Tampilkan postingan dengan label ABNS SEPUTAR AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABNS SEPUTAR AGAMA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2016

Keutamaan Shalawat Kepada Rasulullah saww dan Ahlul Baytnya


Rasulullah saww bersabda “setiap doa itu tertahan kecuali dengan membaca shalawat kepada Muhammad saww.”

Shabestan News Agency, pada kenyataannya, riwayat-riwayat Islam menyebutkan kedudukan luar biasa shalawat kepada Rasulullah saww, baik dalam kitab-kitab Syi’ah maupun Ahlusunnah menyebutkan tentang pahala luar biasa amalan ini.

Amirul Mukminin Ali as bersabda “dengan membaca shalawat kepada Rasulullah saww, dosa-dosa akan terhapus, seperti air memadamkan api, dan mengucapkan salam kepada Rasulullah saww lebih utama dari pada membebaskan budak.”

Rasulullah saww bersabda “setiap doa itu tertahan kecuali dengan membaca shalawat kepada Muhammad saww.”

Dalam sebuah haditsnya, Imam Muhamad Baqir as juga bersabda “dalam timbangan (di hari Kiamat) tidak ada amalan yang lebih berat selain shalawat kepada Muhammad saww dan keluarganya.”

Rasulullah saww juga pernah mengatakan “bershalawatlah kalian kepadaku, karena dengan bershalawat kepadaku merupakan zakat kalian kepadaku.”

Rasulullah saww juga bersabda “pada saat hari Kamis tiba, Allah swt mengutus malaikat yang ia membawa lembaran-lembaran dari perak dan pena-pena dari emas, mereka akan menulis orang-orang yang banyak membaca shalawat kepadaku di hari Kamis dan pada malam Jum’at.”

Beliau saww juga bersabda “Jibril baru saja mengabarkan sesuatu yang luar biasa kepadaku”, Imam Ali as berkata “apa yang terjadi wahai Rasulullah?, beliau saww bekata “ia memberitahukan kepadaku bahwa jika salah satu dari umatku membaca shalawat kepadaku kemudian dibarengi dengan shalawat kepada Ahlul Baytku, maka pintu-pintu langit akan terbuka lebar, dan para malaikat jug akan bershalawat kepadanya sebanyak 70 kali, dan jika termasuk seorang pendosa maka dosa-dosanya akan berguguran seperti halnya daun-daun berjatuhan dari pohon.”

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Kamis, 24 November 2016

Mengenal Al Takabbur Wa At Tawadhu’


Al Takabbur wa at Tawadhu’[1]

Berkata Syeikh al Arif Billah; Syeikhul Islam Abbas al Qummi –radhiyallahu ‘anhu-:

Upayakan sedemikian rupa agar kamu tidak bersikap sombong, sebab orang-orang yang sombong di hari kiamat akan dikumpulkan dalam postur semut kecil, lalu dinjak-injak manusia, karena mereka tidak bernilai sedikitpun di sisi Allah.

Allah –Ta’ala- berfirman:

فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعِيْنَ إِلاَّ إِبْلِيْسَ اسْتَكْبَرَ و كانَ مِنَ الكافِرِيْنَ.

“Lalu seluruh malaikat bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.” (Q.S. Shaad [38];73-74)

Telah diriwayatkan dari Rasulullah saw., beliau bersabda:

إِيَّاكُم و الكِبْر، فَإِنَّ الكبرَ يَكونُ فِي الرَّجُلِ وَ إِنَّ عَلَيْهِ العَبَاءَةَ.

“Hati-hatilah kamu dari sombong, sebab sesungguhnya sombong itu ada pada seorang sementara ia mengenakan baju sederhana.”[2]

Imam Ali as, bersabda:

إِيَّاكَ وَ الكِبْرَ، فَإِنَّهُ أَعْظَمُ الذُنوبِ وَ أَلأََمُ العيوبِ، وهو حِلْيَةُ إبليس.

“Hati-hatilah kamu dari sombong, sebab sesungguhnya ia adalah dosa teragung dan iab tercacat. Ia adalah hiasan Iblis.”[3]

شَرُّ آفَاتِ العقْلِ الكِبْرُ.

“Sejelek-jelek perusak akal adalah kesombongan.”

أَقْبَحُ الْخُلُقِ الكبرُ.

“Seburuk-buruk perangai adalah kesombongan.”

إِحْذَرِ الكبرَ، فَإِنَّهُ رَاْسُ الطُغْيانِ وَ مَعْصِيَةِ الرحمنِ.

“Hati-hatilah kamu dari sombong, sebab ia adalah pangkal pelanggran (melampaui batas) dan maksiat kepada Zat yang Maha Rahman.”[4]

Dirwayatkan dari Imam Zainal Abidin as. , beliau bersabda:

مَنْ قالَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَ أَتوبُ إليهِ فَلَيْسَ بِمُسْتَكْبِرٍ.

Barang siapa mengucap

 أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَ أَتوبُ إليهِ 

(aku memohon ampun dan bertaubat kepada Allah), maka ia tidak tergolong orang yang sombong dan bukan orang yang bengis.”

“Sesungguhnya orang yang sombong adalah yang berterus-terus dalam dosa yang ia telah dikalahkan oleh hawa nafsunya, dan ia mengutamakan dunia atas akhiratnya.”[5]

Telah diriwayatkan dari Imam Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq as., beliau bersabda:

“Kibr (congkak) adalah kamu merendahkan manusia dan menganggap bodoh (menolak) kebenaran.”

“Kibr (congkak) adalah (sikap membodohi (menolak) kebenaran dan mencerca pemegangnya.”[6]

Diriwayatkan juga dari Imam Ja’far as.:

إِنَّ فِيْ جهنَّمَ لَوادِيًا لِلْمُتَكَبِّرِيْنَ يُقالُ لَهُ: سَقَرُ، شَكَى إلى اللهِ _عز و جل- شِدَّةَ حَرِّهِ، و َسَأَلَهُ أَنْ يَتَنَفَّسَ، فَتنفسَ فَأَحْرَقَ جَهَنَّمَ.

“Di dalam neraka jahannam terdapat lembah khusus untuk orang-orang sombong, ia diberi nama Saqar; ia pernah mengeluh kepada Allah –Azza wa Jalla– dari panasnya yang sangat, dan ememohon diizinkan untuk berhembus,lalu ia berhembus maha ia membakar neraka jahannam.”[7]

Oleh karena itu berupayalah sekuat tenagamu untuk menjadi orang yang tawadhu’. Dan ketahuilah bahwa tawadhu’ tidak mengurangi barang sedikit pun dari urusan dan kemegahanmu, bahkan ia akan menghantarmu menuju derajat yang tinggi.

Adapun sombong, ia adalah ciri orang yang kurang dan rendah yang beruasaha dengan kesombongannya untuk menutup kekurangannya, akan tetapi sikap sombong mereka itu mengisayaratkan keburukan mereka dan menjelaskan iab-aib mereka.[8]


Referensi:

[1] Tawadhu’ (rendah hati) adalah sikap terpuji. Para pendidik mengatagorikan sifat ini dalam dua macam, terpuji dan tercela. Tawadhu’ terpuji adalah tidak merasa lebih tinggi dari orang lain dan sombong atasham-hamba Allah. Sedangkan tawadhu’ tercela adalah sikap merendah terhadap orang lain karena kekayaan atau jabatannya.
[2] Kanz al ‘Ummal,5/773.
[3] TashnÎf al Ghurar:309 hikmah 8124.
[4] Ibid.309.
[5] Bihar al Anwar,93/277.
[6] HR. Al Kafi,2/234 hadis 8 dan 9 dan Bihar al Anwar,73/217.
[7] Ibid.2/ bab al kibr/234 hadis 10. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لاَ سَدْخُلُ الجنَّةَ مَنْ كانَ فِيْ قلبِهِ مِثْقالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنَ الكبر.

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar buji sawi dari kesombongan.” (Jaami’as Sa’adaat,1/346.)

[8] Imam Ali as. bersabda:

مَا تَكَبَّرَ إلاَّ وَضِيْعٌ.

“Tidak sombong kecuali orang yang rendah.”

(Jakfari/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Kontroversi Transfer Pahala Vs Kirim Pahala Dalam Literatur Salafi – Wahabiyah


Salah satu hal yang berkaitan dengan permasalahan orang meninggal adalah menghadiahkan pahala untuk mayit. Dalam syari’ah Islam ada beberapa amaliah yang dapat membantu orang yang telah meninggal. Amaliah yang dilakukan bisa berupa do’a atau selainnya. Transfer pahala adalah suatu pahala yang telah ulama kita lakukan sejak zaman dahulu sampai sekarang. Sangat aneh jika menghadiahkan pahala untuk mayit itu dianggap bid’ah sesat.

Dan lebih aneh lagi setelah kita telusuri ulama-ulama kenamaan yang menjadi rujukan wahabi dalam berdalil ternyata juga membolehkan amalan menghadiahkan pahala untuk mayit sebagaimana ulama-ulama berikut ini:


1. Muhammad bin Abdul Wahhab 

وأخرج سعد الزنجاني عن ابي هريرة مرفوعا: من دخل المقابر ثم قرأ فاتحة الكتاب, وقل هو الله أحد, وألهاكم التكاثر, ثم قال: إني جعلت ثواب ما قرأت من كلامك لأهل المقابر من المؤمنين والمؤمنات, كانوا شفعاء له ألى الله تعالى. وأخرج عبد العزيز صاحب الخلال بسند عن أنس مرفوعا: من دخل المقابر, فقرأ سورة يس, خفف الله عنه وكان له بعدد من فيها حسنات
(محمد بن عبد الوهاب ” مؤسسة الفرقة الوهابية ” في كتابه أحكام تمني الموت)

“Sa’ad al-Zanjani meriwayatkan hadits dari Abu Hurairoh ra secara marfu’: “Barang siapa mendatangi kuburan lalu membaca surah al-Fatihah, Qul Huwallahu Ahad dan al-Hakumuttakatsur, kemudian mengatakan: “Ya Allah, aku hadiahkan pahala bacaan al-Qur’an ini bagi kaum beriman laki-laki dan perempuan di kuburan ini”, maka mereka akan menjadi penolongnya kepada Allah”. Abdul Aziz – murid dari al-Imam al-Khollal -, meriwayatkan hadist dari sanadnya dari Anas bin Malik ra secara marfu’: Barangsiapa mendatangi kuburan, lalu membaca Surat Yasin, maka Allah akan meringankan siksa mereka, dan ia akan memperoleh pahala sebanyak orang-orang yang ada di kuburan itu.” (Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahkam Tamanni al-Maut, hal. 75)

Kalau sudah begini, beranikah para pengikut wahabi mengatakan sesat terhadap Syaikhnya sendiri, Muhammad bin Abdul Wahhab ??


2. Ibnu Taimiyah

Dalam kitabnya, Ibnu Taimiyah, soko guru wahabi, ia menjelaskan bahwa sampainya pahala bacaan yang dihadiahkan pada mayit.

وسئل: عمن هلل سبعين ألف مرة، وأهداه للميت يكون براءة للميت من النار حديث صحيح أم لا‏؟‏ وإذا هلل الإنسان وأهداه إلى الميت يصل إليه ثوابه، أم لا‏؟‏ فأجاب‏: إذا هلل الإنسان هكذا‏:‏ سبعون ألفاً، أو أقل، أو أكثر، وأهديت إليه، نفعه الله بذلك، وليس هذا حديثا صحيحاً، ولا ضعيفاً‏.‏ والله أعلم‏.‏ مجموع فتاوى ابن تيمية

“Syaikh Ibnu Taimiyah ditanya (oleh seseorang) tentang orang yang membaca tahlil 70.000 kali dan menghadiahkannya kepada mayit agar menjadi tebusan baginya dari neraka, apakah hal ini hadits shahih atau tidak?. Dan apabila sseorang membaca tahlil lalu dihadiahkan kepada mayit, apakah pahalanya sampai atau tidak?” Beliau menjawab, “Apabila seseorang membaca tahlil sekian; 70.000 atau kurang, dan atau lebih, lalu dihadiahkan kepada mayit, maka hadiah tersebut bermanfaat baginya, dan ini bukan hadits shahih dan bukan hadits dha’if. Wallahu a’lam (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 24 hal. 323).

