Tampilkan postingan dengan label ABNS TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABNS TOKOH. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juni 2016

SILSILAH PANGERAN KAJORAN TAHUN 1677


“Saya sering menceritakan tentang sepak terjang Pangeran Kajoran, Pangeran yg melegenda dlm sejarah Mataram karena bersama Pangeran Trunojoyo sang menantu beliau telah meluluh lantakkan Kraton Plered.

Mungkin bnyk diantara kita yg tidak tahu silsilah beliau baik saya unggahkan bersumber dr ranji silsilah yg beliau tulis sendiri pd tahun 1677.”


SILSILAH ASLI PANGERAN KAJORAN / PANEMBAHAN RAMA KAJORAN Makam di Klaten.

→ Nabi Muhammad SAW .
→ Sayyidah Fathimah Az-Zahra .
→ Al-Imam Sayyidina Hussain
→ Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin
→ Sayyidina Muhammad Al Baqir
→ Sayyidina Ja’far As-Sodiq .
→ Sayyid Al-Imam Ali Uradhi .
→ Sayyid Muhammad An-Naqib .
→ Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi
→ Ahmad al-Muhajir .
→ Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah .
→ Sayyid Alawi Awwal .
→ Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah .
→ Sayyid Alawi Ats-Tsani .
→ Sayyid Ali Kholi’ Qosim .
→ Muhammad Sohib Mirbath .
→ Sayyid Alawi Ammil Faqih .
→ Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
→ Sayyid Abdullah Azmatkhan .
→ Sayyid Ahmad Shah Jalal .
→ Sayyid Syaikh Jumadil Qubro al-Husaini or Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini .
→ Syeikh Maulana Malik Ibrahim Asmara Qandi
→ Sayyid Ampel Denta Surabaya
→ Sayyid Kalkum Wotgaleh / Pangeran Tumapel / Pangeran Lamongan bergelar pula Panembahan Agung Adipati Ponorogo Kaping 2
→ Pangeran Maulana Mas Ing Kajoran / Panembahan Agung Kajoran
→ Pangeran Agus Kajoran/ Raden Surasa / Pangeran Bagus Srimpet Adipati Lasem bergelar Adipati Tejakusuma I + Putri Ki Ageng Pemanahan
→ Pangeran Raden Ing Kajoran + RA Wongsocipto putri Panembahan Senopati

→ Pangeran Kajoran / Panembahan Rama Kajoran Pimpinan Pemberontakan terhadap Mataram 1676 – 1679

Berputra putri :
1. Raden Ayu Suronadi menikah dengan Pangeran Harya Wiramenggala

2. Raden Ayu Turnajaya menikah dengan Pangeran Turnajaya

3. Raden Wirakusumo ( memimpin pemberontakan setelah ayahnya )

4. Raden Penganteen alias Bree Penganten Adipati Malang

5. Raden Kartanagara gugur bersama p kajoran th 1679

6. Raden Wangsadika gugur bersama p kajoran 1679.

7. Pangeran Somajaya

8. Raden Ayu Suralaya

9. Panembahan Joko Sumyang

10. Raden Sastrojoyo / Adipati Cokrojoyo I

11. RA Tumengung Mataram istri Purbaya III ( yg bergabung dgn kelompok Cina di lasem dan terkenal dengan nama geger pecinan dipimpin Sunan Kuning / Raden Mas Garendi )

12. Dan beberapa wanita lagi.

‪#‎sedang‬ saudara saudara kandung Pangeran Kajoran / Panembahan Rama Kajoran antara lain :

. Raden Ayu Panembahan Raden menikah dengan Panembahan Raden bin Pangeran Mas Adipati Wijoyo Ing Pajang atw lebih terkenal dgn nama Mbah Sambu.

. Raden Ayu Panembahan Purbaya menikah dengan Panembahan Purbaya II

. Pangeran Arya Panular / Pangeran Arya Anom ( Mertua Amangkurat I )

. Raden Bapang

. Pangeran Secaki

. Pangeran Bima

Dst….

(Sumber Ranji Silsilah Pangeran Kajoran 1677, Serat Tjandrakanta 1926 karya Ngabehi Tjandrapradanta dan Padmosusatro tahun 1898).


(Ranji-Sarkub/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Silsilah Nasab Panglima Ceng Ho pun Di Palsukan, Hujjah Untuk Nasab Panglima Ceng Ho Sebagai Ahlul Bayt Rasulullah Sangat Lemah


Bila pada 2015 urutan Ahlul Bayt didunia kisaran 36 – 42. Bagaimana mungkin pada 600 tahun yang lalu Nasab Panglima Ceng Ho sudah mencapai urutan 38…..???????

Jelas ini suatu hal yang sangat sangat mustahil. Untuk 2015 ini saja urutan nasab Sayyid Wangsa Kajoran hingga ke Rasulullah baru di urutan 38 ( karena leluhurnya rata rata berusia panjang panjang ).

Jadi dengan demikian penisbatan nasab oleh Para Profesor Cina terhadap Nasab Laksamana Ceng Ho ke Nabi Muhammad jelas TERTOLAK. Hal Bagus dari Penelitian Para Profesor Cina itu Justru di temukan catatan catatan Kuno di Cina Tentang Sayyid Ajjal merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dan bersambung pula silsilah nasab nya dengan Walisongo di Indonesia …

Nasab Laksamana Cheng Ho menurut para profesor dari negeri Cina dan setelah direkonstruksi menurut data kanzun qalam.blog spot terlihat seperti dibawah ini :
01. Cheng Ho (Zheng He atau Haji Mahmud Shams 1371–1433) bin
02. Mi-Li-Jin (Ma HaZhi ) bin
03. Mi-Di-Na (Madina) bin
04. Bai-Yan bin
05. Na-Su-La-Ding (Nasruddin) bin
06. Sau-Dian-Chi (Sayyid Syamsuddin atau Sayyid Ajall) bin
07. Ma-Ha-Mu-Ke-Ma-Nai-Ding (Mahmud Kamaluddin) bin
08. Ka-Ma-Ding-Yu-Su-Pu (Kamaluddin Yusuf) bin
09. Su-Sha-Lu-Gu-Chong-Yue bin
10. Sai-Yan-Su-Lai-Chong-Na bin
11. Sou-Fei-Er (Sayyid Syafi’i) bin
12. An-Du-Er-Yi bin
13. Zhe-Ma-Nai-Ding (Zainal Abidin) bin
14. Cha-Fa-Er (Ja’far) bin
15. Wu-Ma-Er (Umar) bin
16. Wu-Ma-Nai-Ding (Aminuddin) bin
17. Hu-Fu-Ding bin
18. Mu-Xie (Musa) bin
19. Gu-Bu-Ding (Gulbuddin) bin
20. Ha-San (Hasan) bin
21. Yi-Si-Ma-Xin bin
22. Mu-Ba-Er-Sha (Muhammad Basya) bin
23. Lu-Er-Ding (Jamaluddin) bin
24. Ya-Xin (Yasin) bin
25. Mu-Lu-Ye-Mi bin
26. She-Li-Ma (Salim) bin
27. Li-Sha-Shi bin
28. E-Ha-Mo-De (Ahmad) bin
29. Ye-Ha-Ya (al-Hadi ila’l-Haqq Yahya) bin
30. E-Le-Ho-Sai-Ni (Al-Husaini ar Rassi) bin
31. Xie-Xin (Qasim) bin
32. Ibrahim bin
33. Yi-Si-Ma-Ai-Le (Ismail) bin
34. Yi-Bu-Lai-Xi-Mo (Ibrahim al Jamr) bin
35. Hasan al-Muthanna [menikah dengan Syarifah Fatimah binti Hou Sai-Ni (Husein bin Ali ra.)] bin
36. Hasan bin
37. Fatimah Az-Zahra (istri dari Ali ra.) binti
38. Nabi Muhammad

Sumber Data :
Rekonstruksi, Silsilah Laksamana Cheng Ho ?

http://kanzunqalam.com/2014/11/06/rekonstruksi-silsilah-laksamana-cheng-ho/
JELAS DATA DIATAS SANGAT TERTOLAK SEKALI BAGAIMANA MUNGKIN 600 TAHUN YANG LALU KETURUNAN RASULULLAH SUDAH MENCAPAI GENERASI YANG KE 38….!

Sarasilah Ceng Ho ini bagi saya bertaraf hujah yang LEMAH dan TERTOLAK. Ini bukanlah bukti kukuh bahwa Laksamana Cheng Ho seorang ahlul bayt Rasul seperti banyak dugaan orang selama ini, karena :
1. Boleh jadi ada kesalahan dalam sarasilah ini yang disengajakan ataupun tidak. Belum tentu Cheng Ho benar-benar berketurunan Nabi Muhammad SAW. Banyak kes di seluruh dunia menunjukkan salasilah sesuatu keturunan mengalami pengubah suaian karena faktor-faktor politik, keselamatan, pengaruh dan lain-lain.
2. Tidak bisa menjadi dasar seorang yang lahir dalam kalangan muslim akan kekal sebagai muslim juga sehingga ke akhir hayatnya. Apalagi kita temukan bukti bahwa ceng ho membangun banyak Klenteng, dan Patung2 Dewi Laut. Meninggalnya pun di Kremasi bukan dikuburkan seperti layaknya seorang muslim. Meskipun di Cina ada kuburannya namun pemerintah setempat telah menyatakan bahwa kuburan itu kosong, hanya sebagai simbolik utk menghormati Ceng Ho.

Namun hujjah yang baik di sini ialah Cheng Ho lahir dari keturunan muslim. Sekarang tumpukan perhatian kepada Suo-Fei-Er pada tangga ke-26.

Siapakah beliau ???

“Dalam Mukaddimah Silsilah Marga Cheng tercatat bahawa Suo-Fei-Er/Saiyidina Syafi’i ialah Kaisar Kerajaan Bokhari. Pada tahun Xi Ning ke-3 Dinasti Song (1070 M) Saiyidina Syafi’i menyerahkan diri kepada Kaisar Song Tiongkok akibat negerinya diserang oleh negara tetangganya……. Ternyata Cheng Ho ialah keturunan dari Saiyidina Syafi’i.” (5)

Li-Sha-Shi yang berada di tangga ke-10 dikatakan pemerintah kerajaan Mi-Si-Le, yang berkemungkinan wilayah Mosul di Iraq. Sayyid Syafi’i yang berada di tangga ke-26 pula dikatakan pemerintah di Bokhari, yang mungkin Bukhara di Uzbekistan hari ini. Cheng Ho pula lahir di China. Dari sudut penghijrahan keturunan ini nampaknya seakan-akan ada kesinambungan. Dari Iraq, berkembang ke Uzbekistan dan berkembang pula ke China. Dari Asia Barat ke Asia Tengah ke Asia Timur.

Jalur keturunan dari Sayyid Syafi’i sampai ke Cheng Ho pun bertaraf lemah juga kerana ada pertikaian yang akan dibentangkan di bawah nanti. Oleh itu dari Sayyid Syafi’i hingga ke Nabi Muhammad tentulah lebih LEMAH lagi.

Mari kita lihat para pengisi salasilah dari Sayyid Ajal hingga Cheng Ho:
•Sayyid Ajall/ Syamsuddin
• Nu-Su-La-Ding (Nasruddin) – anak pertama Sayyid Ajal.
• Bai-Yan
• Mi-Di-Na/ Haji (Madinah)
• Mi-Li Jin/ Ma Haji
• Ma He/ Cheng Ho

Namun seorang pengkaji bernama Qiu Shusen memberikan jalur keturunan Cheng Ho yang lain:
• Sayyid Ajal/ Shamsuddin
• Shan-Su-Ding-Wu-Mo-Li / Shamsuddin Umar – anak keempat Sayyid Ajal.
• Bai Yan
• Mi-Di-Na/ Haji
• Mi-Li-Jin/ Ma Haji
• Ma-He / Cheng Ho (6)

Salasilah Cheng Ho dibabar lagi oleh seorang pengkaji lain bernama Zheng Yijun. Jalur keturunan yang diberikannya ialah :
• Sayyid Ajal/ Syamsuddin
• Ma-Su-Hu –anak kelima Sayyid Ajal
• Ma-Bai-Yan
• Cha-Er-Mi-Di-Na
• Mi-Li-Jin/ Ma Haji
• Cheng Ho (7)

Jadi, siapa sebenarnya anak Sayyid Ajal/Shamsuddin yang menjadi bapa kepada Bai-Yan ?
1. Nu-Su-La-Ding (Nasruddin) – anak pertama Sayyid Ajal ?
2. Shan-Su-Ding-Wu-Mo-Li / Shamsuddin Umar – anak keempat Sayyid Ajal ?
3. Ma-Su-Hu –anak kelima Sayyid Ajal ?

Yang mana hal ini tentunya menurunkan sedikit kredibiliti (meLEMAHkan) salasilah Cheng Ho menuju ke Sayyid Ajal, apa lagi menunju ke Nabi Muhammad SAW.

Namun ketiga-tiga pengkaji setuju bahawa Cheng Ho keturunan Sayyid Ajal dan Sayyid Syafi’i.
Sesungguhnya Ceng Ho Bukanlah seorang Muslim seperti banyak di beritakan akhir akhir ini. Bukti peninggalan Cheng Ho di THAILAND Selatan berupa tempat sembahyang umat BUDDHA ada tercatat juga di prasasti (jika muslim/islam ini namanya sirik membuat berhala dan tidak sesuai dengan syariat islam) .

Panglima Cheng Ho membangun beberapa kuil di Sri Lanka, Thailand, Semarang begitu juga di china daratan pembangunan tempat sembahyang dewi MAZU, MA CO PO atau dewi laut.

Pertanyaan simple kalau cheng ho itu betul Islam dari lahir jelas dia tahu itu melanggar akidah agamanya KECUALI memang Cheng Ho BUKAN ISLAM tulen tidak menjadi masalah membangun tempat sembahyang non-islam.

Bukan saja di luar daratan China pembangunan ibadah Non muslim oleh Zhang He ,di China sendiri terdapat di Nanjing.

Bagaimana bisa meng-klaim Cheng Ho Islam bahkan seorang dzurriyat Rasulullah SAW jika Dia sendiri membangun tempat sembahayang dewa dewa Tao ?????

Cheng Ho adalah sida sida/kasim yang tentunya sudah disunat habis dan kasim kasim adalah banci agar tidak meniduri atau menganggu selir2 kaisar. Hal ini terlarang dalam Agama Islam.

Hanya cina muslim malaysia dan indonesia saja yang mengakui dan percaya cheng ho adalah muslim
Klaim klaim promosi cina bahwa Cheng Ho Islam baru tersiar pada tahun 1980 diterbitkan buku tersebut di malaysia oleh seorang keturunan china malaysia. sebelum itu selama ratusan tahun tidak pernah terdengar bahwa ceng ho muslim dan ahlul bayt Rasul dan bagaimana jika klaim cheng Ho buddha di lakukan oleh masyarakat Thailand yang jelasnya bukti peninggalannya ada dan masih berdiri kokoh hingga sekarang ,tapi memang kekonyolan ini hanya ada di Indonesia saja main klaim untuk promosi keimanan yang sesat.

