tentu saja berbeda dan terlihat aneh dengan kebiasaan remaja Inggris, yang senantiasa menghabiskan akhir pekan dengan minuman keras dan mabuk-mabukan.

Perilaku Julian yang dianggapnya 'tidak wajar' ini membuat Lucy ingin mengetahui lebih jauh tentang sikapnya. Maka itu, pertemanannya dengan Julian, ia manfaatkan untuk bertanya tentang sikapnya dan Islam. Dari penjelasan-penjelasan yang diberikan Julian, membuat Lucy makin tertarik dengan ajaran yang dianut Julian

Perlahan-lahan, Lucy mempelajari Islam dari berbagai buku dan orang Muslim di Inggris. Di waktu luang, Lucy mulai berani berkunjung ke sebuah masjid dekat Regent's Park, London.

Penjaga masjid mengajaknya berkeliling masjid. Di akhir kunjungan, dia diberi buku berjudul “What Everyone Should Know about Islam and Muslims”. Buku tersebut menurut Lucy, bisa menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini berkecamuk di hatinya.

''Sebelum meninggalkan masjid, sekilas aku melihat tempat shalat di dalam masjid. Tidak ada furniturnya, hanya ada karpet dari tembok ke tembok dan beberapa orang tampak sedang membaca doa dalam hati. Kulihat mereka tenang dan penuh pengharapan memanjatkan doa,'' papar Lucy mengenang pengalaman pertamanya mengunjungi masjid.

Ketertarikannya untuk mengenal tentang Islam lebih jauh semakin kuat, manakala ia dan seorang temannya mendapat undangan makan malam dari sebuah keluarga Muslim berkebangsaan Israel. Saat itu, Lucy tengah mengikuti program kerja remaja Inggris pada sebuah komunitas Yahudi (kibbutz) di bagian utara Galilee di Israel.

Keluarga Muslim yang mengundangnya makan malam, jelas Lucy, adalah sebuah keluarga sederhana bahkan bisa dibilang memiliki kehidupan yang tergolong miskin.

''Mereka hanya punya dua ekor ayam di pekarangan mereka. Dan mereka memotong satu ayam itu untuk kami. Kami menyantap hidangan yang sangat lezat dan tidak memberi mereka apa pun,'' ujarnya.

Sekembalinya ke Inggris, ketertarikan Lucy terhadap Islam semakin kuat. Untuk menambah keyakinannya tentang Islam, Lucy memutuskan untuk bergabung dengan perkumpulan mahasiswa Muslim di lingkungan kampusnya, Universitas Cambridge. Padahal saat itu, ia belum memeluk Islam.

Lucy pun semakin giat mempelajari Islam dari berbagai buku bacaan, yang banyak mengulas ajaran Islam dan komunitas Muslim. Salah satu buku yang dibacanya adalah “Islam: Beliefs and Teachings” karya Sarwar G.

''Ibadah Muslim mulai sedikit masuk akal bagiku begitu aku tahu artinya dalam bahasa Inggris. Ikrar keimanan harus diucapkan berulang kali, setiap shalat lima waktu. Berpuasa satu bulan dalam setahun. Menyumbangkan hartanya sekali setiap tahun, dan mengunjungi Makkah sekali seumur hidup. Muslim boleh beribadah lebih dari semua itu, tetapi tak boleh mengurangi kewajiban pokok itu,'' papar Lucy mengenang perkenalannya dengan ajaran Islam.


Menjadi Muslimah

Puncak dicinta ulam pun tiba. Bila hati sudah semakin mantap, apa pun tak akan mungkin melepaskannya. Begitulah kata pepatah. Ungkapan ini layak disematkan pada Lucy.

Suatu malam di bulan November 1991, Lucy tak bisa tidur nyenyak. Dia merasa gelisah. Kegelisahannya karena memikirkan tentang Tuhan. Berkali-kali ia membolak-balikkan badan dan berusaha memejamkan mata, tetap saja ia tak bisa tidur. Seakan-akan ada yang mengawasinya.

''Aku terjaga semalaman dengan pikiran berkecamuk tak henti-hentinya dalam kepalaku. Aku percaya pada Tuhan. Tuhan yang Serbatahu dan Mahakuat. Jika Tuhan Mahakuat, Dia pasti ada di mana-mana, dan itu berarti Tuhan juga bersamaku, saat ini. Jadi, Tuhan bisa melihatku dan Tuhan bisa melihat pikiran terdalamku. Itu benar-benar kabar buruk,'' ujarnya menceritakan pengalaman yang terjadi di awal semester tahun keduanya di Cambridge.

Kegelisahannya itu membawanya untuk semakin dalam mempelajari Islam. Dan akhirnya, saat kemantapan hati itu semakin kuat, Lucy pun berikrar untuk menjadi seorang Muslim. Walau belum resmi, ia pelan-pelan mempelajari shalat.

Setelah benar-benar yakin, ia pun mengumumkan jati diri keislamannya seminggu kemudian. Bertempat di kamar asrama dan disaksikan sejumlah rekan-rekan sekampus, Lucy mengucapkan dua kalimat syahadat. ''Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah rasul Allah.''