قال شيخ الأسلام تقيالدّين احمد بن تيمية في فتاويه، الصّيحح أن الميّت ينتفع بجميع العبادات البدنية من الصّلاة والصّوم والقراءة كما ينتفع بالعبادات الماليّة من الصّدقة ونحوها باتّفاق الأئمّة وكمالودعي له واستغفرله – حكم الشريعة الإسلاميّة فى مأتم الأربعين ٣٦

“Syaikhul Islam Ibn Taimiyah mengatakan dalam kitab Fatawa-nya bahwa pendapat yang benar dan sesuai dengan kesepakatan para imam adalah bahwa mayit dapat memperoleh manfaat dari semua ibadah badaniyyah seperti shalat, puasa, membaca alQur’an, ataupun ibadah maliyah seperti sedekah dan lain-lainnya. Hal yang sama juga berlaku untuk orang yang berdo’a dan membaca istighfar untuk mayit. (Hukm al-Syari’ah al-Islamiyah fi Ma’tam al-Arba’in, 36).

3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Ada sebuah ayat yang sering digunakan oleh golongan pengingkar sebagai dasar bahwa pahala seseorang itu tidak bisa diberikan kepada orang lain. Dan ia hanya akan mendapatkan pahala dari amal yang dikerjakannya sendiri.

أم لم ينبّأ بما في صحف موسى، وإبراهيم الّذي وفى، ألاّتزر وازرة وزرأخرى، وأن ليس للإنسان إلاّماسعى – النجم ٣٦-٣٩

“Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnaan janji? (yaitu) bahwa seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwa seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. (QS Al-Najm 36-39)

Namun menurut Ibn Qayyim al-Jawziyah, ulama kenamaan yang menjadi rujukan wahabi, beliau mengutip pendapat Abi al-Wafa’ Ibn ‘Aqil menjelaskan sebagai berikut:

الجواب الجيّد عندي أن يقال الإنسان بسعيه وحسن عشرته اكتسب الأصدقاء وأولد الأولاد ونكح الأزواج وأسدى الخير وتودّد إلى النّاس فتر حّموا عليه وأهدوا له العبادات وكان ذلك أثرسعيه – الرّوح ١٤٥

“Jawaban yang paling baik (tentang QS al-Najm 39) menurut saya, bahwa manusia dengan usahanya sendiri dan juga karena pergaulannya yang baik dengan orang lain, ia akan memperoleh banyak teman, melahirkan keturunan, menikahi perempuan, berbuat baik serta menyintai sesama. Maka semua teman, keturunannya dan keluarganya tentu akan menyayanginya kemudian menghadiahkan pahala ibadahnya (ketika telah meninggal dunia). Maka hal itu pada hakikatnya merupakan hasil usahanya sendiri.” (al-Ruh, 143).


4. Imam Al-Syaukani 

وقال في شرح الكنز إن للإنسان أن يجعل ثواب عمله لغيره صلاة كان أو صوما أو حجا أو صدقة أو قراءة قرآن ذلك من جميع أنواع البر ويصل ذلك إلى الميت وينفعه ثم أهل السنة انتهى والمشهور من مذهب الشافعي وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن وذهب أحمد بن حنبل وجماعة من العلماء وجماعة من أصحاب الشافعي إلى أنه يصل كذا ذكره النووي في الأذكار وفي شرح المنهاج لابن النحوي لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور والمختار الوصول إذا سأل الله إيصال ثواب قراءته وينبغي الجزم به لأنه دعاء فإذا جاز الدعاء للميت بما ليس للداعي فلأن يجوز بما هو له أولى ويبقى الأمر فيه موقوفا على استجابة الدعاء وهذا المعنى لا يختص بالقراءة بل يجري في سائر الأعمال والظاهر أن الدعاء متفق عليه أنه ينفع الميت والحي القريب والبعيد بوصية وغيرها وعلى ذلك أحاديث كثيرة


“Disebutkan dalam Syarh al-Kanz bahwa boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah.

Namun Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar,

dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “Tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa untuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh untuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak” (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy Juz 4 hal 142, Al Majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy Juz 15 hal 522).

(Wahabi-News/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Senin, 27 Juni 2016

Kedudukan Ilmu Nasab dan Manfaat Mempelajari Ilmu Nasab Yang bersambung Hingga ke Rasulullah SAW


Berfirman Allah swt dalam alquran :

‘Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, supaya kamu mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa’.[1]

Diriwayatkan oleh Ibu Asakir dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah saw bersabda :

‘Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Firh (Quraisy) bin Malik (bin al-Nadhir) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ah bin Adnan’.[2]

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Saad :

‘Ketika aku bertanya kepada Rasulullah saw : Siapakah aku ini ya Rasulullah saw ? Beliau saw menjawab : ‘Engkau adalah Saad bin Malik bin Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah. Siapa saja yang mengatakan selain dari pada itu, maka baginya laknat Allah’.[3]

Diriwayatkan oleh Khalifah bin Khayyat dari Amr bin Murrah al-Juhni :

‘Pada suatu hari aku berada di sisi Rasulullah saw kemudian beliau saw bersabda : ‘Siapa yang berasal dari keturunan Maad hendaklah berdiri’. Maka aku berdiri tetapi Rasulullah saw menyuruhku duduk hingga tiga kali. Lalu aku bertanya : Dari keturunan siapa kami ya Rasulullah ? Beliau saw menjawab : ‘Engkau dari keturunan Qudha’ah bin Malik bin Humair bin Saba’.[4]

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda :

‘Pelajarilah silsilah nasab kalian agar kalian mengenali tali darah kalian, sebab menyambung tali darah dapat menambah kasih sayang dalam keluarga, menambah harta dan dapat menambah usia’.

Berkata Umar bin Khattab :

‘Pelajarilah silsilah nasab kalian, janganlah seperti kaum Nabat hitam jika salah satu di antara mereka ditanya dari mana asalnya, maka ia berkata dari desa ini’.

Imam al-Halimi berkata :

‘Hadits-hadits tersebut menjelaskan tentang arti pertalian nasab seseorang sampai kepada leluhurnya, dan apa yang dikatakan nabi Muhammad saw tentang nasab tersebut bukanlah suatu kesombongan atau kecongkakan, sebaliknya hal tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kedudukan dan martabat mereka’.


Di lain riwayat dikatakan bahwa itu bukan suatu kesombongan akan tetapi hal itu merupakan isyarat kepada ni’mat Allah swt, yaitu sebagai tahadduts bi al-ni’mah. Sedangkan Imam Ibnu Hazm berpendapat bahwa mempelajari ilmu nasab adalah fardhu kifayah.

Pengarang kitab al-Iqdu al-Farid, Abdul al-Rabbih berkata :

‘Siapa yang tidak mengenal silsilah nasabnya berarti ia tidak mengenal manusia, maka siapa yang tidak mengenal manusia tidak pantas baginya kembali kepada manusia’.

Dalam Mukaddimah al-Ansab, al-Sam’ani berkata :

‘Dan ilmu silsilah nasab merupakan ni’mat yang besar dari Allah swt, yang karena hal itu Allah swt memberikan kemuliaan kepada hambanya. Karena dengan ilmu silsilah mempermudah untuk menyatukan nasab-nasab yang terpisah-pisah dalam bentuk kabilah-kabilah dan kelompok-kelompok, sehingga dengan ilmu silsilah nasab menjadi sebab yang memudahkan penyatuan tersebut’.

Referensi:
[1] Surat al-Hujurat ayat 13.
[2] Seggaf Ali Alkaf, Satu Kajian Mengenai Nasab Bani Alawi, hal. 41.
[3] Ibid, hal. 42.
[4] Ibid

(Ranji-Sarkub/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Minggu, 26 Juni 2016

Merajut Visi Kebebasan Dalam Beragama


Oleh: Ust. Candiki Repantu

“Tidak ada paksaan dalam beragama; Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat” (Q.S. Al-Baqarah : 256)

Visi kebebasan beragama merupakan hal yang sangat jelas dalam ajaran Islam (Q.S. al-Baqarah: 256, al-Maidah: 48). Manusia bebas untuk memiliki keyakinan apapun yang dipilihnya. Tidak seorangpun berhak untuk menghina keyakinan orang lain, atau mengutuk, menuntut, dan menghukumnya. Firman Tuhan, “Tiada paksaan dalam beragama”, menunjukkan bahwa agama sangat berhubungan dengan akal dan hati. Ini berarti keyakinan dikonstruksi di atas dasar argumentasi akal dan penerimaan hati. Akal dan hati, keduanya hanya bisa ditundukkan dengan argumentasi dan sentuhan kasih, bukan tekanan yang dipaksakan.

Sesuai dengan capaian para ahli, bahwa keyakinan merupakan konsepsi akal untuk menggapai pengetahuan tentang Wujud Mutlak (Tuhan). Akal yang mendapatkan kepuasan melalui burhan ash-shiddiqin (argumentasi yang benar) akan menghantarkannya untuk taslim (tunduk) pada hakikat kebenaran. Visi kebebasan beragama, memberikan tempat yang terbuka bagi setiap orang untuk mengemukakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran tanpa manipulasi atau tekanan situasi. Hal ini diperoleh dengan kebebasan teologis dan kekondusifan sosiologis.

Begitu pula, selama berkaitan dengan akal dan hati, keyakinan tidak dikategorikan sebagai masalah hukum, sehingga kita tidak dapat mengatakannya sebagai legal atau ilegal. Keyakinan harus berpijak pada dalil. Sepanjang terdapat dalil yang mendukungnya, keyakinan akan tetap eksis. Jika dalil yang mendukungnya berubah, maka keyakinan juga akan menghilang. Jika dalil terbukti keliru, keyakinan juga akan mati. Jadi selama keberagamaan masih berhubungan dengan keyakinan hati dan jiwa, maka tidak ada hukum positif yang dapat menghakiminya. Namun, bila diekspresikan dalam tindakan sosial maka hukum legal dapat diterapkan.

Dengan begitu, visi kebebasan beragama mestilah dipandang sebagai suatu perspektif yang memahami dan menerima keragaman agama serta menghargainya dengan penuh kesadaran sehingga tidak ada saling curiga apalagi saling serang. Dengan demikian, visi kebebasan agama tidaklah berkeinginan menyeragamkan atau menyamakan semua agama-agama, melainkan menerima kemajemukan agama dengan apa adanya. Namun, agar tidak terjadi pengaburan nilai-nilai agama, ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan :

a. Memahami dan menerima keragaman agama, bukan berarti menerima keyakinan agama lain yang berbeda. Artinya, menerima keragaman dalam kebebasan beragama berarti kesediaan kita untuk menyatakan bahwa keyakinan engkau berbeda dengan keyakinanku, karenanya berbuatlah seperti keyakinan agamamu dan aku akan berbuat seperti keyakinan agamaku, atau dalam bahasa al-Quran “Bagimulah agamamu dan bagikulah agamaku” (Q.S. al-Kafirun: 5)

b. Menghargai keragaman agama bukan berarti membenarkan keyakinan agama yang bertentangan dengan agama yang dianut. Artinya, menyalahkan pandangan agama lain tidak dapat dikategorikan sebagai tidak menghormati agama orang lain. Karena, persoalan benar dan salah adalah persoalan ilmiah dan merupakan sifat daripada ilmu. Adapun, tidak menghargai lebih cenderung pada penghinaan dan pemaksaan agama, bukan kepada penyalahan keyakinan agama. al-Quran menyebutkan: “Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”. (Q.S. al-Baqarah: 256).

Jadi, tidak adanya kecurigaan dan tidak saling serang antar agama bukan berarti menghilangkan nilai-nilai ilmiah dan akademis yang berpijak pada analisa rasional untuk mengungkap kebenaran dan kesalahan pemikiran keagamaan yang berkembang. Tuhan berfirman, “Apabila datang kepadamu orang yang fasik membawa berita, maka cek dan riceklah, agar kamu tidak menimpakan bencana kepada orang yang tidak berhak menerimanya.” (al-Quran)

Islam yang dipandang penganutnya sebagai agama sempurna memberikan andil dalam membentuk seluruh elemen komunitasnya. Karena, agama pada dasarnya tidak muncul secara vakum kultural, maka ia memiliki andil besar bagi pembentukan sistem kultural. Jika kita boleh mengembangkan teori hermeneutikanya Nasr Hamid Abu Zaid (1994: 25), yang mengajukan tesis bahwa al-Quran diturunkan dalam dua tahap, yaitu tahap dibentuk oleh kultur (marhalah al-tasyakkul) dan tahap membentuk kultur (marhalah al-tasykil).