BUKAN HANYA DI THAILAND SELATAN SAJA ADA PRASASTI DAN KUIL BUDDHA YANG DI BANGUN OLEH ZHANG HE TAPI DI SRI LANKA DINAMAKAN Galle Trilingual Inscription dan sekarang tersimpan di museum Colombo National Museum.(INI BUKTI JELAS LAGI )
http://en.wikipedia.org/wiki/Galle_Trilingual_Inscription

The Galle Trilingual Inscription was a stone tablet inscription in three languages, Chinese, Tamil and Persian, that was erected in 1411 in Galle, Sri Lanka to commemorate the second visit to Sri Lanka by the Chinese admiral Zheng He by offerings made by him and others to the Buddhist Temple on the Mountain of Sri Lanka. It was discovered in Galle in 1911 and is now preserved in the Colombo National Museum.
On his third voyage, Zheng He sailed from China in 1409, and carried with it the trilingual tablet which Zheng He planned to erect in Sri Lanka. The date equates to 15 February 1409, indicating that it was inscribed in Nanjing before the fleet set out. The Chinese portion gives praise to Buddha and records lavish offerings in his honour

Artikel lengkap zhang he/CHENG HO bukan muslim juga terdapat di perpustakaan umum beijing ,china DIMANA ADAT ISTIADAT TAOISME YAITU KREMASI/MEMBAKAR JENASAH ZHANG HE /CHENG HO DENGAN ADAT TAO (JELAS BERTENTANGAN DENGAN KULTUR ISLAM YANG HARUS DI KUBUR)

Pernyataan tersebut memang benar terbukti

Winata Tee:
Namun Zheng He, seperti lazimnya pelaut bangsa Cina mrk masih berkeyakinan pada TAO yg mana dia selalu membawa boneka Dewi Laut ( MA CO PO = Ma Tsu) dan doa selalu dipanjatkan pagi sore utk memohon keselamatan armadanya dlm perjalanan agungnya di tahun 1421-1423
Temple of the Taoist goddess Tian Fei, the Celestial Spouse, in Fujian province, to whom he and his sailors prayed for safety at sea. This pillar records his veneration for the goddess and his belief in her divine protection, as well as a few details about his voyages. Visitors to the Jinghaisi (Àų¤»û¡Ë in Nanjing are reminded of the donations Zheng He made to this non-Muslim area. Although he had been buried at sea, a monument was built to him on land, and this monument was later renovated in an Islamic style. In the modern world Zheng He has been used as a symbol of religious tolerance.The government of the People’s Republic of China uses him as a model to integrate the Muslim minority into the Chinese republi
Bearti dengan demikian jelas sudah selama ini Islamisasi penyesatan bahkan dibuat film tentang Cheng Ho diperankan oleh seorang pejabat di negeri ini hanya akan jadi bahan olok olok generasi berikutnya yang sudah tahu kenyataan HISTORY ini akibat Islamisasi yang salah.

Yang pasti memang berbahaya Jika sampe sejarah Zhang He ini di-Islamisasikan sama saja membodohi generasi penerus yang akan membuat bodoh/kerdil suatu bangsa. Tugas Cengho melakukan ekspedisi ke selatan mengunjungi semua kerajaan2 Islam bertujuan menarik upeti sebagai tanda takluk kerajaan2 Islam tsb kepada kerajaan langit di Cina pusat. Bangkitnya ekonomi Cina disertai kebangkitan teknologinya mendorong umat Islam di Indonesia dan didunia untuk menjagoinya karena dianggapnya bisa diharapkan mengalahkan Amerika.

Salah satu taktiknya adalah mengusung se-olah2 Cengho beragama Islam. Dilain pihak, negara Cina sekarang berusaha mendominasi ekonominya kesemua negara Islam, “gayung bersambut”, Cina mendukung anggapan bahwa Cengho beragama Islam, dan sejarah Cina di Cina sendiri sekarang sudah diubah dan dongeng2 tentang Cengho beragama Islam dipopulerkan untuk menembus dominasi Cina di semua negara2 Islam termasuk di Indonesia. Kedua pihak saling memanfaatkan, kalo umat Islam memanfaatkan agar Cina menjadi benteng memerangi Amerika, maka Cina memanfaatkan dongeng2 Cengho ini untuk dominasi ekonomi ke negara2 Islam sementara agama Islam sendiri diperangi didalam negerinya karena berusaha mendirikan negara terpisah dari Cina. Islam didalam negeri Cina sendiri dianggap resmi sebagai agama terrorist yang selalu mendapatkan pengawasan sangat ketat bahkan lebih ketat daripada Dalai Lhama Tibet dimana hal ini bisa dibuktikan dengan ditangkapnya ratusan terrorist Jihad Islam yang menyusup dari Turki untuk mengacaukan Olympiade Bejing baru2 ini.

Sudah banyak saya tulis sebelumnya bahwa Cengho bukan beragama Islam melainkan kasim raja yang sudah dikebiri dan bertugas mengurus selir2 raja yang berasal dari kerajaan2 Islam yang ditaklukannya.
Kerajaan manapun didunia, pegawainya ataupun jenderal2nya harus sama agamanya dengan rajanya.
Bahkan semua kerajaan Islam mana ada jendralnya yang beragama bukan Islam ????
Semua kuil2 Sam Po Kong yang didirikan oleh Cengho akhirnya dijadikan mesjid oleh umat Islam melalui pengrusakan patung2nya dan memutar balik sejarah Cengho itu sendiri se-olah2 Cengho beragama Islam.
Bahkan ada pesantren yang menceritakan bahwa isteri2 Cengho juga semuanya Islam. Padahal Cengho itu orang kebiri kepercayaan raja, mana mungkin punya isteri. Tidak tanggung2, hampir semua ulama di pesantren2 di Jawa yang terkenal sering berdakwah bahwa dirinya merupakan keturunan Cengho.

Ceng Ho tidak pernah membaca AlQuran, tidak pernah Shalat 5 waktu, tidak mampu bahasa Arab.
Bahkan dia berjasa menangkapi gadis2 Islam dari kerajaan Champa untuk dijadikan selir raja2 Hindu di Pulau Jawa.

(sumber ini bisa kita cari di perpustakaan umum beijing,CHINA) dimana juga hanya menggalang hubungan bilateral antar negara bukan menyebarkan Islam,mandat kaisar waktu itu jelas tidak akan dilawan dan tidak pernah ada intruksi dari Kaisar CHINA Cheng HO harus SYIAR.

BENTUK ISLAMISASI CHENG HO DILAKUKAN OLEH Residen Poortman DIMANA TULISAN TULISAN TAOISME PENINGGALAN CHENG HO DI KLENTENG SAM PO KONG SEMARANG DIRAMPAS, DIMUSNAHKAN.

Dengan melakukan penelitian terhadap sumber berbahasa Cina, baik yang ada di Nusantara maupun di daratan Cina terdapat banyak data bahwa CHENG HO bukanlah muslim dan Bukan Keturunan Nabi Muhammad SAW.

==================================

“NASAB PALSU CENG HO INI PERLU KITA PERTANYAKAN ULANG DARI PARA PENULISNYA !!!!”

Wallahu a’lamu bishshawab

# Urutan Silsilah (terkecuali no.32,35 dan 36), bersumber dari :
Kong Yuanzhi, Cheng Ho – “Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011,ms. 37
(myalexanderwathern.blogspot,com)

# Data silsilah berdasarkan buku “Ahlul Bait Rasulullah SAW & Kesultanan Melayu”, tidak terdapat urutan 17 dan 18. Jadi urutan 16 [Wu-Ma-Nai-Ding (Aminuddin)], adalah putera urutan 19 [Gu-Bu-Ding (Gulbuddin)]…

Referensi :
(1) Hamka, Star Weekly, 18 Mac 1961.
(2) Kong Yuanzhi, Cheng Ho – “Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011,ms. 37
(3) Kong Yuanzhi, Cheng Ho – “Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011,ms. 19-20.
(4) H. Usman Effendy, “Laksamana Haji Cheng Ho Belayar ke Indonesia sebagai Niagawan dan Mubaligh”, Angkatan Bersenjata, 18 Julai 1987
(5) Kong Yuanzhi, Cheng Ho – “Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011,ms. 21.
(6) Nama ini difikirkan Mokhri Hussin.
(7) Kong Yuanzhi, Cheng Ho – “Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”, Jakarta, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011,ms. 20.
(8) Qiu Shuhen, “Moyang Cheng Ho dan Cheng Ho”, Panitia (ED.), II, 1985, ms 97-113.
(9) Zheng Yijun, “Tentang Pelayaran Cheng Ho ke Samudera Barat”, Bali Penerbit Samudra, Beijing, 1985, ms 25.

(Ranji-Sarkub/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

SILSILAH HUBUNGAN KEKERABATAN SUNAN TEMBAYAT & KI AGENG GIRING


→ Nabi Muhammad SAW .
→ Sayyidah Fathimah Az-Zahra .
→ Al-Imam Sayyidina Hussain
→ Sayyidina 'Ali Zainal 'Abidin
→ Sayyidina Muhammad Al Baqir
→ Sayyidina Ja'far As-Sodiq .
→ Sayyid Al-Imam Ali Uradhi .
→ Sayyid Muhammad An-Naqib .
→ Sayyid 'Isa Naqib Ar-Rumi
→ Ahmad al-Muhajir .
→ Sayyid Al-Imam 'Ubaidillah .
→ Sayyid Alawi Awwal .
→ Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah .
→ Sayyid Alawi Ats-Tsani .
→ Sayyid Ali Kholi' Qosim .
→ Muhammad Sohib Mirbath .
→ Sayyid Alawi Ammil Faqih .
→ Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
→ Sayyid Abdullah Azmatkhan .
→ Sayyid Ahmad Shah Jalal .
→ Sayyid Syaikh Jumadil Qubro al-Husaini or Syeikh Jamaluddin Akbar al-Husaini → Syeikh Maulana Malik Ibrahim Asmara Qandi
→ Sayyid Ampel Denta Surabaya
→ Pangeran Tumapel / Pangeran Lamongan / Syaikh Kambyah

→ Sunan Pandanaran II / Sunan Tembayat Makam Ing Bayat,

→ Nyai Ageng Giring + Kyai Ageng Giring II / Kyai Madalem Jabal Kanil

→ Kyai Ageng Dadap Tulis Ing Tembayat berputra :

1. Kyai Ageng Penghulu Tembayat
2. Kyai Ageng Ketib Imam
3. Kyai Ageng Martosari

====================================================

1. Kyai Ageng Penghulu Tembayat berputra

→ Kyai Ageng Djiwo berputra

→ Kyai Ageng Muhtaram berputra

→ Kyai Ageng Jalataruna I berputra

→ Kyai Ageng Jalataruna II berputra

→ Kyai Ageng Dadapan berputra

→ Kyai Ageng Pengulu Sengari Tembayat

2. Kyai Ageng Ketip Imam berputra

→ Kyai Tuwan Loji berputra

→ Kyai Ageng Kali III

3. Kyai Ageng Martosari berputra

→ Kyai Ageng Martosari II berputra

dan seterusnya……….

Sumber : Ranji Silsilah Keluarga Besar Sunan Tembayat Ing Tembayat.



(Ranji-Sarkub/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Silsilah Sunan Gunung Jati Cirebon / Syarif Hidayatullah dan Keturunannya di Cirebon & Banten, Merupakan Keturunan Al-Alawiyin. Nasabnya Sampai Fatimah -AZ-Zahra


  • Nabi Muhammad SAW
  • Fatimah Az-Zahra
  • Al-Husain putera Ali bin Abu Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad
  • Al-Imam Sayyidina Hussain
  • Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
  • Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
  • Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
  • Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
  • Sayyid Muhammad An-Naqib bin
  • Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
  • Ahmad al-Muhajir bin
  • Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
  • Sayyid Alawi Awwal bin
  • Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
  • Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
  • Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
  • Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
  • Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
  • Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
  • Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin
  • Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
  • Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
  • Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @ ‘Ali Nurul ‘Alam
  • Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah Al-Khan bin
  • Sunan Gunung Jati @ Syarif Hidayatullah Al-Khan
SYARIF HIDAYATULLAH – SUNAN GUNUNG JATI berputera :
  1. Ratu Ayu Pembayun
  2. Pangeran Pasarean / Muhammad Tajul Arifin
  3. Pangeran Jaya Lelana
  4. Maulana Hasanuddin Banten
  5. Pangeran Bratakelana / Pangeran Gung Anom
  6. Ratu Winaon
  7. Pangeran Trusmi.




















(Ranji-Sarkub/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Silsilah Nasab Sultan Sepuh Syamsuddin Mertawijaya bin Panembahan Girilaya Seorang Panembahan Ratu Cirebon II Sampai Ke Sayyidah Fatimah Az Zahra


Berikut Urutan Silsilah yang kami dapatkan:

• Nabi Muhammad SAW
• Fatimah Az-Zahra
• Al-Imam Sayyidina Hussain
• Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin
• Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
• Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin
• Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
• Sayyid Muhammad An-Naqib bin
• Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin
• Ahmad al-Muhajir bin
• Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
• Sayyid Alawi Awwal bin
• Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
• Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
• Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
• Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)
• Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut) bin
• Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir (Nasrabad, India) bin
• Sayyid Abdullah Al-’Azhomatu Khan bin
• Sayyid Ahmad Shah Jalal @ Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
• Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar Al-Khan bin
• Sayyid Ali Nurul Alam @ Sayyid Ali Nuruddin Al Khan bergelar Ratu Baniisrail bin
• Sayyid Abdullah Umadtuddin / Sultan Hud Mesir bin
• Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati Cirebon bin
• Panembahan Pasarean / Pangeran Muhammad Tajul Arifin
• Panembahan Sendang Kemuning
• Panembahan Ratu Cirebon I
• Panembahan Mande Gayam
• Panembahan Ratu Cirebon II / Panembahan Girilaya
• Sultan Sepuh Syamsuddin Mertawijaya






(Ranji-Sarkub/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

SILSILAH RATU AGUNG CAKRANINGRAT / SYARIFAH AMBANI MADURA Sampai Ke Sayidah Fatimah Az-Zahra




Berikut daftar Urutan silsilahnya:

→ Nabi Muhammad SAW .
→ Sayyidah Fathimah Az-Zahra .
→ Al-Imam Sayyidina Hussain
→ Sayyidina 'Ali Zainal 'Abidin
→ Sayyidina Muhammad Al Baqir
→ Sayyidina Ja'far As-Sodiq .
→ Sayyid Al-Imam Ali Uradhi .
→ Sayyid Muhammad An-Naqib .
→ Sayyid 'Isa Naqib Ar-Rumi
→ Ahmad al-Muhajir .
→ Sayyid Al-Imam 'Ubaidillah .
→ Sayyid Alawi Awwal .
→ Sayyid Muhammad Sohibus Saumi'ah .
→ Sayyid Alawi Ats-Tsani .
→ Sayyid Ali Kholi' Qosim .
→ Muhammad Sohib Mirbath .
→ Sayyid Alawi Ammil Faqih .
→ Al Imam Abdul Malik Azmatkhan
→ Sayyid Abdullah Azmatkhan .
→ Sayyid Ahmad Shah Jalal .
→ Sayyid Syaikh Jumadil Qubro al-Husaini or Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini .
→ Syeikh Maulana Malik Ibrahim Asmara Qandi
→ Sayyid Ampel Denta Surabaya
→ Sayyid Kalkum Wotgaleh / Pangeran Tumapel / Pangeran Lamongan

→ Pangeran Sawo Tanah + Nyai Ageng Sawo binti Sunan Giri

→ Pangeran Waringin Pitu

→ Pangeran Waringin Pitu II

→ Pangeran Mas Penganten

→ Pangeran Ronggo

→ RATU AGUNG CAKRANINGRAT / SYARIFAH AMBANI PERMAISURI PANEMBAHAN TJAKRANINGRAT I

(Ranji-Sarkub/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Biografi Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu


Penulis: Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah As Suhaim hafizhahullah 


Nama

Nama beliau -menurut pendapat yang shahih- adalah Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taiym bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay Al Qurasyi At Taimi.
Kun-yah
Beliau memiliki kun-yah: Abu Bakar
Laqb (Julukan)
Beliau dijuluki dengan ‘Atiq (عتيق) dan Ash Shiddiq (الصدِّيق).

Sebagian ulama berpendapat bahwa alasan beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. Sebagian juga mengatakan bahwa ibu beliau awalnya tidak kunjung hamil, ketika ia hamil maka ibunya berdoa,

اللهم إن هذا عتيقك من الموت ، فهبه لي 

“Ya Allah, jika anak ini engkau bebaskan dari maut, maka hadiahkanlah kepadaku”

Dan ada beberapa pendapat lain.
Sedangkan julukan Ash Shiddiq didapatkan karena beliau membenarkan kabar dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan kepercayaan yang sangat tinggi. Sebagaimana ketika pagi hari setelah malam Isra Mi’raj, orang-orang kafir berkata kepadanya: ‘Teman kamu itu (Muhammad) mengaku-ngaku telah pergi ke Baitul Maqdis dalam semalam’. Beliau menjawab:

إن كان قال فقد صدق 

“Jika ia berkata demikian, maka itu benar”

Allah Ta’ala pun menyebut beliau sebagai Ash Shiddiq:

وَالَّذِي جَاء بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ 

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan yang membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa” (QS. Az Zumar: 33).