Kabar keislamannya pun segera menyebar ke segenap kampus. Teman-temannya yang non-Muslim pun semakin banyak yang mengetahuinya. Maka, saat itu, Lucy resmi menyandang status Muslimah.

Orang tuanya baru mengetahui kabar keislamannya, ketika Lucy menyampaikan kepada mereka di saat liburan semester. Beruntung Lucy memiliki keluarga yang egaliter dan demokratis. Sang kakak, Julie, memberinya dukungan dan bersikap positif dengan keputusan Lucy menjadi Muslim

Sementara itu, ayahnya berpikir bahwa apa yang terjadi pada Lucy hanyalah sebuah fase dalam kehidupan putrinya. Hanya sang ibu yang sempat kaget mengetahui anaknya memilih menjadi Muslimah. ''Bagaimana mungkin anaknya menjadi Muslimah?'' Mungkin begitulah bayangan yang ada dalam pikiran ibunya saat itu.

Lucy nyaris bimbang. Di satu sisi, ia tidak ingin menyakiti dan menghancurkan hati ibunya. Apalagi, di Alquran dalam Surah Al-Ahqaf ayat 15 disebutkan bahwa manusia hendaknya senantiasa berbuat baik kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya selama sembilan bulan, dan melahirkannya dengan susah payah.

Namun, apa hendak dikata, Lucy tetap mantap memilih Islam sebagai agama barunya. Dan, ia tetap menjalin hubungan baik dengan kedua orang tuanya, termasuk ibu yang sangat dicintainya.

Baginya, ibu adalah orang yang wajib dikasihi. Namun, ia juga sudah jatuh cinta dengan Islam. Dan Islam mengajarkan untuk senantiasa mengajarkan pemeluknya menghormati kedua orang tua, kendati mereka berbeda agama.


Hari-hari yang Penuh Tantangan
Sebagai mualaf, Lucy sangat serius menekuni ajaran Islam. Dia belajar shalat, mengenakan kerudung (jilbab), dan meninggalkan semua hal yang tidak diperbolehkan (dilarang) dalam ajaran Islam.

Seperti, tidak mengonsumsi daging babi, minuman beralkohol, dan menghindarkan diri berduaan dengan yang bukan muhrimnya.

Kebiasaan yang tak umum ini, awalnya sangat sulit ia lakukan. Pasalnya, hal itu sudah merupakan kebiasaan sehari-hari.

Bahkan, menurut adat istiadat dan budaya Barat, kebiasaan mengonsumsi minuman keras dan makan daging babi adalah sesuatu yang biasa saja. Lucy pun harus berhadapan dengan kebiasaan yang tak lazim ini di tengah kehidupannya sehari-hari.

Seperti, ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Julian, di usianya yang masih terbilang muda, 19 tahun. Sebagaimana layaknya setiap pesta dalam kultur Barat yang wajib ada alkohol, tapi kini harus dihindari. Begitu juga, dengan makanan yang tersedia hanya yang terbuat dari bahan-bahan yang halal.

(Republika/STI)

Cassiano: Saat Melihat Kabah, Saya Menangis Sepanjang Menunaikan Shalat


Saya pernah berkata, "Ya Tuhan, keluarkanlah saya dari negara ini atau saya akan mati".

Saya di lahirkan di Brazil, disebuah tempat bernama Petrolina.

Saya tidak pernah faham mengapa orang menganut agama.Karena bagi saya agama seperti sebuah fiksi.

Saya mula menjauhkan diri dari gereja, dan saya mula pergi ke arah yang bertentangan.

Saya tidak percaya pada apa pun. Semuanya kelihatan seolah-olah seperti gurauan. Saya benar-benar menjadi bertentangan. Saya tidak percaya dengan agama. Dan waktu-waktu tersebut amat sulit, saya seperti di luar diri saya seperti kata Martin Luther King, seperti kehilangan, 100 persen hilang.

Bulan Februari, saya bermain gitar di karnaval Rio de Janeiro. Waktu itu bukanlah hari yang baik buat saya. Saya sedang berada dalam kesedihan dikarenakan berbagai masalah yang saya hadapi. Saya sedang berada di jalanan dan saya ingin pulang ke rumah. Saya berada dalam keadaan mabuk dengan gitar saya dan saya katakan bahwa saya ingin pulang ke rumah. Berjalan di jalan ke arah rumah, semua orang mabuk dan semuanya kelihatan seperti bayang-bayang pada ketika itu. Itu merupakan sebuah malam yang aneh sekali.

Pada ketika itu saya merasa sangat sedih. Saya mandi pada malam tersebut. Saya masuk ke kamar saya dan melakukan sujud tanpa mengetahui apa itu sujud. Saya hanya melakukannya dan menangis. Saya berkata "Ya Tuhan, keluarkanlah saya dari negara ini atau saya akan mati". Saya merasa sebak sekali saat mengatakannya dan ia merupakan momen yang kuat.

Sebulan selepas peristiwa ini saya berada di Dubai. Seorang teman mengundang saya ke Dubai. Sebelumnya, teman ini memberitahu saya berkaitan Dubai. Saya bertanya kepada teman perempuan saya, "Kini anda sudah berada di Dubai, apa itu Dubai?"

Dia menjawab, "Dubai terletak di Timur Tengah, di Teluk Persia."