Meskipun analisis Abu Zaid meninjau sisi linguistik tekstual al-Quran, tetapi dapat kita elaborasi untuk menjelaskan interaksi agama dan kultur. Artinya, kedua tahap tersebut mengindikasikan bahwa, di masa Nabi Muhammad saaw. agama hadir dan berinteraksi secara struktural dengan kultur Arab (Mekkah). Hasil interaksi tersebut menjadikan Islam, mampu mengadaptasi sekaligus menyeleksi dimensi kultural yang ada dari realitas sosial, bahasa, ataupun budaya yang dikembangkan oleh masyarakat pra maupun pasca Islam. Kemudian dengan kemampuan kreativitasnya, kaum muslimin selanjutnya melakukan transformasi kultural yang khas Islam.

Karena itu, Visi kebebasan agama, dapat dikaitkan dengan kesatuan dalam perbedaan atau upaya mencari zona singgung dari adanya aneka jalur praktek beragama. Kebebasan beragama ini dapat diwujudkan, ketika masing-masing penganut agama (atau mazhab) yang beraneka ragam di samping menegaskan identitas mazhab atau agamanya, juga siap pula menegaskan identitas mazhab atau agama lain yang berbeda dengannya.

Selain itu, visi kebebasan beragama ini selaras dengan prinsip penting lainnya seperti kebebasan manusia (ikhtiari), prinsip tanggung jawab (taklif), prinsip keadilan (al-adl), dan prinsip kebijaksanaan (al-hikmah). Dengan semua prinsip ini, manusia mendapatkan keluasan dan keleluasaan untuk mengkaji, meneliti, dan memahami, hingga akhirnya menentukan mazhab atau agama pilihan yang sesuai dengan akal dan hati nuraninya.

Wallahu a’lam bi al-shawab.

(Medan, 04 Ramadhan 1430 H)

(Perpustakaan-Kajian-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Jauhkan Al Quran dari Umat Islam !!!

Baca Al-Qur'an (Foto: Aktual)

Oleh: Ustadz Candiki Repantu


Bismillah

Allahuma shalli ala muhammad wa aali muhammad

“Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus
dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh
bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S. al-Isra : 9)

Napoleon Bonaparte adalah penguasa Perancis yang menaklukkan Mesir. Dia bertanya, ‘Dimanakah markas kaum muslimin?” Orang-orang menjawad, “Di Mesir”.

Sebagai seorang penakluk, maka ia bersama pasukannya bergerak menuju Mesir, disertai seorang penerjemah Arab. Sesampainya di Mesir, dia bersama penerjemahnya itu langsung menuju perpustakaan. Dia berkata kepada sang penerjemah, “Bacakan salah satu buku ini untukku.”

Si penerjemah mengambil salah satu buku di antara sederet buku yang ada, dan ternyata ia mengambil al-Quran. Lembar pertama yang dibukanya membuatnya terpesona; ia membacakan ayat ini kepada Napoleon : “Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Q.S. al-Isra : 9)

Napoleon keluar dari perpustakaan. Dari malam hingga pagi, dia terus memikirkan ayat tersebut. Setelah terjaga dari tidurnya di pagi hari, untuk kedua kalinya, dia langsung ke perpustakaan. Dia meminta kepada penerjemahnya untuk membacakan al-Quran kembali. Si penerjemah membuka al-Quran, membacakan beberapa ayat dan mengartikannya. Setelah itu, Napoleon kembali ke rumahnya. Malam harinya, ia terus tenggelam dalam lamunan tentang al-Quran itu.

Hari ketiga, dia kembali lagi ke perpustakaan. Atas permintaan Napoleon, si penerjemah langsung membacakan beberapa ayat dan menerjemahkannya. Mereka berdua kemudian keluar dari perpustakaan. Napoleon bertanya, ‘Berkaitan dengan agama manakah buku ini?’ Si Penerjemah menjawab, “Ini adalah kitab orang-orang Islam, dan mereka berkeyakinan bahwa al-Quran ini telah diturunkan dari langit kepada Nabi besar mereka.”

Napoleon lantas berkomentar penting, yang mana ucapannya itu menguntungkan kaum muslimin, sekaligus membahayakan mereka. Napoleon berkata, “Aku telah belajar dari buku ini, dan aku merasa bahwa apabila kaum muslimin mengamalkan aturan-aturan buku ini, maka niscaya mereka tidak akan pernah terhinakan. Selama al-Quran ini berkuasa di tengah-tengah kaum muslimin, dan mereka hidup di bawah naungan ajaran-ajarannya yang sangat istimewa, maka kaum muslimin tidak akan tunduk kepada kita, kecuali kita pisahkan antara mereka dengan al-Quran.”

Itulah cita-cita Napoleon Bonaparte, yaitu , ‘menjauhkan umat Islam dari al-Quran’, dan dia berhasil melaksanakannya. Hasilnya, kaum muslimin mundur dan mengalami kekalahan di seluruh dunia, ilmu pengetahuannya mengalami kemunduran, dan tingkah lakunya jauh dari etika islami.

Cita-cita Napoleon dilanjutkan oleh Gladstone, salah seorang arsitek imperialisme Inggris. Gladstone membawa al-Quran ke dalam gedung parlemen Inggris, dan sambil mengangkat al-Quran dia berkata, “Selama orang-orang Mesir itu memegang buku ini di tangan mereka, kita tidak akan menikmati kedamaian di negeri ini”.

Tujuan musuh-musuh Islam adalah menjauhkan umat Islam dari al-Quran. Sebab, saat manusia dijajah, al-Quran mengajak manusia untuk merdeka; saat manusia hidup dalam kebodohan, al-Quran mengajak pada ilmu pengetahuan; saat manusia membunuh anak perempuan, al-Quran mengajak menghormati para perempuan; saat manusia berbuat kezaliman, al-Quran mengajak menegakkan keadilan; saat orang-orang kaya menindas orang-orang miskin, al-Quran mengajak orang miskin mengambil bagian mereka dari orang-orang kaya; saat orang menjual belikan budak, al-Quran memerintahkan membebaskan budak. Saat manusia sibuk mencari kenikmatan dunia, al-Quran menyatakan agar umat Islam berdoa ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kehidupan baik di akhirat, dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka.”

Imam Ali bin Abi Thalib yang merupakan pintu ilmu kenabian menyebutkan keutamaan membaca al-Quran sebagai berikut :
“Ketahuilah bahwa al-Quran ini adalah pemberi nasehat yang tidak akan memperbayai, pemberi petunjuk yang tidak akan menyesatkan, dan pembicara yang tidak akan pernah berbohong. Siapa saja yang menekuni al-Quran, maka akan terjadi hal pada dirinya, yaitu penambahan dan pengurangan. Yakni, bertambahnya hidayah dan berkurangnya kebodohan pada dirinya. Dan ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang setelah mempelajari al-Quran akan mengalami kesulitan, dan tidak seorangpun sebelum mempelajari al-Quran akan merasa berkecukupan. Jadikanlah al-Quran sebagai penawar sakit bagimu, dan mintalah pertolongan kepadanya. Sesungguhnya dalam al-Quran terdapat penawar penyakit bagi sakit yang paling parah sekalipun, seperti kufur, nifak, dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah swt dan menghadaplah kepada-Nya dengan penuh rasa cinta.”

Sekarang kita bebas memilih, mengikuti nasehat Napoleon, yaitu ‘menjauhkan diri dari al-Quran’ atau tetap bersama al-Quran dengan mengikuti nasehat Rasulullah saaw, ‘Siapa yang ingin mendapatkan ilmu pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan, maka bacalah al-Quran”.

wallahu a'lam 

(Medan, 02 Ramadhan 1430 H)

(Perpustakaan-Kajian-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Perempuan Syiah dan Al-Qur'an


Oleh: Ustadz. Ismail Amin

Minggu menjelang dhuhur, di halte bis depan kampus, aku berdiri mematung. Mulutku komat-kamit membaca lafaz ayat-ayat Al-Qur’an yang kuhapal. Di halte sepi, hanya aku dan tiga orang lainnya. Satunya membaca koran, duanya lagi bermain dengan HP. Mungkin karena libur, orang-orang pada malas keluar, dan lebih asyik beraktivitas di dalam rumah.

Perumahan sekitar kampus, yang memang di penuhi dengan kost-kostan mahasiswa, minggu adalah hari yang paling hening. Setidaknya sampai menjelang sore. Pagi kadang total diisi dengan tidur pulas di kamar-kamar sampai siang bagi mereka yang menghabiskan malam dengan begadang. Yang tipikal rajin, setidaknya minggu pagi adalah waktu yang pas untuk mencuci pakaian atau sekedar bersih-bersih kamar. Aku terkadang minggu pagi, malah tidak berada di kost, kalau lagi ada acara majelis-majelis keagamaan, aku pasti mengikutinya. Apakah sebagai penyelenggaranya, ataupun sebagai peserta biasa.

Aku bersyukur dapat terlibat dalam kerja-kerja dakwah ini. Aku jadi lebih dalam mengenal Islam, agama yang kupeluk, terlebih lagi aku punya tambahan banyak teman. Bukan hanya di kampusku, namun juga dari kampus-kampus lain, yang kesemuanya adalah aktivis-aktivis dakwah. Kami punya agenda-agenda dakwah masing-masing yang formatnya nyaris sama namun dengat tema yang berbeda-beda. Misalnya, setiap minggu pagi, karena menjadi hari libur, kami memanfaatkan mengisinya dengan mengadakan pengajian umum, terkadang kami menyebutnya tabligh akbar, mengundang bukan hanya civitas akademika kampus namun juga masyarakat umum sekitar kampus. Agar waktunya tidak bertabrakan, antar lembaga dakwah kampus, kami biasa.saling rembuk jadwal.

Misalnya pekan ini, pengajian diadakan di kampus yang satu, pada pekan berikutnya, di kampus yang lain lagi. Ataupun diadakan di mesjid kampus yang sama pada pekan yang berbeda namun dengan pihak penyelenggara yang berbeda pula, karena setiap fakultas memiliki lembaga-lembaga dakwah tersendiri. Karenanya, aku nyaris tidak punya waktu libur. Kecintaanku terhadap majelis-majelis ilmu, membuatku benar-benar berpaling untuk melakukan hal yang sia-sia, hatta itu sekedar tidur bermalas-malasan di minggu pagi.

Sudah 10 menit, aku berdiri di sisi halte ini. Dan memang biasanya tidak lama menunggu angkutan umum. Paling banter sampai 20 menit, apalagi di hari yang sepi penumpang seperti ini. Mulutku tidak henti komat-kamit, hapalan Qur’anku memang baru beberapa juz, namun kuberjanji untuk setia menjaganya.

Dikepalanku tergenggam mushaf kecil, yang sesekali kulihat untuk mengecek kebenaran hafalanku. Aku tak pernah sekalipun absen untuk membawanya. Aku bisa membaca ataupun mengecek hafalanku dimana dan kapan saja. Hatta dikeramaian sekalipun, aku berupaya tidak ada detik yang kulewatkan terbuang sia-sia. Aku benar-benar berambisi untuk menjadi penghafal Qur’an. Betapa bangganya, hatta kuliah di kampus umum, namun mampu mengamalkan Islam dengan kaffah bahkan sampai jadi hafiz Qur’an pula. Aku tersenyum membayangkan. Betapa bahagianya menjadi hamba-Mu yang saleh ya Allah…

Bapak muda, sudah tidak lagi membaca korannya, ia melipat dan menjadikannya kipas, lalu dikibas-kibas pelan di wajahnya yang gerah. Dua lainnya, masih juga asyik dengan HPnya, bahkan terkadang senyum dan cekikikan sendiri. Saya tadi sempat meliriknya sekali. Keduanya tampaknya mahasiswi sekampusku. Atau malah juga kost di kompleks yang sama denganku. Namun aku tidak peduli, penampilan keduanya yang menor dan pakaian ketatnya, membuatku jengah untuk lebih memperhatikan.

