Minggu, 27 Desember 2015

Imam Ridho di Mata Syi`ah dan Sunnah


Oleh: Miqdad Turkan

Nama lengkapnya adalah Ali bin Musa bin Ja`far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Tholib . Lahir di Madinah al-Munawarah (tahuh 148 H), meninggal (tahun 203 H) dan dikuburkan di kota Thus (Masyhad) Iran. Menurut Syiah Imamiyah, beliau adalah Imam yang ke delapan dari Ahlul Bayt Rasulullah saw.

Secara nasab, beliau adalalah keturunan Rasulullah saw. Hal itu ditegaskan pula oleh Al-Hakim An-Naisaburi As-Syafi`I; “Salah satu kebesaran nasab Ali bin Musa Ar-ridlo adalah beliau keturunan sebaik-baik manusia Muhammad al-Mustofa saw. Ini adalah pandangan Ahlussunnah waljama`ah dan ijmak para ulama Hijaj. Barangsiapa menolak pendapat ini, maka berarti telah menolak al-Kitab dan as-Sunnah, memerangi kebenaran dan melakukan permusuhan terhadap pemimpin dua pemuda penghuni surga (Hasan dan Husain) serta keturunananya hingga hari kiamat” . Penegasan ini seakan jawaban terhadap aliran-aliran yang memusuhi Ahlul Bayt Nabi saw yang berusaha memisahkan mereka dari garis keturunan Rasulullah saw sepanjang sejarah.

Nama aslinya adalah Ali, dan Ar-Ridlo adalah nama panggilannya. Sebagian Ahlussunnah menduga bahwa orang pertama yang memberi gelar Ar-Rdlo adalah Kholifah Abbasiyah. Hal itu terjadi pada tahun 201 H, tatkala beliau rela diangkat sebagai putra mahkota Khilafah Abbasiyah. Berbeda dengan Ahmad bin Muhammad bin Abi Nashr al-Bizinthi yang menukil dari Imam al-Jawad as, bahwa dugaan tersebut dianggap tidak beralsan. Ibnu Abi Nashr al-Bizinhti pernah bertanya kepada Imam al-Jawad as: Ada sekelompok kaum yang menduga bahwa ayahmu diberi gelar Ar-ridlo oleh al-Makmun (kholifah Abbasiyah) karena menerima jabatan sebagai putra mahkota. Imam Jawad as menjawab: “Sungguh, demi Allah mereka telah berbohong. Allahlah yang memberinya gelar Ar-ridlo, sebab beliau adalah kekasih Allah di langit dan kekasih Rasul-Nya serta para Imam setelahnya di muka bumi”. Lalu aku bertanya: Tidakkah masing-masing dari ayah-ayahmu terdahulu adalah kekasih-kekasih Allah, Rasul dan para Imam as? Beliau menjawab: “Benar”. Lalu kenapa hanya Ayahmu yang mendapat gelar Ar-Ridlo? Imam al-Jawad as menjawab: “…sebab para penentang dari musuhnya telah ridlo kepadanya, sebagaimana para kekasih dan pendukungnya…”

Pendapat ini diperkuat pula oleh sebagian tokoh Ahlussunnah, seperti al-Juwaini as-Syafi`I dan Abdurrahman al-Jami al-Hanaf. Di antara mereka ada yang sempat menyusun syair sebagai berikut:

Imam Ali pemilik nasab tinggi nan agung
Penghulu para `Ajam dan pemimpin para Arab
Sungguh ridlo sang Pencipta Alam kepadanya
Dan karenanya dia diberi gelar Ar-Ridlo.

Imam Ridho as di Zaman Harun Ar-Rasyid

Imam Ridlo menggantikan posisi ayahnya sebagai imam pada tahun 183 H, tepat pada saat beliau berusia 35. Yaitu setelah ayahnya, Imam al-Kazdim, meninggal di dalam penjara Harun Ar-Rasyid. Dalam kepemimpinan, beliau as sezaman dengan Kholifah Harun Ar-Rasyid dan kedua putranya, Al-Amin dan Al-Makmun. Sepuluh tahun berada di bawah kekuasaan Harun Ar-Rasyid, lima tahun di bawah pemerintahan Al-Amin dan lima tahun berikutnya di bawah pemerintahan Al-Makmun.

Setelah ayahnya Syahid, secara tegas dan terang-terangan beliau as menyatakan diri sebagai Imam, pemimpin umat, menggantikan ayahnya. Tanpa ragu dan takut, hal tersebut terus beliau dengungkan. Padahal secara politik, masyarakat di zaman pemerintahan Harun Ar-Rasyid berada dalam tekanan, sehingga nyaris tidak seorangpun bisa lepas dari hukumannya. Sikap berani dan tegas ini, membuat para sahabat dan kawan dekat khawatir akan keselamata beliau as. Sebab, hampir tidak ada beda antara kekuasaan Abbasiyah dan Umaiyah dalam visi dan misi. Hanya metode dan strategi yang membedakannya. Mereka sama-sama berusaha menyingkirkan peran Ahlul Bayt dari umat. Tapi Umaiyah lebih cenderung brutal dan sadis, sedang Abbasiyah lebih lembut, tapi licik dan agama sebagai bentengnya.

Shofwan bin Yahya menceritakan; setelah ayahnya syahid, secara lantang dan tegas Imam Ridlo berbicara yang membuat kami khawatir akan keselamatan jiwanya. Kami katakan kepadanya: “Sungguh engkau telah menampakkan sesuatu yang sangat besar dan kami khawatir atas keselamatanmu dari penguasa zalim (Harun) ini. Dengan tenang Imam Ridho menjawab: “Apapun yang dia inginkan, silahkan dia berusaha. Sungguh tiada jalan baginya untuk mencelakai diriku”. Beliau menngatakan: “Sesungguhnya yang membawa aku melakukan ini adalah sabda Rasulullah saw; “Andaikata Abu Jahal bisa memotong sehelai rambut dari kepalaku, maka saksikanlah oleh kalian bahwa aku pasti bukanlah nabi”. Dan kemudian beliau menegaskan kembali; “Andaikata Harun bisa memotong sehelai rambut dari kepalaku, maka saksikanlah oleh kalian bahwa aku pasti bukanlah Imam”.

Apa yang dipredeksikan Imam, benar-benar terjadi. Selama berkuasa, Harun Ar-Rasyid tidak pernah bisa menyentuh kehidupan Imam sama sekali. Berbagai gejolak politik telah menyibukkan Harun Ar-Rasyid, sehingga kesempatan untuk mengancam Imam pun tidak ada. Di Iran Timur telah terjadi pemberontakan besar-besaran yang akhirnya memaksa Harun Ar-Rasyid pergi memimpin pasukan sendiri menuju Khurasan. Di tengah perjalanan, Harun Ar-rasyid terkena penyakit dan kemudian meninggal di daerah Thus pada tahun 193 H. Dengan demikian, Imam terbebas dari kekejaman Harun Rasyid dan aman dari pembunuhan.

Imam di Zaman Al-Amin

Setelah kematian Harun, terjadi perebutan kekuasaan antara Al-Amin dan Al-Makmun yang mengakibatkan gejolak besar. Sebelum meninggal, Harun Arrasyid telah menunjuk Al-Amin sebagai kholifah, menggantikan posisinya. Harun Ar-Rasyid telah membuat perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan dengan Al-Amin. Di antaranya; setelah kekuasaan Al-Amin berakhir, maka kekuasaan harus diberikan sepenuhnya kepada Al-Makmun dan diangkat sebagai kholifah. Dan di saat Al-Amin berkuasa, hendaknya pemerintahan wilayah Khurasan diserahkan kepada Al-Makmun. Namun setelah kematian Harun, Al-Amin justru mengisolasi Makmun dari jabatan putra mahkota dan mencalonkan putranya sendiri, Musa.

Pergolakan akhirnya tidak bisa dihindarkan. Perang dahsyat dan berdarah di antara dua saudara tidak bisa dihentikan. Sehingga pada tahun 198 H, Al-Amin terbunuh dan jabatan khilafah diambil alih sepenuhnya oleh Al-Makmun.

Di saat terjadi perebutan kekuasaan, Imam Ridlo as justru memanfaatkan kondisi ini untuk membina, menggembleng dan mendidik para pengikutnya agar tetap kuat dan solid. Beliau tidak ingin masuk dalam percaturan politik praktis penguasa yang justru akan melemahkan posisi beliau di tengah umat dan memecah soliditas para pengikutnya. Dan inilah strategi seorang Imam yang layak dikaji lebih jauh.

Imam di Zaman Al-Makmun

Di antara sekian Kholifah Abbasiyah, yang paling berbobot dan berilmu adalah Al-Makmun. Menguasai berbagai bidang ilmu, terutama agama, fikih dan kalam (theologi). Sering terlibat dalam berbagai pertemuan dan kajian ilmiah dengan para ulama. Namun di balik ini semua, Makmun juga dikenal sebagai orang yang cerdik, licik, banyak makar dan tipu muslihat. Kemampuannya dalam menguasai ilmu modern menjadi modal terbesar dalam menjalankan arah politiknya. Meskipun telah terjadi pemberontakan di beberapa daerah, namun kekuasaan Al-Makmun tetap kuat. Pendekatan persuasive terhadap para tokoh dan ulama secara intensif dilakukan, syiar agama terus didengungkan guna memperkokoh kekuasaannya. Bahkan tak jarang Makmun mengundang para ulama dari berbagai madhab ke pusat kerajaan untuk berdialog.

Ad-Dumairi As-Syafi`I mengatakan: “Tidak seorang pun dari Bani Abbas yang lebih alim daripada Makmun…menguasai ilmu, cerdas dan pandai berpolitik”

Ibnu Nadim: “Sungguh dia adalah penguasa Abbasiyah yang paling menguasai fikih dan ilmu thiologi”

As-Suyuthi As-Syafi`i: “Dia adalah sebaik-baik pemimpin Bani Abbas, tegas, tegar, berilmu, cerdas, berwibawa dan pemberani..”

Imam Ali bin Abi Tolib pernah mempredeksi tentang kejadian gaib, beliau mengatakan: “Celaka bagi umat ini dari para pemimpinnya! Mereka adalah pohon terkutuk yang disebutkan Tuhanmu, yang pertama berwarna hiaju dan yang terakhir adalah berlesung pipit, berikutnya urusan umat mahamma ini akan dikuasai oleh orang-orang, yang pertma….dan yang ketujuh adalah yang paling alim di antara mereka…"

Meskipun menguasai ilmu agama dan fikih, namun Al-Makmun seakan merasa tidak terikat dengan Islam sama sekali. Kedekatan Al-Makmun dengan Al-Qodli Yahya bin Aktam, seorang manusian rendah, adalah bukti nyata akan kefasikan dan kemunafikannya. Di tengah masyarakat, Yahya dikenal sebagai orang yang paling jahat, bahkan pena pun malu untuk menceritakannya. Orang seperti ini dijadikan Makmun sebagai sahabat karibnya, baik di dalam masjid, di kamar mandi bahkan di kebun sekali pun. Lebih daripada itu, orang seperti ini diangkatnya sebagai Hakim Agung bagi umat Islam dan dijadikan tempat rujukan dalam urusan penting pemerintahan.

Tidak dipungkiri bahwa pada masa kekuasaan Makmun, secara lahiriyah, ilmu dan pengetahuan semakin berkembang. Banyak ulama di undang ke pusat pemerintahan dan didorong untuk melakukan penelitian dan kajian. Hal itu dilakukan sebagai langkah mulus untuk mencari simpati dan dukungan.

Makmun juga berusaha menarik hati para pecinta Ahlul Bait dan pengikut Imam Ridho as dengan berbagai tindakan. Misalnya, dia berbicara bahwa Ali adalah orang yang layak menjadi kholifah Nabi saw. Bahkan secara resmi dia mengeluarkan maklumat yang mengutuk tindakan Muawiyah dan mencaci-maki perbuatannya. Mengembalikan Fadak kepada Alawiyin dan bersikap simpatik terhadap mereka.. Semua ini dilakukan sebagai upaya membersihkan diri dari warisan kejahatan yang diterima dari para leluhur sebelumnya.

Rekayasa di Balik Jabatan Putra Mahkota

Meskipun Makmun sudah berkuasa dan bahaya Al-Amin, saudaranya, telah dilenyapkan, akan tetapi pengikut Al-Amin masih belum bisa menerimanya. Mereka menilai bahwa pemerintah yang berkuasa dianggap tidak berpihak kepada mereka. Di sisi lain, perlawanan Alawiyin telah menjadi ancaman serius bagi pemerintahan Al-makmun. Sebab, pada tahun 199 H, Muhammad bin Ibrahim, salah satu tokoh Alawiyin yang disegani, telah bangkit dan membantu Abu Saraya melakukan perlawanan. Perselisihan antara Al-Amin dan Makmun dalam perebutan kekuasan, dimanfatkan oleh para pemberontak untuk memperluas gerakan. Akibatnya, kekacauan terjadi di mana-mana, di Hijaj, Irak dan tempat-tempat lain. Bahkan diperkirakan, orang-orang Iran juga akan bangkit membantu kelompok Alawiyin, karena meraka meyakini bahwa hak syar`I kepemimpinan berada di tangan Ahlul Bayt. Dan ini adalah ancaman tersendiri bagi kekuasaan Al-Makmun.