Tafsiran para ulama tentang ayat ini, yang dimaksud ‘orang yang datang membawa kebenaran’ (جَاء بِالصِّدْقِ) adalah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dan yang dimaksud ‘orang yang membenarkannya’ (صَدَّقَ بِهِ) adalah Abu Bakar Radhiallahu’anhu.

Beliau juga dijuluki Ash Shiddiq karena beliau adalah lelaki pertama yang membenarkan dan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam telah menamai beliau dengan Ash Shiddiq sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم صعد أُحداً وأبو بكر وعمر وعثمان ، فرجف بهم فقال : اثبت أُحد ، فإنما عليك نبي وصديق وشهيدان 

“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Gunung Uhud pun berguncang. Nabi lalu bersabda: ‘Diamlah Uhud, di atasmu ada Nabi, Ash Shiddiq (yaitu Abu Bakr) dan dua orang Syuhada’ (‘Umar dan ‘Utsman)”

Kelahiran

Beliau dilahirkan 2 tahun 6 bulan setelah tahun gajah.

Ciri Fisik
Beliau berkulit putih, bertubuh kurus, berambut lebat, tampak kurus wajahnya, dahinya muncul, dan ia sering memakai hinaa dan katm.

Jasa-jasa

1. Jasanya yang paling besar adalah masuknya ia ke dalam Islam paling pertama.
2. Hijrahnya beliau bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
3. Ketegaran beliau ketika hari wafatnya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam
4. Sebelum terjadi hijrah, beliau telah membebaskan 70 orang yang disiksa orang kafir karena alasan bertauhid kepada Allah. Di antara mereka adalah Bilal bin Rabbaah, ‘Amir bin Fahirah, Zunairah, Al Hindiyyah dan anaknya, budaknya Bani Mu’ammal, Ummu ‘Ubais
5. Salah satu jasanya yang terbesar ialah ketika menjadi khalifah beliau memerangi orang-orang murtad.

Abu Bakar adalah lelaki yang lemah lembut, namun dalam hal memerangi orang yang murtad, beliau memiliki pendirian yang kokoh. Bahkan lebih tegas dan keras daripada Umar bin Khattab yang terkenal akan keras dan tegasnya beliau dalam pembelaan terhadap Allah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

لما توفى النبي صلى الله عليه وسلم واستُخلف أبو بكر وكفر من كفر من العرب قال عمر : يا أبا بكر كيف تقاتل الناس وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أمِرت أن أقاتل الناس حتى يقولوا لا إله إلا الله ، فمن قال لا إله إلا الله عصم مني ماله ونفسه إلا بحقه وحسابه على الله ؟ قال أبو بكر : والله لأقاتلن من فرق بين الصلاة والزكاة ، فإن الزكاة حق المال ، والله لو منعوني عناقا كانوا يؤدونها إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم لقاتلتهم على منعها . قال عمر : فو الله ما هو إلا أن رأيت أن قد شرح الله صدر أبي بكر للقتال فعرفت أنه الحق 

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam wafat, dan Abu Bakar menggantikannya, banyak orang yang kafir dari bangsa Arab. Umar berkata: ‘Wahai Abu Bakar, bisa-bisanya engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah, barangsiapa yang mengucapkannya telah haram darah dan jiwanya, kecuali dengan hak (jalan yang benar). Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah akan kuperangi orang yang membedakan antara shalat dengan zakat. Karena zakat adalah hak Allah atas harta. Demi Allah jika ada orang yang enggan membayar zakat di masaku, padahal mereka menunaikannya di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, akan ku perangi dia’. Umar berkata: ‘Demi Allah, setelah itu tidaklah aku melihat kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi orang-orang tersebut, dan aku yakin ia di atas kebenaran‘”

Begitu tegas dan kerasnya sikap beliau sampai-sampai para ulama berkata:

نصر الله الإسلام بأبي بكر يوم الردّة ، وبأحمد يوم الفتنة 

“Allah menolong Islam melalui Abu Bakar di hari ketika banyak orang murtad, dan melalui Ahmad (bin Hambal) di hari ketika terjadi fitnah (khalqul Qur’an)”

Abu Bakar pun memerangi orang-orang yang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat ketika itu

1. Musailamah Al Kadzab dibunuh di masa pemerintahan beliau
2. Beliau mengerahkan pasukan untuk menaklukan Syam, sebagaimana keinginan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Dan akhirnya Syam pun di taklukan, demikian juga Iraq.
3. Di masa pemerintahan beliau, Al Qur’an dikumpulkan. Beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkannya.
4. Abu Bakar adalah orang yang bijaksana. Ketika ia tidak ridha dengan dilepaskannya Khalid bin Walid, ia berkata:

والله لا أشيم سيفا سله الله على عدوه حتى يكون الله هو يشيمه 

“Demi Allah, aku tidak akan menghunus pedang yang Allah tujukan kepada musuhnya sampai Allah yang menghunusnya” (HR. Ahmad dan lainnya).

Ketika masa pemerintahan beliau, terjadi peperangan. Beliau pun bertekad untuk pergi sendiri memimpin perang, namun Ali bin Abi Thalib memegang tali kekangnya dan berkata: ‘Mau kemana engkau wahai khalifah? Akan kukatakan kepadamu perkataan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Uhud:

شِـمْ سيفك ولا تفجعنا بنفسك . وارجع إلى المدينة ، فو الله لئن فُجعنا بك لا يكون للإسلام نظام أبدا 

‘Simpanlah pedangmu dan janganlah bersedih atas keadaan kami. Kembalilah ke Madinah. Demi Allah, jika keadaan kami membuatmu sedih Islam tidak akan tegak selamanya‘. Lalu Abu Bakar Radhiallahu’anhu pun kembali dan mengutus pasukan.

5. Beliau juga sangat mengetahui nasab-nasab bangsa arab.

Keutamaan

Tidak ada lelaki yang memiliki keutaman sebanyak keutamaan Abu Bakar Radhiallahu’anhu

1. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah manusia terbaik setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dari golongan umat beliau.

Ibnu ‘Umar Radhiallahu’anhu berkata:

كنا نخيّر بين الناس في زمن النبي صلى الله عليه وسلم ، فنخيّر أبا بكر ، ثم عمر بن الخطاب ، ثم عثمان بن عفان رضي الله عنهم 

“Kami pernah memilih orang terbaik di masa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Kami pun memilih Abu Bakar, setelah itu Umar bin Khattab, lalu ‘Utsman bin Affan Radhiallahu’anhu” (HR. Bukhari).

Dari Abu Darda Radhiallahu’anhu, ia berkata:

كنت جالسا عند النبي صلى الله عليه وسلم إذ أقبل أبو بكر آخذا بطرف ثوبه حتى أبدى عن ركبته فقال النبي صلى الله عليه وسلم : أما صاحبكم فقد غامر . وقال : إني كان بيني وبين ابن الخطاب شيء ، فأسرعت إليه ثم ندمت فسألته أن يغفر لي فأبى عليّ ، فأقبلت إليك فقال : يغفر الله لك يا أبا بكر – ثلاثا – ثم إن عمر ندم فأتى منزل أبي بكر فسأل : أثَـمّ أبو بكر ؟ فقالوا : لا ، فأتى إلى النبي فجعل وجه النبي صلى الله عليه وسلم يتمعّر ، حتى أشفق أبو بكر فجثا على ركبتيه فقال : يا رسول الله والله أنا كنت أظلم – مرتين – فقال النبي صلى الله عليه وسلم : إن الله بعثني إليكم فقلتم : كذبت ، وقال أبو بكر : صَدَق ، وواساني بنفسه وماله ، فهل أنتم تاركو لي صاحبي – مرتين – فما أوذي بعدها 

“Aku pernah duduk di sebelah Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar menghadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sambil menjinjing ujung pakaiannya hingga terlihat lututnya. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berkata: ‘Sesungguhnya teman kalian ini sedang gundah‘. Lalu Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, antara aku dan Ibnul Khattab terjadi perselisihan, aku pun segera mendatanginya untuk meminta maaf, kumohon padanya agar memaafkan aku namun dia enggan memaafkanku, karena itu aku datang menghadapmu sekarang’. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu berkata: ‘“Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar‘. Sebanyak tiga kali, tak lama setelah itu Umar menyesal atas perbuatannya, dan mendatangi rumah Abu Bakar sambil bertanya, “Apakah di dalam ada Abu Bakar?” Namun keluarganya menjawab, tidak. Umar segera mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Sementara wajah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terlihat memerah karena marah, hingga Abu Bakar merasa kasihan kepada Umar dan memohon sambil duduk di atas kedua lututnya, “Wahai Rasulullah Demi Allah sebenarnya akulah yang bersalah”, sebanyak dua kali. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya ketika aku diutus Allah kepada kalian, ketika itu kalian mengatakan, ”Engkau pendusta wahai Muhammad”, Sementara Abu Bakar berkata, ”Engkau benar wahai Muhammad”. Setelah itu dia membelaku dengan seluruh jiwa dan hartanya. Lalu apakah kalian tidak jera menyakiti sahabatku?‘ sebanyak dua kali. Setelah itu Abu Bakar tidak pernah disakiti” (HR. Bukhari).

Beliau juga orang yang paling pertama beriman kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan membenarkan perkataannya. Hal ini terus berlanjut selama Rasulullah tinggal di Mekkah, walaupun banyak gangguan yang datang. Abu Bakar juga menemani Rasulullah ketika hijrah.

2. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang menemani Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam di gua ketika dikejar kaum Quraisy
Allah Ta’ala berfirman,

ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا 

“Salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita”” (QS. At Taubah: 40).

As Suhaili berkata: “Perhatikanlah baik-baik di sini Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata ‘janganlah kamu bersedih’ namun tidak berkata ‘janganlah kamu takut’ karena ketika itu rasa sedih Abu Bakar terhadap keselamatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sangat mendalam sampai-sampai rasa takutnya terkalahkan”.

Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata kepadanya:

نظرت إلى أقدام المشركين على رؤوسنا ونحن في الغار فقلت : يا رسول الله لو أن أحدهم نظر إلى قدميه أبصرنا تحت قدميه . فقال : يا أبا بكر ما ظنك باثنين الله ثالثهما 

“Ketika berada di dalam gua, aku melihat kaki orang-orang musyrik berada dekat dengan kepala kami. Aku pun berkata kepada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, kalau di antara mereka ada yang melihat kakinya, mereka akan melihat kita di bawah kaki mereka’. Rasulullah berkata: ‘Wahai Abu Bakar, engkau tidak tahu bahwa bersama kita berdua yang ketiga adalah Allah’”

Ketika hendak memasuki gua pun, Abu Bakar masuk terlebih dahulu untuk memastikan tidak ada hal yang dapat membahayakan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Juga ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar terkadang berjalan di depan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, terkadang di belakangnya, terkadang di kanannya, terkadang di kirinya.

Oleh karena itu ketika masa pemerintahan Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu ada sebagian orang yang menganggap Umar lebih utama dari Abu Bakar, maka Umar Radhiallahu’anhu pun berkata:

والله لليلة من أبي بكر خير من آل عمر ، وليوم من أبي بكر خير من آل عمر ، لقد خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم لينطلق إلى الغار ومعه أبو بكر ، فجعل يمشي ساعة بين يديه وساعة خلفه ، حتى فطن له رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يا أبا بكر مالك تمشي ساعة بين يدي وساعة خلفي ؟ فقال : يا رسول الله أذكر الطلب فأمشي خلفك ، ثم أذكر الرصد فأمشي بين يديك . فقال :يا أبا بكر لو كان شيء أحببت أن يكون بك دوني ؟ قال : نعم والذي بعثك بالحق ما كانت لتكون من مُلمّة إلا أن تكون بي دونك ، فلما انتهيا إلى الغار قال أبو بكر : مكانك يا رسول الله حتى استبرئ الجحرة ، فدخل واستبرأ ، قم قال : انزل يا رسول الله ، فنزل . فقال عمر : والذي نفسي بيده لتلك الليلة خير من آل عمر 

“Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar, satu harinya Abu Bakar masih lebih baik dari seharinya keluarga Umar. Abu Bakar bersama Rasulullah pergi ke dalam gua. Ketika berjalan, dia terkadang berada di depan Rasulullah dan terkadang di belakangnya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam heran dan berkata: ‘Wahai Abu Bakar mengapa engkau berjalan terkadang di depan dan terkadang di belakang?’. Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah, ketika saya sadar kita sedang dikejar, saya berjalan di belakang. Ketika saya sadar bahwa kita sedang mengintai, maka saya berjalan di depan’. Rasulullah lalu berkata: ‘Wahai Abu Bakar, kalau ada sesuatu yang aku suka engkau saja yang melakukannya tanpa aku?’ Abu Bakar berkata: ‘Demi Allah, tidak ada yang lebih tepat melainkan hal itu aku saja yang melakukan tanpa dirimu’. Ketika mereka berdua sampai di gua, Abu Bakar berkata: ‘Ya Rasulullah aku akan berada di tempatmu sampai memasuki gua. Kemudian mereka masuk, Abu Bakar berkata: Turunlah wahai Rasulullah. Kemudian mereka turun. Umar berkata: ‘Demi Allah, satu malamnya Abu Bakar lebih baik dari satu malamnya keluarga Umar’‘” (HR. Al Hakim, Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah).

3. Ketika kaum muslimin hendak berhijrah, Abu Bakar Ash Shiddiq menyumbangkan seluruh hartanya. (Dalilnya disebutkan pada poin 8, pent.)

4. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalifah pertama
Dan kita diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk meneladani khulafa ar rasyidin, sebagaimana sabda beliau:

عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي عضوا عليها بالنواجذ 

“Hendaknya kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa ar rasyidin setelahku. Gigitlah dengan gigi geraham kalian” (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan lainnya. Hadits ini shahih dengan seluruh jalannya).

5. Abu Bakar Ash Shiddiq dipilih sebagai khalifah berdasarkan nash
Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit keras, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam shalat berjama’ah. Dalam Shahihain, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha ia berkata:

لما مَرِضَ النبيّ صلى الله عليه وسلم مرَضَهُ الذي ماتَ فيه أَتاهُ بلالٌ يُؤْذِنهُ بالصلاةِ فقال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصَلّ . قلتُ : إنّ أبا بكرٍ رجلٌ أَسِيفٌ [ وفي رواية : رجل رقيق ] إن يَقُمْ مَقامَكَ يبكي فلا يقدِرُ عَلَى القِراءَةِ . قال : مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ . فقلتُ مثلَهُ : فقال في الثالثةِ – أَوِ الرابعةِ – : إِنّكنّ صَواحبُ يوسفَ ! مُروا أَبا بكرٍ فلْيُصلّ ، فصلّى 

“Ketika Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sakit menjelang wafat, Bilal datang meminta idzin untuk memulai shalat. Rasulullah bersabda: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah berkata: ‘Abu Bakar itu orang yang terlalu lembut, kalau ia mengimami shalat, ia mudah menangis. Jika ia menggantikan posisimu, ia akan mudah menangis sehingga sulit menyelesaikan bacaan Qur’an. Nabi tetap berkata: ‘Perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’. ‘Aisyah lalu berkata hal yang sama, Rasulullah pun mengatakan hal yang sama lagi, sampai ketiga atau keempat kalinya Rasulullah berkata: ‘Sesungguhnya kalian itu (wanita) seperti para wanita pada kisah Yusuf, perintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam dan shalatlah’”

Oleh karena itu Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

أفلا نرضى لدنيانا من رضيه رسول الله صلى الله عليه وسلم لديننا 

“Apakah kalian tidak ridha kepada Abu Bakar dalam masalah dunia, padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah ridha kepadanya dalam masalah agama?”