Karena itu aku berdiri, dan tidak duduk di kursi panjang halte untuk sederet dengan keduanya. Keduanya duduk berdampingan, namun masing-masing sibuk dengan HPnya. Saya tidak tahu keduanya saling mengenal satu sama lain atau tidak, namun setidaknya semakin menguatkan hipotesaku, kecanggihan tekhnologi sekarang membuat hubungan antar manusia menjadi berjarak, lebih memilih menjalin kontak komunikasi dengan dunia maya dibanding dengan mereka yang jelas-jelas berada di depan mata. Hp dengan segala aplikasinya memang mendekatkan yang jauh tapi justru menjauhkan yang dekat. Saya benar-benar tidak tertarik.

Mikrolet datang, aku naik, kupilih duduk diujung jok paling belakang. Angkutan umum ini nyaris penuh, tinggal satu tempat yang kosong pas di depanku. Melihat penumpang yang hampir kesemuanya perempuan muda, kutundukkan pandanganku. Dengan menundukkan pandangan, fokus pandangan lebih kecil, sempit dan terarah.

Semakin menengadah, lokus pandangan bertambah luas, semakin luas dan banyak obyek pandangan, kecenderungan berbuat dosa juga semakin besar. Setan lebih sering menggoda dan merayu manusia untuk berbuat dosa lewat pandangan mata. Menjaga pandangan adalah tips yang paling sederhana untuk terhindari dari melakukan perbuatan maksiat kepada Allah. Mikrolet berhenti, ternyata ada yang menahan.

Kulihat sekilas, seorang perempuan muda berjilbab, segera kutundukkan pandangan, ia duduk pas di depanku, satu-satunya tempat kosong yang tersisa. Mataku menumbuk ujung kain gamis cokelatnya, kupejamkan mataku, ya Allah, jaga hati hamba. Yang berpakaian sekenanya, menggoda syahwatku, yang mengenakan busana Islami yang rapi, menggoda imanku.

“Hei, kak Altar…”

Suara itu menyentakku, mataku masih terpejam. Bahkan kupejam lebih erat.

“Ups, afwan kalau mengganggu kak…” Kucoba menengadahkan wajah dengan tatapan bloon.

“Oh, Arini….” Kurapikan dudukku. Kutegakkan badanku.

“Afwan, saya agak ngantuk. Berpengaruh ke kondisi badan, jadinya agak lemas.” Kucoba berbicara sambil tersenyum dengan tatapan mata yang tidak terarah. “Mengapa juga duduknya pas di depanku.” Kataku membatin, kuingat cuman yang didudukinya, satu-satunya tadi tempat yang masih kosong. Dia tidak salah, saya mencari alasan membelanya.

“Kalau begitu afwan kak, telah menegur.”

“Tidak mengapa.”

“Anti, mau kemana?” kutegur diriku, berani juga saya bertanya.

“Oh, ke toko buku kak.”

Hampir saja saya teriak histeris, “Sama dong kalau begitu,” untung akal dan iman masih punya kendali penuh atas organ-organ tubuh ini. Kupilih sekedar membuat bibir berbentuk O tanpa suara, kutatap jalan raya lewat kaca belakang mobil, kendaraan berbagai jenis, berada di belakang mitrolet yang kutumpangi. Ada beberapa menit kami terdiam, saya lebih sibuk dengan lamunanku yang tidak terarah, ingin rasanya kukeluarkan mushafku, dan lebih menyibukkan mata menatap ayat-ayat Ilahi. Tetapi jadi khawatir juga, disebut riya, sok alim, mentang-mentang duduk di depan seorang akhwat jadi pamer-pamer sebagai qari. Aku jadi serba salah.

Teringat pesan ustadzku dalam sebuah halaqah tarbiyah, "Kalau kau khawatir terjebak riya sehingga menghindari perbuatan baik, sama halnya kau terjebak dalam riya yang lebih besar. Yakni kau bangga dan memamerkan bahwa kau sama seperti yang lainnya. Sama dengan lainnya yang membuang waktunya dengan sia-sia. Kau harus tetap lebih mengutamakan berbuat amal ibadah sekecil apapun itu. Mengenai kekhawatiranmu terjebak riya, lawan itu dengan meluruskan niat, ingat Allah dan ikhlaskan hatimu hanya melakukan ibadah karena-Nya. Kalau aktivis dakwah malu memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan shalehnya di depan umum, lantas siapa yang akan melakukannya untuk mendakwahkan syiar Islam ini?."

Kukeluarkan mushafku, yang membuatku terpaksa mengubah posisi duduk. Pandanganku tak sengaja jatuh digenggaman Arini. Digenggaman itu telah ada mushaf yang ukuran serupa dengan punyaku. Tak tahan untuk tidak melihat wajahnya sekilas, bibirnya tampak bergerak-gerak lembut dengan mata yang tertuju kepada ayat-ayat Ilahi itu. Aku menggelengkan kepala merasa kalah. Tiba-tiba rasa penasaranku menyeruak.

"Arini…" tak tahan untuk tidak menegurnya, ada yang ingin kutanyakan. Aku tak mau menyebutnya ukhti, panggilan saudara hanya untuk yang seaqidah.

"Ada apa kak? Kakak memanggilku?" tatapnya sembari tangannya bergerak menutup mushaf.

"Kamu Syiah bukan?"

"Maksud kakak…?" merasa pembicaraan bakal lama ia memasukkan mushaf ke tas pinggangnya.

"Maksud saya, kalau kamu Syiah mengapa harus repot-repot membaca Al-Qur'an yang menurutmu tidak orisinil lagi?" tak tahan menatap tatapan matanya, aku palingkan pandangan ke badan jalan. "Mengapa juga perempuan ini tidak menundukkan pandangan." Geramku membatin.

"Kata siapa kak, Syiah menyebut Al-Qur'an tidak orisinil lagi?"

"Tuh kan, mulai taqiyah lagi. Sudah bukan rahasia lagi Rin." Kataku sedikit meninggi.

"Ada ulama atau tokoh Syiah yang mengeluarkan pernyataan dan keyakinan Al-Qur'an kita beda?"

"Literatur-literatur klasik Syiah menuliskan itu." Ucapku mantap.

Arini tampak hendak membantah, namun tercegah oleh teriakan kecil seorang penumpang yang meminta sopir berhenti. Mobil berhenti sejenak. Setelah menerima ongkos, sopir melajukan mobil kembali.

"Arini, kita diskusinya di tempat lain saja. Tidak enak dilihat orang. Nanti di toko buku saja, kebetulan saya juga mau kesana." Ucapku sedikit berbisik. Arini hanya mengangguk, ia tersenyum sopan. Terlihat jelas dari wajahnya ada kata-kata yang ingin disampaikannya.

*****

"Kakak tidak risih begini?".

Kepalaku celingak-celinguk memandangi orang-orang yang berada di dalam toko buku, hanya ada beberapa orang. Toko ini masih sepi. Tampak rak-rak lemari berisi deretan buku. Beberapa karyawan toko menyusun rapi buku-buku yang sempat berantakan. "Risih juga sih, kalau ada yang mengenali." Kataku setengah berbisik, yang sedetik kemudian aku bantah dalam hati "Jadi maksudmu, kalau tidak ada yang mengenali kamu bebas bermaksiat?" protes batinku. Aku merasa terpaksa melakukannya. Selama ini aku mengenal Syiah hanya dari bacaan saja dan penyampaian ustad-ustadku yang memang sejak awal sudah antipati dengan Syiah. Aku belum pernah mendengar langsung dari orang yang meyakini bahwa Syiah benar, termasuk Arini yang tak jauh dariku ini.

"Sebut saja ini kondisi darurat. Lagian kita tidak bergitu terlalu dekat." Ada jarak sekitar 4 meter yang membentang di antara kami. "Kita lanjutkan diskusi, ajukan argumenmu." Aku berpura-pura sedang memilih-milih buku, aku ambil satu sekenanya.

"Meskipun riwayat-riwayat yang mengindikasikan terjadi perubahan atau pengurangan pada Al-Qur'an terdapat dalam literatur klasik Syiah, kita tidak bisa serta merta menyatakan bahwa itulah yang merupakan keyakinan Syiah."

"Maksudmu?" alisku seketika berkerut, mataku tetap tertuju pada buku yang pura-pura sedang aku baca.

"Kakak sendiri tahu, klasifikasi riwayat itu bagaimana, ada yang shahih, dhaif bahkan palsu. Dan tentu untuk kategori dhaif dan palsu tidak bisa mewakili keyakinan suatu mazhab meskipun itu terdapat dalam kitab-kitab yang merupakan sandaran dalil bagi mazhab itu."

"Maksudmu, riwayat-riwayat mengenai tahrif Al-Qur'an yang terdapat dalam literatur Syiah itu dhaif atau palsu?"

"Iya seperti itulah. Ulama-ulama Syiah telah menyebutkan hal itu dalam kitab-kitab mereka."

"Kalaupun itu palsu, mengapa harus ada dalam kitab-kitab yang dijadikan kitab induk oleh Syiah? Apakah penulis kitab-kitab hadits itu tidak melakukan tinjauan sanad sejak awal, apalagi sampai tidak melakukan kritik matan hadits? Bukankah membaca matan riwayat itu saja, siapapun akan serta merta menolaknya, sebab sangat bertentangan dengan Al-Qur'an?." bantahku.

"Penulis Al Kafi misalnya kak, Syaikh Kulaini itu hanya sekedar mengumpulkan riyawat-riwayat yang masyhur dimasanya tanpa sempat melakukan tahkik mengenai validitas riwayat. Tugas ulama-ulama hadits setelahnyalah yang bertugas mengklasifikasi hadits yang sekedar dikumpul oleh syaikh Kulaini tersebut. Jadi wajar jika riwayat dhaif pun masih bercampur disitu."

"Mengapa tidak ada ulama Syiah yang melakukan penyaringan terhadap Al Kafi, sebagaimana yang dilakukan Imam Bukhari sehingga kitabnya hanya berisi hadits-hadits yang shahih saja?"

"Sudah ada kak. Ada. Penulis kitabnya Syaikh Muhammad Baqir Bahbudi. Judul kitabnya, As Shahih minal Kafi, hadits-hadits shahih dari kitab Al Kafi."

"Dari kitab Ulumul Hadits, saya lupa penulisnya, menyebutkan dari 16.199 riwayat yang terdapat dalam Al Kafi ada 9 ribu riwayat yang lemah." Lanjutnya. "Apakah adil jika Syiah dikatakan sesat dengan berdasar pada riwayat-riwayat yang lemah itu?"

Saya terdiam.

"Lagian kak, kalaupun riwayat-riwayat yang mengindikasikan adanya ta'arif pada Al-Qur'an itu shahih, kita sebelumnya harus tahu bagaimana ulama-ulama Syiah memahami riwayat tersebut. Siapapun akan memberi pembelaan serupa ketika orientalis misalnya, memberikan penilaian negatif terhadap Islam ketika mereka membaca langsung literatur-literatur Islam tanpa mau mencari tahu bagaimana ulama-ulama umat Islam memahaminya."

"Mereka menyebut Islam agama yang bengis dan anti damai karena memerintahkan umatnya berperang, agama yang tidak berprikemanusiaan karena memerintahkan potong tangan dan rajam bagi pelanggar hukum, agama yang tidak ramah terhadap perempuan karena membolehkan poligami, pembagian warisan yang lebih sedikit dan tuntutan untuk taat kepada suami dan lain sebagainya. Bukankah kesimpulan itu diambil karena pemahaman mereka yang tidak spesifik mengenai Islam? Mereka mempelajari Islam hanya melalui teks-teks semata tanpa mengkaji pemahaman umat Islam mengenai aturan-aturan itu."

"Dan itupula yang dirasakan oleh umat Syiah saat ini. Mereka dibombardir dengan propaganda-propaganda negatif, isu-isu perbedaan klasik yang telah berkali-kali dibantah oleh ulama-ulama Syiah dan dibuktikan bahwa itu hanya fitnah dan tuduhan belaka, tapi masih terus diulang-ulang." Ucapnya menggebu-gebu, tanpa memberiku kesempatan berbicara. Saya merasa ada kegeraman yang tertahan dari nada kata-katanya itu.

