Tampilkan postingan dengan label ABNS TIMUR TENGAH – IRAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABNS TIMUR TENGAH – IRAN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2016

Unggah Foto Tanpa Hijab, Perempuan Ini Dituntut Untuk Dieksekusi


Para netizen di Arab Saudi menyerukan otoritas negara itu untuk mengeksekusi seorang wanita setempat yang mengunggah foto tanpa memakai abaya atau jilbab ke media sosial Twitter.

Beberapa netizen bahkan bereaksi ekstrem ketika melihat gambar yang diunggah akun @Malak Al Shehri di Twitter, yang tampaknya dipotret di Riyadh, ibu kota Arab Saudi.

Seorang netizen meluapkan kemarahannya dengan berkicau, “Bunuh dia dan lemparkan mayatnya untuk anjing-anjing.”

Sejak komentar-komentar keras dan ekstrem muncul, akun Malak Al Shehri pun telah dihapus, sebagaimana dilaporkan The Independent, Jumat (2/12/2016).

Namun, seorang mahasiswa tanpa nama, yang menggunggah kembali foto wanita itu berkicau bahwa Al Shehri tak mengenakan abaya atau hijab saat keluar untuk sarapan sehari sebelumnya.

Mahasiswa pengunggah foto perempuan itu mengatakan, ia pun mendapat ancaman mati setelah mengunggah foto itu sebagai bukti untuk merespons para pengikut yang meminta ia agar menunjukkan gambar perempuan tersebut.

“Ada banyak orang me-retweet dan mereka menjadi sangat ekstrimis, dia mendapat ancaman," kata mahasiswa. "Dia menghapus tweet, tapi komentar tidak berhenti, jadi dia menghapus akunnya."

Sebuah kicauan yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris berbunyi, “Kami menuntut pemenjaraan pemberontak Angel Al Shehri”, dan itu menjai viral.

Salah satu netizen menulis, “kami menginginkan darah”. Sementara yang lain menuntut sebuah “hukuman yang keras karena situasi yang keji ini”.

Namun, beberapa netizen lainnya di Arab Saudi bahkan memberikan dukungan atas tindakan wanita itu. Kontroversi muncul di tengah eskalasi untuk mengakhiri larangan perempuan untuk mengemudi.

Arab Saudi satu-satunya negara di bumi ini yang masih melarang perempuan mengemudi, tetapi ada anggota keluarga kerajaan yang mulai mengusulkan agar larangan itu dicabut.

(The-Independent/Kompas/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Muqawamah Yaman, Kisah Rakyat Yang Enggan Menyerah


Kisah derita rakyat Yaman adalah kisah sejarah yang senantiasa berulang kembali. Sejarah yang telah mencatat kejahatan Al Saud atas rakyat Yaman yang selalu mengalami kegagalan total.

Dilansir Al-Wa’y News, medan tempur Yaman tidak bisa ditelaah dengan metode politik tertentu.

Sejarah sedang menorehkan istiqamah rakyat Yaman dan memaksa dunia untuk menerima peran mereka. Mengisahkan kejayaan mereka tidak mungkin terungkap jelas tanpa memaparkan keberanian mereka.

Hakikat istiqamah rakyat Yaman adalah sebuah kejayaan yang disertai keberanian.

Sekarang, percaturan perang Yaman telah berubah. Arab Saudi sebagai pihak agresor dan penyulut perang ini sekarang sedang mencari jalan untuk berdamai dengan rakyat Yaman. “Semangat distruktif” telah berubah menjadi “semangat pasrah menyerah”.

Rakyat Yaman telah menghaturkan seluruh jiwa raga mereka dan sekarang berhasil membuktikan kekuatan mereka dalam melawan koalisi regional dan internasional dengan semangat muqawamah. Rakyat Yaman berhasil menyetir angin dan memanfaatkan pertahanan mereka dalam melawan Arab Saudi.

Di arena politik, rakyat Yaman berhasil mengkoordinasi partisipasi rakyat dan memaksakan gencatan senjata dengan menetapkan syarat Arab Saudi harus menghentikan agresi.

Dalam setiap kesempatan politik, rakyat Yaman berhasil tampil sebagai pemenang dan memanfaatkan kesempatan yang ada.

Pertama, mereka membentuk dewan politik sebagai kunci pembentukan Pemerintahan Penyelamat Yaman.

Kedua, melahirkan Pemerintahan Penyelamat Rakyat Yaman. Menurut para analis, penundaan kinerja pemerintahan telah menguntungkan Yaman. Karena dengan ini, mereka bisa memaksakan opsi-opsi yang mereka canangkan terutama setelah Arab Saudi kalah dalam perang Aleppo.

(Al-Wa’y-News/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Bahrain Berlakukan Pembatasan Ketat Untuk Peziarah Arba’in


Para petinggi Bahrain melakukan gangguan terhadap para peziarah Arba’in Husaini di Bandara Internasional Bahrain.

Seperti dilansir Al-Lu’lu’ah kemarin, para pegawai Bandara Internasional Bahrain melakukan gangguan terhadap para peziarah Arba’in Husaini begitu mereka menginjakkan kaki di bandara ini setelah kembali dari Iraq.

Pihak keamanan Bahrain merampas seluruh paspor para peziarah Arba’in Husaini dengan alasan pemeriksaan. Tindakan ini menyebabkan antrian panjang di bandara dan tidak bergerak.

Para pegawai Bahrain membatalkan beberapa paspor dan meminta para pemilik paspor tersebut supaya merujuk kepada kantor urusan kewarganegaraan dan paspor untuk mengurus paspor baru.

Tahun lalu, para peziarah Imam Husain as juga memperoleh gangguan dari pihak berwenang dengan aneka ragam cara. Lembaga-lemaga HAM Bahrain menilai tindakan ini sebagai sebuah tindakan penghukuman yang bertentangan dengan undang-undang yang berlaku.