Melihat situasi seperti ini, Makmun merasa lumpuh dan tidak akan bisa mengusai keadaan. Untuk antisipasi, langkah setrategis dan praktis harus segera diambil. Di mata Makmun, tokoh utama yang bisa meredam kelompok Alawiyin adalah Imam Ridho as. Di samping sebagai ulama yang disegani, beliau juga keturunan Nabi yang sangt dicintai semua orang. Akhirnya, surat pernyataan Makmun untuk meletakkan jabatan khilafah dan rencana menyerahkannya kepada Imam Ridho as segera di layangkan ke Madinah. Diharapkan langkah antisipatif ini dapat meredam emosi kelompok Alawiyin dan orang-orang Iran yang setia kepada Ahlu Bayt as. Namun, dengan tegas Imam Ridho as menolaknya. Dalam surat yang kedua, Makmun menulis: ..”ketika kamu menolak permohonanku yang pertama, maka kini kamu harus menerima jabatan sebagai putra mahkotaku”. Permohonan yang kedua ini pun ditolak oleh Imam Rho as.

Tidak ada jalan lain bagi Makmun selain memaksa Imam Ridho as. Akhirnya, dari Madinah beliau didatangkan ke Marwa (pusat pemerintahan) untuk melakukan pertemuan khusus. Dalam pertemuan terbatas ini, hadir pula Fadl bin Sahal Dzirriyasatain. Makmun berkata: “Pendapatku tidak berubah, khilafah dan urusan kaum muslimin aku serahkan kepadamu”. Pendirian Imam pun tidak berobah, beliau tetap menolak.

Ketika, Makmun mengulangi permohonannya yang ke sekian kalinya dan Imam as tetap menolak, maka dengan tegas Makmun mengatakan: “Umar bin Khottob telah menentukan khalifah sesudahnya dengan membentuk dewan syura yang anggotanya terdirti dari enam orang, salah satunya adalah kakekmu, Ali bin Abi Talib. Umar mengeluarkan perintah agar membunuh setiap orang yang melawannya. Sekarang, tidak ada jalan lain bagimu kecuali menerima apa yang aku inginkan. Sebab, tidak ada jalan dan alternative lain yang bisa aku temukan”

Di bawah ancaman, Imam terpaksa menerima jabatan tersebut, dengan syarat. Dalam jawabannya, Imam as berkata: “Aku siap menerima jabatan sebagai putra mahkota dengan syarat; aku tidak akan mengeluarkan perintah dan tidak mengelaurkan larangan, tidak mengelaurakan fatwa, tidak mengelaurakan keputusan, tidak melakukan pemecatan atau mengangkat seseorang, tidak mengubah orang dan atau menggantinya”. Makmun menyetujui persyaratan ini.

Ini adalah taktik dan rekayasa politik yang sangat matang. Jabatan penting ditawarkan, tanpa perduli dampak negative di internal Bani Abbasiyah. Kalau bukan karena perhitungan matang dengan keuntungan politik yang besar, maka langkah ini sulit dilakukan olah Makmun. Resiko perpecahan di internal Abbasiyah adalah taruhannya. Sulit dipercaya, orang yang membunuh saudaranya sendiri untuk merebut kekuasaan dan hidup dalam kezaliman, tiba-tiba berubah darstis menjadi agamis, zuhud dan menjauhi kekuasaan. Oleh sebab itu, wajar jika Imam Ridho menolak tawaran tersebut karena di dalamnya terselubung makar, tipu muslihat dan konspirasi.

Bukti bahwa langkah tersebut adalah makar, dapat dilihat dari pernyataan Al-Makmun sendiri yang termuat dalam surat yang disampaikan kepada Hamid bin Mahram salah satu pejabat tinggi kerajaan:
“….pria ini bersembunyi dan jauh dari kita. Dia berdakwah untuk dirinya sendiri. Kita angkat sebagai putra mahkota karena kita menginginkan agar dia berdakwah untuk kepentingan kita, mengakui kerajaan dan kekhilafahan kita. Dengan demikian, maka para pengagumnya akan memahami bahwa apa yang diklaimnya sebagai miliknya adalah kosong. Khilafah adalah khusus milik kita dan tiada bagian apapun untuknya. Kita khawatir, apabila kita biarkan dalam posisinya yang semestinya, akan terjadi gejolak di dalam negeri yang kita tidak akan mampu menghadapinya. Jika itu terjadi, akan ada kondisi yang membuat kita lumpuh untuk menghadapinya…”.

Muhammad bin Arafah bertanya kepada Imam: “Wahai putra Rasulullah, apa alasan kamu menerima jabatan putra mahkota? Imam menjawab: “Karena alasan yang sama seperti alasan yang mendorong kakekku, Ali, bergabung dalam dewan syura”.

Yasir, salah seorang pembentu Imam, bercerita; Setelah penyerahan jabatan putra mahkota, dia mengunjungi Imam ke rumahnya. Yasir menemukan Imam dalam keadaan mengangkat tangan ke langit, dan berkata:

“Tuhanku, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku menerimanya karena terpaksa, maka jangan Engkau siksa aku sebagaimana Engkau tidka menyiksa hamba-Mu dan Nabi-Mu, Yusuf, ketika menerima kekuasan Mesir”

Imam pernah menegur salah satu sahabat khususnya karena terlihat bergembira atas penerimaan Imam sebagai putra mahkota: “Kamu jangan bergembira, masalah ini tidak akan pernah selesai, dan keadaannya tidak akan pernah tetap seperti ini”.

Jalan Pintas yang Harus Diambil Makmun

Segala macam cara telah dilakukan Makmun untuk meredam gerakan Imam Ridlo dan pengikut-pengikutnya, namun tidak memberikan hasil. Dari sisi lain, Bani Abbas yang lain terus mengkritik dan mengolok-olok sepak terjang Makmun karena memberikan posisi jabatan putra mahkota kepada Imam Ali Ridlo as. Itu artinya, masa depan mereka terancam. Tidak ada pilihan bagi Makmun, kecuali mengakhiri hidup sang Imam. Akhirnya, racun yang maha dahsyat ditaburkan dalam makanan dan diberikan kepada Imam yang mengakibatkan kesyahidannya.

Dengan cara ini, Makmun merasa aman dan terbebas dari ancaman. Dengan senang dan bangga, dia menulis surat kepada Bani Abbas: “Kalian telah mengkritik aku karena menyerahkan jabatan putra mahkota kepada Ali bin Musa Ar-Ridlo. Ketahuilah bahwa kini ia telah mati. Dengan demikian, kalian harus tunduk dan patuh kepadaku".

Komentar Seputar Penyerahan Jabatan Putra Mahkota?

Secara umum, pandangan tentang penyerahan jabatan putra mahkota oleh Makmun kepada Imam Ali Ar-Ridho as, dapat disimpulkan dalam tiga katagori:

1- Makmun menyerahkan jabatan putra mahkota secara jujur dan tulus, tanpa tendensi politik, makar maupun rekayasa.

Di antara yang mendukung pandangan ini adalah At-Tobari dan Ibnu Astir serta lainnya: “Sesungguhnya, makmun melihat Bani Abbas dan Bani Ali secara keseluruhan,namun tidak menemukan seseorang yang lebih baik, lebih bertakwa dan lebih alim daripada Imam Ar-Ridho”. Abu al-Faraj al-Isfahani: “Selama Makmun berperang melawan saudaranya Al-Amin, dia telah bersumpah kepada Allah untuk memindahkan kekhilafahn ini kepada keluarga Abu talib yang terbaik, sementara Ali Ar-Ridho adalah yang terbaik dari kelompok Alawiyin… Suyuthi As-Syafi`I: Makmun melakukan hal itu karena kecintaannya yang berlebihan, hingga dikatakan: dia hendak melepaskan dirinya dan menyerahkan jabatan khilafah kepada (Ali Ar-Ridho)”. Ibnu Toq-toqi mengatakan: “Makmun berpikir tentang masa depan khilafah setelah dia wafat. Dia ingin agar khilafah berada di tangan orang yang layak untuk menghapus dosanya. Dia melihat di kalangan Bani Abbas dan bani Ali, namun tidak menemukan orang yang lebih baik dan lebih bertakwa serta lebih Alim daripada Ali Ar-Ridho”

2 - Makmun tidak jujur dalam menyerahkan jabtan, tapi ada tujuan tertentu. Dan di antara yang berpendapat seperti ini adalah:

Dr Ali Sami Bassyar: “Makmun paham betul bahaya dakwah yang dilakukan kelompok Ismailiyah, maka dia berusaha menghabisinya. Sementara Imam Abdullah Arrodi telah melakukan aktifitasnya secara luas. Oleh sebab itu, Makmun mendekati Ali Ar-Ridho dan dibai`at untuk dijadikan sebagai putra mahkota)Dr Kamil Mustafa As-Syaibi: “Makmun menjadikan Ali Ar-Ridho sebagai putra mahkota adalah langkah untuk meredam gejolak para pendukung saudaranya yang melawan Bani Abbas dari”

3- Pada awalnya penyerahan jabatan itu dilakukan secara jujur dan tulus. Namun dalam perjalanannya, Makmun berubah arah dan membunuh Imam Ridho. Hal itu dijelaskan oleh Al-Khonaji al-Isfahani al-Hanafi: “Sebagian berpendapat bahwa Makmun adalah orang alim yang ingin mengembalikan khilafah dari Abbasiyah kepada putra-putra Ali, bukan karena makar atau rekayasa atau tendensi politik lain. Hal itu dilakukan semata-mata menyampaikan amanat kepada ahlinya. Sayangnya, setelah Ali Ar-Ridho memegang jabatan, Bani Abbas tidak senang, lalu mereka keluar dari pemerintahan. Mereka menuduh bahwa Makmun adalah anak zina…. Ketika Makmun melihat kondisi yang kacau balau ini, dia lebih memilih kekuasaan dunia fana dan meracuni Imam Ridho”. Wallahu A`lam bisshowab

(Ikmal-Online/STI)

Tokoh-Tokoh Yang Dikuburkan Di Haram Suci Razavi


Khamenei - Sayid Javad (1895-1985)

Almarhum Ayatullah Sayid Javad Khamenei lahir pada bulan Jumadil Akhir 1895 di Najaf Ashraf dari keluarga rohaniwan.

Pada masa kecil beliau bersama keluarganya berhijrah ke Tabriz. Ayah beliau adalah almarhum Ayatullah Haji Sayid Hossein Khamenei; seorang ulama besar Tabriz dan imam shalat jamaah masjid jami’ kota ini yang meninggal dunia pada tahun 1907. Almarhum Ayatullah Javad Khamenei memulai pendidikannya di kota Tabriz dan pada 1888 berhijrah ke MashHad untuk melanjutkan pendidikannya. Di sana beliau belajar selama sembilan tahun kepada Ayatullah Mirza Mohammad Aghazadeh Khorasani, Haj Agha Hossein Qommi dan Haj Agha Fazel Khorasani. Masa-masa itu bertepatan dengan kebangkitan Syeikh Mohammad Khiyabani suami dari saudarinya.

Pada tahun 1926 beliau menuju ke Najaf Asyraf untuk menyempurnakan pendidikannya. Setelah tamat sekolah beliau kembali ke Mashhad dan menikah dengan putri almarhum Ayatullah Haji Sayid Hashem Najafabadi. Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei dan ketiga saudara lelaki dan seorang saudarinya adalah hasil dari pernikahan yang penuh berkah ini.

Setelah menjalani hidup dengan penuh kezuhudan, ketakwaan dan keikhlasan, almarhum Ayatullah Sayid Javad Khamenei meninggal dunia di Mashhad pada tahun 1985. Beliau dimakamkan di dekat makan Imam Ridha as tepatnya di Tauhid Khaneh (selasar yang terletak di bagian belakang makam Imam) setelah dilayat oleh masyarakat secara besar-besaran.

Mujtahid Khorasani – Habibollah

Lahir di Mashhad pada tahun 1846.

Habibollah adalah putra Mirza Hashem dan besar dalam sebuah keluarga berilmu. Beliau berangkat ke Najaf setelah belajar ilmu akhlak, fiqih dan ushul fiqih dari Haj Mirza Nasrollah. Beliau juga memiliki hubungan dengan para ahli sastra dan pemikir kota Kazhimain dan Bagdad. Habibollah juga belajar bahasa Perancis dan menuntut ilmu Irfan dari Mirza Mehdi Gilani yang dikenal dengan sebutan Khadyu.

Makam abadi
Beliau tidak begitu suka dengan gerakan Revolusi Konstitusi, namun tidak pernah sama sekali menjukkannya penentangannya. Beliau meninggal dunia pada tahun 1908 di kota Bahriabad ketika sedang dalam perjalanan hijrah dari Iran.

Jasad ulama yang pandai dan bertakwa ini disemayamkan di haram Imam Ridha as di sebelah beranda Shah Tahmasb di tempat penyimpanan air dingin yang di sana juga Sayid Mohammad Mehdi Syahid leluhur beliau di makamkan.

Ardebili - Sayid Yunes (1878-1957)

Ayatullah Sayid Yunes Ardebili adalah putra Sayid Mohammad Taghi putra Mir Fath Ali putra Saif Ali Ardebili. Mereka semua ini menjalani hidupnya sebagai ulama.