Saya berkata, "Berhati-hatilah, mereka lagi berperang, dan mereka adalah Muslim. Berhati-hatilah dengan orang Islam. Mereka akan membunuh anda!"

Dia mula tertawa dan berkata, "Bukan, bukan demikian di sini." Dia menambahkan, "Saya juga seorang Muslim."

Saya berkata, "Wah, anda seorang Muslim?? Berhati-hatilah!"

Dia berkata, "Anda harus datang dan melihat sendiri jika benar seperti yang anda katakan."

Saya tidak membayar apa-apapun, seolah-olah Allah telah membawa saya keluar dari Brazil dan pergi ke Dubai.

Di Dubai

Selepas dua bulan tinggal di Dubai, saya memeluk agama Islam dan mengucapkan syahadah karena begitu nyata sekali bahwa saya berada di jalan yang salah, melakukan perkara yang salah dan Islam menjelaskannya. Begitu transparan sekali.

Adel seperti saudara saya. Dia merupakan teman terbaik saya di Dubai. Dia membantu saya dalam segala hal dan di setiap langkah. Kami banyak sekali berbincang. Alhamdulillah, dia merupakan rekan terbaik saya. Dia mengajar saya tentang Islam.

Perkara pertama yang saya tanyakan berkaitan Islam ialah "Adakah kita perlu shalat setiap hari?"

Dia berkata, "Ya".

Saya mengulangi pertanyaan saya, "Anda shalat setiap hari?!"

Dia menjawab "Ya, setiap hari".

Apa yang paling menarik bagi saya dalam Islam ialah wudhu.Karena kita mandi untuk banyak perkara dalam hidup. Kita mandi untuk pergi kerja. Kita mandi untuk bertemu teman. Kita juga mewangikan diri kita dan sebagainya. Tetapi kita tidak melakukan perkara ini ketika kita menemui Tuhan kita, kita tidak mandi untuk bertemu Tuhan, mengapa? Kita harus melakukannya. Jika anda ingin menemui raja, sudah pasti anda akan mewangikan diri anda. Oleh yang demikian, jika anda ingin menemui Tuhan, sudah tentu anda tidak akan menemui-Nya dengan keadaan diri yang kotor.

Saya merupakan anak tunggal dalam keluarga. Saya menemui saudara dalam Islam seperti hubungan saya dengan Adel. Ibu saya juga tidak pernah menemui Adel, tetapi dia berkata, "Cassiano, anda telah mempunyai seorang saudara, maka dia juga adalah anak saya.Kini dia saya anggap sebagai anak saya". Kami sungguh gembira dapat bertemu. Ia seperti sesuatu yang telah direncanakan. Allah telah merencanakan segalanya dan Dia punya rencana untuk menjalin hubungan antara manusia. Dia membawa saya keluar dari Brazil, dari Rio de Janeiro dan menempatkan saya di Dubai tanpa mengeluarkan sedirham uang sekalipun. Saya pulang ke Brazil dan kemudian kembali lagi ke Dubai tanpa mengeluarkan sedirham uang sekalipun. Allah pasti telah merencanakannya untuk saya. Saya lagi berusaha untuk memastikan bahwa semuanya berjalan menurut ketetapan-Nya.

Saya menunaikan shalat jamaah pada hari Jumat disebuah masjid besar di Sharjah. Masjid dipenuhi dengan ribuan orang, dan ketika saya selesai melafazkan syahadah, dan mereka tahu bahwa saya dari Brazil. Semua mengatakan seperti "Dia dari Brazil, dia main sepakbola." Saya kelihatan begitu gagah sekali. Semua datang mengucapkan tahniah kepada saya. Hampir dua jam saya berdiri menerima pelukan, ciuman dan ucapan tahniah dari mereka, malah ada yang menghadiahkan buku. Begitu mengharukan. Setiap orang seperti saudara saya. Saya anak tunggal, kini saya punya ramai saudara, Alhamdulillah, saya sungguh merasa bahagia.

Saya punya keluarga di Dubai. Keluarga Adel adalah seperti keluarga saya. Kini saya punya dua ibu, dua ayah dan mereka benar-benar melayani saya seperti anak mereka..

Secara jujur saya temui kedamaian di sini, yang tidak saya temui di sana. Rekan yang benar, saudara yang benar yang tidak saya miliki di Brazil. Saya punya teman sebelum ini yang menemani saya ke bar atau ke pesta, hanya untuk ini. Kini setelah memeluk agama Islam dan pulang ke Brazil, mereka berkata, "Cassiano tidak lagi minum. Dia telah menjadi seorang muslim. Jangan ajak dia." Mereka menjauhkan diri dari saya. Hal ini merupakan pilihan buat saya. Allah telah memilih yang terbaik untuk menjadi teman saya.

Kehidupan saya bermula ketika saya pergi ke Timur Tengah, Dubai. Saya tidak lagi bisa tinggal di satu tempat yang tidak punya masjid. Masjid telah menjadi sesuatu yang mempesonakan bagi saya. Ia merupakan suatu yang indah dan menakjubkan.