"Lihat Iran kak, bukankah Iran Negara yang mayoritas berpenduduk Syiah? Apakah tidak ada harganya sama sekali apa yang mereka lakukan selama ini dalam mempromosikan Al-Qur'an ke penduduk dunia? Ulama-ulamanya menulis berjilid-jilid kitab tafsir, Iran berkali-kali menjadi tuan rumah musabaqah tilawatil Qur'an tingkat internasional, setiap tahunnya mengadakan pameran Al-Qur'an, seminar-seminar kajian Al-Qur'an, bahkan Negara kita juga turut ambil andil dalam kegiatan-kegiatan bertaraf internasional yang mereka selenggarakan itu, termasuk Arab Saudi sekalipun. Terlebih lagi salah seorang bocah ciliknya Husain Thabathabai yang baru berusia 7 tahun mendapat gelar Doktor kehormatan karena penguasaannya terhadap Al-Qur'an. Ia telah menghafal Al-Qur'an dan memahami artinya dalam usia semuda itu. Dan orangtuanya Syiah kak. Dia juga Syiah. Apakah semua itu hanya sekedar kamuflase belaka?"

Saya terdiam.

"Kakak sudah baca buku ini?" ia mendekat dan menyodorkan buku tebal bersampul hijau.

Buku itu berpindah tangan. Tertulis disampulnya, Sejarah Al-Qur'an. M. Hadi Ma'rifat tertulis pada bagian atas sampul.

"Itu ditulis Prof. DR. Hadi Ma'rifat, guru besar Ulumul Qur'an di Hauzah Qom Iran. Beliau ulama Syiah. Silahkan dibaca kak bagaimana orisinalitas Al-Qur'an menurut beliau. Saya rasa itu sudah cukup mewakili pandangan umat Syiah hari ini."

Saya tertarik pada buku ini. Sayang masih terbungkus plastik tipis sehingga tidak bisa membuka dan melihat isinya. Saya lirik sampul belakang tertera tulisan kecil Rp. 52.500. Harga segini, saya bisa puasa seminggu. Hatiku mengkerut.

"Kalau memang belum baca. Kakak ambil saja, nanti Arini yang bayar." Katanya seperti pandai membaca isi pikiranku. Saya hampir saja mengiyakan.

"Tidak usah, kalau memang Arini sudah punya, nanti saya pinjam yang itu saja nanti."

Buku kembali beralih tangan. Ia menjauh. Mengembalikan buku pada tempatnya semula.

Arini tetap berada di tempat itu. Kelihatan ia seperti mencari-cari sesuatu. Saya berniat mendekat. Masih ada beberapa hal yang mau saya tanyakan. Sampai saya sadar, toko buku sudah mulai ramai. Saya urungkan niat. Sepertinya dia juga sudah tidak mau diganggu.

Saya akui, masih belum banyak mengenal Syiah. Membaca buku-buku Syiah saja belum pernah. Saya hanya tahu Syiah dari penjelasan ustad-ustad dipengajian dan buku-buku yang menjelaskan kesesatan aqidah dan kekejian Syiah terhadap sahabat-sahabat Nabi. Selama ini aku merasa itu semua sudah cukup menjadi modal untuk membantah argument-argumen batil orang-orang Syiah dan mengembalikannya kembali ke jalan yang benar.

Kumenghela nafas. Kemanapun kumemandang yang tampak tumpukan buku. Begitu banyak buku yang belum kubaca. Pikiranku melayang, mencoba mengingat-ingat buku-buku Islam apa saja yang pernah aku baca. Hanya beberapa yang bisa kuingat. Tak banyak buku yang kubaca sampai tuntas. Kebanyakannya kubaca serampangan, kuambil poin-poin penting, kusimpulkan sendiri dan kujadikan bahan ceramah didepan adik-adik binaan ataupun bahan diskusi dengan teman-teman. Aku tiba-tiba merasa punya kesalahan besar terhadap agama ini. Semua orang mengakui untuk menjadi ahli di bidang tertentu ada hirarki yang harus dilalui, ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi, ada sertifikasi dan pengakuan khusus dari orang-orang yang lebih ahli. Tetapi saya jutsru tidak melihat itu terjadi pada agama ini. Semua orang bisa jadi ahli agama. Cukup hafal beberapa ayat dan hadits, tampilan yang meyakinkan, bisa beretorika dengan baik, siapapun bisa bicara mengenai Islam di mimbar-mimbar.

Dan itupun yang saya lakukan. Saya belum pernah belajar ushul fiqih apalagi fiqih, tapi saya sudah menjadi rujukan adik-adik angkatan di kampus jika mereka punya permasalahan fiqih. Saya tidak pernah belajar khusus mengenai hadits, ilmu rijal, ilmu isnad tapi jika mendengar ada yang menyampaikan hadits tidak sesuai dengan apa yang saya pahami, saya begitu saja menyebutnya lemah atau palsu. Saya bahkan pernah begitu mudah menyebut Syaikh Muhammad Thantawi, Yusuf Qardawi, Sayyid Qutb, Prof. Quraish Shihab dan Nurkholis Majid sebagai orang-orang sesat hanya karena menerima Syiah sebagai bagian dari Islam. Padahal jika dibandingkan dengan ilmu Islam yang kupunya, benar-benar tidak bisa dibandingkan. Bahasa Arab saja aku tak bisa.

*****

"Beli buku apa Rin?" tanyaku saat kembali berpapasan dengan Arini di depan kasir. Ada 4-5 orang didepan kami lagi antri.

"Ini kak, Samudra Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Al-Qur'an for Life Excellence." Dia menunjukkan dua buku yang lumayan tebal.

"Kamu tertarik sama wacana Al-Qur'an ya?"

"Begitulah kak, kan tidak lucu jika seorang muslim tidak begitu mengenal kitab sucinya sendiri."

"Jadi maksudmu, kamu mau melucu?" refleks saya mengatakannya.

"Ha…ha… kakak ternyata punya selera humor tinggi juga." ia tertawa geli sambil menutupi separuh wajah dengan buku ditangannya.

"Emang lucu?" tanyaku masih belum mengerti. Tiba-tiba saya tersentak. Apa yang saya lakukan sudah terlalu jauh. Bukan hanya sekedar ngobrol saya malah sampai bercanda dengan perempuan bukan muhrimku. Aku beristighfar dalam hati berulang-ulang.

Saya mundur dan memberikan tempat antrianku pada dua orang dibelakangku.

Kedua orang itu tampak bingung termasuk Arini. Ia seketika menghentikan tawanya.

"Maaf kak."

"Tidak apa." Kataku sambil memalingkan pandangan kelemari-lemari yang penuh tumpukan buku.

Saya tiba-tiba teringat sesuatu. "Arini, tunggu aku ya. Masih ada yang ingin saya tanyakan."

Arini tak menjawab. Ia berpaling memandangiku sembari tersenyum. Hatiku berdesir seketika.

*****

"Mau tanya apa kak?" tanya Arini ketika kami sudah berada di luar toko. Suara klakson dan deru mesin kendaraan memekakkan telinga. Sangat kontras dibanding berada di dalam toko tadi.

"Bisa lihat bukunya sebentar?" saya menghentikan langkah. Aku tetap berusaha menjaga jarak. Saya bermaksud menyelidiki. Kalau itu buku Syiah, akan kuperlihatkan kesesatannya.

"Bisa. Yang mana kak?" ia kembali mengeluarkan buku yang baru saja dimasukkan ke dalam tasnya.

"Yang samudera ilmu Al-Qur'an."

Buku itu beralih tangan. Kubaca sampulnya. Samudra Ilmu-ilmu Al-Qur'an, ringkasan kitab Al Itqan fi Ulum Al-Qur'an karya Al Imam Jalal Al Din Al Suyuthi. Penulisnya, Dr. Muhammad ibn Alawi Al Maliki, pakar ilmu-ilmu Al-Qur'an dari Makkah. Ini jelas bukan buku Syiah. Aku tersentak saat membaca penerbitnya.

"Ini diterbitkan oleh Mizan?"

"Iya kak. Memang kenapa?"

"Bukannya Mizan penerbit buku-buku Syiah?" aku membuka-buka buku itu menyelidik.

"Bukan kak, Mizan penerbit buku-buku keIslaman, dari mazhab apa saja."

"Tapi bagaimanapun wacana Syiah lebih banyak kan?", tanyaku tak mau kalah.

"Oh kalau itu saya kurang tahu. Bagi saya wacana Islam dan Syiah tak ada bedanya."

Pikiran buruk begitu saja muncul. "Akh, Mizan sengaja menerbitkan buku-buku Ahlus Sunnah untuk mengelabui umat." Ucapku membatin. Ya setidaknya telah mencemari pikiran perempuan cerdas dihadapanku ini, sampai sulit membedakan Islam dan Syiah.

"Oh ya kak, memangnya Imam Jalaluddin Suyuti bukan Syiah?" tanyanya membuyarkan lamunanku.

"Maksudmu?" saya heran dengan pertanyaannya.

"Beliau menukil riwayat dalam kitabnya Al-Itqan, bahwa Al-Qur'an saat ini tidak orisinil lagi. Telah terjadi perubahan dan pengurangan sejak masa sahabat."

"Jangan ngacau Rin, saya tidak percaya. Beliau ulama Sunni, bukan Syiah." Wajahku memerah, tapi dia malah tersenyum.

"Kakak cari sendiri kitab beliau. Di jilid pertama imam Jalaluddin Suyuti menukil riwayat dari Umar bin Khattab yang mengatakan, Al-Qur'an memiliki 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) kata (ahruf). Bukankah itu telah terjadi pengurangan besar-besaran, sebab Al-Qur'an sekarang tidak sampai sepertiganya?."

"Itu pasti riwayat palsu, tidak shahih, dan tidak mungkin bisa diterima." Ucapku sengit.

"Iya seperti itu juga sikap kami, jika Syiah dituduh meyakini terjadi perubahan pada Al-Qur'an hanya karena alasan riwayat yang menyatakan itu terdapat pada kitab yang diakui keberadaannya oleh Syiah. Kalau tidak percaya, kakak bisa mengecek sendiri keberadaan riwayat tersebut."

Tanpa memberi kesempatan bicara, ia melanjutkan, "Keberadaan riwayat-riwayat yang menunjukkan keraguan terhadap keaslian Al-Qur'an terdapat dalam kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah dan Syiah. Ulama-ulama Syiah telah berkali-kali melakukan bantahan dan menyatakan penolakan terhadap keberadaan riwayat-riwayat tersebut. Misalnya Syaikh Rasul Ja'farian yang menulis buku Menolak Isu Perubahan Al-Qur'an. Dan kitab Shiyanah Al-Qur'an min Ta'arif, keterjagaan Al-Qur'an dari Perubahan oleh Prof. Dr. Muhammad Hadi Ma'rifat. Dan saya kira kehadiran dua buku itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab tuduhan yang senantiasa dilontarkan kepada Syiah, bahwa Syiah meyakini terjadi perubahan pada Al-Qur'an atau tuduhan yang lebih keji lagi, umat Syiah memiliki mushaf lain yang berbeda dengan yang dibaca oleh umat Islam lainnya."

Saya mengembalikan buku yang tadi saya pinjam. Saya tidak punya argumen apa-apa terhadap yang baru saja dikatakannya.

"Kakak punya Shahih Bukhari di rumah?" tanyanya sembari memasukkan kembali bukunya.

"Tidak, kenapa?" saya tidak menyangka ia akan menanyakan itu. Ada rasa malu yang begitu saja menyeruak.

"Tuh kan, jadi tidak lucu, jika seorang aktivis muslim yang selama ini banyak bicara mengenai sunnah di mimbar-mimbar tapi ternyata kitab terpopuler dikalangan Ahlus Sunnah sendiri tidak dimilikinya." Katanya menyindir.

"Tapi saya pernah membaca punya teman." Ucapku membela diri.

"Tapi apa dibaca semuanya kak? Tidak kan? Kalaupun membaca terjemahannya biasanya hanya ringkasan atau hadits-hadits pilihan bukan keseluruhannya."

"Apa maksudmu menanyakan ini?" aku merasa terpojok.

"Perlu kakak tahu, dalam Shahih Bukhari sendiri ada riwayat yang ketika membacanya, kita bisa meragukan orisinalitas Al-Qur'an." katanya tersenyum.

Saya menggeleng tidak percaya. "Sebut bab dan halaman berapa Rin nanti saya akan cek. Saya akan buktikan, kamu hanya sedang mengigau…" ucapku sinis. Saya benar-benar tidak bisa menerima apa yang baru saja diucapkannya.