Sayid Yunes lahir di Ardebil pada tahun 1878. Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota tersebut, kemudian pergi ke Zanjan untuk melanjutkan pendidikannya. Beliau belajar fiqih dan ushul fiqih dari Akhound Molla Ghorban Ali Zanjani dan belajar ilmu-ilmu rasional dari Filsuf besar Akhound Molla Sabze Ali Hakim. Sekitar tahun 1892 beliau pergi ke Najaf. Kemudian melakukan perjalanan lagi menuju Karbala bergabung dengan hauzah ilmiah milik Mirza Mohammad Taghi Shirazi, pemimpin kebangkitan ulama Irak dalam melawan penjajah Inggris dan menjadi orang kepercayaan Mirza Mohammad Taghi. Beliau diserahi untuk mengatur urusan para pelajar agama oleh Mirza Mohammad Taghi. Dalam beberapa waktu beliau juga diangkat sebagai penganggung jawab hauzah ilmiah Najaf oleh Mirza Mohammad Taghi.

Ayatollah Ardebili pada tahun 1929 kembali pulang ke Ardebil karena sakit mata. Lima tahun kemudian yakni tahun 1934 pindah ke Mashhad untuk mengajar dan menangani urusan agama di kota itu. Beliau meninggal dunia di Tehran pada tanggal 21 Dzulqa’dah di tahun 1939 dan jenazahnya dibawa ke Mashhad dan dimakamkan di kawasan Darussaadah, Haram Suci Razavi.

Sayid Yunes Ardebili meninggalkan hasil karya ilmiah yang benar-benar penting. Fiqih lengkap, shalat musafir, kaidah La Dhirar dan risalah pendidikan. Sementara buku syarah Urwatul Wutsqa adalah hasil karya beliau yang belum dicetak. Risalah amaliyah beliau dengan judul ‘Wajizah al-Masail’ dan ragam ilmu Ijmali dalam ilmu ushul dan Mu’taghidat Qaser dalam ilmu ushuluddin merupakan hasil karya beliau yang sudah dicetak.

Khorasani - Mohammad Hassan

Terkenal dengan sebutan Adib Heravi, salah seorang ilmuwan besar dan penyair ternama, bahkan ia termasuk salah satu ilmuwan sastra. Ayahnya Molla Mohammad Taghi merupakan salah seorang ulama Mashhad dan salah satu pengabdi yang menjadi penjaga kedua Haram Imam Ridha as dan meninggal dunia di Mashhad pada tahun 1325.

Mohammad Hassan lahir di Mashhad pada tahun 1884 dan besar di tengah-tengah keluarga ilmuwan.

Pendidikan
Beliau belajar ilmu dan pengetahuan ilahi dari ayahnya dan belajar ilmu sastra dari adib Thusi Mirza Mohammad Baqir Modarres dan Mirza Abdorrahman Modarres. Pada tahun 1901 menjelang Revolusi Konstitusi, beliau belajar selama enam tahun kepada Mirza Abdoljavad Neishaburi. Beliau menyempurnakan ilmu sastranya dari Mirza Abdoljavad Neishaburi dan mencapai sebuah derajat sehingga sang guru mengizinkannya untuk mengajar dan menyebutnya sebagai seorang Fadhel. Selain itu beliau juga mendapatkan ijazah ilmiah dan riwayat dari Syeikh Mohammad Hossein Naini dan Sayid Hadi Khorasani Hairi. Para ilmuwan juga mengelu-elukan Adib. Pada masa Reza Khan, Adib tertarik untuk mengajar budaya dan kesenian. Sebagian dari umurnya digunakan untuk mengajar dan pernah juga mengajar di Haram Suci Razavi.

Tahun-tahun kehidupan
Di akhir kehidupannya beliau tidak lain hanya mengabdi kepada Imam Ridha as dan menulis tentang peninggalan bersejarah dan ilmu sastra. Beliau menganggap penting masalah penulisan sejarah khususnya sejarah kontemporer. Beliau sangat berperan dalam merekam dan mencatat kejadian-kejadian pada masanya. Beliau menulis kesaksian-kesaksian yang terjadi di masanya dalam dua buku Tarikh Enghelab (Sejarah Revolusi) Thusi dan al-Hadiqah ar-Radhawiyah, dan mencatat segala yang disaksikannya dan riwayat dari tokoh lain tentang Revolusi Konstitusi, peristiwa penembakan Haram Imam Ridha as dengan artileri oleh pasukan Rusia, kebangkitan Goharshad, peristiwa Shahrivar 1941, penjajahan Khorasan oleh pasukan Rusia dan kebangkitan Soulat al-Saltanah Hazareh.

Akhirnya, pada tahun 1968 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di di Darussaadah, Haram Imam Ridha as di sisi kuburan ayahnya. Semoga Allah mengampuninya.

Adib Naishabouri-Abdoljavad (1864-1925)

Mirza Abdoljavad Adib Naisharbouri pada tahun 1864 lahir di Bijangerd salah satu desa di Neishabour.

Setelah bisa membaca dan menulis, atas dorongan ayahnya Molla Hossein, beliau pergi ke Neishabour. Pada tahun 1879 beliau pergi ke hauzah Mashad untuk menuntut ilmu lebih banyak. Pada mulanya beliau pergi ke madrasah Khaerat Khan kemudian ke madrasah Fazel Khan dan pada akhirnya menetap di sebuah ruangan di madrasah Navvab. Di samping belajar mukadimah ilmu-ilmu sastra, beliau mempelajari buku-buku antara lain Nahjul Balaghah, Mughni, Muthawwal, Maqamat Badi’i, Maqamat Hariri, Hasyiah dan Syamsiah tanpa guru. Beliau juga mengenyam sedikit fiqih dan ushul fiqih, filsafat dan teologi dari guru-guru hauzah masa itu, kemudian kembali ke Neishabour. Pasca wafat ayahnya sekitar tahun 1892 beliau kembali lagi ke Mashhad dan tinggal di salah satu ruangan di madrasah Navvab dan tidak melakukan bepergian lagi sampai akhir hayatnya. Dalam menjalani hidupnya beliau tidak banyak menggunakan uang pembagian dari khumus. Tapi menggunakan uang gaji dari hasil mengajar di Haram Suci Razavi dan sedikit warisan yang didapatkannya dari Neishabour. Beliau pandai dalam menjelaskan, terus terang dalam melawan kebodohan dan riya. Hidupnya sangat teratur dan sekali dalam seminggu datang menziarahi Haram Imam Ridha as. Kebanyakan dari pelajaran yang diajarkannya dihadiri lebih dari tiga ratus santri.

Pada hari Jumat, tanggal 28 Mei 1926, beliau di makamkan di dekat dinding bagian barat Darussaadah di Haram Imam Ridha as. Di sekolahnya, Mirza Abdoljavad selama hidupnya berhasil mendidik tokoh-tokoh terkenal seperti Malilussyuara Bahar, Badiuzzaman Forouzanfar, Mohammad Parvin Gonabadi, Mohammad Taghi Modarres Razavi, Mohammad Farah, Mohammad Taghi Adib Neishabouri, Mohammad Ali Bamdad, Sayid Jalaluddin Tehrani, Sayid Hassan Meshkan Tabasi. Kebanyakan kehidupan yang mengalir ini tampak dalam syair-syair Adib. “Lali-ye Maknoun” merupakan hasil karya tulisan beliau dan dicetak di Mashhad pada tahun 1915.

Vaez Tabasi - Gholam Reza (1895-1936)

Almarhum Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Syeikh Gholam Reza Tabasi putra Mohammad Mehdi Mahdavi merupakan salah seorang ulama terkenal, orator dan muballigh di abad ke-14 Hijriah.

Beliau lahir sekitar tahun 1895 di Tabas Golshan di tengah-tengah keluarga mukmin dan ahli ilmu. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar hauzah ilmiah pada tahun 1923, dalam usia 28 tahun, beliau pindah ke kota Qom. Selama di kota Qom, beliau belajar kepada Mirza Hamedani dan Akhound Mulla Ali Hamedani, namun lebih banyak menimba ilmu kepada Ayatullah Marashi Najafi. Sekembalinya beliau dari menunaikan ibadah haji pada 1936 dan berhenti sebentar di kota Mashhad, saat menuju Tehran, beliau meninggal dunia akibat penyakit TBC yang diidapnya di kota Sabzavar pada tahun yang sama.

Tulisan ilmiah karya almarhum Tabasi menunjukkan tingkat keilmuwannya. Bahkan tidak diragukan bahwa anak saleh yang ditinggalkannya, yaitu Ayatullah Vaez Tabasi, Perwalian Makam Suci Haram Razavi, Wakil Wali Faqih di provinsi Khorasan Razavi dan Penjabat Hauzah Ilmiah Khorasan sekaligus anggota Dewan Ahli Kepemimpinan dan Dewan Penentu Kebijakan Negara yang dikenal sebagai seorang mukmin dan pembela Republik Islam Iran. Beliau sempat mengajar di pelbagai jurusan tingkat Sutuh (sebelum tingkat ijtihad) di Hauzah Mashhad. Selain pelayanan yang dilakukannya, beliau juga mendidik ratusan santri menjadi ulama. Imam Khomeini ra dalam satu ucapannya berkata kepada beliau, “Saya punya dua alasan mengapa memiliki perhatian khusus kepada Anda. Pertama dikarenakan diri Anda sendiri dan yang kedua disebabkan ayah Anda.”

Mohammad Ibnu Abi Jomhour Ehsai

Mohammad Zainuddin bin Ali bin Ebrahim bin Hishamuddin bin Ibnu Abi Jomhour Ehsai merupakan ulama Syiah yang ternama dan lahir di Ihsa, Bahrain.

Di sana beliau belajar dan hidup sampai pada tahun 1498. Beliau belajar di Najaf selama bertahun-tahun kepada para guru besar antara lain kepada Syeikh Sharafuddin Hassan bin Abdolkarim Fetal Gharavi. Pada tahun 1472, beliau pergi haji ketika kembali beliau berhenti beberapa malam di Syam. Sekitar selama satu bulan beliau belajar hadis kepada Syeikh al-Islam Ali bin Hilal Jazairi di Kark Nuh kemudian menuju Khorasan. Salah satu hasil karyanya yang terkenal adalah Zadul Musafirin Dar Ushuluddin yang disusunnya selama perjalanannya menuju Mashhad pada tahun 1473 dan atas permintaan muridnya Amir Mohsen bin Mohammad Razavi Mashadi untuk disyarahi dan diberi nama Kasyful Barahin. Akhir perjalanannya adalah ke Mashad pada tahun 1490 dan setelah wafat, beliau dimakamkan di sisi makam Imam Ali bin Musa ar-Ridha as.

Mousavi Nasl - Sayid Hossein

Terkenal dengan sebutan Adib Bojnourdi putra Mirza Abu al-Hassan lahir di desa Khorasan bagian dari kota Bojnourd pada tahun 1882.

Pendidikan
Beliau menyelesaikan pendidikan dasarnya di kota kelahirannya dan pada usia 15 tahun beliau pergi ke Mashhad dan belajar serta tinggal di madrasah Navvab.

Pengumuman Revolusi Konstitusi
Adib pada tahun 1906 aktif memberikan pelayanan modern di bidang. Pertama beliau mengajar di madrasah Marefat dan setelah itu mengajar di madrasah Farhanggi. Sementara di Moasseseh Sherkat-e Farhang, Adib mengajar sastra, fisika dan kimia di Muassesat Sherkate Farhang.

Pada tahun 1919 seiring dengan didirikannya Farhang Khorasan beliau mengabdi kepada budaya tanah air ini dan mendirikan sekolah menengah umum Danesh bersama Danesh Bozorgniya, Entekhab al-Malek Ram dan Moshtashar al-Malek. Pada tahun 1929 setelah berdirinya fakultas Ma’qul wa Manqul (Rasional dan Tekstual), pengajaran sejarah sastra dan tafsirnya diserahkan kepada Adib. Pada masa utu juga beliau mengajar logika, ilmu-ilmu sastra dan puisi di madrasah Navvab.

Pada tahun 1935 beliau dipindahkan ke Isfahan dan di kota itu ditugaskan untuk mendirikan fakultas Ma’qul wa Manqul dan kepemimpinan sekolah menengah umum Saremiyeh diserahkan kepadanya.

Tahun-tahun terakhir
Beliau tetap saja haus pada ilmu dan pengetahuan. Di akhir usianya, karena kakinya yang benar-benar sakit, beliau mengajar murid-muridnya di rumahnya sehingga pada tanggal 26 Agustus beliau meninggal dunia. Di antara hasil karya penulisan almarhum Bojnourdi yang bisa disebutkan adalah kumpulan syair yang dicetak pada tahun 1919, Seir Tabiat (perjalanan alam), Moghaddame’i Bar Touhid Mufazzal tentang Mi’raj (Mukadimah untuk Tauhid Mofadhdhal tentang Mi’raj)

Morvarid – Mohammad Reza (1881-1919)

Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Syeikh Mohammad Reza Morvarid putra Haj Mohammad Ali merupakan orang yang bertakwa di zamannya dan tinggal di daerah Darband Alikhan daerah bagian bawah jalan Mashhad.