Perjalanan ke Madinah dan Mekah

Seorang teman bernama Syeikh Yahya menelepon saya dan berkata, "Cassiano, telepon nomor ini, mereka akan melakukan umrah". Saya pun menelepon, seorang bernama Ahmad menjawab dan berkata, "Mohon maaf karena rombongan kami telah lengkap 15 orang".

Saya berkata, "Benar demikian?"

Dia berkata, "Ya." Kemudian dia bertanyakepada saya, "Siapa nama anda?"

Saya berkata, "Saya Cassiano dan saya benar-benar ingin melakukan umrah. Ini merupakan sesuatu yang baru buat saya. Saya baru memeluk Islam kira-kira 3 tahun."

Dia menelepon saya pagi keesokan harinya dan berkata, "Ada seorang yang tidak dapat pergi. Oleh karenanya anda bisa mengantikan tempatnya."

Alhamdulillah, Allah memudahkan perjalanan saya. Alhamdullah, Allah lah yang memelihara saya. Saya benar-benar dapat merasakannya. Saya merasakan bahwa Allah lah yang menjaga kehidupan saya dan diri saya.

Kami tiba di Madinah. Hotel penginapan kami berdekatan dengan masjid Nabi Muhammad Saw. Kami merasa gembira karena dapat berdekatan dengan tempat mulia itu. Ia begitu baik sekali dan orang-orang di Madinah begitu ramah sekali. Mereka membuka salah satu pintu untuk kami supaya kami bisa melihat bagian dapat menyaksikan makam Nabi Muhammad Saw.

Polisi yang berdiri di sisi kubur memberitahu saya, "Marilah ke sini dan ucapkan Assalamualaikum ke atas Nabi". Sayapun melakukannya dan berdoa semoga Allah memberikan bimbingan buat ibu dan bapa dan semua orang, saya merasa lapang dan mulai menangis.

Selepas ini, kami tinggal tiga hari di Madinah dan mulai perjalanan menuju Mekah untuk bersalin pakaian Ihram. Ketika memasuki Haram dan melihat Ka'bah, yang kebetulan masuk waktu zuhur, semua berbaris untuk menunaikan shalat bersama. Saya melihat Ka'bah, saya mula menangis kembali dan menangis sepanjang menunaikan shalat. Saya tidak tahu. Yang terjadi seolah-olah seperti melakukan shalat lima waktu setiap hari ke arah tersebut dan saya berada di situ dan seperti tempat yang lama. Ia merupakan tempat yang istimewa. Ini merupakan semua perkara dalam Islam yang saya yakini, semuanya ada di sini. Bagi saya, ia merupakan sebuah tempat yang terbaik di muka bumi ini. Saya benar-benar gembira karena dapat berada di Madinah dan Mekah. Sungguh mempesonakan dan saya sungguh gembira.

Keimanan saya menyebabkan saya terus hidup, terus terjaga, dan memberikan saya harapan. Saya sungguh-sungguh mencintai Allah.

Kalau pada waktu lalu, banyak sekali perkara yang saya utamakan dalam hidup saya, tetapi kini Allah merupakan yang pertama dalam hidup saya.

(IRIB-Indonesia/onislam/STI)

KISAH KEISLAMAN PENDETA KRISTEN


Penulis buku Anis al-Islam adalah seorang pendeta Kristen. Pada bagian pertama buku itu, ia mengetengahkan kisah keislamannya dibawahjudul al-Mashiral-Mudhatharib (perjalanan yang Mencemaskan) sebagai berikut:

Penulis buku ini adalah seorang pendeta terkemuka dari keluarga pendeta, karena ayah dan kakeknya juga seorang pendeta. la lahir di dalam Gereja Armenia ". Dan belajar kepada pendeta-pendeta dan uskup-uskup Kristen terkemuka pada zamannya. Di antara mereka adalah Rabi Yohanes Bakir, Pendeta Yohanes John, dan Rabi Aj, serta pendeta-pendeta lain dari sekte Kristen Protestan. Sedangkan dari sekte Kristen Katolik adalah Rabi Talo, Pendeta Kurkuz dan lain-lain.

Pada usia 12 tahun, saya telah menyelesaikan pelajaran ilmu Taurat dan Injil serta ilmu-ilmu kekristenan yang lain. Dalam bidang keilmuan, saya telah mencapai tingkat kependetaan. Ketika hampir menyelesaikan tingkat ini, dan usia saya sudah lebih dari 12 tahun, saya ingin mempelajari akidah dan mazhab-mazhab Kristen. Setelah melakukan penelitian secara terus-menerus dan mendalam, melakukan usaha-usaha yang membosankan, dan berpetualang ke beberapa negara, pada suatu hari saya mendatangi salah seorang pendeta terkemuka,

bahkan seorang uskup yang memiliki kedudukan yang tinggi dalam dunia Kristen Katolik. Ketenarannya dalam keilmuan, kezuhudan, dan ketakwaan sudah tersebar di antara para pemeluk agamanya.

Orang-orang Kristen Katolik, baik yang jauh maupu yang dekat, seperti raja-raja, orang-orang terpandang dan rakyat jelata mengajukan pertanyaan-pertanyaa keagamaan mereka kepada uskup tersebut. Di samping mengajukan pertanyaan, mereka juga memberikan hadiah yang banyak dan berharga, baik berupa uang maupun berupa barang. Dengan cara itu, mereka menunjukkan keinginan mereka untuk mendapatkan berkah darinya. Mereka juga mengharapkan agar dia mau menerima hadiah-hadiah mereka.