Juga diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم في مرضه : ادعي لي أبا بكر وأخاك حتى اكتب كتابا ، فإني أخاف أن يتمنى متمنٍّ ويقول قائل : أنا أولى ، ويأبى الله والمؤمنون إلا أبا بكر وجاءت امرأة إلى النبي صلى الله عليه وسلم فكلمته في شيء فأمرها بأمر ، فقالت : أرأيت يا رسول الله إن لم أجدك ؟ قال : إن لم تجديني فأتي أبا بكر 

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadaku ketika beliau sakit, panggilah Abu Bakar dan saudaramu agar aku dapat menulis surat. Karena aku khawatir akan ada orang yang berkeinginan lain (dalam masalah khilafah) sehingga ia berkata: ‘Aku lebih berhak’. Padahal Allah dan kaum mu’minin menginginkan Abu Bakar (yang menjadi khalifah). Kemudian datang seorang perempuan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan sesuatu, lalu Nabi memerintahkan sesuatu kepadanya. Apa pendapatmu wahai Rasulullah kalau aku tidak menemuimu? Nabi menjawab: ‘Kalau kau tidak menemuiku, Abu Bakar akan datang’” (HR. Bukhari-Muslim).

6. Umat Muhammad diperintahkan untuk meneladani Abu Bakar Ash Shiddiq
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر 

“Ikutilah jalan orang-orang sepeninggalku yaitu Abu Bakar dan Umar” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Maajah, hadits ini shahih).

7. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah salah seorang mufti di masa Nabi Muhammad
Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam menugasi beliau sebagai Amirul Hajj pada haji sebelum haji Wada’. Diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu:

بعثني أبو بكر الصديق في الحجة التي أمره عليها رسول الله صلى الله عليه وسلم قبل حجة الوداع في رهط يؤذنون في الناس يوم النحر : لا يحج بعد العام مشرك ، ولا يطوف بالبيت عريان 

“Abu Bakar Ash Shiddiq mengutusku untuk dalam sebuah ibadah haji yang terjadi sebelum haji Wada’, dimana beliau ditugaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menjadi Amirul Hajj. Ia mengutusku untuk mengumumkan kepada sekelompok orang di hari raya idul adha bahwa tidak boleh berhaji setelah tahunnya orang musyrik dan tidak boleh ber-thawaf di ka’bah dengan telanjang”
Abu Bakar juga sebagai pemegang bendera Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika perang Tabuk.

8. Abu Bakar Ash Shiddiq menginfaqkan seluruh hartanya ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menganjurkan sedekah.

Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:

أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نتصدق ، فوافق ذلك مالاً فقلت : اليوم أسبق أبا بكر إن سبقته يوما . قال : فجئت بنصف مالي ، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما أبقيت لأهلك ؟ قلت : مثله ، وأتى أبو بكر بكل ما عنده فقال : يا أبا بكر ما أبقيت لأهلك ؟ فقال : أبقيت لهم الله ورسوله ! قال عمر قلت : والله لا أسبقه إلى شيء أبدا 

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami pun melaksanakannya. Umar berkata: ‘Semoga hari ini aku bisa mengalahkan Abu Bakar’. Aku pun membawa setengah dari seluruh hartaku. Sampai Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bertanya: ‘Wahai Umar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Kujawab: ‘Semisal dengan ini’. Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bertanya: ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kau sisakan untuk keluargamu?’. Abu Bakar menjawab: ‘Ku tinggalkan bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya’. Umar berkata: ‘Demi Allah, aku tidak akan bisa mengalahkan Abu Bakar selamanya’” (HR. Tirmidzi).

9. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah orang yang paling dicintai Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam
‘Amr bin Al Ash Radhiallahu’anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu’alahi Wasallam:

أي الناس أحب إليك ؟ قال : عائشة . قال : قلت : من الرجال ؟ قال : أبوها 

“Siapa orang yang kau cintai?. Rasulullah menjawab: ‘Aisyah’. Aku bertanya lagi: ‘Kalau laki-laki?’. Beliau menjawab: ‘Ayahnya Aisyah’ (yaitu Abu Bakar)” (HR. Muslim).

10. Abu Bakar Ash Shiddiq adalah khalil bagi Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam
Imam Al Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu’anhu, ia berkata:

خطب رسول الله صلى الله عليه وسلم الناس وقال : إن الله خير عبدا بين الدنيا وبين ما عنده فاختار ذلك العبد ما عند الله . قال : فبكى أبو بكر ، فعجبنا لبكائه أن يخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن عبد خير ، فكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو المخير ، وكان أبو بكر أعلمنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن مِن أمَنّ الناس عليّ في صحبته وماله أبا بكر ، ولو كنت متخذاً خليلاً غير ربي لاتخذت أبا بكر ، ولكن أخوة الإسلام ومودته ، لا يبقين في المسجد باب إلا سُـدّ إلا باب أبي بكر 

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkhutbah kepada manusia, beliau berkata: ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala memilih hamba di antara dunia dan apa yang ada di dalamnya. Namun hamba tersebut hanya dapat memilih apa yang Allah tentukan’. Lalu Abu Bakar menangis. Kami pun heran dengan tangisan beliau itu, hanya karena Rasulullah mengabarkan tentang hamba pilihan. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lah orangnya, dan Abu Bakar lebih paham dari kami. Lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya orang yang sangat besar jasanya padaku dalam kedekatan dan kerelaan mengeluarkan harta, ialah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan mengangkat seorang kekasihku selain Rabbku pastilah aku akan memilih Abu Bakar, namun cukuplah persaudaraan se-Islam dan kecintaan karenanya. Maka jangan ditinggalkan pintu kecil di masjid selain pintu Abu Bakar saja’”

11. Allah Ta’ala mensucikan Abu Bakar Ash Shiddiq
Allah Ta’ala berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الأَتْقَى * الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى * وَمَا لأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَى * إِلا ابْتِغَاء وَجْهِ رَبِّهِ الأَعْلَى * وَلَسَوْفَ يَرْضَى 

“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan” (QS. Al Lail: 17-21).

Ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Selain itu beliau juga termasuk as sabiquunal awwalun, dan Allah Ta’ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ 

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 100).

12. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memberi tazkiyah kepada Abu Bakar
Ketika Abu Bakar bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

من جرّ ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة . قال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لست تصنع ذلك خيلاء 

“Barangsiapa yang membiarkan kainnya terjulur karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar berkata: ‘Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot kecuali jika aku ikat dengan baik. Rasulullah lalu berkata: ‘Engkau tidak melakukannya karena sombong”” (HR. Bukhari dalam Fadhail Abu Bakar Radhiallahu’anhu)

13. Abu Bakar Ash Shiddiq didoakan oleh Nabi untuk memasuki semua pintu surga

من أنفق زوجين من شيء من الأشياء في سبيل الله دُعي من أبواب الجنة : يا عبد الله هذا خير ؛ فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة ، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد ، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة ، ومن كان من أهل الصيام دُعي من باب الصيام وباب الريان . فقال أبو بكر : ما على هذا الذي يدعى من تلك الأبواب من ضرورة ، فهل يُدعى منها كلها أحد يا رسول الله ؟ قال : نعم ، وأرجو أن تكون منهم يا أبا بكر 

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah” (HR. Al Bukhari – Muslim).

14. Abu Bakar Ash Shiddiq melakukan banyak perbuatan agung dalam sehari
Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

: من أصبح منكم اليوم صائما ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن تبع منكم اليوم جنازة ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن أطعم منكم اليوم مسكينا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . قال : فمن عاد منكم اليوم مريضا ؟ قال أبو بكر رضي الله عنه : أنا . فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما اجتمعن في امرىء إلا دخل الجنة 

“Siapa yang hari ini berpuasa? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini ikut mengantar jenazah? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini memberi makan orang miskin? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Siapa yang hari ini menjenguk orang sakit? Abu Bakar menjawab: ‘Saya’”
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam lalu bersabda: ‘Tidaklah semua ini dilakukan oleh seseorang kecuali dia akan masuk surga’”

15. Orang musyrik mensifati Abu Bakar Ash Shiddiq sebagaimana Khadijah mensifati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.

Mereka berkata tentang Abu Bakar:

أَتُخْرِجُونَ رَجُلًا يُكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَيَصِلُ الرَّحِمَ وَيَحْمِلُ الْكَلَّ وَيَقْرِي الضَّيْفَ وَيُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ 

“Apakah kalian mengusir orang yang suka bekerja untuk mereka yang tidak berpunya, menyambung silaturahim, menanggung orang-orang yang lemah, menjamu tamu dan selalu menolong di jalan kebenaran?” (HR. Bukhari).

16. Ali Radhiallahu’anhu mengenal keutamaan Abu Bakar Ash Shiddiq
Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata, aku bertanya kepada ayahku, yaitu Ali bin Abi Thalib:

أي الناس خير بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم ؟ قال : أبو بكر . قلت : ثم من ؟ قال : ثم عمر ، وخشيت أن يقول عثمان قلت : ثم أنت ؟ قال : ما أنا إلا رجل من المسلمين 

“Manusia mana yang terbaik sepeninggal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam? Ali menjawab: Abu Bakar. Aku berkata: ‘Kemudian siapa lagi?’. Ali berkata: ‘Lalu Umar’. Aku lalu khawatir yang selanjutnya adalah Utsman, maka aku berkata: ‘Selanjutnya engkau?’. Ali berkata: ‘Aku ini hanyalah orang muslim biasa’” (HR. Bukhari).


Sikap Zuhud

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu meninggal tanpa meninggalkan sepeserpun dirham atau dinar. Diriwayatkan dari Al Hasan bin Ali Radhiallahu’anhu:

لما احتضر أبو بكر رضي الله عنه قال : يا عائشة أنظري اللقحة التي كنا نشرب من لبنها والجفنة التي كنا نصطبح فيها والقطيفة التي كنا نلبسها فإنا كنا ننتفع بذلك حين كنا في أمر المسلمين ، فإذا مت فاردديه إلى عمر ، فلما مات أبو بكر رضي الله عنه أرسلت به إلى عمر رضي الله عنه فقال عمر رضي الله عنه : رضي الله عنك يا أبا بكر لقد أتعبت من جاء بعدك 

“Ketika Al Hasan sedang bersama Abu Bakar Radhiallahu’anhu, Abu Bakar berkata, wahai ‘Aisyah tolong perhatikan unta perahan yang biasa kita ambil susunya, dan mangkuk besar yang sering kita pakai untuk tempat penerangan, dan kain beludru yang biasa kita pakai. Sesungguhnya kita mengambil manfaat dari itu semua saat aku mengurusi urusan kaum muslimin. Jika aku mati, kembalikanlah semuanya kepada Umar. Maka ketika Abu Bakar wafat, ‘Aisyah mengirim semua itu kepada Umar Radhiallahu’anhu. Umar pun berkata: ‘Semoga Allah meridhaimu wahai Abu Bakar, sungguh lelah orang yang datang setelahmu’”
Sikap Wara’

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu’anhu adalah orang yang wara’ dan zuhud terhadap dunia sampai-sampai ketika ia menjadi khalifah, ia pun tetap pergi bekerja mencari nafkah. Umar bin Khattab pun Radhiallahu’anhu melarangnya dan menganjurkan ia untuk mengambil upah dari baitul maal, menimbang betapa beratnya tugas seorang khalifah.

Dikisahkan pula dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata:

كان لأبي بكر غلام يخرج له الخراج ، وكان أبو بكر يأكل من خراجه ، فجاء يوماً بشيء ، فأكل منه أبو بكر ، فقال له الغلام : تدري ما هذا ؟ فقال أبو بكر : وما هو ؟ قال : كنت تكهّنت لإنسان في الجاهلية وما أحسن الكهانة إلا أني خدعته ، فلقيني فأعطاني بذلك فهذا الذي أكلت منه ، فأدخل أبو بكر يده فقاء كل شيء في بطنه . رواه البخاري 

“Abu Bakar Ash Shiddiq memiliki budak laki-laki yang senantiasa mengeluarkan kharraj (setoran untuk majikan) padanya. Abu Bakar biasa makan dari kharraj itu. Pada suatu hari ia datang dengan sesuatu, yang akhirnya Abu Bakar makan darinya. Tiba-tiba sang budak berkata: ‘Apakah anda tahu dari mana makanan ini?’. Abu Bakar bertanya : ‘Dari mana?’ Ia menjawab : ‘Dulu pada masa jahiliyah aku pernah menjadi dukun yang menyembuhkan orang. Padahal bukannya aku pandai berdukun, namun aku hanya menipunya. Lalu si pasien itu menemuiku dan memberi imbalan buatku. Nah, yang anda makan saat ini adalah hasil dari upah itu. Akhirnya Abu Bakar memasukkan tangannya ke dalam mulutnya hingga keluarlah semua yang ia makan” (HR. Bukhari).

Wafat beliau

Beliau wafat pada hari Senin di bulan Jumadil Awwal tahun 13 H ketika beliau berusia 63 tahun.
Semoga Allah meridhainya dan mengumpulkan kita bersamanya di surga kelak.

[Diterjemahkan dari http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/126.htm dengan beberapa peringkasan, takhrij dan tash-hih hadits dari penulis] —

Penerjemah: Yulian Purnama

(Muslim/Perpustakaan-Kajian-Islam/Berbagai-Sumber-Lain-ABNS)

Rabu, 30 Desember 2015

Namaku Jihad Mughniyah


Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Di era twitter dan facebook, mobilisasi opini publik kerap dilakukan dengan menggunakan tagar (tanda #) yang menunjukkan “kebersamaan”. Ketika ISIS menandai rumah-rumah warga Kristen di Mosul dengan huruf nun (N), muncul gerakan #WeAreN atau “Kami Semua Nasrani”. Gerakan ini menyebar di berbagai negara, diikuti oleh manusia berbagai agama.

Ketika anggota Al Qaida/ISIS membunuh para kartunis di majalah Charlie Hebdo yang kerap menghina Rasulullah, muncul aksi protes besar-besaran mengecam aksi “terorisme atas nama Islam”. Tagar #JeSuisCharlie pun menjadi sangat populer. Bahkan banyak Muslim yang menggunakan tagar itu atau foto bertuliskan Je Suis Charlie (Saya Charlie).

Ketika seorang anak muda bernama Jihad Mughniyah gugur syahid dibom Israel, dari Lebanon muncul gerakan tagar ‪#‎JeSuisJihadMoughniye atau ‏انا_جهاد_عماد_مغنية # (Saya Jihad Mughniyah). Gemanya tidak terlalu besar. Media massa juga tidak ikut membesarkan gerakan ini, sebagaimana mereka secara masif memberitakan #JeSuisCharlie atau #WeAreN.

Hal ini terasa ironis. Jihad yang dilakukan Jihad Mughniyah adalah antitesis dari jihad ala Al Qaida/ISIS. Bila ISIS “berjuang” dengan membantai sesama muslim, Jihad Mughniyah bergabung dalam sebuah jihad yang hakiki. Jihad, ayahnya, dan dua pamannya adalah para pejuang Hizbullah yang gugur syahid dalam perjuangan mengamankan tanah air mereka dari serangan Israel.

Hizbullah dibentuk pada tahun 1982 sebagai organisasi militer perlawanan terhadap Israel yang telah menduduki Lebanon selatan sejak 1978. Pada tahun 2000, akhirnya Hizbullah berhasil mengusir Israel meski hanya dengan bekal senjata minim dan tanpa dukungan dari pemerintah Lebanon sendiri. Tahun 2006, Israel berusaha kembali memasuki wilayah Lebanon selatan. Setelah berperang 34 hari, Israel kembali takluk.

Sejak tiga tahun terakhir, ‘permainan’ berubah. Israel, AS, negara-negara besar Eropa, dan negara-negara Arab, beramai-ramai memberikan dukungan kepada kelompok teroris yang membawa bendera jihad. Para teroris (sebagian media menyebut mereka “jihadis”) itu muncul dalam banyak nama, antara lain ISIS (Islamic State of Iraq and Syria), Jabhah al Nusra, dan Free Syrian Army. Meski punya banyak nama, dan di antara mereka juga saling berseteru, bahkan saling membantai, semua kelompok teror ini memiliki kesamaan, yaitu: menghendaki tumbangnya rezim Assad; mengeskalasi kebencian terhadap Syiah untuk mencari dukungan publik di seluruh dunia; mendapat dukungan dana, senjata, dan training dari Amerika Serikat (AS), Eropa dan negara Teluk; dan tidak pernah menyerang Israel.