Almarhum Morvarid dan almarhum Nokhoudaki mengikat janji persaudaraan. Dinukil dari Nokhoudaki bahwa “Saya mengikat janji persaudaraan dengan banyak orang dan saya yang selalu terlebih dahulu melakukan tugas kewajiban sebagai saudara atas mereka, namun saya saya tidak pernah mampu mendahului Haj Syeikh Mohammad Reza meskipun saya berusaha semaksimal mungkin.”

Beliau meninggal dunia pada tangga 11 Oktober 1919 setelah mengerjakan shalat subuh.

Modirshanehchi - Kazem (1927-2000)

Hujjatul islam wal muslimin Ustad Kazem Modirshanehchi lahir di Mashhad pada tahun 1927.

Ayah beliau merupakan pedagang yang terkenal dan ibunya dari keluarga berilmu. Ustad Shanehchi mengajar fiqih dan hadis di Fakultas Ilahiyah atas undangan Doktor Fayyaz menyusul didirikannya Fakultas Ilahiyah Mashhad pada tahun 1958. Karena semangat dan usaha tanpa henti Ustad Shanehchi dalam mengenalkan nilai ilmu hadis dan penyebarannya beliau berhasil menyusun buku-buku berharga seperti Dirayah al-Hadis, ilmu al-Hadis dan Tarikh Hadis.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, aktivitas keilmuan Ustad Shanehchi mengalami perkembangan yang lebih luas. Dengan didirikannya pusat penelitian Islam Haram Suci Razavi pada tahun 1984, selain menjadi anggota kepemimpinan, beliau juga sebagai penanggung jawab tim hadis di pusat penelitian tersebut.

Keberadaan Ustad di pusat penelitian Islam mampu menciptakan kondisi yang tepat sehingga dengan bantuan para peneliti hebat beliau berhasil memberikan pelayanan yang sangat berharga dalam mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis Nabi dan para Maksum as. Ustad Shanehchi juga memiliki hasil karya lainnya antara lain; Tarjumeh Wa Syarhe Tabshirah (terjemah dan penjelasan Tabshirah), Chehel Hadis Hazrate Reza as Ba Moqhaddame-i Dar Rejal-e Moaser Hazrat as (empat puluh hadis Imam Ridha as dengan mukadimah di rijal yang semasa Imam as), Tashhih wa Tahsyiyah al-Alwar al-Bahi Syeikh Abbad Qomi, Rawesh-e Estembath, Ayat al-Ahkam, Tarikh Fiqh Mazhab Islami, Mazarat Khorasan, Tarikhche Advae-e Mantegh.

Akhirnya beliau meninggal dunia pada tanggal 13 Mei 2002 di hari syahadahnya Imam ke delapan orang-orang Syiah Ali bin Musa ar-Ridha as.

Mohaghegh Sabzvari - Mohammad Baghir (1608-1679)

Molla Mohammad Baghir putra Mulla Mohammad Momin Khorasani terkenal dengan sebutan Fazel dan Mohaghegh Sabzvari yang merupakan salah satu ulama terkenal, faqih dan cendikiawan komprehensif abad sebelas Hijriah.

Beliau lahir pada tahun 1608 di desa Namen Sabzvar. Mohaghegh Sabzvari bertahun-tahun di Isfahan ditetapkan sebagai imam shalat Jumat dan sesepuh Islam oleh Shah Solaiman Safavi dan mengajar di madrasah Mulla Abdollah Shoushtari. Beliau sezaman dengan Feiz Kashani dan sepemikiran dengannya.

Karena jabatan keagamaan, politik, pemikiran khas dan cenderung baru yang dimilikinya, Mohaghegh banyak memiliki musuh. Karena alasan inilah Mohaghegh berhijrah ke Mashad. Pada tahun 1672 beliau merenovasi madrasah Samiiyeh yang terkenal dengan sebutan madrasah Baghiriyeh dengan biaya uang wakaf atas usaha Mir Abdolhossein dan mengajar di sana serta mewakafkan sejumlah buku dan tanah ke madrasah tersebut.

Beliau meniggal dunia di Mashad pada tanggal 7 Rabiul Awal 1608. Berdasarkan wasiatnya, beliau dikuburkan di Madrasah Mirza Jafar di samping kuburan Syeikh Mohammad Amili dan Mulla Mirza Shirvani dan anaknya Syeikh. Anak-anak beliau adalah Mohammad Hadi dan Maulana Mirza Jafar; keduanya adalah orang berilmu.

Mohaddes Khorasani - Ali (1911-1950)

Haj Syeikh Ali Mohaddes Khorasani putra Haj Syeikh Hassan Vaez Pain Khiyabani adalah salah satu mubaligh terkenal Khorasan. Dalam hal kezuhudan dan ketakwaan jarang ada padanannya dan dihormati masyarakat umum.

Beliau dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang berilmu dan beramal pada tahun 1911. Almarhum Mohaddes merupakan pakar bidang fiqih dan hadis serta pidato. Ucapan-ucapannya yang sangat mendalam memiliki pengaruh yang tak bisa diingkari di hati-hati manusia dimana rahasianya adalah karena beliau menghindari gemerlapnya dunia.

Mohami- Mohammad Reza (1911-1957)

Ayatullah Syeikh Mohammad Reza putra Ayatullah Syeikh Gholamhossein Mohami, merupakan salah satu ulama dan mujathid kotemporer. Bertahun-tahun beliau mengajar di hauzah ilmiah Mashad dan Qom.

Sekitar tahun 1951 beliau pergi ke Qom dan ikut pelajaran Bakhtsul Kharej fiqih (kuliah tingkat ijtihad fiqih) Ayatullah Boroujerdi dan ushul fiqih Imam Khomeini. Di antara dua ratus peserta ujian bakhtsul kharej beliau mencapai peringkat pertama. Di awal tahun 1954 ayahnya meninggal dunia sehingga beliau harus kembali ke Mashhad dan ikut pelajaran Ayatullah Milani.

Pada tahun 1998 beliau meninggal dunia dan pada hari selasa tanggal 6 Mordad jenazahnya diiringi oleh di para ulama dan ilmuwan hauzah dari masjid Imam Hasan Askari Qom sampai Haram Sayidah Fathimah Ma’sumah lalu dishalati di tempat ini dengan diimami oleh Ayatullah Shubairi Zanjani. Jenazah beliau kemudian dibawa ke Mashhad dan pada tanggal 30 Juli 1998 dilawat menuju Haram Imam Ridha as dan dikuburkan di ruangan di samping tempat penitipan sepatu pelataran Azadi.

Abdorrahim (1863-1915)

Ayatullah Haj Syeikh Abdorrahim Eidgah putra Akhound Molla Safar Ali dilahirkan pada tahun 1863 di tengah-tengah keluar rohaniwan di daerah Eidgah Mashhad. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau bertani dan menyebarkan agama Islam setiap menemukan kesempatan yang tepat. Karena pengajian yang diadakan memiliki dasar keilmuan yang baik maka mendapatkan sambutan dari para ulama dan ilmuwan. Salah satu wasiat yang beliau tinggalkan untuk para pelajar agama khususnya untuk almarhum Syeikh Morteza Eidgahi adalah belajarlah kalian, selama masih memiliki kemampuan dan jangan segan-segan untuk menyebarkannya dan jangan lupa untuk menyampaikan makrifat ilahi. Beliau mencapai syahadah dalam usia 54 tahun di malam tanggal 27 Mei 1916 bertepatan dengan syahadahnya Imam Musa bin Ja’far. Para pelaku kejahatan ini membunuhnya dengan dua tembakan peluru yang mengena mata dan otaknya di gang Sadrul Atebba’ dekat bunderan Qadami setelah beliau masuk ke Haram dan mengerjakan shalat Maghrib dan Isya. Hari berikutnya jenazahnya dilayat di antara kumpulan masyarakat Mashhad dan ulama di selasar Darussiyadah sebelah Chehelchiragh.

Feiz Gonabadi - Abdorrahim (1897-1984)

Ayatullah Haj Sayid Abdorrahim Feiz Gonabadi lahir pada tahun 1897 di desa Delighan Gonabad di sebuah keluarga beragama.

Pada tahun 1912 beliau pergi ke Mashad untuk melanjutkan pendidikan. Beliau termasuk orang yang memiliki pemikiran terbuka dan mendukung gerakan Revolusi Islam. Pada tanggal 10 Juli 1985 beliau meninggal dunia dan dimakamkan di pelataran Azadi dekat kolam.

Alawi - Sayid Mahmoud

Ayatullah Sayid Mahmoud Alawi putra seorang ulama bernama Haj Mirza Yusef Hosseini Khiyabani.

Beliau dilahirkan di Tabriz pada tahun 1897. Pada usia 18 tahun beliau berhijrah ke Mashhad. Beberapa lama beliau berhijrah ke Najaf, tapi Mashhad ar-Ridha (Kota Mashhad) dipilihnya sebagai tempat tinggal selamanya dan mengajar, menulis buku dan berdakwah. Beliau sebagai imam shalat jamaah di Shabestan (aula) pertama masjid Jami’ Goharshad. Pada 10 Rabiul Awal tahun 1961 beliau pergi ke Tehran untuk berobat namun di sana beliau meninggal dunia dan jenazahnya dibawa ke Mashhad dan dimakamkan di salah satu ruangan yang ada di pelataran Atigh. Al-Hijab wa al-Islam, ar-Riba wa al-Islam, al-Ghina wa al-Islam, Hidayah al- Anam Ila Ta’alim al-Islam merupakan hasil karya beliau yang sudah dicetak. Baharestan-e Erfan Dar Tafsir-e Sure-ye Hamd (Musim semi Irfan dalam Surat Fatihah), as-Syihab as-Tsaqib Fi al-Islam wa al-Madzahib dalam tiga jilid, Hidayah al-Mustarsyidin Ila Ma’arif ad-Din al-Mubin dan beberapa buku untuk menjawab kerancuran para penentang dan membuktikan ushul dan akidah Islam juga hasil karya beliau yang sudah ditulis.

Ghazvini - Hashem (1898-1960)

Ayatullah Haj Syeikh Hashem merupakan salah satu ulama besar dan pengajar hauzah ilmiah Mashhad pada abad ke-14.

Beliau dilahirkan di Qazvin pada tahun 1898. Pendidikan dasar dan sebagian pendidikan hauzah beliau pelajari di kota tersebut dan di Tehran kemudian pergi ke Najaf. Setelah belajar dari beberapa guru di Najaf, beliau datang ke Mashhad. Meskipun tidak begitu lama di Mashhad, namun dengan mendidik murid-murid ternama, beliau berhasil memberikan pengaruh yang tak bisa diingkari terhadap hauzah ilmiah Mashhad baik secara ilmiah maupun spiritual.

Ayatullah Vaez Thabasi, Ayatullah Haj Mirza Mehdi Noughani, Ustad Mohammad Taghi Shariati, Ustad Kazem Moudir Shanehchi, Ustad Mohammad Reza Hakimi, Ayatullah Salehi, dan yang tertinggi di antara mereka adalah Ayatullah Khamenei merupakan murid-murid sekolah almarhum Qazvini.

Ayatullah Syeikh Hashem Qazvini selama hidupnya aktif mengikuti gerakan-gerakan penting politik Khorasan.

Almarhum Syeikh Hashem Qazvini akhirnya meninggal dunia pada tanggal 14 Oktober 1960 dan jenazahnya dimakamkan di selasar Darruzziafeh Haram Imam Ridha as terletak di sebelah kanan teras emas halaman Azadi.

Mazandarani - Mohammad Salehi (1880-1971)

Allamah Haj Syeikh Saleh Mazandarani putra Mirza Afzalollah Hairi Mazandarani terkenal dengan “Allamah Hairi Mazandarani” dan “Allamah Semnani” adalah seorang mujtahid yang juga seorang peneliti, filosuf yang pandai bicara, ahli hadis juga mufasir dan sastrawan yang juga penyair.

Beliau lahir di Karbala pada tahun 1880.

Beliau memiliki kemahiran dalam menulis syair dan sastra baik dalam bahasa Arab maupun Persia. Kifayah al-Ushul milik Akhound Khorasani beliau susun dalam bentuk syair. Beliau juga meninggalkan hasil karya berupa Risalah Amaliyah fiqih (buku fatwa fiqih) dan buku syair. Beliau hidup bertahun-tahun di Mazandaran, kemudian pindah ke Semnan sampai akhir kehidupannya beliau tinggal di Semnan sibuk mengajar dan melakukan penelitian. Akhirnya pada tahun 1971 beliau meninggal dunia di kota Semnan dan jenazahnya dibawa ke Mashhad dan dimakamkan di selasar Darussiyadah.

Sumber: Mashahir Madfun Dar Haram Razavi, Ebrahim Zangganeh, dengan kerjasama dan edit ilmiah Gholam Reza Jalali.

Torbati - Eshagh (1744-1822)

Haj Molla Eshagh lahir di kota Torbat Haidariyeh pada tahun 1744. Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau pergi ke Mashhad. Seluruh umurnya dipergunakan untuk mengajar dan menyebarkan hukum Islam.