Saya banyak belajar dari uskup tersebut tentang prinsip-prinsip dan akidah-akidah agama-agama serta mazhab­-mazhab Kristen dan berbagai macam masalah yang memerlukan penjelasan hukumnya. Murid beliau sangat banyak, dan saya termasuk di dalamnya. Setiap hari, ruang kuliahnya dihadiri oleh kurang lebih empat ribu sampai lima ribu orang. Kuliahnya diikuti pula oleh para biarawati yang membenci keduniaan, dan telah bernazar bahwa mereka tidak akan menikah dan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk Gereja. Dan di antara mereka yang tinggal di Gereja jumlahnya sangat banyak.

Di antara pengalaman yang menarik buat saya dari perkuliahan itu adalah perhatian para siswanya yang luar biasa kepada saya. Perhatian itu ditunjukan dengan sikap kepercayaan mereka kepada saya sehingga kunci-kunci rumah, lemari makanan dan lemari minuman tanpa ada yang di kecualikan selain kunci sebuah ruangan kecil di dalam gudang rumahnya diserahkan kepada saya. Saya mengira bahwa ruang itu adalah gudang penyimpanan harta milik sang uskup. Oleh karena itu,saya berkata dalam hati,"Uskup ini ternyata adalah seorang pencinta keduniaan." Saya juga pernah berkata sendiri, "la meninggalkan keduniaan untuk mcndapatkan keduniaan. la menampakkan kezuhudan untuk mendapatkan perhiasan-perhiasan duniawi."

Saya tinggal bersama uskup tersebut selama 17 sampai dengan 18 tahun hanya untuk belajar akidah berbagai agama dan mazhab-mazhab Kristen hingga pada suatu hari, sang uskup jatuh sakit sehingga tidak bisa memberikan kuliah. Kemudian ia berkata kepada saya, "Anakku, katakan kepada murid-murid saya bahwa keadaan saya tidak memungkinkan untuk memberikan kuliah pada hari ini."


Fariqlitha

Ketika keluar dari rumah uskup, saya melihat murid­-murid uskup sedang berdiskusi tentang masalah-­masalah keilmuan. Diskusi mereka melebar kemudian sampai pada masalah perbedaan pendapat mengenai makna Fariqlitha dalam bahasa Suryani dan Birqulithus dalam bahasa Yunani, yang kedatangannya dikutip oleh Yohanes, penulis Injil keempat, dari Kristus pada bab 14, 15 dan 16. Kristus berkata, "Akan datang Penghibur (Fariqlitha) sepeninggalku"

Diskusi mereka dalam masalah tersebut terus melebar dan perdebatan mereka berlangsung lama dan suara mereka semakin terdengar keras karena masing-masing mereka saling mempertahankan pendapatnya sehingga perdebatan mereka berakhir tanpa menghasilkan suatu kesimpulan yang diiharapkan dan mereka pun akhirnya membubarkan diri.

Setelah saya kembali kepada uskup. la bertanya, "Anakku, apa yang mereka diskusikan pada hari ini ketika saya tidak hadir memberi kuliah?" Saya ceritakan kepadanya tentang perbedaan pendapat orang-orang seputar makna Fariqlitha. Saya sebutkan kepadanya masing-masing pendapat mereka apa adanya. Lalu ia bertanya, "Apa pendapatmu tentang masalah ini? Saya menjawab, "Saya memilih pendapat ahli tafsir si anu."

Uskup itu berkata, "Kamu tidak salah dalam hal ini. Dan sebenarnya semua pakar sendiri berbeda pendapat seputar makna Fariqlitha. Sementara penafsiran dan makna yang benar dari kata tersebut hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalam ilmu pengetahuannya."

Dengan posisi merunduk dan rendah hati, saya berkata, "Romo, engkau orang yang lebih tahu daripada siapa pun. Beritahulah arti makna kata tersebut itu kepada saya! Apakah engkau masih kurang percaya kepada saya. Bukankah sejak kanak-kanak hingga sekarang saya telah meninggalkan kehidupan duniawi semata‑ mata untuk untuk mempeelajari berbagai ilmu pengetahuan. saya sangat fanatik pada Kristen dan berpegang teguh pada agama ini. Saya tidak pernah berhenti belajar dan menelaah, kecuali pada waktu sembahyang dan berkhutbah. Apa salah jika engkau menjelaskan makna ini kepada saya?"

Mendengar desakan itu uskup mulai menangis seraya berkata "Anakku, demi Allah, dalam pandangan saya, kamu adalah orang yang paling mulia. Saya tidak bermaksud kikir ilmu sedikit pun kepadamu. Meskipun mengetahui makna kata ini sangat berfaedah, namun para Pengikut al-Masih akan membunuh saya dan membunuhmu jika makna sebenarnya dari kata ini diketahui orang banyak, kecuali jika kamu mau berjanji bahwa kamu tidak akan mengungkapkan makna kata ini kepada siapa pun, baik ketika saya masih hidup maupun setelah saya meninggal, dan kamu tidak menyebut nama saya. Sebab, hal itu bisa mendatangkan bencana besar bagi saya bila saya masih hidup dan bagi keluarga, kerabat-kerabat, dan para pengikut saya bila saya telah meninggal. Tidak mustahil, mereka akan menggali kuburan saya dan membakar jasad saya jika mereka mengetahui bahwa saya telah mengungkapkan makna kata itu."