Anggota pasukan “jihadis” sebagian besar justru bukan orang Suriah, melainkan datang dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia dan negara-negara Eropa. Kelompok-kelompok teror itu berafiliasi dengan Al Qaida dan memiliki ideologi yang sama yaitu takfiri-Wahabi, yang menghalalkan pembunuhan terhadap orang-orang yang berbeda dengan mereka. Baik Muslim Syiah, Muslim Sunni, Kristen, Druze, maupun suku Kurdi di Irak dan Suriah tak luput dari aksi bom bunuh diri dan pembantaian yang mereka lakukan secara brutal.

Meskipun awalnya wilayah operasi “jihad” mereka adalah Suriah, namun tak urung Hizbullah terpaksa terlibat. Alasannya jelas, jika Suriah sampai jatuh ke tangan para teroris, target selanjutnya adalah mengacaukan Lebanon dan Iran. Suriah, Hizbullah-Lebanon, dan Iran adalah tiga kekuatan di kawasan yang konsisten melakukan perlawanan baik langsung maupun tidak langsung terhadap Israel; serta memberikan dukungan kepada Palestina.

Tahun 2006 Hizbullah disanjung-sanjung oleh kaum muslimin, baik Sunni maupun Syiah, karena dengan sendirian mampu mengalahkan Israel yang didukung peralatan tempur paling canggih buatan AS. Tahun 2006 Hizbullah disebut-sebut ‘menyelamatkan muka kaum Arab’ karena hanya dalam 34 hari, mampu memukul mundur Israel. Namun sejak Perang Suriah, Hizbullah dikecam habis-habisan oleh publik pro-teroris (yang berkedok jihadis).

Yang dihadapi Hizbullah di Suriah secara lahiriah memang muslim yang mengaku bermazhab Sunni. Namun sejatinya mereka bukan Sunni, melainkan kaum takfiri – Wahabi yang sedang menari bersama genderang Israel. Sudah terlalu banyak bukti foto dan video yang memperlihatkan para teroris sedang dirawat di rumah sakit Israel, bahkan bersalaman dengan Netanyahu, adanya ulama-ulama Wahabi yang menyatakan berterima kasih kepada Israel, adanya politisi dan jenderal AS yang melakukan pertemuan dengan para pemimpin kelompok teror, dan suplai senjata dari AS, Israel dan Eropa, dan yang terbaru, AS dan Perancis terang-terangan mengirimkan ratusan tentaranya ke Suriah.

Nama Jihad Mughniyah mulai dikenal publik pada tahun 2009. Dia muncul di hadapan ratusan ribu orang yang menghadiri peringatan satu tahun gugurnya Imad Mughniyah akibat bom Israel. Berikut kutipan orasi Jihad:
“Aku Jihad Imad Mughniyah, anak komandan dan mujahid besar. ...Sejak aku membuka mata, yang kulihat adalah senjatanya. Sejak aku dalam dekapannya, aku harus berpindah dari satu bunker pertahanan ke bunker yang lain. Aku melalui masa kecilku bersama ayahku, bersama bahaya yang selalu mengintai. Namun ayahku adalah simbol kasih sayang. Sekalipun ia memiliki banyak beban, ia selalu melimpahi kami kasih sayang. ...Aku nyatakan, aku adalah bagian dari keluarga syuhada. Dua orang pamanku, Fuad dan Jihad, telah lama menjadi bagian dari syuhada. Kini, ayahku pun mendapat kehormatan sebagai syahid.”

Lalu, tibalah hari duka cita itu. Pada tanggal 18 Januari 2015, Jihad bersama enam orang lainnya, termasuk seorang jenderal Iran, Mohammad Ali Allahdadi, gugur syahid akibat dibombardir sebuah helikopter Israel. Saat itu mereka berada di dalam sebuah konvoi di Quneitra, sebuah wilayah di Suriah, dekat Gola. Mengapa mereka harus berada di Suriah? Tentu saja, dalam rangka berjuang menumpas ISIS, yang kini sedang dimusuhi dunia gara-gara membunuh sejumlah kartunis di Paris.

Jihad Mughniyah adalah korban ISIS. Sama seperti para kartunis Charlie Hebdo. Namun beda di antara mereka bagaikan langit dan bumi. Jihad berjuang untuk mengamankan tanah airnya dan membela rakyat Suriah yang sedang dihancurleburkan oleh ISIS. Sementara Charlie meraih popularitas karena mengolok-ngolok Nabi Muhammad. Meskipun kaum Muslim yang berakal sehat memang harus mengecam pembantaian terhadap Charlie Hebdo, namun pembelaan yang lebih hakiki seharusnya diberikan kepada Jihad. Mari katakan, Je Suis Jihad Mughniyah.

*kandidat doktor Hubungan Internasional Unpad

(Ikmal-Online/STI)

Minggu, 27 Desember 2015

Ayatullah Al-Uzhma Sayyid Muhammad Huseini Syahrudi


Beliau adalah Salah seorang fuqaha besar di kBeliau lahir pada bulan Jumadil Ula tahun 1344 H. di kota Najaf, Irak.

Pendidikan dasar ilmu Islam beliau dapatkan dari ayahandanya sendiri, Almarhum Syeikh Ali Syahrbabeki dan Almarhum Syeikh Syams Zanjani. Sebagian dari pelajaran tingkat suthuh, seperti kitab Rasa`il dan Makasib beliau pelajari di bawah bimbingan ayahandanya. Sedangkan kitab Kifayatul Ushul ia pelajari dari Ayatullah Al-Uzhma Mirza Hasyim Amuli dan Ayatullah Syeikh Abdul Husein Rasyti.

Pada tahun 1360 H., saat berusia 16 tahun, beliau mulai masuk ke pendidikan dasar Bahtsul Kharij dengan mengikuti pelajaran yang diberikan oleh ayahandanya sendiri, Ayatullah Al-Uzhma Sayid Mahmud Syahrudi.

Mulai tahun 1383 H. hingga hari ini, Ayatullah Sayyid Muhammad Husaini Syahrudi mengajar Bahtsul Kharij di Hauzah Ilmiah Qom. ota Qom yang kini sibuk mengajar di jenjang Bahtsul Kharij ilmu fiqih di Hauzah Ilmiah Qom.

(Ikmal-Online/STI)

Tokoh-Tokoh Yang Dikuburkan Di Haram Suci Razavi


Khamenei - Sayid Javad (1895-1985)

Almarhum Ayatullah Sayid Javad Khamenei lahir pada bulan Jumadil Akhir 1895 di Najaf Ashraf dari keluarga rohaniwan.

Pada masa kecil beliau bersama keluarganya berhijrah ke Tabriz. Ayah beliau adalah almarhum Ayatullah Haji Sayid Hossein Khamenei; seorang ulama besar Tabriz dan imam shalat jamaah masjid jami’ kota ini yang meninggal dunia pada tahun 1907. Almarhum Ayatullah Javad Khamenei memulai pendidikannya di kota Tabriz dan pada 1888 berhijrah ke MashHad untuk melanjutkan pendidikannya. Di sana beliau belajar selama sembilan tahun kepada Ayatullah Mirza Mohammad Aghazadeh Khorasani, Haj Agha Hossein Qommi dan Haj Agha Fazel Khorasani. Masa-masa itu bertepatan dengan kebangkitan Syeikh Mohammad Khiyabani suami dari saudarinya.

Pada tahun 1926 beliau menuju ke Najaf Asyraf untuk menyempurnakan pendidikannya. Setelah tamat sekolah beliau kembali ke Mashhad dan menikah dengan putri almarhum Ayatullah Haji Sayid Hashem Najafabadi. Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan ketiga saudara lelaki dan seorang saudarinya adalah hasil dari pernikahan yang penuh berkah ini.

Setelah menjalani hidup dengan penuh kezuhudan, ketakwaan dan keikhlasan, almarhum Ayatullah Sayid Javad Khamenei meninggal dunia di Mashhad pada tahun 1985. Beliau dimakamkan di dekat makan Imam Ridha as tepatnya di Tauhid Khaneh (selasar yang terletak di bagian belakang makam Imam) setelah dilayat oleh masyarakat secara besar-besaran.

Mujtahid Khorasani – Habibollah

Lahir di Mashhad pada tahun 1846.

Habibollah adalah putra Mirza Hashem dan besar dalam sebuah keluarga berilmu. Beliau berangkat ke Najaf setelah belajar ilmu akhlak, fiqih dan ushul fiqih dari Haj Mirza Nasrollah. Beliau juga memiliki hubungan dengan para ahli sastra dan pemikir kota Kazhimain dan Bagdad. Habibollah juga belajar bahasa Perancis dan menuntut ilmu Irfan dari Mirza Mehdi Gilani yang dikenal dengan sebutan Khadyu.

Makam abadi
Beliau tidak begitu suka dengan gerakan Revolusi Konstitusi, namun tidak pernah sama sekali menjukkannya penentangannya. Beliau meninggal dunia pada tahun 1908 di kota Bahriabad ketika sedang dalam perjalanan hijrah dari Iran.

Jasad ulama yang pandai dan bertakwa ini disemayamkan di haram Imam Ridha as di sebelah beranda Shah Tahmasb di tempat penyimpanan air dingin yang di sana juga Sayid Mohammad Mehdi Syahid leluhur beliau di makamkan.

Ardebili - Sayid Yunes (1878-1957)

Ayatullah Sayid Yunes Ardebili adalah putra Sayid Mohammad Taghi putra Mir Fath Ali putra Saif Ali Ardebili. Mereka semua ini menjalani hidupnya sebagai ulama.

Sayid Yunes lahir di Ardebil pada tahun 1878. Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota tersebut, kemudian pergi ke Zanjan untuk melanjutkan pendidikannya. Beliau belajar fiqih dan ushul fiqih dari Akhound Molla Ghorban Ali Zanjani dan belajar ilmu-ilmu rasional dari Filsuf besar Akhound Molla Sabze Ali Hakim. Sekitar tahun 1892 beliau pergi ke Najaf. Kemudian melakukan perjalanan lagi menuju Karbala bergabung dengan hauzah ilmiah milik Mirza Mohammad Taghi Shirazi, pemimpin kebangkitan ulama Irak dalam melawan penjajah Inggris dan menjadi orang kepercayaan Mirza Mohammad Taghi. Beliau diserahi untuk mengatur urusan para pelajar agama oleh Mirza Mohammad Taghi. Dalam beberapa waktu beliau juga diangkat sebagai penganggung jawab hauzah ilmiah Najaf oleh Mirza Mohammad Taghi.

Ayatollah Ardebili pada tahun 1929 kembali pulang ke Ardebil karena sakit mata. Lima tahun kemudian yakni tahun 1934 pindah ke Mashhad untuk mengajar dan menangani urusan agama di kota itu. Beliau meninggal dunia di Tehran pada tanggal 21 Dzulqa’dah di tahun 1939 dan jenazahnya dibawa ke Mashhad dan dimakamkan di kawasan Darussaadah, Haram Suci Razavi.

Sayid Yunes Ardebili meninggalkan hasil karya ilmiah yang benar-benar penting. Fiqih lengkap, shalat musafir, kaidah La Dhirar dan risalah pendidikan. Sementara buku syarah Urwatul Wutsqa adalah hasil karya beliau yang belum dicetak. Risalah amaliyah beliau dengan judul ‘Wajizah al-Masail’ dan ragam ilmu Ijmali dalam ilmu ushul dan Mu’taghidat Qaser dalam ilmu ushuluddin merupakan hasil karya beliau yang sudah dicetak.

Khorasani - Mohammad Hassan

Terkenal dengan sebutan Adib Heravi, salah seorang ilmuwan besar dan penyair ternama, bahkan ia termasuk salah satu ilmuwan sastra. Ayahnya Molla Mohammad Taghi merupakan salah seorang ulama Mashhad dan salah satu pengabdi yang menjadi penjaga kedua Haram Imam Ridha as dan meninggal dunia di Mashhad pada tahun 1325.

Mohammad Hassan lahir di Mashhad pada tahun 1884 dan besar di tengah-tengah keluarga ilmuwan.

Pendidikan
Beliau belajar ilmu dan pengetahuan ilahi dari ayahnya dan belajar ilmu sastra dari adib Thusi Mirza Mohammad Baqir Modarres dan Mirza Abdorrahman Modarres. Pada tahun 1901 menjelang Revolusi Konstitusi, beliau belajar selama enam tahun kepada Mirza Abdoljavad Neishaburi. Beliau menyempurnakan ilmu sastranya dari Mirza Abdoljavad Neishaburi dan mencapai sebuah derajat sehingga sang guru mengizinkannya untuk mengajar dan menyebutnya sebagai seorang Fadhel. Selain itu beliau juga mendapatkan ijazah ilmiah dan riwayat dari Syeikh Mohammad Hossein Naini dan Sayid Hadi Khorasani Hairi. Para ilmuwan juga mengelu-elukan Adib. Pada masa Reza Khan, Adib tertarik untuk mengajar budaya dan kesenian. Sebagian dari umurnya digunakan untuk mengajar dan pernah juga mengajar di Haram Suci Razavi.

Tahun-tahun kehidupan
Di akhir kehidupannya beliau tidak lain hanya mengabdi kepada Imam Ridha as dan menulis tentang peninggalan bersejarah dan ilmu sastra. Beliau menganggap penting masalah penulisan sejarah khususnya sejarah kontemporer. Beliau sangat berperan dalam merekam dan mencatat kejadian-kejadian pada masanya. Beliau menulis kesaksian-kesaksian yang terjadi di masanya dalam dua buku Tarikh Enghelab (Sejarah Revolusi) Thusi dan al-Hadiqah ar-Radhawiyah, dan mencatat segala yang disaksikannya dan riwayat dari tokoh lain tentang Revolusi Konstitusi, peristiwa penembakan Haram Imam Ridha as dengan artileri oleh pasukan Rusia, kebangkitan Goharshad, peristiwa Shahrivar 1941, penjajahan Khorasan oleh pasukan Rusia dan kebangkitan Soulat al-Saltanah Hazareh.

Akhirnya, pada tahun 1968 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di di Darussaadah, Haram Imam Ridha as di sisi kuburan ayahnya. Semoga Allah mengampuninya.

Adib Naishabouri-Abdoljavad (1864-1925)

Mirza Abdoljavad Adib Naisharbouri pada tahun 1864 lahir di Bijangerd salah satu desa di Neishabour.

Setelah bisa membaca dan menulis, atas dorongan ayahnya Molla Hossein, beliau pergi ke Neishabour. Pada tahun 1879 beliau pergi ke hauzah Mashad untuk menuntut ilmu lebih banyak. Pada mulanya beliau pergi ke madrasah Khaerat Khan kemudian ke madrasah Fazel Khan dan pada akhirnya menetap di sebuah ruangan di madrasah Navvab. Di samping belajar mukadimah ilmu-ilmu sastra, beliau mempelajari buku-buku antara lain Nahjul Balaghah, Mughni, Muthawwal, Maqamat Badi’i, Maqamat Hariri, Hasyiah dan Syamsiah tanpa guru. Beliau juga mengenyam sedikit fiqih dan ushul fiqih, filsafat dan teologi dari guru-guru hauzah masa itu, kemudian kembali ke Neishabour. Pasca wafat ayahnya sekitar tahun 1892 beliau kembali lagi ke Mashhad dan tinggal di salah satu ruangan di madrasah Navvab dan tidak melakukan bepergian lagi sampai akhir hayatnya. Dalam menjalani hidupnya beliau tidak banyak menggunakan uang pembagian dari khumus. Tapi menggunakan uang gaji dari hasil mengajar di Haram Suci Razavi dan sedikit warisan yang didapatkannya dari Neishabour. Beliau pandai dalam menjelaskan, terus terang dalam melawan kebodohan dan riya. Hidupnya sangat teratur dan sekali dalam seminggu datang menziarahi Haram Imam Ridha as. Kebanyakan dari pelajaran yang diajarkannya dihadiri lebih dari tiga ratus santri.