Selama empat puluh tahun beliau tidak pernah keluar dari Mashhad. Beliau pernah ke Mekah dan setelah kembali dari Mekah pada tahun 1822, beliau meninggal dunia di Mashhad dan dimakamkan di sana pula. Hasyiah Syarh Lum’ah merupakan hasil karya beliau yang sudah dicetak.

Hasheminejad - Sayid Abdolkarim (1932-1981)

Mujahid Syahid Sayid Abdolkarim Hasheminejad merupakan salah satu rohaniwan pejuang. Beliau lahir di Behshar pada tahun 1932. Bertepatan dengan wafatnya Ayatullah Boroujerdi beliau berhijrah ke Mashhad dan mengajar di hauzah ilmiah.

Pada tanggal 14 Oktober 1963, pidato beliau di masjid Fil menentang kondisi para wanita yang tidak menjaga hijab Islam yang disebarkan oleh Rezim Shah Pahlevi menyebabkan terjadinya keributan antara masyarakat dengan pasukan keamanan. Dalam keributan itu dua orang mencapai syahadah dan beliau ditangkap oleh SAVAK.

Berikutnya pada tahun 1970 beliau ditangkap dan dipenjara setelah berceramah selama sepuluh malam berturut-turut tentang sebab tidak adanya kemajuan kaum muslimin di salah satu masjid Shiraz. Kemudian untuk selamanya beliau dilarang berceramah di seluruh penjuru negeri.

Selama tidak boleh berceramah, beliau menerbitkan hasil karya berupa tulisan. Sebagian dari hasil karanya antara lain; Monazereh Doktor va Pir (dialog doktor dan orang tua), Darsi Ke Husein Be Insanha Amoukht (pelajaran yang diajarkan Husein kepada manusia), Taqrirat-e Ushul-e Ayatullah Syeikh Ali Kashani, Hasti-e Bakhsh, Rahbaran-e Rastin (pemimpin-pemimpin yang benar), Masael-e Asr-e Ma (masalah-masalah zaman kita), Qoran Wa Ketabhaye Digar Asemani (Quran dan kitab samawi lainnya) , Moskelat-e Mazhabi-e Ruz (masalah keagamaan masa kini), Rah-e Sewum Bain-e Komunism Va Sarmayedari, (jalan ketiga antara Komunisme dan Kapitalisme) Wilayat Fakih, Zahra as Maktab-e Moqawemat (Zahra as ajaran Muqawama).

Syahid Hasheminejad dan Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dan Ayatullah Thabasi telah mendirikan perwalian besar Haram Suci Razavi segitiga Muqawama. Di akhir masa kekuasan rezim Shah Pahlevi ketiganya senantiasa bersama di kota Mashhad untuk berjuang demi kebebasan dan kemerdekaan rakyat dari cengkeraman diktator.

Tanpa diragukan beliau adalah salah satu penggerak utama Revolusi Islam Iran di Mashhad. Akhirnya pada tanggal 29 September 1981 beliau dibunuh oleh salah satu anggota teroris MKO.

Gharavi Isfahani – Mehdi (1886-1946)

Beliau lahir di Isfahan dan pada tahun 1922 pergi ke Mashhad. Beliau merupakan ilmuwan luar biasa di hauzah ilmiah Khorasan di zamannya. Beliau mengutamakan penelitian ilmiah tentang mengenal keluarga Rasulullah Saw dan mengumpulkan sejumlah besar para ilmuwan dan ulama. Beliau meyakini bahwa selain jalan Ahlul Bait, jalan apapun akan berakhir pada kesesatan. Barang siapa yang mencari hidayah dari selain keluarga Muhammad Saw, maka ia tidak akan mendapatkannya.

Banyak hasil karya yang ditinggalkan oleh Mirza Mehdi antara lain buku-buku tersebut bisa disebutkan:
1. “Maarif al-Quran” dar Ushul-e Eteghadat Islami dan Tamyiz-e Ulum-e Qoran-I Az Falsafeh wa Erfan.
2. Buku “Misbah al-Huda” dar Ushul-e Feqh.
3. “Al-Mawahib as-Sunniyah Fi Bayani Ma’aridh Wa at-Tauriyah Fi Kalimat al-Aimmah Li Istimbat Ahkami as-Syar’iyah”
4. “Abwab al-Huda”
5. “I’jaz Quran”
6. “Ghayah al-Muna Wa Mi’raj al-Qulub wa al-Liqa’ Fi as-Shalat”
7. “Ibtal Ma’arif al-Yunan”
8. “Kitab a;-Qadha wa al-Qadar”

Atas jerih payah Sayid Mohammad Baghir Najafi Yazdi sejumlah hasil karya ini telah diterbitkan di Mashhad pada tahun 1975.

Almarhum Gharavi meninggal dunia di Mashhad pada hari Jumat 20 Dzulhijjah 1946 karena serangan jantung dan dimakamkan di bawah dinding bagian selatan selasar Daruzziafeh Haram Imam Ridha as.

Sabzvari – Hossein (1892-1966)

Ayatullah Haj Mirza Hossein Sabzvari terkenal dengan “Faqih Sabzvari” putra Ayatullah Mirza Musa, lahir di Samarra. Pada tahun 1900 pergi ke Sabzvar bersama ayahnya dan belajar ilmu agama di sana.

Beliau pergi ke Mashhad pada tahun 1908 untuk melanjutkan pendidikan.

Pada tahun 1951 beliau membangun madrasah Bagh-e Rezvan seluas 16 ribu meter persegi. Menyempurnakan rumah sakit Razi, membangun 120 rumah untuk korban banjir di jalan Nakhrisi dan 25 rumah di jalan Khojeh Rabi’. Memberikan 2500 kaplingan tanah di jalan Tollab kepada para pelajar agama dan ulama hauzah Mashad dan membangun puluhan masjid di berbagai daerah di Mashad.

Beliau meninggal dunia pada tanggal 25 Februari 1965.

Hidayah al-Anam merupakan buku Risalah Amaliah beliau dan buku “Manasik Haji” beliau juga telah dicetak.

Shirazi - Abolhassan (1914-1999)

Ayatullah Syeikh Abolhassan Shirazi (Moghaddasi) lahir pada tahun 1914 di kota Kouhestan bagian dari daerah Darab profinsi Fars.

Pada tahun 1961 beliau pergi ke Mashhad dan mengajar serta mendidik para ulama.

Beliau sangat menghargai urusan kebudayaan dan ilmiah. Itulah mengapa belaiu mendirikan madrasah ilmiah “Vali Asr af” dan yayasan “Islam Shenas Banovan”
Akhirnya setelah menggunakan umurnya dengan penuh usaha, jihad dan keikhlasan beliau meninggal dunia di usia 86 tahun, tepatnya pada hari Ahad tanggal 6 Agustus 2000. Beliau dimakamkan di Haram Imam Ridha as di Daruzzuhd.

Shirazi - Sayid Abdollah (1892-1984)

Ayatullah al-Uzdma Haj Sayid Abdollah Mousavi Shirazi lahir di kota Shiraz pada hari Selasa 21 Februari 1893.

Beliau meninggal dunia pada tanggal 28 September 1984 pada usia 92 tahun. Beliau tidak pernah berpakaian selain pakaian santri. Beliau tidak mengizinkan kamarnya dihampari karpet. Beliau makan makanan yang sederhana dan mengerjakan pekerjaannya sendiri. Beliau tidak mau dijaga oleh penjaga ketika pergi ke mana-mana. Posisi keilmuwan Ayatullah Shirazi sangat tinggi. Selama beliau di Mashhad dan Najaf, beliau hanya mengajar fiqih dan ushul fiqih.

Beliau banyak menulis buku-buku fiqih dan ushul fiqih antara lain: Umdah al-Wasail fi al-Hasyiah ala ar-rasail, Kitab al-Qadha, ad-Durar al-Baidh fi Munjazat al-Maridh, Izahah as-Syubahat di as-Syakki fi ar-Rakaat, Raf’ul-Hajib fi al-Ujrah ala al-Wajib, at-Tuhfah al-Kazdimiyah fi Qatl al-Hayawanat bi al-alati al-Kahrabaiyah, al-Hasyiyah ala al-Urwah, al-Amanah fi as-Syiah, Manasik Haji, Taudhih al-Masail dan Poushesh-e Zan dar Islam (pakian wanita dalam Islam).

Selain aktifitas keilmuan, beliau juga aktif membangun madrasah ilmiah, perpustakan umum, masjid dan klinik pengobatan.

Alamolhoda – Sayid Ebrahim (lahir: 1998)

Ayatullah Haj Sayid Ebrahim Alamolhoda Sabzvari lahir di Sabzvar dan merupakan tokoh terkenal di bidang fiqih.

Beliau menyelesaikan pelajaran hauzah di sana, kemudian pergi ke Najaf untuk melanjutkan pendidikannya dan mencapai derajat ijtihad di sana. Pada tahun 1954 beliau pergi ke Mashhad. Beliau menulis taqrir pelajaran fiqih dan ushul bahtsul Kharej yang diajarkan oleh Ayatullah Milani di aula Goharshad setelah sang guru selesai mengajar.

Ayatullah Alamolhoda meninggal pada tanggal 24 November.

Falsafi - Mirza Ali (1920-2006)

Ayatullah Haj Mirza Ali Agha Falsafi lahir di Tehran pada tahun 1920. Masa kecilnya dijalani di Tehran. Setelah belajar di Maktab Khaneh (sekolah tradisional dengan satu guru dan beberapa orang murid saja), sekitar usia sebelas tahun beliau mulai mempelajari ilmu-ilmu Islam. Pada tahun 1945 beliau telah menyelesaikan pelajaran hauzah di Tehran tepat pada usia 25 tahun. Kemudian pergi ke Najaf dan mengajar di madrasah Sayid Mohammad Kazem Yazdi sampai pada tahun 1961.

Pada tahun 1961 sejumlah orang-orang agamis mengirim surat kepada Ayatullah Hakim dan Khu’i agar meminta Ayatullah Falsafi kembali lagi ke negaranya. Sekitar tahun 1350 HS, Ayatullah Falsafi tinggal di Mashhad untuk sementara kemudian untuk selamanya atas permintaan Ayatullah Milani untuk mengajar di hauzah ilmiah Mashhad. Akhirnya pada sore hari tanggal 8 Muharram beliau harus opname di rumah sakit spesial Javadul Aimmah karena serangan jantung. Beberapa saat sebelum azan Zuhur tanggal 8 Februari 2006 beliau meninggal dunia, tepat pada hari syahadahnya Sayidina Abbas bin Ali, saudaranya Imam Husein as. setelah wafat, shalat mayat diimami oleh Ayatullah Vahed Khorasani di pelataran Azadi, kemudian dimakamkan di Haram Imam Ridha as di selasar Darussurur.

Madrasah

Madrasah Do Dar (Madrasah Dua Pintu; karena memiliki dua pintu untuk masuk). Madrasah “Yusef Khojeh” (Madrasah Do Dar / Sekolah Dua Pintu) merupakan contoh bangunan yang paling asli masa dinasti Timurid.

Kondisi

Dari sekian tempat dan bangunan bernilai, di sebelah barat daya Haram Imam Ridha as di depan Madrasah Parizad dan di bagian timur pelataran Jomhouri Islami ada sebuah madrasah bernama “Madrasah Do Dar atau Yusef Khajeh”. Sebelumnya, bangunan ini dari arah utara dibatasi oleh Karavan Saraye Wazir-e Nezam. Dari arah selatan dibatasi oleh Karavan Saraye Naseri. Dari arah barat dibatasi oleh tempat-tempat dan kios-kios sekitar Haram Imam Ridha as dan dari arah timur dibatasi oleh Pasar Zanjir.

Asal Usul Sejarah

Bangunan sejarah ini merupakan contoh bangunan terindah dan terasli masa Timurid. Gedung dibangun pada masa kekuasaan Mirza Shahrokh pada tahun 1439 oleh salah satu komandan militer bawahan Mirza Shahrokh bernama Amir Yusef Khajeh Bahador bergelar dengan Ghiyatsuddin. (Ia diangkat sebagai hakim Tous dan Mashhad oleh Shahrokh, namun pada tahun 1443 ia memberontak dan melarikan diri ke Kalat dan Gorgan. Sebagian penulis sejarah berkeyakinan bahwa madrasah Do Dar pada hakikatnya adalah tempat pemakanan keluarga Amir Syeikh Ali Bahador salah satu raja terkenal Timurid). Itulah mengapa pertama terkenal dengan sebutan madrasah “Yusef Khajeh” kemudian dengan berlalunya zaman, karena memiliki dua pintu masuk dari timur dan barat bangunan ini dikenal dengan madrasah Do Dar. Di buku Memari-ye Iran wa Touran tertulis:

Madrasah ini terletak di antara madrasah Balasar dan madrasah Parizad di dalam kawasan Haram Imam Ridha as. Untuk masuk ke dalam madrasah ini harus melalui sebuah pintu yang bagian atasnya dihiasi dengan keramik yang dibentuk dengan pecahan-pecahan keramik, tapi saat ini kondisinya sudah sangat jelek. Madrasah ini merupakan jenis madrasah yang memiliki empat beranda dan memiliki empat ruangan berkubah berupa sudut.