Saya berkata, "Saya berjanji atas Nama Allah Yang Mahatinggi, Yang Mahaagung, Yang Mahaperkasa, Yang Maha Membinasakan, Yang Maha Mengetahui, dan Yang Maha Menyiksa; atas Nama kebenaran Injil, Isa dan Maryam; atas nama semua nabi dan orang-orang saleh; atas nama semua kitab suci yang diturunkan dari Allah; atas nama para uskup, bahwa saya tidak akan menyebarkan rahasiamu untuk selama-lamanya, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau meninggal."

Setelah merasa tenang, ia berkata, "Anakku, kata ini adalah salah satu nama dari nama-nama yang penuh berkah dari Nabi kaum Muslim. Nama itu berarti Ahmad dan Muhammad" .

Lalu ia memberikan kunci ruangan kecil—seperti yang telah disebutkan sebelum ini—dan meminta saya agar membuka laci yang ada di sana dan mengambil buku yang ada di dalamnya. Saya melakukan semua itu. Saya membawa dua buah buku kepadanya. Ternyata, kedua buku itu berisi tulisan berbahasa Yunani dan bahasa Suryani sebelum kedatangan penutup para nabi, dan ditulis dengan pena di atas kulit. Di dalam kedua buku itu tertulis kata Fariqlitha yang diterjemahkan menjadi Ahmad dan Muhammad.

Kemudian ia berkata, "Anakku, ketahuilah bahwa sebelum Nabi Muhammad saw diutus, para ulama, ahli tafsir, dan para penerjemah al-Masih sepakat bahwa kata itu artinya Ahmad dan Muhammad. Tetapi setelah Nabi Muhammad saw diutus, para uskup mengubah semua tafsir, buku-buku bahasa, dan terjemahan-terjemahan tersebut untuk mempertahankan kekuasaan mereka, untuk mendapatkan harta, untuk mendatangkan manfaat duniawi, karena permusuhan, karena kedengkian, dan karena kecenderungan-kecenderungan nafsu yang lain. Mereka memberikan makna lain terhadap kata ini. Sudah pasti, makna tersebut sama sekali bukan yang dimaksudkan oleh pemilik Injil. Dari susunan ayat-­ayat yang terdapat dalam Injil yang beredar sekarang, dengan mudah dapat diketahui makna ini, yaitu bahwa pewakilan, syafaat, takziah, dan penghiburan itu bukan yang dimaksudkan oleh penulis Injil; dan bukan pula maksudnya roh yang turun pada hari Pentakosta (yaum al-dar) ".Karena lsa as sendiri mensyaratkan kedatangan Fariqlitha dengan kewafatannya. Beliau berkata, Sebab, jikalau aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu ".

Sebab, kedatangan dua nabi sekaligus yang mandiri dalam waktu yang bersamaan dan masing­-masing membawa syariat yang umum adalah mustahil. Hal ini berbeda dengan roh yang diturunkan pada hari Pentakosta dan yang dimaksudkan dengan Roh Kudus yang telah turun bersama keberadaan Isa as dan Baum Hawariyun.

Apakah kamu lupa pada ucapan penulis Injil pertarma pada bab 3 dalam Injilnya. la berkata, Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan la melihat Rob Allah, seperti burung merpati turun ke atas-Nya (Matius 3: 16)

Sebagaimana roh itu turun bersama keberadaan Isa as sendiri kepada dua belas muridnya, seperti dijelaskan oleh penulis Injil pertama pada bab 10 dalam Injilnya: Yesus memanggil kedua belas muridnya memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir rob jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala, kelemaban (Matius 10: 1). Yang dimaksud dengan kuasa atau kekuatan di sini adalah kekuatan rohani, bukan kekuatan jasmani, karena pekerjaan-pekerjaan seperti ini tidak menggunakan kekuatan jasmani. Kekuatan rohani adalah bantuan dari Roh Kudus.

Pada ayat 20 bab yang sama, al-Masih berkata, Karna bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Rob Bapa Dia yang berkata-kata di dalam kamu. Yang dimaksud dengan "Roh Bapamu" adalah Roh Kudus, sebagaimana dijelaskan oleh penulis Injil ketiga pada bab 9 dalam. injilnya: Maka Yesus memanggil kedua belas murid lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasal setan-setan dan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit (Lukas 9: 1).

Selain itu, penulis Injil ketiga pada bab 10 berkata, Kemudian daripada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-berdua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya (Lukas 10: 1). pada ayat 17 ia berkata, kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata, "Tuhan, setan-setan juga takluk kepada kaml karena nama-Mu."