Pada hari Jumat, tanggal 28 Mei 1926, beliau di makamkan di dekat dinding bagian barat Darussaadah di Haram Imam Ridha as. Di sekolahnya, Mirza Abdoljavad selama hidupnya berhasil mendidik tokoh-tokoh terkenal seperti Malilussyuara Bahar, Badiuzzaman Forouzanfar, Mohammad Parvin Gonabadi, Mohammad Taghi Modarres Razavi, Mohammad Farah, Mohammad Taghi Adib Neishabouri, Mohammad Ali Bamdad, Sayid Jalaluddin Tehrani, Sayid Hassan Meshkan Tabasi. Kebanyakan kehidupan yang mengalir ini tampak dalam syair-syair Adib. “Lali-ye Maknoun” merupakan hasil karya tulisan beliau dan dicetak di Mashhad pada tahun 1915.

Vaez Tabasi - Gholam Reza (1895-1936)

Almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Syeikh Gholam Reza Tabasi putra Mohammad Mehdi Mahdavi merupakan salah seorang ulama terkenal, orator dan muballigh di abad ke-14 Hijriah.

Beliau lahir sekitar tahun 1895 di Tabas Golshan di tengah-tengah keluarga mukmin dan ahli ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hauzah ilmiah pada tahun 1923, dalam usia 28 tahun, beliau pindah ke kota Qom. Selama di kota Qom, beliau belajar kepada Mirza Hamedani dan Akhound Mulla Ali Hamedani, namun lebih banyak menimba ilmu kepada Ayatullah Marashi Najafi. Sekembalinya beliau dari menunaikan ibadah haji pada 1936 dan berhenti sebentar di kota Mashhad, saat menuju Tehran, beliau meninggal dunia akibat penyakit TBC yang diidapnya di kota Sabzavar pada tahun yang sama.

Tulisan ilmiah karya almarhum Tabasi menunjukkan tingkat keilmuwannya. Bahkan tidak diragukan bahwa anak saleh yang ditinggalkannya, yaitu Ayatullah Vaez Tabasi, Perwalian Makam Suci Haram Razavi, Wakil Wali Faqih di provinsi Khorasan Razavi dan Penjabat Hauzah Ilmiah Khorasan sekaligus anggota Dewan Ahli Kepemimpinan dan Dewan Penentu Kebijakan Negara yang dikenal sebagai seorang mukmin dan pembela Republik Islam Iran. Beliau sempat mengajar di pelbagai jurusan tingkat Sutuh (sebelum tingkat ijtihad) di Hauzah Mashhad. Selain pelayanan yang dilakukannya, beliau juga mendidik ratusan santri menjadi ulama. Imam Khomeini ra dalam satu ucapannya berkata kepada beliau, “Saya punya dua alasan mengapa memiliki perhatian khusus kepada Anda. Pertama dikarenakan diri Anda sendiri dan yang kedua disebabkan ayah Anda.”

Mohammad Ibnu Abi Jomhour Ehsai

Mohammad Zainuddin bin Ali bin Ebrahim bin Hishamuddin bin Ibnu Abi Jomhour Ehsai merupakan ulama Syiah yang ternama dan lahir di Ihsa, Bahrain.

Di sana beliau belajar dan hidup sampai pada tahun 1498. Beliau belajar di Najaf selama bertahun-tahun kepada para guru besar antara lain kepada Syeikh Sharafuddin Hassan bin Abdolkarim Fetal Gharavi. Pada tahun 1472, beliau pergi haji ketika kembali beliau berhenti beberapa malam di Syam. Sekitar selama satu bulan beliau belajar hadis kepada Syeikh al-Islam Ali bin Hilal Jazairi di Kark Nuh kemudian menuju Khorasan. Salah satu hasil karyanya yang terkenal adalah Zadul Musafirin Dar Ushuluddin yang disusunnya selama perjalanannya menuju Mashhad pada tahun 1473 dan atas permintaan muridnya Amir Mohsen bin Mohammad Razavi Mashadi untuk disyarahi dan diberi nama Kasyful Barahin. Akhir perjalanannya adalah ke Mashad pada tahun 1490 dan setelah wafat, beliau dimakamkan di sisi makam Imam Ali bin Musa ar-Ridha as.

Mousavi Nasl - Sayid Hossein

Terkenal dengan sebutan Adib Bojnourdi putra Mirza Abu al-Hassan lahir di desa Khorasan bagian dari kota Bojnourd pada tahun 1882.

Pendidikan
Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya dan pada usia 15 tahun beliau pergi ke Mashhad dan belajar serta tinggal di madrasah Navvab.

Pengumuman Revolusi Konstitusi
Adib pada tahun 1906 aktif memberikan pelayanan modern di bidang. Pertama beliau mengajar di madrasah Marefat dan setelah itu mengajar di madrasah Farhanggi. Sementara di Moasseseh Sherkat-e Farhang, Adib mengajar sastra, fisika dan kimia di Muassesat Sherkate Farhang.

Pada tahun 1919 seiring dengan didirikannya Farhang Khorasan beliau mengabdi kepada budaya tanah air ini dan mendirikan sekolah menengah umum Danesh bersama Danesh Bozorgniya, Entekhab al-Malek Ram dan Moshtashar al-Malek. Pada tahun 1929 setelah berdirinya fakultas Ma’qul wa Manqul (Rasional dan Tekstual), pengajaran sejarah sastra dan tafsirnya diserahkan kepada Adib. Pada masa utu juga beliau mengajar logika, ilmu-ilmu sastra dan puisi di madrasah Navvab.

Pada tahun 1935 beliau dipindahkan ke Isfahan dan di kota itu ditugaskan untuk mendirikan fakultas Ma’qul wa Manqul dan kepemimpinan sekolah menengah umum Saremiyeh diserahkan kepadanya.

Tahun-tahun terakhir
Beliau tetap saja haus pada ilmu dan pengetahuan. Di akhir usianya, karena kakinya yang benar-benar sakit, beliau mengajar murid-muridnya di rumahnya sehingga pada tanggal 26 Agustus beliau meninggal dunia. Di antara hasil karya penulisan almarhum Bojnourdi yang bisa disebutkan adalah kumpulan syair yang dicetak pada tahun 1919, Seir Tabiat (perjalanan alam), Moghaddame’i Bar Touhid Mufazzal tentang Mi’raj (Mukadimah untuk Tauhid Mofadhdhal tentang Mi’raj)

Morvarid – Mohammad Reza (1881-1919)

Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Syeikh Mohammad Reza Morvarid putra Haj Mohammad Ali merupakan orang yang bertakwa di zamannya dan tinggal di daerah Darband Alikhan daerah bagian bawah jalan Mashhad.

Almarhum Morvarid dan almarhum Nokhoudaki mengikat janji persaudaraan. Dinukil dari Nokhoudaki bahwa “Saya mengikat janji persaudaraan dengan banyak orang dan saya yang selalu terlebih dahulu melakukan tugas kewajiban sebagai saudara atas mereka, namun saya saya tidak pernah mampu mendahului Haj Syeikh Mohammad Reza meskipun saya berusaha semaksimal mungkin.”

Beliau meninggal dunia pada tangga 11 Oktober 1919 setelah mengerjakan shalat subuh.

Modirshanehchi - Kazem (1927-2000)

Hujjatul islam wal muslimin Ustad Kazem Modirshanehchi lahir di Mashhad pada tahun 1927.

Ayah beliau merupakan pedagang yang terkenal dan ibunya dari keluarga berilmu. Ustad Shanehchi mengajar fiqih dan hadis di Fakultas Ilahiyah atas undangan Doktor Fayyaz menyusul didirikannya Fakultas Ilahiyah Mashhad pada tahun 1958. Karena semangat dan usaha tanpa henti Ustad Shanehchi dalam mengenalkan nilai ilmu hadis dan penyebarannya beliau berhasil menyusun buku-buku berharga seperti Dirayah al-Hadis, ilmu al-Hadis dan Tarikh Hadis.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, aktivitas keilmuan Ustad Shanehchi mengalami perkembangan yang lebih luas. Dengan didirikannya pusat penelitian Islam Haram Suci Razavi pada tahun 1984, selain menjadi anggota kepemimpinan, beliau juga sebagai penanggung jawab tim hadis di pusat penelitian tersebut.

Keberadaan Ustad di pusat penelitian Islam mampu menciptakan kondisi yang tepat sehingga dengan bantuan para peneliti hebat beliau berhasil memberikan pelayanan yang sangat berharga dalam mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis Nabi dan para Maksum as. Ustad Shanehchi juga memiliki hasil karya lainnya antara lain; Tarjumeh Wa Syarhe Tabshirah (terjemah dan penjelasan Tabshirah), Chehel Hadis Hazrate Reza as Ba Moqhaddame-i Dar Rejal-e Moaser Hazrat as (empat puluh hadis Imam Ridha as dengan mukadimah di rijal yang semasa Imam as), Tashhih wa Tahsyiyah al-Alwar al-Bahi Syeikh Abbad Qomi, Rawesh-e Estembath, Ayat al-Ahkam, Tarikh Fiqh Mazhab Islami, Mazarat Khorasan, Tarikhche Advae-e Mantegh.

Akhirnya beliau meninggal dunia pada tanggal 13 Mei 2002 di hari syahadahnya Imam ke delapan orang-orang Syiah Ali bin Musa ar-Ridha as.

Mohaghegh Sabzvari - Mohammad Baghir (1608-1679)

Molla Mohammad Baghir putra Mulla Mohammad Momin Khorasani terkenal dengan sebutan Fazel dan Mohaghegh Sabzvari yang merupakan salah satu ulama terkenal, faqih dan cendikiawan komprehensif abad sebelas Hijriah.

Beliau lahir pada tahun 1608 di desa Namen Sabzvar. Mohaghegh Sabzvari bertahun-tahun di Isfahan ditetapkan sebagai imam shalat Jumat dan sesepuh Islam oleh Shah Solaiman Safavi dan mengajar di madrasah Mulla Abdollah Shoushtari. Beliau sezaman dengan Feiz Kashani dan sepemikiran dengannya.

Karena jabatan keagamaan, politik, pemikiran khas dan cenderung baru yang dimilikinya, Mohaghegh banyak memiliki musuh. Karena alasan inilah Mohaghegh berhijrah ke Mashad. Pada tahun 1672 beliau merenovasi madrasah Samiiyeh yang terkenal dengan sebutan madrasah Baghiriyeh dengan biaya uang wakaf atas usaha Mir Abdolhossein dan mengajar di sana serta mewakafkan sejumlah buku dan tanah ke madrasah tersebut.

Beliau meniggal dunia di Mashad pada tanggal 7 Rabiul Awal 1608. Berdasarkan wasiatnya, beliau dikuburkan di Madrasah Mirza Jafar di samping kuburan Syeikh Mohammad Amili dan Mulla Mirza Shirvani dan anaknya Syeikh. Anak-anak beliau adalah Mohammad Hadi dan Maulana Mirza Jafar; keduanya adalah orang berilmu.

Mohaddes Khorasani - Ali (1911-1950)

Haj Syeikh Ali Mohaddes Khorasani putra Haj Syeikh Hassan Vaez Pain Khiyabani adalah salah satu mubaligh terkenal Khorasan. Dalam hal kezuhudan dan ketakwaan jarang ada padanannya dan dihormati masyarakat umum.

Beliau dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berilmu dan beramal pada tahun 1911. Almarhum Mohaddes merupakan pakar bidang fiqih dan hadis serta pidato. Ucapan-ucapannya yang sangat mendalam memiliki pengaruh yang tak bisa diingkari di hati-hati manusia dimana rahasianya adalah karena beliau menghindari gemerlapnya dunia.

Mohami- Mohammad Reza (1911-1957)

Ayatullah Syeikh Mohammad Reza putra Ayatullah Syeikh Gholamhossein Mohami, merupakan salah satu ulama dan mujathid kotemporer. Bertahun-tahun beliau mengajar di hauzah ilmiah Mashad dan Qom.

Sekitar tahun 1951 beliau pergi ke Qom dan ikut pelajaran Bakhtsul Kharej fiqih (kuliah tingkat ijtihad fiqih) Ayatullah Boroujerdi dan ushul fiqih Imam Khomeini. Di antara dua ratus peserta ujian bakhtsul kharej beliau mencapai peringkat pertama. Di awal tahun 1954 ayahnya meninggal dunia sehingga beliau harus kembali ke Mashhad dan ikut pelajaran Ayatullah Milani.

Pada tahun 1998 beliau meninggal dunia dan pada hari selasa tanggal 6 Mordad jenazahnya diiringi oleh di para ulama dan ilmuwan hauzah dari masjid Imam Hasan Askari Qom sampai Haram Sayidah Fathimah Ma’sumah lalu dishalati di tempat ini dengan diimami oleh Ayatullah Shubairi Zanjani. Jenazah beliau kemudian dibawa ke Mashhad dan pada tanggal 30 Juli 1998 dilawat menuju Haram Imam Ridha as dan dikuburkan di ruangan di samping tempat penitipan sepatu pelataran Azadi.

Abdorrahim (1863-1915)

Ayatullah Haj Syeikh Abdorrahim Eidgah putra Akhound Molla Safar Ali dilahirkan pada tahun 1863 di tengah-tengah keluar rohaniwan di daerah Eidgah Mashhad. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau bertani dan menyebarkan agama Islam setiap menemukan kesempatan yang tepat. Karena pengajian yang diadakan memiliki dasar keilmuan yang baik maka mendapatkan sambutan dari para ulama dan ilmuwan. Salah satu wasiat yang beliau tinggalkan untuk para pelajar agama khususnya untuk almarhum Syeikh Morteza Eidgahi adalah belajarlah kalian, selama masih memiliki kemampuan dan jangan segan-segan untuk menyebarkannya dan jangan lupa untuk menyampaikan makrifat ilahi. Beliau mencapai syahadah dalam usia 54 tahun di malam tanggal 27 Mei 1916 bertepatan dengan syahadahnya Imam Musa bin Ja’far. Para pelaku kejahatan ini membunuhnya dengan dua tembakan peluru yang mengena mata dan otaknya di gang Sadrul Atebba’ dekat bunderan Qadami setelah beliau masuk ke Haram dan mengerjakan shalat Maghrib dan Isya. Hari berikutnya jenazahnya dilayat di antara kumpulan masyarakat Mashhad dan ulama di selasar Darussiyadah sebelah Chehelchiragh.

Feiz Gonabadi - Abdorrahim (1897-1984)

Ayatullah Haj Sayid Abdorrahim Feiz Gonabadi lahir pada tahun 1897 di desa Delighan Gonabad di sebuah keluarga beragama.

Pada tahun 1912 beliau pergi ke Mashad untuk melanjutkan pendidikan. Beliau termasuk orang yang memiliki pemikiran terbuka dan mendukung gerakan Revolusi Islam. Pada tanggal 10 Juli 1985 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di pelataran Azadi dekat kolam.

Alawi - Sayid Mahmoud

Ayatullah Sayid Mahmoud Alawi putra seorang ulama bernama Haj Mirza Yusef Hosseini Khiyabani.

Beliau dilahirkan di Tabriz pada tahun 1897. Pada usia 18 tahun beliau berhijrah ke Mashhad. Beberapa lama beliau berhijrah ke Najaf, tapi Mashhad ar-Ridha (Kota Mashhad) dipilihnya sebagai tempat tinggal selamanya dan mengajar, menulis buku dan berdakwah. Beliau sebagai imam shalat jamaah di Shabestan (aula) pertama masjid Jami’ Goharshad. Pada 10 Rabiul Awal tahun 1961 beliau pergi ke Tehran untuk berobat namun di sana beliau meninggal dunia dan jenazahnya dibawa ke Mashhad dan dimakamkan di salah satu ruangan yang ada di pelataran Atigh. Al-Hijab wa al-Islam, ar-Riba wa al-Islam, al-Ghina wa al-Islam, Hidayah al- Anam Ila Ta’alim al-Islam merupakan hasil karya beliau yang sudah dicetak. Baharestan-e Erfan Dar Tafsir-e Sure-ye Hamd (Musim semi Irfan dalam Surat Fatihah), as-Syihab as-Tsaqib Fi al-Islam wa al-Madzahib dalam tiga jilid, Hidayah al-Mustarsyidin Ila Ma’arif ad-Din al-Mubin dan beberapa buku untuk menjawab kerancuran para penentang dan membuktikan ushul dan akidah Islam juga hasil karya beliau yang sudah ditulis.