Madrasah ini dibangun dengan bentuk madrasah tempat ketenangan, supaya menjadi sebuah tempat bagi pembangunnya Amir Yusef Khajeh. Kuburan terletak di bawah kubah bagian selatan.

Ciri Khas Bangunan Gedung Kuno Madrasah

Madrasah ini seperti kebanyakan madrasah-madrasah zaman Timurid, merupakan bangunan yang jenisnya memiliki empat beranda dan merupakan contoh sempurna bangunan abad ke-9 Qamariah. Dari sisi hiasan, pemasangan keramik, kaligrafi dan lukisan benar-benar layak mendapat pujian.

Luas bangunan ini sekitar 500 meter persegi dan terdiri dari dua tingkat. Memiliki 32 ruangan dan keempat arah madrasah tertuju pada sebuah halaman yang berbentuk segi empat. Penulis Montakhab at-Tawarikh juga mengisyaratkan tentang sejarah pembangun madrasah dan terkait bagian arah barat laut madrasah menulis:

Kubah bagian barat madrasah boleh jadi kuburan Amir Sayidi yang merupakan salah satu raja besar dinasti Timurid. Dalam Matlae Shams disebutkan bahwa Amir Sayidi meninggal dunia di Shiraz pusat pemerintahannya pada tahun 1441. Jasadnya dibawa ke Khorasan dan dimakamkan di bawah kubah madrasah yang dibangunnya sendiri. Namun kecil kemungkinannya bila pembangun madrasah adalah Amir Sayidi. Karena selain namanya tidak ada pada Katibeh (batu tulis) yang ada di atas pintu madrasah, dalam kebanyakan buku-buku sejarah, madrasah ini disebut sebagai madrasah “Yusef Khajeh”, meskipun tidak jauh dari kemungkinan bahwa ketika madrasah ini dibangun, Amir Sayidi meminta agar disiapkan sebuah kuburan untuknya di madrasah ini. Oleh karena itulah sebagian penulis sejarah menyebut madrasah ini dengan madrasah Amiri Sayidi.

Pada kedua arah beranda masuk madrasah dari arah pasar Zanjir, ada beberapa kios di sana yang merupakan bagian dari rancangan dan peta utama gedung madrasah. Pemasukan madrasah didapatkan dari kios-kios ini.

Dalam buku “Memari-ye Teimouri Dar Iran wa Touran, terkait beranda-beranda dan kubah-kubah madrasah ini tertulis:

Beranda masuk berupa segi empat yang bagian atasnya berbentuk lengkungan kemudian menuju teras yang tidak begitu dalam menghadap ke halaman yang bentuknya segi empat. Di bagian sisi depan halaman ada teras panjang yang berakhir pada sebuah ruangan yang atasnya tidak begitu melengkung. Kubah bangunan bagian Selatan dan Barat sama bentuknya yakni kamar-kamar berbentuk segi empat dengan balkon yang agak sempit. Di atasnya ada jendela untuk memberikan penerangan yang bila dilihat dari luar adalah berupa sebuah jendela memberikan cahaya penerangan yang bila dilihat dari arah luar berbentuk silinder dan atasnya berupa kubah.

Di sudut bagian Timur ada sebuah kamar mirip segiempat ada di halaman namun memiliki balkon yang agak dalam di bagian Barat Daya yang mencakup sebuah mihrab. Kamar bagian Utara sudah tidak ada dan semuanya ditutupi oleh kubah-kubah pendek. Lengkungan dan teras-teras halaman semuanya berupa hiasan Hizarbaf, keramik dalam bentuk segitiga, segiempat dan persegi panjang, huruf kufi, dan kaligrafi sangat bagus.

Model hiasan kubah berupa lukisan matahari dengan lingkaran menyatu di bagian poros yang mencakup gambar empat sudut yang disusun berupa sinar matahari dan bercabang dari atas kubah. Lantai halaman dengan keramik saat ini kemungkinan terkait pada renovasi masa Safavi dan kemungkinan menjadi ganti hiasan yang mirip masa Timurid.

Renovasi

Dari teks prasasti di atas pintu madrasah terkesan bahwa bangunan direnovasi secara mendasar pada masa pemerintahan Shah Solaeman Safavi pada tahun 1667 atas perintah ibunya Shah Solaeman dan sepengetahuan Ali Khan salah satu raja dan pembesar masa itu. Di prasasti tersebut menyebutkan Mohammad Khan sebagai penulis kaligrafi dan Mohammad Fazel.

Dari tahun 1974 sampai 1984 dilakukan renovasi dan perbaikan di pelbagai bagian bangunan. Namun karena kerusakannya, bangunan ini direnovasi dan dibangun kembali pada tahun 1984 oleh lembaga warisan budaya dan Haram Suci Razavi.

Barang-barang wakaf

Dahulu, barang-barang wakaf hanya berupa dua kios yang berdekatan dengan madrasah. Karena renovasi dan perbaikan pada tahun 1975 semua kios dirobohkan. Oleh karena itu, madrasah Do Dar tidak memiliki barang wakaf. Jauh kemungkinannya bahwa pewakaf hanya mewakafkan dua kios saja, apalagi di sana ada kuburan dua orang raja terkenal zaman Timurid. Oleh karenanya ada kemungkinan memiliki barang-barang wakaf lainnya dan musnah karena berlalunya zaman. Berdasarkan laporan yang ada, penghasilan yang didapatkan dari barang-barang wakaf madrasah antara tahun 1966 sampai 1968 sekitar 60 ribu Riyal (Riyal; mata uang Iran) yang dipergunakan untuk biaya renovasi dan biaya darurat madrasah.

Tauliyat (Perwalian)

Karena tidak ada orang tertentu yang dipilih untuk menjaga dan merenovasi madrasah ini, pada tahun 1322 HS kantor perwakafan menyerahkannya kepada Ayatullah Haj Mirza Ahmad Khorasani sebagai penanggung jawabnya. (sejak tahun 1947, Haj Mirza Ahmad Kafai menyelenggarakan acara duka di hari-hari Muharram dan Shafar di madrasah ini). Oleh beliau, Hujjajul Islam Syeikh Syeikh Ali Mohammadnejat, Sayid Aboulghasem Mousavi dan Haj Aghaye Kahani masing-masing mengurusi urusan madrasah selama beberapa tahun. Pada tahun 1975, madrasah ini libur karena direnovasi dan diperbaiki sampai pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, dibangun kembali dengan menjaga pola dan rancangan kuno dan aktifitas pengajarannya dilanjutkan kembali di bawah pengawasan hauzah ilmiah Mashhad.

Program Pendidikan

Mengingat rekor lamanya pengajaran di madrasah bersejarah ini, para guru, ulama dan peneliti terkenal secara tak terhitung belajar dan mencapai derajat keilmuan di sana. Meskipun tidak ada informasi terkait mereka semua. Sebagaimana yang terlihat di prasasti bagian atas pintu madrasah, Syeikh Mohammad Fazel merupakan salah satu dari guru dan ulama madrasah itu. Beliau memiliki posisi dan derajat yang tinggi di madrasah itu. Demikian juga ulama dan faqih terkenal almarhum Ayatullah Agha Najafi Ghouchani di awal-awal berdirinya, beliau menuntut ilmu-ilmu Islam di madrasah ini pula. Almarhum Syeikh Alinejat, Sayid Aboulghasem Mousavi, Aghaye Kahani dan Hujjatul Islam Faker mengajar di madrasah ini.

Berdasarkan laporan yang ada, antara tahun 1968 sampai 1975 jumlah santri berubah-ubah antara 80 sampai 118 orang. Pasca renovasi madrasah pada tahun 1984 ada 50 orang santri yang belajar di madrasah ini. Namun pada tahun-tahun terakhir secara praktis madrasah ini tidak dipergunakan lagi karena keberadaannya di tengah-tengah gedung-gedung Haram Imam Ridha as dan dijaga sebagai kenangan warisan budaya dan arsitektur Islam.

Kondisi Bangunan Saat Ini

Beranda atau pintu masuk
Beranda masuk terletak di sebelah timur madrasah, dalamnya pasar Zanjir. Dari sisi hiasan seni dan arsitektur merupakan salah satu contoh seni arsitektur yang terindah di masa Timurid. Dua keping pintu kayu madrasah, Katibeh (prasasti) masa Timurid dan Safavi, Kashikari (hiasan keramik) dan Gajbori (stuko) yang megah telah memberikan penampakan yang khas pada madrasah ini.

Di bagian atas pintu madrasah, dipasang prasasti indah berkaitan dengan masa Temurid dengan skrip tsuluts pada keramik muarragh (yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik). Di sana ditulis tanggal dan nama pendirinya. Setelah berjalan beberapa ratus dari dibangunnya madrasah ini, di masa Safavi, madrasah ini direnovasi dan diperbaiki secara mendasar oleh ibunya Shah Solaeman. Oleh karena itu diletakkan sebuah prasasti lainnya di atas pintu tersebut. Zaman perbaikan dan orang-orang yang andil dalam hal ini disebutkan. Di kedua keping pintu ada empat gambar muarragh yang sangat berharga berupa kalimat pujian kepada Allah yang diukir dengan skrip tsuluts dengan warna kuning. Di sekeliling kedua prasasti ini diukir syair-syair yang sebagian darinya telah musnah. Di sekelilig kubah bagian dalam sampai ke bawah atap terlihat keramik muarragh yang diukir dengan kata-kata “الحکم لله” dan “الملک لله ” dengan jarak tertentu, setelah renovasi madrasah pada tahun 1984. Meskipun berusaha untuk menjaga penampilan kuno, namun dengan terpaksa banyak sekali bagian bangunan yang mengalami perubahan.

Beranda masuk berbentuk cekungan setinggi 130 sentimeter dari batu yang berwarna gelap. Sementara bagian depan dan tiang beranda bersama segitiga-segitiga yang ada tidak memiliki hiasan khusus, sekalipun sebelum direnovasi kemungkinan sudah dipasangi potongan-potongan keramik. Adapun bagian luar madrasah yang saat ini menjadi tempat masuk selasar Darul Wilayah memiliki tinggi 2 meter dari batu dan yang lainnya hanya dikapur.

Atap beranda ini berbentuk lonjong yang dihiasi dengan stuko. Ruang dalam madrasah ada memiliki empat beranda. Hiasan keramik dalam madrasah dan luas halaman terkesan luas saat dipandang. Halaman berbentuk persegi panjang dan ada kolam air di tengahnya.

Seni klasik masa Timurid hilang pasca renovasi bangunan, tapi saat rekonstruksi beranda dan kamar diupayakan untuk tetap mempertahankan disain lama. Penampakan beranda-beranda dibuat dari batu bata dan dihiasi dengan stuko indah. Sementara prasasti-prasasti yang dicetak di bagian samping dalam beranda-beranda berasal dari ayat-ayat al-Quran. Di bagian akhir dari dua beranda Barat dan Selatan juga dihiasi dengan stuko indah.

Bagian belakang beranda kecil terletak kamar-kamar lantai satu dan dua seperti bagian belakang keempat beranda madrasah dihiasi dengan kaligrafi pilihan dalam bentuk yang beragam. Atap beranda kecil kamar-kamar dibuat sederhana tanpa hiasan apapun, sekalipun sejumlah informasi menyebutkan jalur masuk kamar-kamar itu juga dihiasi dengan stuko indah, tapi sudah hilang ditelan masa. Bagian dalam sebagian kamar-kamar tersebut memiliki ruangan yang luas, sehingga kemungkinan digunakan untuk gudang atau dapur. Beranda-beranda ini di musim panas menjadi tempat yang cocok untuk mengajar, diskusi dan bahkan untuk menyelenggarakan pertemuan yang sifatnya umum. Dari kamar besar yang berada di atas lengkungan beranda masuk juga digunakan untuk pertemuan seperti ini. Namun perlu diketahui bahwa kamar-kamar ini memiliki tembok yang tebal, sehingga sekalipun di musim panas tetap memiliki udara yang segar. Tapi ruangan yang tertutup dan cahaya yang redup di dalam ruangan membuat kamar-kamar yang berada di atas beranda-beranda itu mendapat perhatian lebih dari para guru dan santri di sana.

Kuburan Madrasah

Salah satu ciri khas menarik madrasah-madrasah zaman Timurid, adanya kuburan di salah satu bagian dari bangunan mereka. Sebagaimana bisa disaksikan pada kebanyakan madrasah yang dibangun pada masa ini seperti madrasah Firouz Shah di Torbatejam, madrasah-madrasah Goharshad dan Soltan Husayn Bayqara di Harat. Pada dasarnya pada zaman itu ada keterkaitan kuat antara madrasah dan kuburan dan kuburan yang berdiri sendiri di zaman ini merupakan sebuah perkecualian.