Karenanya, turunnya roh tidak disyaratkan dengan kewafatan al-Masih. Jika yang dimaksud dengan Fariqlitha adalah Roh Kudus maka ucapan al-Masih ini merupakan kekeliruan dan tidak bermakna. Padahal, orang yang bijaksana tidak akan mengatakan sesuatu yang tidak berguna dan tidak bermakna. Apalagi seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi seperti Nabi Isa as. Berdasarkan pemaparan di atas, maka yang dimaksud dengan Fariqlitha tidak lain selain nama Ahmad dan Muhammad. Inilah makna kata Fariqlitha yang sebenarnya."

Saya berkata, "Apa pendapat Romo tentang agama Kristen?"

la menjawab, "Anakku, agama Kristen sudah dihapus dengan kedatangan agama baru, yaitu agama Muhammad." la mengulangi kalimat ini hingga tiga kali.

Saya bertanya, "Apakah jalan keselamatan dan jalan lurus yang mengantarkan kepada Allah terbatas pada para pengikut Muhammad saw saja? Apakah para pengikutnya termasuk orang-orang yang selamat?"
la menjawab, "Benar, demi Allah. Benar, demi Allah. Benar, demi Allah."

Mengapa Tidak Masuk Islam

Saya bertanya, "Apa yang menghalangi Romo untuk masuk Islam dan mengikuti ajaran penghulu umat manusia, padahal Romo mengetahui keutamaan Islam dan berpandangan bahwa mengikuti ajaran penutup para nabi itu sebagai jalan keselamatan dan jalan lurus yang mengantarkan kepada Allah?"

la menjawab, "Anakku, saya baru mendapatkan pengetahuan tentang hakikat dan keutamaan agama Islam setelah berusia tua. Secara batiniah, saya ini seorang Muslim. Tetapi secara lahiriah, saya tidak dapat meninggalkan kekuasaan dan kedudukan yang tinggi ini, dan engkau melihat kedudukan saya di tengah orang ­orang Kristen. Jika mereka mengetahui kecenderungan saya pada agama Islam maka mereka akan membunuh saya. Bahkan, kalaupun saya selamat melarikan diri dari mereka, maka para penguasa Kristen akan meminta saya dari para penguasa Islam. Hal itu karena pusaka ­pusaka gereja ada di tangan saya dan saya dianggap telah melakukan pengkhianatan terhadap hak-hak mereka, atau saya mengambil sesuatu dari mereka, memakannya dan menghibahkannya. Oleh karena itu, saya kira, para penguasa dan para pemuka Islam akan kesulitan untuk melindungi saya. Bahkan, kalaupun saya terpaksa berlindung kepada orang-orang Islam dan saya berkata kepada mereka, "Saya seorang Muslim," mereka akan berkata, "Selamat bagimu! Kamu telah menyelamatkan dirimu dari neraka jahanam, sehingga kamu tidak perlu berterima kasih kepada kami, karena kamu telah menyelamatkan dirimu dari azab Allah dengan masuk agama kebenaran dan jalan hidayah."

"Anakku, selamat bagimu. Saya akan mengalami suatu keadaan ketika saya tidak memiliki roti dan air. Saya akan hidup sebagai orang tua di tengah kaum Muslim dalam kemiskinan, kecemasan, kelaparan, kehinaan, dan kesusahan, sementara saya tidak mengetahui bahasa mereka. Mereka tidak akan mengenali hak saya dan tidak melindungi kehormatan saya. Saya akan mati kelaparan di tengah mereka dan meninggalkan dunia ini di tengah reruntuhan dan puing-puing. Kamu sudah melihat sendiri banyak orang yang masuk agama Islam tetapi orang-orang Islam sendiri tidak memerhatikan mereka, sehingga orang­orang itu keluar lagi dari agama Islam dan kembali ke dalam agama mereka semula. Akibatnya, mereka mendapatkan kerugian di dunia ini dan di akhirat nanti. Saya juga merasa khawatir tidak sanggup menanggung kesulitan dan bencana di dunia ini. Dan ketika itu saya tidak akan mendapatkan bagian di dunia dan tidak juga bagian di akhirat. Tetapi, alhamdulillah, secara batiniah, saya termasuk para pengikut Nabi Muhammad saw."

Orang tua itu menangis dan saya pun ikut menangis terharu. Setelah lama kami menangis, saya bertanya kepadanya, "Romo, apakah Romo akan menyuruh saya untuk memeluk agama Islam?"

la menjawab, "Jika kamu menginginkan (kebahagiaan) akhirat dan keselamatan maka kamu harus menerima agama kebenaran itu, karena kamu masih muda. Tidak mustahil, Allah akan memberikan kemudahan-kemudahan duniawi kepadamu sehingga kamu tidak mati kelaparan. Saya sendiri akan selalu mendoakanmu agar pada hari Kiamat nanti, kamu melihat saya sebagai seorang Muslim dalam batin dan termasuk para pengikut manusia terbaik. Kebanyakan uskup juga seperti saya dalam batinnya tetapi, seperti juga saya, mereka tidak sanggup secara lahiriah meninggalkan kedudukan duniawi. Sebab, tidak diragukan bahwa agama Islam saat ini adalah agama Allah di muka bumi."