"Saya tidak perlu menyebutkan. Yang pasti riwayat itu benar-benar ada. Saya cuman heran sama kakak. Kitab paling masyhur dikalangan Ahlus Sunnah sendiri kakak tidak begitu menguasai bahkan tidak memilikinya sendiri, tetapi sudah berbicara mengenai kesalahan dan kesesatan mazhab lain dimana-mana."

"Apa maksudmu? Apa seseorang harus benar-benar menjadi ahli agama dulu yang menguasai semua isi kitab-kitab Islam untuk kemudian bisa membedakan yang hak dan yang batil?" ucapku tidak kalah sengit. Saya benar-benar tersinggung.

"Maksud saya, kakak mengumbar dimana-mana apa yang kakak sebut kesesatan Syiah, padahal apa yang dituduhkan itu juga terdapat pada tubuh Ahlus Sunnah sendiri. Bedanya Syiah telah mengklarifikasi dan membantah, sementara ulama Ahlus Sunnah belum. Itu sama halnya melempari rumah orang lain dengan batu, padahal rumah sendiri terbuat dari kaca." Ucapnya tidak kalah sengit.

Saya semakin naik pitam menghadapi perempuan Syiah ini. Tapi tiba-tiba saya tersentak. Saya baru sadar, dari tadi kami telah menjadi tontonan beberapa orang. Amarah saya dikalahkan oleh rasa kikuk. Beberapa pasang mata memandangi kami. Saya langsung berharap mereka menyangka kami kakak-adik atau suami-istri sekalian. Saya tidak menyangka, keluar dari kost tadi pagi semangat keislamanku menggebu-gebu, namun tekadku menjaga pandangan dan kehormatan diri ini runtuh berkeping-keping begitu bertemu dengan perempuan Syiah ini. Bukan hanya mata yang saya kotori hari ini, tapi juga hati, termasuk kemuliaan gamis yang kukenakan. Saya bukan hanya tidak menjaga mata, tapi juga malah telah berdekat-dekatan dengan perempuan yang bukan muhrimku.

"Maaf kak, saya duluan, kita beda angkutan umum, saya mau mampir ke rumah teman dulu." Sepertinya dia sadar suasananya. "Assalamu 'alaikum." Ia bergegas menjauh.

"Iya, wa alaikum salam." Dengan nada berat saya membalas.

Beberapa menit kemudian, saya sudah berada di dalam mikrolet. Kepalaku penuh dengan flash back pertemuan dan pembicangan tadi dengan Arini. Argumen dan wajahnya silih berganti membayangiku. Benarkah ada riwayat dalam Shahih Bukhari yang menyatakan Al-Qur'an mengalami perubahan? Akh tidak mungkin.

Benar-benar sulit dipercaya. Imam Bukhari telah melakukan penyitiran hadits yang sedemikian ketat. Dan kalaupun benar-benar ada, tentu akan sulit untuk melemahkan kedudukan riwayatnya atau berargumen sebagaimana Arini tadi. Ahlus Sunnah mengakui semua riwayat yang tertulis dalam Shahih Bukhari semuanya mutawatir dan diterima sebagai hadits shahih. Bagaimana membantahnya jika riwayat itu benar-benar ada?. Akh tentu ulama punya penjelasan mengenai keberadaan riwayat tersebut. Saya hanya masih perlu banyak belajar.

Kini wajah Arini yang membentang membayang. Senyumnya, suaranya…

Aarrrrrgghhhhhh….

*****

(Perpustakaan-Kajian-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Rabu, 30 Desember 2015

Di Balik Makna Kematian


Oleh: Hasyim Adnan, MA

Selama ini manusia belum bisa memastikan esensi sebuah kematian. Selama ini mereka hanya mendefinisikan semata. Secara umum, kematian adalah keluarnya ruh dari jasad atau tubuh. Namun kematian bagi sebagian ulama didefinisikan sebagai ketiadaan kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa kematian adalah antonim dari kehidupan.

Kemudian menurut M. Quraisy Syihab, agama-agama samawi menyebutkan bahwa kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.

Ragib Isyfahani dikutip oleh M. Quraisy Syihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an:

“Kematian merupakan tangga menuju kebahagiaan abadi. Ia merupakan perpindahan dari tempat ke tempat lain, sehingga dengan demikian ia merupakan kelahiran baru bagi manusia. Manusia dalam kehidupannya di dunia ini, dan dalam kematiannya, mirip dengan keadaan telur dan anak ayam. Kesempurnaan wujud anak ayam adalah menetasnya telur tersebut dan keluarnya anak ayam tadi meninggalkan tempatnya selama di dalam telur. Demikian pula manusia, kesempurnaan hidupnya hanya dapat dicapai melalui perpindahannya dari tempat ia hidup di dunia ini, sehingga dengan demikian kematian adalah pintu menuju kesempurnaan, kebahagiaan, syurga yang abadi.”

Lalu Muhammad bin Ali (Al-Baqir) as berpendapat mengenai esensi kematian. Ia berkata: “Ali bin Husain suatu saat pernah ditanya mengenai hakikat kematian. Dia berkata: Bagi yang beriman (kematian itu) seperti melepas pakaian kotor yang dipenuhi serangga kecil seperti melepas pakaian kotor yang dipenuhi serangga kecil serta melepas rantai dan belenggu berat, kemudian menggantinya dengan pakaian paling mewah dan harum serta kendaraan dan rumah yang paling nyaman dan teduh. Bagi kafir, (kematian) ibarat melepas pakaian mewah dengan pakaian paling kotor, kasar, dan pindah dari rumah yang nyaman menuju rumah yang amat sepi serta siksa yang paling pedih.

Dahulu, Imam Muhammad bin Ali (Al-Baqir) as pernah ditanya, “Apakah kematian itu?” Ia menjawab, “Kematian adalah tidur yang kalian alami setiap malam. Hanya saja, yang ini waktunya berlangsung lama. Orang yang tertidur semacam ini baru akan terbangun di hari kiamat.” Hal ini selaras dengan Qs. az-Zumar (39) ayat 42:

“Allah memegang jiwa orang ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”

Jadi, esensi kematian adalah suatu keadaan yang menunjukkan keberlanjutan kehidupan. Ia tidak berarti musnah dan hilang, melainkan selalu hidup berlanjut dalam alam yang berbeda. Walaupun mati, kita tetap ada dan hidup, meski di alam yang berbeda. alam yang berbeda inilah yang sering disebut dengan alam barzakh. Sebuah alam medium antara alam dunia dan alam akhirat. Alam ini tentunya memiliki karakteristik dan keadaan yang berbeda dengan alam dunia.

Mulla Shadra mengungkapkan, “Kematian tidak berarti lenyapnya kehidupan. Kehidupan akan terus berlangsung karena kematian hanyalah proses alami pemisah antara kehidupan pada tingkat duniawi dengan kehidupan pada tingkat berikutnya.

Ada sebuah kisah dari Imam Ali. Suatu ketika, ia menjenguk salah seorang sahabatnya yang sedang sakit keras. Sahabatnya itu sungguh ketakutan dan gelisah karena kematian yang akan menjemput dirinya. Imam Ali dengan bijak berbicara kepadanya:

“Wahai sahabatku, sungguh kamu takut mati karena kamu tidak memahami dengan benar. Jika tubuhmu masih berlumuran tanah maka kamu akan merasa sakit, tidak bahagia dan dipenuhi dengan luka, dan kamu telah mengetahui bahwa mencuci di kolam pemandian akan menghilangkan semua kotoran dan rasa sakitmu, lantas apakah kamu tidak ingin membantu dirimu sendiri pergi ke kolam pemandian supaya kotoranmu menjadi bersih?”

Kemudian sahabat yang sedang sakit itu menjawab, “Wahai saudara Nabi, saya lebih memilih mencuci diri saya agar menjadi bersih.”

Imam Ali pun melanjutkan perkataannya, “Ketahuilah bahwa kematian itu adalah laksana kolam pemandian. Ia merepresentasikan kesempatan terakhirmu untuk membersihkan dirimu dari dosa, dan menyucikanmu dari sifat-sifat buruk. Jika kematian datang kepadamu sekarang, pasti kamu akan terbebas dari kesusahan dan rasa sakit, dan mencapai kebahagiaan serta kesenangan abadi.”

Mendengar perkataan imam Ali, sahabat itu berubah menjadi tenang dan bahagia. Bahkan ia menunggu moment-moment agar cepat bisa memandikan diri melalui kematian. Ia pun bertaubat dan berpasrah kepada Allah, kematiannya kian mendekat. Tak lama berselang, ia pun menghembuskan nafas terakhir. Dan ia pun menempati tempat tinggal abadi.

Jadi kematian sebenarnya adalah gerbang yang harus dilalui oleh setiap manusia bahkan oleh setiap makhluk dalam menuju kesempurnaannya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat : bahwa kematian adalah pintu gerbang menuju alam akhirat ( alam keabadian ). Karena alam dunia sesuai dengan asal katanya yadhna yadhnu dunu yang berarti pendek dan dekat ini menunjukkan bahwa dunia bukan kampung keabadian. Karenanya semua kenikmatan apapun yang ada didunia ini tidak akan pernah sempurna dan penderitaan apapun didunia ini tidak akan pernah abadi.

(Ikmal-Online/STI)

Mendidik Anak Usia 0-7 Tahun Berdasarkan Riwayat Ahlul Bait


Oleh: Ustadzah Euis Daryati, M.A.

Diriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, "Seorang anak adalah tuan pada usia 7 tahun pertama, hamba sahaya pada usia 7 tahun kedua, dan menteri pada usia 7 tahun ketiga. Jika engkau merasa puas (sesuai harapan) pada akhlaknya pada usia 21 tahun, jika tidak (sesuai harapan akhlaknya) maka pukullah bagian samping tubuhnya, dengan itu engkau telah menyampaikan uzur di hadapan Allah SWT."

Dalam kesempatan ini saya akan menjelaskan mengenai pendidikan anak usia 7 tahun pertama. Anak-anak usia 7 tahun pertama itu karena faktor kematangan fisik, mental, dan lain-lain, memang harus banyak dilayani. Dari sisi ini, memang ia bagaikan seorang tuan. Tak heran bila anak kecil ‘memerintah’ ibunya, “Ummi, mau makan!”

Tapi apa seorang 'tuan' diperbolehkan berbuat sewenang-wenang? Apakah kita harus memanjakan anak dan membiarkannya melakukan apa saja yang dikehendakinya? Bila kita melihat kepada riwayat-riwayat Ahlul Bait, kita akan menemukan jawaban dari pertanyaan ini.

Seseorang mengadukan perihal anaknya kepada Imam Kadzim as. Beliau berkata, "Janganlah engkau memukulnya, diamkanlah (tidak diajak bicara sebagai hukumannya), tapi jangan berlama-lama mendiamkannya."

Diriwayatkan oleh Ali bin Atsbat, yang mengatakan bahwa Rasulullah melarang mendidik dalam keadaan marah.

Artinya, orang tua tidak boleh mendidik anak dengan kemarahan, apalagi kekerasan. Namun, juga tidak berarti membiarkan saja perilaku buruk anak. Seperti diceritakan seorang akhwat, dalam sebuah majelis, ada anak kecil yang ‘nakal’, dia melakukan berbagai ulah yang membuat kotor ruangan. Si ibu terlihat kalem saja dan sama sekali tidak menegur anaknya. Rupanya ibu itu merasa sedang mematuhi hadis Nabi tentang "memperlakukan anak usia 7 tahun pertama sebagai tuan". Tentu ini tidak tepat. Ortu tetap harus mengenalkan ‘hukuman’ saat anak melakukan kesalahan. Namun hukumannya bukan pukulan, melainkan dengan ‘mendiamkan’-nya. Ibu bisa mengatakan, “Adek, Ummi nggak mau main sama Adek kalau Adek terus membuang-buang makanan.”

Mendidik Akhlak Sejak Dini

Imam Ali as berkata kepada Imam Hasan as, "Sesungguhnya hati anak itu seperti tanah yang kosong, apa saja yang dilemparkan ke dalamnya akan menerimanya. Karen itu aku bersegera mndidikmu dengan adab, sebelum hatimu mengeras dan akalmu menjadi sibuk karena berbagai urusan (Nahjul Balaghah).