Ghazvini - Hashem (1898-1960)

Ayatullah Haj Syeikh Hashem merupakan salah satu ulama besar dan pengajar hauzah ilmiah Mashhad pada abad ke-14.

Beliau dilahirkan di Qazvin pada tahun 1898. Pendidikan dasar dan sebagian pendidikan hauzah beliau pelajari di kota tersebut dan di Tehran kemudian pergi ke Najaf. Setelah belajar dari beberapa guru di Najaf, beliau datang ke Mashhad. Meskipun tidak begitu lama di Mashhad, namun dengan mendidik murid-murid ternama, beliau berhasil memberikan pengaruh yang tak bisa diingkari terhadap hauzah ilmiah Mashhad baik secara ilmiah maupun spiritual.

Ayatullah Vaez Thabasi, Ayatullah Haj Mirza Mehdi Noughani, Ustad Mohammad Taghi Shariati, Ustad Kazem Moudir Shanehchi, Ustad Mohammad Reza Hakimi, Ayatullah Salehi, dan yang tertinggi di antara mereka adalah Ayatullah Khamenei merupakan murid-murid sekolah almarhum Qazvini.

Ayatullah Syeikh Hashem Qazvini selama hidupnya aktif mengikuti gerakan-gerakan penting politik Khorasan.

Almarhum Syeikh Hashem Qazvini akhirnya meninggal dunia pada tanggal 14 Oktober 1960 dan jenazahnya dimakamkan di selasar Darruzziafeh Haram Imam Ridha as terletak di sebelah kanan teras emas halaman Azadi.

Mazandarani - Mohammad Salehi (1880-1971)

Allamah Haj Syeikh Saleh Mazandarani putra Mirza Afzalollah Hairi Mazandarani terkenal dengan “Allamah Hairi Mazandarani” dan “Allamah Semnani” adalah seorang mujtahid yang juga seorang peneliti, filosuf yang pandai bicara, ahli hadis juga mufasir dan sastrawan yang juga penyair.

Beliau lahir di Karbala pada tahun 1880.

Beliau memiliki kemahiran dalam menulis syair dan sastra baik dalam bahasa Arab maupun Persia. Kifayah al-Ushul milik Akhound Khorasani beliau susun dalam bentuk syair. Beliau juga meninggalkan hasil karya berupa Risalah Amaliyah fiqih (buku fatwa fiqih) dan buku syair. Beliau hidup bertahun-tahun di Mazandaran, kemudian pindah ke Semnan sampai akhir kehidupannya beliau tinggal di Semnan sibuk mengajar dan melakukan penelitian. Akhirnya pada tahun 1971 beliau meninggal dunia di kota Semnan dan jenazahnya dibawa ke Mashhad dan dimakamkan di selasar Darussiyadah.

Sumber: Mashahir Madfun Dar Haram Razavi, Ebrahim Zangganeh, dengan kerjasama dan edit ilmiah Gholam Reza Jalali.

Torbati - Eshagh (1744-1822)

Haj Molla Eshagh lahir di kota Torbat Haidariyeh pada tahun 1744. Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau pergi ke Mashhad. Seluruh umurnya dipergunakan untuk mengajar dan menyebarkan hukum Islam.

Selama empat puluh tahun beliau tidak pernah keluar dari Mashhad. Beliau pernah ke Mekah dan setelah kembali dari Mekah pada tahun 1822, beliau meninggal dunia di Mashhad dan dimakamkan di sana pula. Hasyiah Syarh Lum’ah merupakan hasil karya beliau yang sudah dicetak.

Hasheminejad - Sayid Abdolkarim (1932-1981)

Mujahid Syahid Sayid Abdolkarim Hasheminejad merupakan salah satu rohaniwan pejuang. Beliau lahir di Behshar pada tahun 1932. Bertepatan dengan wafatnya Ayatullah Boroujerdi beliau berhijrah ke Mashhad dan mengajar di hauzah ilmiah.

Pada tanggal 14 Oktober 1963, pidato beliau di masjid Fil menentang kondisi para wanita yang tidak menjaga hijab Islam yang disebarkan oleh Rezim Shah Pahlevi menyebabkan terjadinya keributan antara masyarakat dengan pasukan keamanan. Dalam keributan itu dua orang mencapai syahadah dan beliau ditangkap oleh SAVAK.

Berikutnya pada tahun 1970 beliau ditangkap dan dipenjara setelah berceramah selama sepuluh malam berturut-turut tentang sebab tidak adanya kemajuan kaum muslimin di salah satu masjid Shiraz. Kemudian untuk selamanya beliau dilarang berceramah di seluruh penjuru negeri.

Selama tidak boleh berceramah, beliau menerbitkan hasil karya berupa tulisan. Sebagian dari hasil karanya antara lain; Monazereh Doktor va Pir (dialog doktor dan orang tua), Darsi Ke Husein Be Insanha Amoukht (pelajaran yang diajarkan Husein kepada manusia), Taqrirat-e Ushul-e Ayatullah Syeikh Ali Kashani, Hasti-e Bakhsh, Rahbaran-e Rastin (pemimpin-pemimpin yang benar), Masael-e Asr-e Ma (masalah-masalah zaman kita), Qoran Wa Ketabhaye Digar Asemani (Quran dan kitab samawi lainnya) , Moskelat-e Mazhabi-e Ruz (masalah keagamaan masa kini), Rah-e Sewum Bain-e Komunism Va Sarmayedari, (jalan ketiga antara Komunisme dan Kapitalisme) Wilayat Fakih, Zahra as Maktab-e Moqawemat (Zahra as ajaran Muqawama).

Syahid Hasheminejad dan Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dan Ayatullah Thabasi telah mendirikan perwalian besar Haram Suci Razavi segitiga Muqawama. Di akhir masa kekuasan rezim Shah Pahlevi ketiganya senantiasa bersama di kota Mashhad untuk berjuang demi kebebasan dan kemerdekaan rakyat dari cengkeraman diktator.

Tanpa diragukan beliau adalah salah satu penggerak utama Revolusi Islam Iran di Mashhad. Akhirnya pada tanggal 29 September 1981 beliau dibunuh oleh salah satu anggota teroris MKO.

Gharavi Isfahani – Mehdi (1886-1946)

Beliau lahir di Isfahan dan pada tahun 1922 pergi ke Mashhad. Beliau merupakan ilmuwan luar biasa di hauzah ilmiah Khorasan di zamannya. Beliau mengutamakan penelitian ilmiah tentang mengenal keluarga Rasulullah Saw dan mengumpulkan sejumlah besar para ilmuwan dan ulama. Beliau meyakini bahwa selain jalan Ahlul Bait, jalan apapun akan berakhir pada kesesatan. Barang siapa yang mencari hidayah dari selain keluarga Muhammad Saw, maka ia tidak akan mendapatkannya.

Banyak hasil karya yang ditinggalkan oleh Mirza Mehdi antara lain buku-buku tersebut bisa disebutkan:
1. “Maarif al-Quran” dar Ushul-e Eteghadat Islami dan Tamyiz-e Ulum-e Qoran-I Az Falsafeh wa Erfan.
2. Buku “Misbah al-Huda” dar Ushul-e Feqh.
3. “Al-Mawahib as-Sunniyah Fi Bayani Ma’aridh Wa at-Tauriyah Fi Kalimat al-Aimmah Li Istimbat Ahkami as-Syar’iyah”
4. “Abwab al-Huda”
5. “I’jaz Quran”
6. “Ghayah al-Muna Wa Mi’raj al-Qulub wa al-Liqa’ Fi as-Shalat”
7. “Ibtal Ma’arif al-Yunan”
8. “Kitab a;-Qadha wa al-Qadar”

Atas jerih payah Sayid Mohammad Baghir Najafi Yazdi sejumlah hasil karya ini telah diterbitkan di Mashhad pada tahun 1975.

Almarhum Gharavi meninggal dunia di Mashhad pada hari Jumat 20 Dzulhijjah 1946 karena serangan jantung dan dimakamkan di bawah dinding bagian selatan selasar Daruzziafeh Haram Imam Ridha as.

Sabzvari – Hossein (1892-1966)

Ayatullah Haj Mirza Hossein Sabzvari terkenal dengan “Faqih Sabzvari” putra Ayatullah Mirza Musa, lahir di Samarra. Pada tahun 1900 pergi ke Sabzvar bersama ayahnya dan belajar ilmu agama di sana.

Beliau pergi ke Mashhad pada tahun 1908 untuk melanjutkan pendidikan.

Pada tahun 1951 beliau membangun madrasah Bagh-e Rezvan seluas 16 ribu meter persegi. Menyempurnakan rumah sakit Razi, membangun 120 rumah untuk korban banjir di jalan Nakhrisi dan 25 rumah di jalan Khojeh Rabi’. Memberikan 2500 kaplingan tanah di jalan Tollab kepada para pelajar agama dan ulama hauzah Mashad dan membangun puluhan masjid di berbagai daerah di Mashad.

Beliau meninggal dunia pada tanggal 25 Februari 1965.

Hidayah al-Anam merupakan buku Risalah Amaliah beliau dan buku “Manasik Haji” beliau juga telah dicetak.

Shirazi - Abolhassan (1914-1999)

Ayatullah Syeikh Abolhassan Shirazi (Moghaddasi) lahir pada tahun 1914 di kota Kouhestan bagian dari daerah Darab profinsi Fars.

Pada tahun 1961 beliau pergi ke Mashhad dan mengajar serta mendidik para ulama.

Beliau sangat menghargai urusan kebudayaan dan ilmiah. Itulah mengapa belaiu mendirikan madrasah ilmiah “Vali Asr af” dan yayasan “Islam Shenas Banovan”
Akhirnya setelah menggunakan umurnya dengan penuh usaha, jihad dan keikhlasan beliau meninggal dunia di usia 86 tahun, tepatnya pada hari Ahad tanggal 6 Agustus 2000. Beliau dimakamkan di Haram Imam Ridha as di Daruzzuhd.

Shirazi - Sayid Abdollah (1892-1984)

Ayatullah al-Uzdma Haj Sayid Abdollah Mousavi Shirazi lahir di kota Shiraz pada hari Selasa 21 Februari 1893.

Beliau meninggal dunia pada tanggal 28 September 1984 pada usia 92 tahun. Beliau tidak pernah berpakaian selain pakaian santri. Beliau tidak mengizinkan kamarnya dihampari karpet. Beliau makan makanan yang sederhana dan mengerjakan pekerjaannya sendiri. Beliau tidak mau dijaga oleh penjaga ketika pergi ke mana-mana. Posisi keilmuwan Ayatullah Shirazi sangat tinggi. Selama beliau di Mashhad dan Najaf, beliau hanya mengajar fiqih dan ushul fiqih.

Beliau banyak menulis buku-buku fiqih dan ushul fiqih antara lain: Umdah al-Wasail fi al-Hasyiah ala ar-rasail, Kitab al-Qadha, ad-Durar al-Baidh fi Munjazat al-Maridh, Izahah as-Syubahat di as-Syakki fi ar-Rakaat, Raf’ul-Hajib fi al-Ujrah ala al-Wajib, at-Tuhfah al-Kazdimiyah fi Qatl al-Hayawanat bi al-alati al-Kahrabaiyah, al-Hasyiyah ala al-Urwah, al-Amanah fi as-Syiah, Manasik Haji, Taudhih al-Masail dan Poushesh-e Zan dar Islam (pakian wanita dalam Islam).

Selain aktifitas keilmuan, beliau juga aktif membangun madrasah ilmiah, perpustakan umum, masjid dan klinik pengobatan.

Alamolhoda – Sayid Ebrahim (lahir: 1998)

Ayatullah Haj Sayid Ebrahim Alamolhoda Sabzvari lahir di Sabzvar dan merupakan tokoh terkenal di bidang fiqih.

Beliau menyelesaikan pelajaran hauzah di sana, kemudian pergi ke Najaf untuk melanjutkan pendidikannya dan mencapai derajat ijtihad di sana. Pada tahun 1954 beliau pergi ke Mashhad. Beliau menulis taqrir pelajaran fiqih dan ushul bahtsul Kharej yang diajarkan oleh Ayatullah Milani di aula Goharshad setelah sang guru selesai mengajar.

Ayatullah Alamolhoda meninggal pada tanggal 24 November.

Falsafi - Mirza Ali (1920-2006)

Ayatullah Haj Mirza Ali Agha Falsafi lahir di Tehran pada tahun 1920. Masa kecilnya dijalani di Tehran. Setelah belajar di Maktab Khaneh (sekolah tradisional dengan satu guru dan beberapa orang murid saja), sekitar usia sebelas tahun beliau mulai mempelajari ilmu-ilmu Islam. Pada tahun 1945 beliau telah menyelesaikan pelajaran hauzah di Tehran tepat pada usia 25 tahun. Kemudian pergi ke Najaf dan mengajar di madrasah Sayid Mohammad Kazem Yazdi sampai pada tahun 1961.

Pada tahun 1961 sejumlah orang-orang agamis mengirim surat kepada Ayatullah Hakim dan Khu’i agar meminta Ayatullah Falsafi kembali lagi ke negaranya. Sekitar tahun 1350 HS, Ayatullah Falsafi tinggal di Mashhad untuk sementara kemudian untuk selamanya atas permintaan Ayatullah Milani untuk mengajar di hauzah ilmiah Mashhad. Akhirnya pada sore hari tanggal 8 Muharram beliau harus opname di rumah sakit spesial Javadul Aimmah karena serangan jantung. Beberapa saat sebelum azan Zuhur tanggal 8 Februari 2006 beliau meninggal dunia, tepat pada hari syahadahnya Sayidina Abbas bin Ali, saudaranya Imam Husein as. setelah wafat, shalat mayat diimami oleh Ayatullah Vahed Khorasani di pelataran Azadi, kemudian dimakamkan di Haram Imam Ridha as di selasar Darussurur.

Madrasah

Madrasah Do Dar (Madrasah Dua Pintu; karena memiliki dua pintu untuk masuk). Madrasah “Yusef Khojeh” (Madrasah Do Dar / Sekolah Dua Pintu) merupakan contoh bangunan yang paling asli masa dinasti Timurid.

Kondisi

Dari sekian tempat dan bangunan bernilai, di sebelah barat daya Haram Imam Ridha as di depan Madrasah Parizad dan di bagian timur pelataran Jomhouri Islami ada sebuah madrasah bernama “Madrasah Do Dar atau Yusef Khajeh”. Sebelumnya, bangunan ini dari arah utara dibatasi oleh Karavan Saraye Wazir-e Nezam. Dari arah selatan dibatasi oleh Karavan Saraye Naseri. Dari arah barat dibatasi oleh tempat-tempat dan kios-kios sekitar Haram Imam Ridha as dan dari arah timur dibatasi oleh Pasar Zanjir.

Asal Usul Sejarah

Bangunan sejarah ini merupakan contoh bangunan terindah dan terasli masa Timurid. Gedung dibangun pada masa kekuasaan Mirza Shahrokh pada tahun 1439 oleh salah satu komandan militer bawahan Mirza Shahrokh bernama Amir Yusef Khajeh Bahador bergelar dengan Ghiyatsuddin. (Ia diangkat sebagai hakim Tous dan Mashhad oleh Shahrokh, namun pada tahun 1443 ia memberontak dan melarikan diri ke Kalat dan Gorgan. Sebagian penulis sejarah berkeyakinan bahwa madrasah Do Dar pada hakikatnya adalah tempat pemakanan keluarga Amir Syeikh Ali Bahador salah satu raja terkenal Timurid). Itulah mengapa pertama terkenal dengan sebutan madrasah “Yusef Khajeh” kemudian dengan berlalunya zaman, karena memiliki dua pintu masuk dari timur dan barat bangunan ini dikenal dengan madrasah Do Dar. Di buku Memari-ye Iran wa Touran tertulis:

Madrasah ini terletak di antara madrasah Balasar dan madrasah Parizad di dalam kawasan Haram Imam Ridha as. Untuk masuk ke dalam madrasah ini harus melalui sebuah pintu yang bagian atasnya dihiasi dengan keramik yang dibentuk dengan pecahan-pecahan keramik, tapi saat ini kondisinya sudah sangat jelek. Madrasah ini merupakan jenis madrasah yang memiliki empat beranda dan memiliki empat ruangan berkubah berupa sudut.