Ketika saya melihat kedua buku tadi dan mendengar pengakuan-pengakuan ini dari orang tua itu, tiba-tiba hidayah penutup para nabi saw dan cinta kepadanya menyelimuti diri saya sedemikian rupa, sehingga dunia ini dan seisinya dalam pandangan saya, sama saja dengan seonggok bangkai. Kedudukan duniawi yang fana, kerabat dan tanah air tidak menjadi penghalang bagi saya, sehingga saya membenci semua itu. Pada saat itu juga, saya berpamitan kepada orang tua itu. Maka orang tua itu mendesak saya agar mau menerima pemberian sejumlah uang darinya untuk bekal perjalanan saya. Lalu saya menerima pemberian itu, dan saya sudah bertekad untuk menempuh perjalanan menuju akhirat.


Masuk Islam

Saya tidak membawa apa-apa selain dua atau tiga buah buku. Barang-barang yang lain, saya tinggalkan. Setelah membulatkan tekad, saya memasuki negeri Armenia pada tengah malam. Pada malam itu juga saya mengetuk pintu. rumah Sayid Hasan Mujtahid yang sangat bergembira menerima kedatangan saya setelah ia mengetahui bahwa saya datang kepadanya sebagai seorang Muslim. Lalu saya memohon kepadanya agar menyampaikan kalam-kalam suci dan mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepada saya. Beliau menyampaikan semua itu dan mengajarkannya kepada saya. Saya pun mencatatnya dengan bahasa Suryani agar tidak mudah lupa. Selain itu, saya juga memohon kepadanya agar tidak memberitahukan ihwal keislaman saya kepada siapa pun karena khawatir kaum kerabat dan orang­orang Kristen mendengarnya sehingga mereka akan menyakiti saya atau menggoyahkan iman saya. Lalu pada suatu malam, saya masuk kamar mandi dan membasuh badan untuk mandi tobat dari kemusyrikan dan kekafiran. Setelah keluar dari kamar mandi, saya mengucapkan lagi kalimat syahadat dan saya masuk agama kebenaran ini secara lahir dan batin ".

 (andikfn/STI)

Minggu, 27 Desember 2015

Perempuan Kanada Memeluk Islam di Haram Suci Razavi


Seorang perempuan asal Kanada memutuskan untuk memeluk Islam di Haram Suci Imam Ridha as dan memilih Syiah sebagai mazhabnya.

Pusat Informasi Haram Suci Razavi melaporkan, setelah mengenal prinsip dan landasan keyakinan Islam, seorang perempuan Kanada membacakan ikrar keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad Saw, dan memeluk agama Islam serta memilih Syiah sebagai mazhabnya di kantor Divisi urusan Peziarah Non-Iran, Haram Suci Razavi. Melissa Neding mengaku gembira yang apa yang sudah ia lakukan dan menuturkan, “Saya bersyukur kepada Tuhan karena di fase kehidupan saya ini, Dia memberi kesempatan kepada saya untuk mengenal Islam hakiki dan menjadi bagian dari para pengikut Wilayah dan Imamah.” Ia menjelaskan, “Saya merasa bahagia bisa dilahirkan kembali dalam suasana spiritual ini.

Sepanjang kehidupan saya, saya banyak melakukan penelaahan dan penelitian untuk mendapatkan pemahanan lebih besar. Saya memilih Islam dengan kesadaran dan pengenalan penuh. Rencana saya adalah mengenalkan agama ini kepada keluarga saya.” Melissa menambahkan, “Hijab perempuan Muslim selain menjaganya dari kerusakan sosial, juga menjaga esensi keberadaannya.”

Di akhir acara, Melissa mendapat hadiah satu jilid Al Quran berbahasa Inggris, beberapa buku dan paket budaya dari Divisi urusan Peziarah Non-Iran, Haram Suci Razavi. Kepala Divisi urusan Peziarah Non-Iran dalam acara itu menyoroti posisi maknawi Makam Suci Imam Ridha as dan menerangkan, “Di tempat ini, para malaikat melebarkan sayapnya sebagai tanda penghormatan kepada para peziarah yang menziarahi Haram Suci Imam Ridha as.”

Sayid Mohammad Javad Hasheminejad melanjutkan, “Masing-masing Imam Maksum as terkenal dengan salah satu sifat Allah Swt, dan Imam Ridha as adalah manifestasi sifat kasih sayang dan kemurahan Tuhan. Semua Imam adalah manifestasi sifat ini, namun dalam diri Imam Ridha as, sifat ini tampak lebih kentara.” Ia menambahkan, “Setiap tahun jutaan peziarah dari seluruh penjuru dunia berziarah ke Makam Suci Imam Ridha as dan Divisi urusan Peziarah Non-Iran selalu memberikan beragam pelayanan kepada para peziarah sesuai dengan asal negara mereka.”

Hasheminejad menegaskan, setelah bertahun-tahun melayani para peziarah di Haram Suci Razavi, tempat ini selalu menjadi salah satu pusat budaya Dunia Islam. “Para pelayan Haram Suci Razavi dalam memberikan pelayanannya kepada para peziarah memiliki dua metode, metode langsung dan tidak langsung. Pelayanan juga dapat diberikan lewat dunia maya dalam berbagai bahasa berbeda seperti Arab, Urdu, Turki, Rusia, Jerman, Inggris dan Perancis,” pungkasnya.

(News-Aqr/STI)