Madrasah Do Dar juga tidak terlepas dari kaidah umum arsitektur zaman Timurid. Itulah mengapa madrasah ini memiliki dua kuburan di bagian Tenggara dan Barat Daya. Sehingga keberadaan kuburan ini mengganggu luasnya ruangan-ruangan dan bagian lain bangunan ini. Dan ini merupakan perkara biasa karena para arsitek terpaksa harus membangun rancangan gabungan antara madrasah dan kuburan di tempat yang terbatas karena banyak gedung-gedung yang sudah dibangun di sekitarnya. Sehingga keseimbangan antara bagian banguan harus dikorbankan demi kemaslahatan. Bila diperhatikan, tulisan yang ada di batu-batu yang ada di madrasah –syair-syair Persia yang terlihat di teras masuk yang menjelaskan tentang kondisi dunia dan pemikiran sia-sia tentang urusan materi- akan membuat perasaan setiap orang yang membacanya berpikir bahwa pendiri madrasah seperti ini berusaha membangun kuburannya di tempat yang pas supaya tidak musnah setelah lewat bertahun-tahun. Dan tentunya tempat yang paling pas adalah madrasah apalagi terletak di dekat Haram Imam Ridha as.

Di madrasah ini ada dua orang raja terkenal zaman Timurid yang disemayamkan; Amir Yusef Khajeh dan Amir Sayidi. Kuburan Amir Yusef Khajeh (pembangun madrasah) berada di Kubah bagian Tenggara madrasah dan batu kuburan berharga dengan ketinggian kira-kiran satu meter dan panjangnya dua meter berada di atas kuburan tersebut. Di sekeliling batu kuburan tertulis ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi Saw. Kedua kubah merupakan jenis kubah yang terdiri dari dua lapis yang dihiasi dengan keramik muarragh (yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik). Bagian badan kubah sebelah Tenggara terdiri dari 32 gambar indah yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik dan tulisan berupa syair-syair Persia dan Khath Tsuluts (skrip tsuluts) berwarna putih di atas keramik yang terdiri dari potongan-potongan kecil keramik memutari kubah. Di bagian badan kubah sebelah Barat Daya juga dipenuhi oleh dua gambar berharga yang dihiasi dengan potongan-potongan kecil keramik dan di sekeliling badan kubah tertulis syair-syair Persia yang sudah musnah dengan berlalunya zaman. Di bagian dasar kubah ada beberapa jendela yang menjadi jalan keluar masuknya udara, menerangi dalamnya kuburan. Ruangan bawah kubah dihiasi dengan Gajbori (stuko) dan lukisan tradisional disertai dengan asma Allah dan nama Nabi Muhammad Saw. Ruangan di bawah kubah sebelah Barat adalah madrasah sederhana dan tanpa hiasan apapun.

(News-Aqr/STI)

Riwayat Hidup Siti Fatimah Masumah as (Saudara Perempuan Imam Kedelapan Syiah, Imam Ali bin Musa ar-Ridho as)


Dia adalah wanita mulia dari keturunan Siti Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad Saw, wanita yang sabar laksana Siti Zainab as saudara perempuan Imam Husain bin Ali as penghulu para syuhada. Beliau bernama Fatimah dan berjulukan Ma'sumah (Suci), Karimatu Ahlil Bait (Wanita Keramat dari keluarga suci Nabi Saw, Ahlul Bait as), Siti, dan Fatimah Kubra. Ayah beliau Imam Musa Kadzim as, dan sebagaimana tertera di dalam berbagai riwayat ibu beliau adalah ibu Imam Ali Ridho as.

Para sejarawan mencatat beliau lahir pada tanggal 03 Maret 789 M. di kota Madinah. Wanita mulia ini tumbuh di lingkungan yang penuh dengan keutamaan akhlak. Kesucian, ilmu, dan hikmah adalah sebagian dari sifat yang menonjol dari keluarga suci ini.

Ciri khas akhlak dan keilmuan beliau telah meyakinkan para ulama bahwa di antara sekian banyak putra-putri Imam Musa Kadzim as, tidak ada satu pun dari mereka setelah Imam Ali Ridho as yang menandingi beliau.

Mengenai kedudukan ilmu wanita mulia dari kalangan Syiah ini, diriwayatkan dalam literatur Islam bahwa suatu hari ada sekelompok orang Syiah datang ke kota Madinah hendak menemui Imam Musa bin Ja'far al-Kadzim as dan menanyakan sejumlah persoalan kepada beliau, namun bertepatan saat itu beliau dalam bepergian. Maka Siti Fatimah Ma'sumah as menulis jawaban atas semua pertanyaan itu dan menyerahkannya kepada mereka. Ketika pulang dari Madinah, di luar kota mereka bertemu dengan Imam Musa Kadzim as. Lalu, begitu membaca pertanyaan-pertanyaan mereka berikut jawaban-jawaban dari Siti Fatimah Ma'sumah as maka beliau tiga kali bersabda, "Ayahnya jadi tebusan untuk dia."

Begitu mulia dan bertakwanya wanita muda ini sampai-sampai di dalam doa ziarah kepada beliau disebutkan:

السلام علیک أیتها الطاهرة الحمیدة الکبرة الرشیدة التقیة النقیة المرضیة

Artinya, "Salam padamu duhai wanita suci yang terpuji, baik, bijaksana, bertakwa, murni dan diridhai."

Siti Fatimah Ma'sumah juga dijuluki dengan Muhadditsah. Ilmu dan penguasaan beliau terhadap ajaran utama Islam dan aliran lurus Syiah membuat beliau dikenal sebagai periwayat hadis. Keutamaan beliau yang berikutnya adalah kedudukan sebagai pemberi syafaat. Di dalam berbagai riwayat dan literatur keagamaan, beliau disebut dengan julukan Syafîʻah yang artinya "pemberi syafaat".

Imam Ja'far Shodiq as bersabda:

تدخل بشفاعتها شیعتی الجنة بأجمعهم

Artinya, "Seluruh syiahku masuk surga dengan syafaatnya (Siti Fatimah Ma'sumah)."

Pada mulanya, Siti Fatimah Ma'sumah as hidup di bawah naungan saudaranya, Imam Ali Ridho as. Tapi kemudian Imam as harus tinggal di Khurasan. Karena itu, suatu saat Siti Fatimah Ma'sumah as bergerak keluar meninggalkan kota Madinah menuju Marw dengan maksud menemui saudara tercintanya. Namun, di tengah perjalanan dan setelah memasuki kota Qom pada tahun 817 M, beliau meninggal dunia. Orang-orang Syiah mengantar jenasah beliau dengan penghormatan yang luar biasa dan memakamkannya di daerah yang bernama Babulan. Tempat haram beliau sekarang.

(News-Aqr/STI)

Menelisik Fungsi Hidayah Imam Hasan Askari as


Tanggal 8 Rabiul Awal tahun 260 Hijriah, Imam Hasan Askari as, cucu Raulullah Saw generasi ke-9, gugur syahid di kota Samara, Irak. Imam Hasan Askari lahir di Madinah pada tahun 232 Hijriah. Ayah beliau adalah Imam Hadi, imam ke-9 kaum muslimin. Setelah Imam Hadi gugur syahid, Hasan Askari as mengemban tugas untuk melanjutkan tampuk keimamahan kaum muslimin.

Kehidupan dan metode perjuangan setiap dari Ahlul Bait Rasulullah Saw merupakan satu bagian dari puzzel yang saling melengkapi yang terejawantahkan dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi yang ada. Imam Hasan Askari as lahir di kota Madinah, tapi peristiwa yang terjadi memaksa beliau mengikuti ayahnya Imam Hadi as yang diperintahkan penguasa Dinasti Abbasiah untuk meninggalkan kota Madinah.
Imam Hasan Askari as terpaksa tinggal di kota Samara, yang waktu itu menjadi ibukota kekuatan Dinasti Abbasiah.

Para penguasa Bani Abbasiah di masa itu begitu menekan Imam Hadi as dan anaknya Imam Hasan Askari as. Tujuan asli tekanan yang dilakukan itu dimaksudkan agar masyarakat menjauhi Imam.

Oleh karena itu, pasca Imam Shadiq as, seluruh Imam hidup dalam pengasingan dan menemui syahadah jauh dari kota Madinah. Bahkan boleh dikata, di antara para Imam yang hidup di masa kekuasaan Bani Abbasiah, tiga Imam; Imam Muhammad at-Taqi, Imam Ali an-Naqi dan Imam Hasan Askari as harus melewati kehidupan mereka dalam kondisi yang paling sulit.

Pemerintah Abbasiah punya dua alasan penting untuk membatasi ruang gerak Imam Hasan Askari as.

Pertama, posisi khusus Ahlul Bait di tengah masyarakat Islam, khususnya di tengah-tengah warga Irak. Posisi ini membuat khawatir pemerintah.

Oleh karenanya, para khalifah Bani Abbasiah berusaha memenjarakan para Imam dan menerapkan kontrol secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi guna mencegah kebangkitan pengikut Imam Ali as lewat kepemimpinan mereka.

Kedua, banyak hadis mutawatir yang menjelaskan tentang Imam Zaman dan Penyelamat Manusia.
Riwayat-riwayat ini menyebutkan Sang Mujaddid dan Penyelamat ini merupakan anak Imam Hasan Askari as. Sang Penyelamat inilah yang akan mencabut akar kezaliman dan penindasan serta melengserkan para penguasa lalim. Dari sini, penguasa Abbasiah dengan segala cara berusaha mengontrol Imam Hasan Askari dan keluarganya guna mencegah lahirnya Sang Penyelamat. Imam Hasan Askari as terpaksa memilih tinggal di kawasan militer di kota Samara.

Kondisi kawasan ini dibuat sedemikian rupa sehingga Imam tidak dapat dengan mudah melakukan hubungan dengan sahabat dan pengikutnya. Selama 6 tahun menjabat sebagai Imam, sekalipun tekanan yang diterapkan pemerintah Bani Abbasiah begitu keras, tapi Imam Hasan Askari tetap dapat menjelaskan ajaran Islam. Tidak hanya itu, Imam juga melindungi agama dari bidaah dan penyimpangan yang terjadi dalam masyarakat Islam. Metode yang dilakukan Imam dalam kondisi yang sulit ini menunjukkan tidak ada seorangpun yang dapat menghalangi beliau menjalankan tugasnya sebagai pemimpin spiritual yang menuntun manusia.

Kontrol yang begitu ketat dari penguasa Bani Abbasiah tidak mampu mencegah beliau mengajarkan agama. Beliau bahkan mampu mendidik murid-murid hebat di pelbagai bidang keagamaan. Syeikh Thusi mencatat ada lebih dari 100 murid yang berhasil dididik beliau dalam kondisi yang sulit. Imam Hasan Askari dalam kontrol ketat penguasa Bani Abbasiah mampu menciptakan jaringan penghubung dengan para pengikut Ahlul Bait.

Beliau memilih wakil-wakil khusus dan berhubungan dengan mereka dan masyarakat Islam lewat surat-menyurat. Jaringan penghubung ini sangat tertutup dan hanya para pengikut setia Imam yang mengetahui adanya jaringan ini. Sebagai contoh, Utsman bin Said, seorang sahabat penting Imam selalu mendatangi beliau dengan menyamar sebagai penjual minyak.

Imam Hasan Askari as menyimpan sebagian surat yang ditujukan kepada wakil-wakilnya di tempat minyak milik Utsman bin Said. Dalam kondisi ditekan sedemikian rupa oleh penguasa Bani Abbasiah, Imam Hasan Askari as tetap mendorong para pengikutnya dan memperkuat semangat mereka, terutama para sahabat dekat dan orang-orang penting. Dalam suratnya yang ditujukan kepada Ali bin Husein bin Babawaih al-Qummi, Imam Hasan Askari as menggunakan ungkapan sebagai berikut, "Wahai pribadi besar dan faqih kepercayaanku! Bersabarlah!
Ajaklah para pengikutku untuk juga berlaku sabar!
Bumi adalah milik Allah. Setiap orang yang dikehendaki Allah bakal dijadikan pewaris bumi. Akhir yang baik hanya menjadi milik orang-orang yang bertakwa. Salamku dan rahmat serta berkah Allah kepadamu dan para Syiahku. (Manaqib jilid 4, halaman 425).

Satu langkah cerdas Imam Hasan Askari as di masa sulit dan tekanan Bani Abbasiah adalah mempersiapkan para pecinta Ahlul Bait memasuki periode kegaiban.

Pada hakikat, jaringan perwakilan yang dibentuk oleh Imam dengan sendirinya mengurangi intensitas masyarakat bertemu dengan beliau. Sudah terbiasa tidak melihat Imam mereka, membuat masyarakat secara perlahan-lahan siap memasuki periode kegaiban Imam Mahdi af. Hari syahadah Imam Hasan Askari yang kita peringati saat ini berdekatan dengan tahun kedatangan Imam Khomeini ra ke Iran setelah menjalani pengasingan selama 15 tahun di luar negeri. Tak syak, satu dari sikap penting Imam Khomeini ra yang berpengaruh besar bagi kemenangan Revolusi Islam di Iran adalah mengikuti sejarah dan perilaku Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait as dalam memerangi kezaliman. Tegar menghadapi orang-orang zalim dan tidak menyerah menghadapi mereka merupakan satu hakikat dalam sejarah perjuangan Ahlul Bait.

Bila Imam Hasan Askari as tegar menghadapi meluasnya kefasadan dan bangkit berjuang melawan kemiskinan dan ketidakadilan, maka itu berarti memuat sebuah pesan penting kepada seluruh pencari keadilan di seluruh dunia untuk bangkit melawan setiap kezaliman di muka bumi.