Madrasah ini dibangun dengan bentuk madrasah tempat ketenangan, supaya menjadi sebuah tempat bagi pembangunnya Amir Yusef Khajeh. Kuburan terletak di bawah kubah bagian selatan.

Ciri Khas Bangunan Gedung Kuno Madrasah

Madrasah ini seperti kebanyakan madrasah-madrasah zaman Timurid, merupakan bangunan yang jenisnya memiliki empat beranda dan merupakan contoh sempurna bangunan abad ke-9 Qamariah. Dari sisi hiasan, pemasangan keramik, kaligrafi dan lukisan benar-benar layak mendapat pujian.

Luas bangunan ini sekitar 500 meter persegi dan terdiri dari dua tingkat. Memiliki 32 ruangan dan keempat arah madrasah tertuju pada sebuah halaman yang berbentuk segi empat. Penulis Montakhab at-Tawarikh juga mengisyaratkan tentang sejarah pembangun madrasah dan terkait bagian arah barat laut madrasah menulis:

Kubah bagian barat madrasah boleh jadi kuburan Amir Sayidi yang merupakan salah satu raja besar dinasti Timurid. Dalam Matlae Shams disebutkan bahwa Amir Sayidi meninggal dunia di Shiraz pusat pemerintahannya pada tahun 1441. Jasadnya dibawa ke Khorasan dan dimakamkan di bawah kubah madrasah yang dibangunnya sendiri. Namun kecil kemungkinannya bila pembangun madrasah adalah Amir Sayidi. Karena selain namanya tidak ada pada Katibeh (batu tulis) yang ada di atas pintu madrasah, dalam kebanyakan buku-buku sejarah, madrasah ini disebut sebagai madrasah “Yusef Khajeh”, meskipun tidak jauh dari kemungkinan bahwa ketika madrasah ini dibangun, Amir Sayidi meminta agar disiapkan sebuah kuburan untuknya di madrasah ini. Oleh karena itulah sebagian penulis sejarah menyebut madrasah ini dengan madrasah Amiri Sayidi.

Pada kedua arah beranda masuk madrasah dari arah pasar Zanjir, ada beberapa kios di sana yang merupakan bagian dari rancangan dan peta utama gedung madrasah. Pemasukan madrasah didapatkan dari kios-kios ini.

Dalam buku “Memari-ye Teimouri Dar Iran wa Touran, terkait beranda-beranda dan kubah-kubah madrasah ini tertulis:

Beranda masuk berupa segi empat yang bagian atasnya berbentuk lengkungan kemudian menuju teras yang tidak begitu dalam menghadap ke halaman yang bentuknya segi empat. Di bagian sisi depan halaman ada teras panjang yang berakhir pada sebuah ruangan yang atasnya tidak begitu melengkung. Kubah bangunan bagian Selatan dan Barat sama bentuknya yakni kamar-kamar berbentuk segi empat dengan balkon yang agak sempit. Di atasnya ada jendela untuk memberikan penerangan yang bila dilihat dari luar adalah berupa sebuah jendela memberikan cahaya penerangan yang bila dilihat dari arah luar berbentuk silinder dan atasnya berupa kubah.

Di sudut bagian Timur ada sebuah kamar mirip segiempat ada di halaman namun memiliki balkon yang agak dalam di bagian Barat Daya yang mencakup sebuah mihrab. Kamar bagian Utara sudah tidak ada dan semuanya ditutupi oleh kubah-kubah pendek. Lengkungan dan teras-teras halaman semuanya berupa hiasan Hizarbaf, keramik dalam bentuk segitiga, segiempat dan persegi panjang, huruf kufi, dan kaligrafi sangat bagus.

Model hiasan kubah berupa lukisan matahari dengan lingkaran menyatu di bagian poros yang mencakup gambar empat sudut yang disusun berupa sinar matahari dan bercabang dari atas kubah. Lantai halaman dengan keramik saat ini kemungkinan terkait pada renovasi masa Safavi dan kemungkinan menjadi ganti hiasan yang mirip masa Timurid.

Renovasi

Dari teks prasasti di atas pintu madrasah terkesan bahwa bangunan direnovasi secara mendasar pada masa pemerintahan Shah Solaeman Safavi pada tahun 1667 atas perintah ibunya Shah Solaeman dan sepengetahuan Ali Khan salah satu raja dan pembesar masa itu. Di prasasti tersebut menyebutkan Mohammad Khan sebagai penulis kaligrafi dan Mohammad Fazel.

Dari tahun 1974 sampai 1984 dilakukan renovasi dan perbaikan di pelbagai bagian bangunan. Namun karena kerusakannya, bangunan ini direnovasi dan dibangun kembali pada tahun 1984 oleh lembaga warisan budaya dan Haram Suci Razavi.

Barang-barang wakaf

Dahulu, barang-barang wakaf hanya berupa dua kios yang berdekatan dengan madrasah. Karena renovasi dan perbaikan pada tahun 1975 semua kios dirobohkan. Oleh karena itu, madrasah Do Dar tidak memiliki barang wakaf. Jauh kemungkinannya bahwa pewakaf hanya mewakafkan dua kios saja, apalagi di sana ada kuburan dua orang raja terkenal zaman Timurid. Oleh karenanya ada kemungkinan memiliki barang-barang wakaf lainnya dan musnah karena berlalunya zaman. Berdasarkan laporan yang ada, penghasilan yang didapatkan dari barang-barang wakaf madrasah antara tahun 1966 sampai 1968 sekitar 60 ribu Riyal (Riyal; mata uang Iran) yang dipergunakan untuk biaya renovasi dan biaya darurat madrasah.

Tauliyat (Perwalian)

Karena tidak ada orang tertentu yang dipilih untuk menjaga dan merenovasi madrasah ini, pada tahun 1322 HS kantor perwakafan menyerahkannya kepada Ayatullah Haj Mirza Ahmad Khorasani sebagai penanggung jawabnya. (sejak tahun 1947, Haj Mirza Ahmad Kafai menyelenggarakan acara duka di hari-hari Muharram dan Shafar di madrasah ini). Oleh beliau, Hujjajul Islam Syeikh Syeikh Ali Mohammadnejat, Sayid Aboulghasem Mousavi dan Haj Aghaye Kahani masing-masing mengurusi urusan madrasah selama beberapa tahun. Pada tahun 1975, madrasah ini libur karena direnovasi dan diperbaiki sampai pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, dibangun kembali dengan menjaga pola dan rancangan kuno dan aktifitas pengajarannya dilanjutkan kembali di bawah pengawasan hauzah ilmiah Mashhad.

Program Pendidikan

Mengingat rekor lamanya pengajaran di madrasah bersejarah ini, para guru, ulama dan peneliti terkenal secara tak terhitung belajar dan mencapai derajat keilmuan di sana. Meskipun tidak ada informasi terkait mereka semua. Sebagaimana yang terlihat di prasasti bagian atas pintu madrasah, Syeikh Mohammad Fazel merupakan salah satu dari guru dan ulama madrasah itu. Beliau memiliki posisi dan derajat yang tinggi di madrasah itu. Demikian juga ulama dan faqih terkenal almarhum Ayatullah Agha Najafi Ghouchani di awal-awal berdirinya, beliau menuntut ilmu-ilmu Islam di madrasah ini pula. Almarhum Syeikh Alinejat, Sayid Aboulghasem Mousavi, Aghaye Kahani dan Hujjatul Islam Faker mengajar di madrasah ini.

Berdasarkan laporan yang ada, antara tahun 1968 sampai 1975 jumlah santri berubah-ubah antara 80 sampai 118 orang. Pasca renovasi madrasah pada tahun 1984 ada 50 orang santri yang belajar di madrasah ini. Namun pada tahun-tahun terakhir secara praktis madrasah ini tidak dipergunakan lagi karena keberadaannya di tengah-tengah gedung-gedung Haram Imam Ridha as dan dijaga sebagai kenangan warisan budaya dan arsitektur Islam.

Kondisi Bangunan Saat Ini

Beranda atau pintu masuk
Beranda masuk terletak di sebelah timur madrasah, dalamnya pasar Zanjir. Dari sisi hiasan seni dan arsitektur merupakan salah satu contoh seni arsitektur yang terindah di masa Timurid. Dua keping pintu kayu madrasah, Katibeh (prasasti) masa Timurid dan Safavi, Kashikari (hiasan keramik) dan Gajbori (stuko) yang megah telah memberikan penampakan yang khas pada madrasah ini.

Di bagian atas pintu madrasah, dipasang prasasti indah berkaitan dengan masa Temurid dengan skrip tsuluts pada keramik muarragh (yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik). Di sana ditulis tanggal dan nama pendirinya. Setelah berjalan beberapa ratus dari dibangunnya madrasah ini, di masa Safavi, madrasah ini direnovasi dan diperbaiki secara mendasar oleh ibunya Shah Solaeman. Oleh karena itu diletakkan sebuah prasasti lainnya di atas pintu tersebut. Zaman perbaikan dan orang-orang yang andil dalam hal ini disebutkan. Di kedua keping pintu ada empat gambar muarragh yang sangat berharga berupa kalimat pujian kepada Allah yang diukir dengan skrip tsuluts dengan warna kuning. Di sekeliling kedua prasasti ini diukir syair-syair yang sebagian darinya telah musnah. Di sekelilig kubah bagian dalam sampai ke bawah atap terlihat keramik muarragh yang diukir dengan kata-kata “الحکم لله” dan “الملک لله ” dengan jarak tertentu, setelah renovasi madrasah pada tahun 1984. Meskipun berusaha untuk menjaga penampilan kuno, namun dengan terpaksa banyak sekali bagian bangunan yang mengalami perubahan.

Beranda masuk berbentuk cekungan setinggi 130 sentimeter dari batu yang berwarna gelap. Sementara bagian depan dan tiang beranda bersama segitiga-segitiga yang ada tidak memiliki hiasan khusus, sekalipun sebelum direnovasi kemungkinan sudah dipasangi potongan-potongan keramik. Adapun bagian luar madrasah yang saat ini menjadi tempat masuk selasar Darul Wilayah memiliki tinggi 2 meter dari batu dan yang lainnya hanya dikapur.

Atap beranda ini berbentuk lonjong yang dihiasi dengan stuko. Ruang dalam madrasah ada memiliki empat beranda. Hiasan keramik dalam madrasah dan luas halaman terkesan luas saat dipandang. Halaman berbentuk persegi panjang dan ada kolam air di tengahnya.

Seni klasik masa Timurid hilang pasca renovasi bangunan, tapi saat rekonstruksi beranda dan kamar diupayakan untuk tetap mempertahankan disain lama. Penampakan beranda-beranda dibuat dari batu bata dan dihiasi dengan stuko indah. Sementara prasasti-prasasti yang dicetak di bagian samping dalam beranda-beranda berasal dari ayat-ayat al-Quran. Di bagian akhir dari dua beranda Barat dan Selatan juga dihiasi dengan stuko indah.

Bagian belakang beranda kecil terletak kamar-kamar lantai satu dan dua seperti bagian belakang keempat beranda madrasah dihiasi dengan kaligrafi pilihan dalam bentuk yang beragam. Atap beranda kecil kamar-kamar dibuat sederhana tanpa hiasan apapun, sekalipun sejumlah informasi menyebutkan jalur masuk kamar-kamar itu juga dihiasi dengan stuko indah, tapi sudah hilang ditelan masa. Bagian dalam sebagian kamar-kamar tersebut memiliki ruangan yang luas, sehingga kemungkinan digunakan untuk gudang atau dapur. Beranda-beranda ini di musim panas menjadi tempat yang cocok untuk mengajar, diskusi dan bahkan untuk menyelenggarakan pertemuan yang sifatnya umum. Dari kamar besar yang berada di atas lengkungan beranda masuk juga digunakan untuk pertemuan seperti ini. Namun perlu diketahui bahwa kamar-kamar ini memiliki tembok yang tebal, sehingga sekalipun di musim panas tetap memiliki udara yang segar. Tapi ruangan yang tertutup dan cahaya yang redup di dalam ruangan membuat kamar-kamar yang berada di atas beranda-beranda itu mendapat perhatian lebih dari para guru dan santri di sana.

Kuburan Madrasah

Salah satu ciri khas menarik madrasah-madrasah zaman Timurid, adanya kuburan di salah satu bagian dari bangunan mereka. Sebagaimana bisa disaksikan pada kebanyakan madrasah yang dibangun pada masa ini seperti madrasah Firouz Shah di Torbatejam, madrasah-madrasah Goharshad dan Soltan Husayn Bayqara di Harat. Pada dasarnya pada zaman itu ada keterkaitan kuat antara madrasah dan kuburan dan kuburan yang berdiri sendiri di zaman ini merupakan sebuah perkecualian.

Madrasah Do Dar juga tidak terlepas dari kaidah umum arsitektur zaman Timurid. Itulah mengapa madrasah ini memiliki dua kuburan di bagian Tenggara dan Barat Daya. Sehingga keberadaan kuburan ini mengganggu luasnya ruangan-ruangan dan bagian lain bangunan ini. Dan ini merupakan perkara biasa karena para arsitek terpaksa harus membangun rancangan gabungan antara madrasah dan kuburan di tempat yang terbatas karena banyak gedung-gedung yang sudah dibangun di sekitarnya. Sehingga keseimbangan antara bagian banguan harus dikorbankan demi kemaslahatan. Bila diperhatikan, tulisan yang ada di batu-batu yang ada di madrasah –syair-syair Persia yang terlihat di teras masuk yang menjelaskan tentang kondisi dunia dan pemikiran sia-sia tentang urusan materi- akan membuat perasaan setiap orang yang membacanya berpikir bahwa pendiri madrasah seperti ini berusaha membangun kuburannya di tempat yang pas supaya tidak musnah setelah lewat bertahun-tahun. Dan tentunya tempat yang paling pas adalah madrasah apalagi terletak di dekat Haram Imam Ridha as.

Di madrasah ini ada dua orang raja terkenal zaman Timurid yang disemayamkan; Amir Yusef Khajeh dan Amir Sayidi. Kuburan Amir Yusef Khajeh (pembangun madrasah) berada di Kubah bagian Tenggara madrasah dan batu kuburan berharga dengan ketinggian kira-kiran satu meter dan panjangnya dua meter berada di atas kuburan tersebut. Di sekeliling batu kuburan tertulis ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. Kedua kubah merupakan jenis kubah yang terdiri dari dua lapis yang dihiasi dengan keramik muarragh (yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik). Bagian badan kubah sebelah Tenggara terdiri dari 32 gambar indah yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik dan tulisan berupa syair-syair Persia dan Khath Tsuluts (skrip tsuluts) berwarna putih di atas keramik yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik memutari kubah. Di bagian badan kubah sebelah Barat Daya juga dipenuhi oleh dua gambar berharga yang dihiasi dengan potongan-potongan kecil keramik dan di sekeliling badan kubah tertulis syair-syair Persia yang sudah musnah dengan berlalunya zaman. Di bagian dasar kubah ada beberapa jendela yang menjadi jalan keluar masuknya udara, menerangi dalamnya kuburan. Ruangan bawah kubah dihiasi dengan Gajbori (stuko) dan lukisan tradisional disertai dengan asma Allah dan nama Nabi Muhammad Saw. Ruangan di bawah kubah sebelah Barat adalah madrasah sederhana dan tanpa hiasan apapun.

(News-Aqr/STI)