Sekalipun memperoleh perlakuan yang tak senonoh seperti itu, warga Bahrain masih menggelar demonstrasi di seantero Bahrain dengan semangat “baiat dengan syuhada”. Demonstrasi ini menegaskan hak kisas dan komitmen terhadap tujuan-tujuan yang telah dibangun oleh para syuhada Bahrain.

Rakyat Bahrain menggelar demonstrasi atas ajakan Koalisi 14 Februari dengan mengusung slogan “Labbaik Ya Muhammad”.

Koalisi 14 Februari menegaskan, “Demonstrasi ini bertujuan membela Islam Muhammadi dan menentang siasat kabilahisme anti warga Syiah yang sedang dijalankan oleh Al Khalifah.”

Dari sejak tahun 2011 lalu, rakyat Bahrain menuntut perubahan dan hak-hak mereka sebagai warga. Akan tetapi, tuntutan hak ini rakyat ini dijawab dengan moncong senjata oleh Al Khalifah.

(Al-Lu’lu’ah/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain-ABNS)

Hampir 80 Ribu Warga Tinggalkan Mosul


Sebanyak 77.826 warga sipil telah meninggalkan Mosul dan kabupaten yang berdampingan sejak operasi militer Irak untuk merebut kembali Mosul, kata Organisasi Migrasi Internasional (IOM) pada Jumat (2/12).

"Kami sangat prihatin mengenai pengungsi dan kemampuan masyarakat penampung untuk menghadapi musim dingin," kata Kepala Misi IOM di Irak Thomas Lothar Weiss di dalam satu pernyataan.

"Sekarang musim hujan telah mulai, orang yang tinggal di tempat penampungan sementara atau bangunan yang belum selesai menghadapi risiko kedinginan, cuaca lembab, yang mempengaruhi kesejahteraan dan kesehatan mereka, terutama orang yang berusia lanjut dan anak kecil," ia menambahkan.

Menurut data statistik terkini organisasi tersebut, 80 persen orang yang terusir dari rumah mereka belum lama ini akibat operasi militer tinggal di kamp resmi. Sebanyak 14 persen lagi telah menetap di tempat swasta, sedangkan lima persen sangat memerlukan tempat berteduh dan satu persen lolos dari lokasi pemeriksaan.

Sementara itu, Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) telah membagikan lebih dari 8.000 paket yang berisi selimut dan selimut tebal ke desa dan kota kecil yang baru-baru ini direbut kembali ke sebelah timur Mosul. Sebanyak 3.500 paket lagi akan dikirim buat kelurga yang tinggal di daerah itu selama beberapa hari ke depan.

Pada 17 Oktober, Perdana Menteri Irak Haider Al-Abadi mengumumkan dimulainya serangan besar untuk merebut kembali Mosul, kota terbesar kedua di negeri itu, dalam upaya untuk membebaskan kota di Irak Utara tersebut, kubu utama terakhir ISIS di Irak. Mosul, sekitar 400 kilometer di sebelah utara Ibu Kota Irak, Baghdad, telah dikuasai ISIS sejak Juni 2014.

UNHCR telah memperingatkan sebelum operasi militer dilancarkan sebanyak 1,2 juta warga sipil dapat terusir dari rumah mereka akibat pertempuran.

(Republika/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Penulis Mesir Puji Rahbar Lantaran Peristiwa Kereta Api


“Peristiwa Pahit” mengisahkan peristiwa tabrakan dua kereta api Iran minggu lalu dan menelan korban sebanyak empat puluh sembilan tewas dan lebih dari seratus orang luka-luka.

Yang penting kita ketahui adalah sikap cekatan para petinggi Iran termasuk Rahbar Revolusi Islam dalam menangani peristiwa yang berhubungan dengan jiwa manusia ini.

Media-media Mesir menilai masalah ini sebagai sebuah masalah biasa. Padahal Mesir juga sering menghadapi peristiwa serupa dan termasuk dalam daftar negara yang memiliki korban terbesar dalam peristiwa yang bersangkutan dengan transportasi ini.

Satu hal yang membuat saya takjub adalah cara para petinggi Iran termasuk pemimpin tertinggi dalam menangani masalah ini.

Setelah peristiwa terjadi, Presiden Ruhani secara pribadi segera mengeluarkan perintah supaya masalah ini segera diusut. Ayatullah Khamenei juga menegaskan supaya seluruh faktor dan pelaku yang berperan dalam peristiwa ini harus segera dilacak secara tuntas. Dalam jenjang waktu dua puluh empat jam, kepala transportasi kereta api kawasan timur laut Iran telah ditangkap. Sebelum empat puluh jam berlalu, kepala kereta api dan wakil Menteri Transportasi meminta maaf kepada seluruh korban dan menyatakan mundur dari jabatan.

Sehari setelah peristiwa, seluruh wakil Parlemen Iran mengumpulkan tanda tangan untuk meminta penjelasan dari Menteri Transportasi dan supaya ia menyatakan mundur. Menurut rencana, ketua Parlemen Iran akan menindaklanjuti masalah ini dalam sidang hari ini.

Sikap cekatan seluruh petinggi Iran dalam menangani masalah ini membuktikan bahwa Iran sangat memberikan perhatian terhadap jiwa manusia yang telah ditekankan dalam Al-Quran.

Akan di Mesir, kita sangat acuh tak acuh terhadap masalah ini. Dalam lima tahun terakhir, negara kita mengalami tabrakan kereta api sebanyak 4.777 kali. Yang terburuk terjadi tahun lalu sebanyak 157 kasus di dua puluh propinsi.

(Akhbar-Al-Yawm/Raihab-Abdul-Wahhab/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)