Hadis ini juga bisa menjadi pegangan bahwa menyegerakan untuk menanamkan nilai-nilai dan aturan-aturan kepada anak sejak dini. Karena, mendapatkan anak yang berkarakter baik, sholeh atau sholehah itu tidak instan. Perlu proses secara perlahan dan konsisten sejak dini, sebelum dipengaruhi oleh nilai-nilai buruk dari lingkungan. Namun tentu metode dan cara menanamkan nilai dan aturan itu berbeda-beda sesuai tuntutan usia. Contohnya saja, apakah mendidik anak usia 4 tahun untuk sholat tentu berbeda dengan anak usia 8 tahun. Anak usia 4 tahun harus diajak sholat dengan berbagai teknik yang kreatif dari ibu dan ayah. Misalnya, untuk anak perempuan, belikan mukena dan sajadah yang lucu, dijanjikan akan didongengi setelah sholat, dll.

Selain itu, ada kata mutiara yang masyhur "belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu." Yang dimaksud belajar di sini tentunya bukan belajar formal saja, tapi termasuk juga penanaman nilai dan akhlak. Jika kita mendidik karakter anak sejak kecil, insya Allah akan berbekas hingga dewasa. Sebaliknya, karakter buruk yang dipelajarinya sejak kecil, juga akan menempel hingga dewasa. Itulah sebabnya orang tua perlu sangat waspada dalam mendidik anak pada usia dini. Jangan sampai anak dibiarkan tanpa pengarahan, karena akibatnya akan membekas sampai tua.

Selain itu, anak usia 7 tahun pertama harus dididik sesuai kondisi kejiwaan anak pada usia itu, yaitu jiwa bermain yang sangat dominan. Masa kecil adalah masa di mana anak harus bermain. Melalui bermain-lah dia mempelajari banyak hal. Jadi, orang tua dalam mengajari anaknya, penting sekali menggunakan media bermain. Misalnya, menghafal Quran sambil bermain tebak-tebakan: “Hayo surah apa yang diawali huruf qaf?” Anak yang tidak dibiarkan bermain, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang hatinya kering. Tak heran bila ada julukan “masa kecil kurang bahagia" terhadap orang-orang dewasa yang tingkahnya bak anak-anak, misalnya sikut-sikutan karena berebut jabatan duniawiah, atau tak bertanggung jawab atas urusan keluarganya.

Pentingnya bermain bagi anak, juga disampaikan Imam Shadiq as. Beliau berkata,"Anak itu biarkan bermain pada usia 7 tahun pertama.”

Ayatullah Jawadi Amuli memberikan penafsiran menarik atas surat Al Hadid ayat 20. Beliau menafsirkan ayat berikut sebagai fase-fase kehidupan manusia secara kejiwaan, "Sesungguhnya kehidupan dunia itu permainan (laibun), hura-hura (lahwun), perhiasan(zinatun), saling membanggakan (tafakhur), mengumpulkan harta dan anak.”

Dengan kata lain, dalam ayat ini dijelaskan faktor-faktor apa yang mendominasi kejiwaan manusia pada setiap fase hidupnya:
Laibun: masa kanak-kanak adalah masa bermain. Kita melihat mereka main masak-masakan, bermain peran sebagi ibu dan ayah, perang-perangan, dll. Jangan dianggap ini semua sia-sia. Justru, permainan merupakan pembelajaran hidup bagi anak-anak.

Lahwu : masa remaja, dimana secara kejiwaan mereka cenderung hura-hura.

Zinatun : peralihan masa remaja ke dewasa, dimana mereka lebih cnderung ingin menonjolkan penampilan fisik dan kecantikan.

Tafakhur : adalah ketika manusia berumah tangga, satu sama lain saling membanggakan benda-benda, anak, dan harta yang dimiliki

Fase terakhir adalah ketika manusia menjadi tua, dan ia telah mengumpulkan anak-cucu dan harta.
Tentu saja, manusia yang selamat adalah mereka yang tidak akan membiarkan jiwanya didominasi oleh hal-hal buruk.

Khusus tentang masa bermain, mari kita ingat hadis Rasulullah. Beliau bersabda,"Barangsiapa yang punya anak kecil maka berperilakulah seperti ank kecil."

Rasulullah juga pernah bersabda, "Kelincahan (kenakalan) di waktu kecil menunjukkan kebijaksanaa di waktu dewasa.”

Hadis ini bisa dimaknai bahwa ketika berinteraksi dengan anak, ortu perlu bersikap lincah, penuh canda tawa, dan gemar bermain, seperti layaknya anak-anak. Ortu juga harus memandang ‘kenakalan’ anak sebagai bentuk kecerdasan. Jangan marah ketika anak mencoret dinding. Justru saat itu dia sedang berkreasi. Arahkan saja agar anak mencoret di kerta yang disediakan, atau tempellah dinding dengan kertas supaya anak leluasa mencoret dan berkreasi. Imam Khomeni pernah berkata bahwa aturlah rumahmu sedemikian rupa hingga tidak mengekang rasa ingin tahu anak. Maksudnya, jauhkan barang-barang yang berbahaya, atau barang mahal yang mudah rusak. Jangan sampai hanya karena kuatir atas keselamatan barang, lalu anak dilarang melakukan ini-itu dan berkreativitas.[]

(Ikmal-Online/STI)

Minggu, 27 Desember 2015

Taklif Dalam Islam: Kesehatan Reproduksi Pada Anak Usia Baligh


Oleh: Maria Ulfah Anshor

Pengertian Taklif

Taklif adalah isim masdar yang berarti beban atau tugas. à‘kallafa, yukallifu, takliifan’. Anak yang sudah baligh disebut mukallaf, yaitu orang yang dianggap mampu menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama serta dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya. Seorang mukallaf berkewajiban menjalankan syariat Islam sesuai dengan kemampuannya. Contohnya, shalat lima waktu wajib dilaksanakan bagi orang mukallaf. Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2:286 disebutkan: “Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha…” artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. Di dalam fikih, disebutkan bahwa shalat itu diwajibkan bagi orang Islam yang sudah berakal lagi baligh. Sebagaimana hadis Aisyah RA: “…rufi’al qalam ‘an tsalaatsin: ‘aninna’im hatta yastayqidza, wa ‘anish shabiyyi hatta yahtalima, wa ‘anil majnuuni hatta ya’qila” (H.R. Ahmad dan ash haabus sunan…) Artinya: Bahwa Nabi saw bersabda: …dibebaskan dari tugas (taklif) pada tiga golongan yaitu; orang tidur hingga ia bangun; anak-anak hingga ia bermimpi (baligh); dan orang gila hingga ia sadarkan diri

Baligh pada anak laki-laki ditandai dengan mimpi basah (ihtilam) dan pada anak peremuan ditandai dengan haid pertama (menarche) àmemasuki masa pubertas, Setelah anak laki-laki mengalami pertama kali mimpi basah dan anak perempuan mengalami haid pertama (menarche) maka mereka disebut sudah baligh, artinya sudah dikenakan kewajiban untuk menjalankan syariat Islam

Mimpi Basah
1. Mimpi basah adalah pengeluaran cairan sperma di waktu tidur dan hanya dialami oleh laki-laki.
2. Tertis yang terletak pada buah pelir/ zakar laki-laki menghasilkan sperma.
3. Sperma bergerak melalui saluran sperma (vas deferens)
4. Hormon yang mempengaruhi produksi sel sperma adalah hormon testoteron yang dihasilkan testis.
5. Pada masa pubertas, produksi sperma dan air mani bisa sangat cepat, dalam dua hari sudah terkumpul air mani yang kadang-kadang keluar spontan pada saat tidur atau bangun tidur.

Menstruasi

Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 222 disebutkan:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “haid itu adalah kotoran”

Dalam kesehatan reproduksi (Yayasan Kesehatan Perempuan, 2012), menstrusi adalah perubahan fisiologis dalam tubuh perempuan yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi; estrogen dan progesteron. Satu kali perbulan, indung telur melepas satu sel telur ke saluran telur (tuba fallopian) lalu bergerak menuju rahim. Proses tersebut terjadi karena pengaruh hormon estrogen dan progestero Siklus menstruasi pada perempuan rata-rata terjadi sekitar 28 hari, namun tidak semua perempuan memiliki siklus haid yang sama, kisarannya antara 20 hingga 30 hari Bila sel telur dalam perjalanannya menuju rahim (masa subur) tidak bertemu dengan sel sperma, maka sel telur bersama lapisan yang menempel pada dinding rahim akan luruh dan keluar melalui lubang vagina sebagai haid/ menstruasi. Setelah menstruasi selesai, rata-rata 5-7 hari, indung telur mulai bersiap untuk melepas sel berikutnya. Begitu juga dinding rahim mulai menebal karena pengaruh hormon estrogen. Begitu seterusnya setiap bulan. Pada pengalaman haid pertama, siklus haid sering belum teratur, diseabkan krena hormon belum stabil, stress dan aktivitas yang berlebihan. 


Pendidikan Kesehatan Reproduksi (Kespro) untuk Remaja

Pendidikan kespro pada remaja dimaksudkan untuk memberi pengetahuan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang bersumber dari Al Quran dan hadis kepada anak/remaja agar mengetahui hal-hal yang dibenarkan dan dilarang agama terkait dengan seksualitas dan organ reproduksinya. Tujuannya agar remaja anak/remaja mampu mengendalikan prilaku seksual yang positif yang tidak bertentangan dengan agama. Pendidian kespro meliputi; pengajaran, penyadaran dan penerangan kepada remaja bahkan anak, sejak mereka mengalami perubahan organ reproduksinya (mumayyiz). Proses pertumbuhan fungsi reproduksi remaja dalam Islam (fikih) terdiri 2 tahap: mumayyiz dan baligh. mumayyiz: masa petumbuhan anak-anak pada tahap mampu menyadari dan membedakan sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, mampu mengenali organ reproduksi. Batasan usia mumayyiz pada anak anak laki-laki dan perempuan tidak dibedakan. baligh:masa pertumbuhan anak memasuki usia remaja atau masa pubertas. Usia memasuki masa baligh pada anak laki-laki dan perempuan tidak sama. Pendidikan seksual dalam Islam selalu dikaitkan dengan tanggung jawab dan kewajiban individu dalam menjalankan agama. Contoh; wajib mandi setelah mimpi basah atau haid. Pendidikan seksual diberikan secara bertahap sesuai usia, kebutuhan dan masa pertumbuhan anak/ remaja. Pendidikan seksualitas diarahkan pada pengendalian hasrat seksual yang positif dan mencegah terjadinya hubungan seks sebelum menikah. 


Khitan

Dasar hukum khitan, mengikuti sunnah Ibrahim, Q.S. 4/An-Nisa: 125; “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan diri kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” QS 16/An Nahl:123: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”. Hadis Nabi: “Lima perkara yang merupakan fitrah manusia; khitan, mencukur bulu pada sekitar kemaluan (istihdad), mencukur bulu ketiak, menggunting kuku, memendekkan kumis” (HR. Bukhari) Ada 3 pendapat t/ maksud kata fitrah; berarti agama, berarti sunnah, berarti asal mula (Fath al-Bari, jld 10, h.227-280) Tidak ada satu ayat pun di dalam Al Quran yang secara khusus memerintahkan khitan terhadap perempuan, kecuali beberapa hadis: “khitan merupakan sunnah bagi laki-laki dan kemuliaan bagi perempuan”. Takhrij terhadap sanad dan matan: dla’i , Hadis lain: “wahai ummu Athiyyah, khitanlah tapi jangan berlebihan, karena sesungguhnya hal itu lebih mencerahkan wajah dan lebih disukai oleh suami”. (HR Al-Hakim). Takhrij sanad dan matan: dla’if

Untuk menetapkan hukum khitan perempuan perlu:
1. Tinjauan medis/kesehatan reproduksi
2. Tinjauna sosiologis
3. Tinjauan antropologis
(Ikmal-Online/STI)

Sejenak Bersama Al-Quran: Taubat Penyelamat Manusia


Allah Swt berfirman:
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.” (QS. Yunus: 98)

Sekalipun surat Yunus menjelaskan secara detil tentang sejarah Nabi Nuh dan Musa as, tapi surat ini tetap dinamakan surat Yunus. Padahal dalam surat ini hanya memuat kisah kaum Nabi Yunus as yang bertaubat dan itupun disinggung hanya dalam satu ayat. Walaupun demikian, penamaan surat ini dengan surat Yunus mungkin disebabkan pentingnya apa yang dilakukan oleh kaum Nabi Yunus as. Karena pada akhirnya bertaubat dan Allah Swt menerima taubat mereka.