Penyebaran konsep Tawalli dan Tabarri yang berarti mencintai dan membenci karena Allah merupakan konsep yang diterapkan oleh Imam Hasan Askari as. Tawalli artinya bersikap lembut dan menyayangi orang yang mencintai Allah dan tersiksa melihat musuh-musuh Allah. Tawalli bak sebuah kekuatan yang menahan orang mukmin dalam lingkaran kebenaran. Sementara Tabarri berarti memusuhi para musuh Allah. Konsep ini menjauhkan manusia dari keburukan dan jalan kebatilan. Sekaitan dengan sikap umat Islam yang menerima asumsi ini, Imam Hasan Askari as berkata, "Rasa bersahabat dan cinta seorang muslim kepada orang-orang baik bakal mendatangkan pahala untuknya.

Sementara kemarahan dan kebenciannya terhadap orang yang berperilaku buruk menyebabkan orang-orang buruk menjadi terhina." Imam Hasan Askari as dengan daya tarik dan daya tolaknya yang kuat mampu membuat orang-orang yang memiliki fitrah yang suci semakin tertarik dengannya dan pada saat yang sama menjauhkan orang munafik dan kafir darinya. Sekaitan dengan daya tarik beliau, seorang sahabat dekat Imam Hasan Askari as berkata, "Aku belum pernah melihat seorang yang punya pengaruh luar biasa seperti Imam Hasan Askari as. Setiap kali beliau ingin melewati sebuah tempat, maka di situ sudah banyak orang berkumpul. Tempat yang yang akan dilewati beliau menjadi ramai.

Ketika beliau muncul di sana, semua tiba-tiba tanpa dikomando langsung terdiam dan tanpa sadar memberi jalan beliau lewat." Imam Hasan Askari as selama 6 tahun menjadi imam, beliau mengalami tiga penguasa zalim Bani Abbasiah; Mu'taz, Muhtadi dan Mu'tamid. Menghadapi kezaliman mereka, Imam tidak pernah diam. Itulah mengapa beliau berkali-kali dijebloskan ke dalam penjara dan akhirnya akibat ketegaran beliau dan sikapnya yang tidak pernah menyerah menghadapi para penguasa zalim, Imam Hasan Askari as akhirnya mereguk cawan syahadah di usia 28 tahun.

Kini kita simak bersama ucapan penuh hikmah Imam Hasan Askari as di hari syahadahnya: "Saya berwasiat kepada kalian untuk bertakwa dalam agama, berusaha demi Allah semata, jujur, bersikap amanat dan berbuat baik dengan tetangga. Bertakwalah kepada Allah dan jadilah hiasan kami. Perbanyaklah zikir kepada Allah, mengingat mati, membaca al-Quran dan salawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Karena bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw memiliki sepuluh kebaikan. Bila ada di antara kalian yang bertakwa dalam agamanya, jujur dalam ucapannya, amanat dan berakhlak mulia terhadap masyarakat, maka orang yang seperti ini dapat dikatakan sebagai pengikut kami.

Perbuatan seperti ini yang membuatku gembira dan membuatku meminta kalian mempertahankannya. Aku menyerahkan kalian kepada Allah dan salam buat kalian." (Tuhaf al-‘Uqul halam 748 dan 884)

(IRIB-Indonesia/New-Aqr/ABNS)

Perempuan Kanada Memeluk Islam di Haram Suci Razavi


Seorang perempuan asal Kanada memutuskan untuk memeluk Islam di Haram Suci Imam Ridha as dan memilih Syiah sebagai mazhabnya.

Pusat Informasi Haram Suci Razavi melaporkan, setelah mengenal prinsip dan landasan keyakinan Islam, seorang perempuan Kanada membacakan ikrar keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad Saw, dan memeluk agama Islam serta memilih Syiah sebagai mazhabnya di kantor Divisi urusan Peziarah Non-Iran, Haram Suci Razavi. Melissa Neding mengaku gembira yang apa yang sudah ia lakukan dan menuturkan, “Saya bersyukur kepada Tuhan karena di fase kehidupan saya ini, Dia memberi kesempatan kepada saya untuk mengenal Islam hakiki dan menjadi bagian dari para pengikut Wilayah dan Imamah.” Ia menjelaskan, “Saya merasa bahagia bisa dilahirkan kembali dalam suasana spiritual ini.

Sepanjang kehidupan saya, saya banyak melakukan penelaahan dan penelitian untuk mendapatkan pemahanan lebih besar. Saya memilih Islam dengan kesadaran dan pengenalan penuh. Rencana saya adalah mengenalkan agama ini kepada keluarga saya.” Melissa menambahkan, “Hijab perempuan Muslim selain menjaganya dari kerusakan sosial, juga menjaga esensi keberadaannya.”

Di akhir acara, Melissa mendapat hadiah satu jilid Al Quran berbahasa Inggris, beberapa buku dan paket budaya dari Divisi urusan Peziarah Non-Iran, Haram Suci Razavi. Kepala Divisi urusan Peziarah Non-Iran dalam acara itu menyoroti posisi maknawi Makam Suci Imam Ridha as dan menerangkan, “Di tempat ini, para malaikat melebarkan sayapnya sebagai tanda penghormatan kepada para peziarah yang menziarahi Haram Suci Imam Ridha as.”

Sayid Mohammad Javad Hasheminejad melanjutkan, “Masing-masing Imam Maksum as terkenal dengan salah satu sifat Allah Swt, dan Imam Ridha as adalah manifestasi sifat kasih sayang dan kemurahan Tuhan. Semua Imam adalah manifestasi sifat ini, namun dalam diri Imam Ridha as, sifat ini tampak lebih kentara.” Ia menambahkan, “Setiap tahun jutaan peziarah dari seluruh penjuru dunia berziarah ke Makam Suci Imam Ridha as dan Divisi urusan Peziarah Non-Iran selalu memberikan beragam pelayanan kepada para peziarah sesuai dengan asal negara mereka.”

Hasheminejad menegaskan, setelah bertahun-tahun melayani para peziarah di Haram Suci Razavi, tempat ini selalu menjadi salah satu pusat budaya Dunia Islam. “Para pelayan Haram Suci Razavi dalam memberikan pelayanannya kepada para peziarah memiliki dua metode, metode langsung dan tidak langsung. Pelayanan juga dapat diberikan lewat dunia maya dalam berbagai bahasa berbeda seperti Arab, Urdu, Turki, Rusia, Jerman, Inggris dan Perancis,” pungkasnya.

(News-Aqr/STI)

Ziarah Imam Ridha as, Nikmat Terbaik yang Diberikan Tuhan Padaku


Peziarah Haram Suci Imam Ridha as asal Selandia Baru mengatakan, menziarahi Makam Suci Imam Ridha as adalah nikmat terbaik yang dianugerahkan Allah Swt kepada saya.

Pusat Informasi Haram Suci Razavi melaporkan, rombongan yang terdiri dari 40 Muslimin asal Australia dan Selandia Baru yang berziarah ke Makam Suci Imam Ridha as hadir di Serambi Ghadir dan mengikuti program acara yang disiapkan oleh Divisi urusan Peziarah Non-Iran, Haram Suci Razavi.

Di antara program acara tersebut adalah ceramah agama, penayangan film pengenalan Haram Suci Razavi, kunjungan ke museum Al Quran, museum pusat dan museum karpet, juga pembagian hadiah berupa paket budaya.

Soheila Asghari, salah satu peziarah asal Selandia Baru menuturkan,
“Hadir di Makam Suci Imam Ridha as memberi kesempatan kepada kita untuk menyendiri, diam dan tenang.”
Ia mengaku selalu berhutang dan malu atas kemurahan serta kasih sayang Imam Ridha as.

“Haram Suci Imam Ali bin Musa Al Ridha as adalah tempat bagi orang-orang yang hancur hatinya dan tidak punya perlindungan, untuk mendapat perlindungan. Ketika seseorang mendatangi Haram Suci Razavi, peziarah atau bukan tidak ada bedanya, yang terpenting adalah harapan tumbuh di dalam hati dan lubuk hatinya terbuka ke langit,” ujarnya.

Asghari juga menyinggung tentang museum-museum yang ada di Haram Suci Razavi dan menuturkan, “Museum-museum di Haram Suci Razavi sangat indah dan menarik hati, benda-benda yang ada di dalamnya tidak dapat ditemukan di tempat lain di dunia ini.”

Menurut Ashgari, museum karpet adalah yang terindah dan terpenting yang ada di Haram Suci Razavi ini. “Museum ini menyimpan karya-karya seni dan Islami paling langka serta kuno. Beberapa karpet usianya sangat tua, bahkan sama dengan usia kemerdekaan Selandia Baru,” tambahnya.

Peziarah asal Selandia Baru itu melanjutkan, “Desain, warna, cahaya dan suasana maknawi yang tampak dalam arsitektur dan ukiran kaca Haram Suci Razavi sangat menarik dan memiliki keterkaitan dengan fitrah manusia.

Oleh karena itu, setiap orang yang melihatnya, bahkan jika bukan Muslim sekalipun, ketika memasuki Haram Suci Imam Ridha as, akan sangat terkesan.” Asghari menilai kelas-kelas dan tur keliling Haram Suci Razavi khusus peziarah non-Iran, merupakan salah satu acara paling menarik. “Dibukanya kelas-kelas semacam ini menyebabkan para peziarah yang datang dari berbagai negara dunia, lebih mengenal budaya, arsitektur dan seni Haram Suci Razavi,” pungkasnya.

(News-Aqr/STI)

Imam Kedelapan Syiah Ali bin Musa Ar-Ridho as


Ilmu dan Pengetahuan Imam Ridho as Dalam sejarah Islam, semangat menuntut ilmu dan mental rasional sejak awal telah ditanamkan. Rasulullah Saw berikut para imam suci as senantiasa mengingatkan tentang nilai ilmu dan orang alim. Menurut keterangan Imam Kedelapan Syiah Imam Ali bin Musa ar-Ridho as, ilmu dan bantuan untuk hidup makmur lebih bernilai daripada harta kekayaan.

Beliau bersabda:

العلم أجمع لأهله من الآباء 

Artinya, "Ilmu lebih lengkap bagi ahlinya daripada ayah bagi anaknya."

Beliau menjelaskan cara menuntut ilmu terletak pada pertanyaan dan penelitian.

Beliau bersabda:

العِلمُ خَزائنُ و مَفاتِیحُهُ السُّؤالُ، فَاسألُوا یرَحِمَکُمُ اللّه ُ فإنّهُ یُؤجَرُ أربَعةٌ: السائلُ، و المُتَکلِّمُ، و المُستَمِعُ، و المُحِبُّ لَهُم

Artinya, "Ilmu adalah khazanah-khazanah yang kuncinya adalah pertanyaan. Maka bertanyalah, semoga Allah merahmati kalian! Sesungguhnya ada empat orang yang mendapatkan pahala dalam tanya-jawab: penanya, pengajar, pendengar, dan penggemar mereka."

Mengenai peran seorang ulama dan ahli agama (fakih), Imam Ali Ridho as bersabda:

یُقالُ لِلعابِدِ یَومَ القِیامَةِ : نِعمَ الرَّجُلُ کُنتَ، هَمَّتکَ ذاتُ نَفسِکَ و کَفَیتَ النّاسَ مَؤونَتَکَ فَادخُلِ الجَنَّةَ . ألا إنّ الفَقیهَ مَن أفاضَ عَلَی النّاسِ خَیرَهُ ، و أنقَذَهُم مِن أعدائهِم ... و یُقالُ لِلفَقیهِ : یا أیُّها الکافِلُ لأِیتامِ آلِ مُحَمَّدٍ ، الهادی لِضُعَفاءِ مُحِبّیهِم و مَوالیهِم ، قِفْ حَتّی تَشفَعَ لِکُلِّ مَن أخَذَ عَنکَ أو تَعَلَّمَ مِنکَ. 

Artinya, "Di Hari Kiamat, kepada orang ahli ibadah akan dikatakan, "Kau dulu orang yang baik, kau perhatikan dirimu sendiri dan kau lepas tangan dari tanggungan orang lain, masuklah surga. Sementara itu, ketahuilah seorang fakih adalah orang yang mencurahkan kebaikannya kepada orang lain, menyelamatkan mereka dari musuh-musuh, dan ... . Kepada seorang fakih akan dikatakan, "Wahai pengasuh anak-anak yatim keluarga Nabi Muhammad, penuntun orang-orang yang lemah dari kalangan pecinta dan pengikut mereka, berhentilah guna memberi syafaat kepada setiap orang yang mengambil kebaikan atau menimba ilmu darimu."

Beliau juga menyebutkan ilmu sebagai salah satu kriteria seorang fakih. Beliau bersabda:

من علامات الفقیه: الحلم و العلم و الصمت. 

Artinya, "Tanda-tanda seorang fakih antara lain santun, berilmu, dan bungkam."

Menarik sekali bahwa selama dipaksa menjadi anak mahkota dan berusaha dijegal dalam perdebatan-perdepatan yang digelar oleh Ma'mun Abbasi, Imam Ali Ridho as mengubah ancaman itu menjadi peluang yang sangat berharga untuk mencerahkan opini publik dan menyebarkan ilmu, sehingga beliau secara khusus mendapat julukan Alim Ali Muhammad (Orang Pintar Keluarga Nabi Muhammad).[]

(News-Aqr/STI)