Imam Shadiq as berkata, “Nabi Yunus as berdakwah kepada kaumnya sejak usia 30 hingga 63 tahun, tapi hanya dua orang yang beriman kepada apa yang dibawanya. Nabi Yunus as kemudian melaknat mereka lalu pergi meninggalkan kaumnya. Satu dari dua orang yang beriman kepada beliau adalah seorang bijaksana dan berilmu. Ketika menyaksikan Nabi Yunus as melaknat kaumnya dan pergi meninggalkan mereka, ia naik ke tempat yang agak tinggi dan memperingatkan mereka. Warga yang mendengar ucapannya menyadari kesalahan yang selama ini dilakukan dan dengan petunjuknya mereka bergerak ke luar kota. Mereka berusaha menjaga jarak dengan anak-anaknya lalu mulai bermunajat kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya, hingga Allah Swt menerima taubat mereka. Nabi Yunus as kembali ke kota itu, tapi menemukan warganya tidak binasa. Beliau terkejut dan bertanya apa yang terjadi. Mereka menjelaskan kepada Nabi Yunus as apa yang terjadi sepeninggalnya.”[1]

Benar, sekalipun manusia telah berada di bibir jurang, tapi ia masih dapat menolong dirinya sendiri. Karena iman dan taubat pada waktunya dapat menyelamatkan manusia dari kemurkaan ilahi dan membatalkan azab, sekaligus menjadikan manusia bahagia.

Dalam sejarah kaum nabi-nabi terdahulu yang mendustakan ucapan mereka hanya kaum Nabi Yunus as yang bertaubat pada waktunya lalu beriman kepada apa yang diajarkannya, sehingga dapat selamat dari azab ilahi.

(IRIB-Indonesia/Ikmal-Online/ABNS)

Dialog Ahli Surga - Ahli Neraka


Oleh: Irwan Kurniawan

Al-Quran, di banyak tempat dan dengan beberapa redaksi yang berbeda, menegaskan suatu hakikat, bahwa setiap orang tergadai dengan apa yang diusahakan dan dikerjakannya. Ini merupakan neraca keseimbangan manusia dalam pandangan Allah. Dia telah menjadikan manusia berbanding lurus dengan amal perbuatannya, dan menetapkan bahwa amal perbuatan merupakan penentu atas tempat apa yang layak baginya di akhirat nanti. Ini juga merupakan sebuah konsep asasi yang harus disadari oleh seseorang dalam kehidupannya. Sebab, hakikat tersebut merupakan spirit tanggung jawab dan pendorong yang hakiki untuk memikul tanggung jawab tersebut. Apabila seseorang meyakini hubungan antara kekiniannya dengan perbuatannya serta hubungan antara masa depannya dengan tindak-tanduknya dalam kehidupan ini, ia akan memikul tanggung jawab itu seluruhnya. Hal ini ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS al-Muddatstsir [74]: 38).

Apabila kita membaca, mengamati dan mencermati ayat ini, maka kita dapat mengambil beberapa pemahaman darinya, di antaranya sebagai berikut :

1. Ada pemikiran yang mengatakan bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti telah ditetapkan sejak azali, khususnya ketika ditiupkan ruh kehidupan kepadanya ketika ia masih berupa janin di dalam rahim ibunya. Namun, tidak sepenuhnya seperti itu, tidak seperti yang diklaim dalam paham jabbariyyah. Sebab, Allah Swt. juga telah menetapkan bahwa tempat akhir kehidupan manusia ada di tangan mereka sendiri. Dapat dikatakan bahwa mereka menggadaikan diri mereka, ke neraka dengan perbuatan-perbuatan buruk mereka sebagai para pendosa, dan ke surga dengan perbuatan-perbuatan baik mereka sebagai orang-orang yang bahagia, seperti ashhâb al-yamîn (golongan kanan). Ini merupakan salah satu manifestasi dari keadilan dan kebijaksanaan Ilahi yang utama.

Ja‘far ash-Shâdiq as. berpesan kepada salah seorang sahabatnya, “Hindarkan jiwamu dari apapun yang bisa menimpakan bahaya padanya sebelum ia berpisah darimu. Berusahalah untuk membebaskannya [dari tawanan nafsu] seperti kamu berusaha dalam penghidupanmu, karena jiwamu tergadai dengan amal perbuatanmu.” (Mustadrak al-Wasâ’il, jil. 11, hal. 343).

2. Kaidah ini berlaku bagi setiap orang tanpa terkecuali, tanpa membedakan warna kulit, gender, ras dan etnik. Oleh karena itu, tidak ada nilai yang lebih tinggi daripada amal salih. Demikianlah, Allah menetapkan aturan bagi hamba-hamba-Nya. Itu artinya setiap pemikiran sempit yang rasis benar-benar tidak mendapat tempat dalam Islam.

3. Sebagian besar bencana yang menimpa seseorang adalah karena usaha dan perbuatannya. Allah Swt. berfirman, Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS al-Syûrâ [42]: 30). Hal itu jarang kita sadari akibat sedikitnya perhatian kita dan lemahnya kesadaran kita terhadap urusan-urusan dan aturan-aturan kehidupan. Padahal, gempa bumi, tsunami, banjir dan bencana-bencana alam yang lain yang menimpa kita pada dasarnya adalah akibat ulah manusia sendiri. Demikian pula balasan di akhirat. Di akhirat nanti, para pendosa yang menjadi penghuni neraka akan ditanya tentang kesengsaraan mereka di neraka, mengapa dulu mereka melakukan perbuatan dosa dan keburukan, padahal sebelum menghabiskan sisa umur, mereka memiliki kesempatan untuk menebus dan membebaskan diri mereka dengan amal-amal salih.

Ada satu kelompok yang Allah kecualikan dari ketergadaian ini. Mereka adalah ashhâb al-yamîn, karena mereka melakukan tindakan dan perbuatan yang terpuji di dunia. Bahkan mereka mendapatkan kenikmatan yang besar dan kekal. Allah Swt. berfirman, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga (QS al-Muddatstsir [74]: 39-40). Di sana, mereka berdialog dengan orang-orang berdosa yang menjadi penghuni neraka. Di antaranya mereka bertanya, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Neraka Saqar?” (QS al-Muddatstsir [74]: 42).

Apa pentingnya pertanyaan ini bagi orang-orang yang mendapatkan kenikmatan di surga dan orang-orang yang mendapatkan siksaan di neraka? Apa hikmah yang tersembunyi di balik dialog ini? Barangkali, ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari dialog antara penghuni surga dan penghuni neraka yang diketengahkan dalam ayat ini, di antaranya sebagai berikut.

1. Hal ini dapat menambah kenikmatan bagi orang-orang yang beriman, baik kenikmatan material maupun spiritual. Sebagaimana orang yang hidup berkecukupan akan merasakan tambahan anugerah yang diberikan Allah kepadanya ketika menyaksikan kondisi orang-orang miskin, maka penghuni surga pun akan merasakan tambahan nikmat surga dan nikmat hidayah ketika mereka menyaksikan keadaan penghuni neraka.

2. Dialog yang akan terjadi pada hari kemudian ini berguna bagi kaum Mukmin di dunia ini karena mengungkapkan hal-hal apa saja yang bisa mendatangkan bahaya dan memberitahukan hal-hal apa saja yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam neraka. Dengan demikian, mereka dapat menghindari tindakan-tindakan yang keliru dan perbuatan-perbuatan dosa tersebut. Sebab, mengetahui hal-hal seperti itu tidak kurang pentingnya daripada mengetahui kebaikan dan kebenaran. Selain itu, orang yang ingin membangun kepribadian imani dalam dirinya hendaklah mengetahui sifat-sifat penghuni neraka untuk dihindari.

Dalam dialog itu, penghuni surga bertanya kepada penghuni neraka, di antaranya, tentang apa sebabnya mereka masuk neraka. Penghuni neraka menjawab bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan mereka masuk neraka, di antaranya, dan yang paling utama, adalah karena mereka dulu tidak termasuk orang-orang yang mendirikan shalat: Mereka menjawab, "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat…” (QS al-Muddatstsir [74]: 43).

“Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” Kalimat ini bisa mengacu pada dua pengertian berikut :

1. Ayat ini merujuk pada orang-orang yang meninggalkan shalat karena alasan ideologi, seperti orang-orang kafir.

2. Ayat ini bisa juga merujuk pada orang-orang yang biasa melakukan ritual-ritual ibadah tetapi tidak berpegang pada aturan-aturan, tuntunan-tuntunan dan nilai-niali ibadah yang semestinya. Mereka inilah yang dimaksudkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya, Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar (QS al-‘Ankabût [29]: 45). Itu karena shalat merupakan tiang agama, ruh keimanan dan wahana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh karena itu, shalat harus dikerjakan dengan sebenar-benarnya sesuai dengan aturan-aturan dan tuntunan-tuntunannya. Bagaimana shalat yang benar? Diriwayatkan dari dari Abû Hurairah, bahwa seseorang masuk masjid lalu shalat. Melihat cara shalat orang itu, Rasulullah Saw. menegurnya, “Ulangi shalatmu karena kamu sebenarnya belum shalat!” Maka orang itu berkata, “Kalau begitu ajarilah saya shalat yang benar, wahai Rasulullah!” Lalu beliau mengajarinya dan bersabda, “Apabila kamu hendak mendirikan shalat, maka berwudhulah dengan sebaik-baiknya, lalu menghadaplah ke kiblat. Lalu kamu bertakbir, membaca [surah] Alquran yang mudah bagimu, lalu rukuklah hingga thuma’nînah dalam rukuk itu, lalu bangkit dan berdiri tegak, lalu bersujudlah hingga thuma’nînah dalam sujud itu, lalu duduk hingga thuma’nînah dalam duduk itu. Kemudian lakukan hal seperti itu dalam seluruh shalatmu.” (HR al-Bukhari).

Dalam hadis lain dari ‘Alî bin Abdul ‘Azîz dari Rifâ‘ah bin Râfi‘, bahwa orang itu berkata kepada Nabi Saw., “Saya tidak mengerti, mengapa engkau mencela [shalat] saya?” Maka Nabi Saw. menjawab, “Shalat seseorang dari kalian tidak dinilai sempurna sebelum ia menyempurnakan wudhu seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT, yaitu membasuh wajah dan kedua tangannya hingga siku, dan mengusap kepala dan kedua kakinya hingga mata kaki. Kemudian ia bertakbir, bertahmid dan memuliakan-Nya, dan membaca sebagian Alquran yang diperkenan Allah dan mudah baginya. Kemudian, ia bertakbir dan rukuk, lalu meletakkan kedua tangannya ke kedua lututnya hingga sendi-sendinya thuma’nînah dan rileks. Kemudian ia membaca: Sami‘allâhu liman hamidah dan berdiri tegak hingga setiap tulang berdiam di tempatnya dan meluruskan tulang punggungnya. Kemudian ia bertakbir lalu bersujud dengan meletakkan wajahnya ke tanah hingga persendiannya menjadi rileks. Kemudian ia bertakbir lalu mengangkat kepalanya dan duduk tegak di atas bokongnya dan meluruskan tulang punggungnya.” Beliau menjelaskan shalat yang benar seperti ini hingga selesai. Setelah itu, beliau bersabda, “Tidak sempurna shalat seseorang dari kalian sebelum ia melakukan seperti itu.” (HR an-Nasâ’î).

Dalam nasihatnya kepada Muhammad bin Abu Bakar, Imam ‘Alî as. berkata, “Perlu engkau ketahui, wahai Muhammad, sesungguhnya setiap sesuatu mengikuti shalatmu. Perlu juga kamu ketahui bahwa siapa yang sudah berani menyia-nyiakan shalat, ia akan lebih berani menyiakan-nyiakan [kewajiban] yang lain.” (Mustadrak al-Wasâ’il, jil. 3, hal. 49).

Rasulullah Saw. bersabda, “Setan senantiasa takut kepada anak Adam selama ia menjaga lima shalat fardu. Tetapi jika ia telah menyia-nyiakannya, maka setan akan berani kepadanya dan menjerumuskannya ke dalam bencana-bencana yang amat besar.” (Bihâr al-Anwâr, jil. 79, hal. 404).

(Ikmal-Online/ABNS)