Minggu, 03 Januari 2016

Dari Muhammad bin Abdul Wahab Hingga Kerajaan Saudi


Pada tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai. Dan keamiran pun berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia. Untuk kesekian kalinya kita dibuat kagum sekaligus benci. Dua sikap psikologis itu beradu. Kita kagum karena lagi-lagi mayoritas muslim dapat menjaga persatuan dalam menghadapi imperialis Inggris yang berusaha menguasai berbagai wilayah-wilayah Arab. Kita juga benci karena lagi-lagi Salafisme (Wahabisme edisi hard cover) memperagakan ‘teologi horor’ dengan mengusung jargon jihad, membajak kata ‘Ahlussunnah wal Jamaah’. Mazhab ‘kaca mata kuda’ –karena tidak melihat dan menganggap kelompok lain- ini didirikan Muhammad bin Abdul Wahab dari keluarga klan Tamim yang menganut mazhab Hanbali. Ia lahir di desa Huraimilah, Najd, yang kini bagian dari Saudi Arabia, tahun 1111 H [1700 M] masehi, dan meninggal di Dar’iyyah pada tahun 1206 H [1792 M.]. Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke 4 M.. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashrah [Irak], Damaskus {Syria], Iran, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia mengawini seorang wanita kaya. Ia mengajar di Bashrah selama 4 tahun. Ketika pulang ke kampung halamannya ia menulis buku yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya, “Kitabut’Tauhid“. Para pengikutnya menamakan diri mereka dengan sebutan kaum Al-Muwahhidun (para pengesa Tuhan). Seakan hanya kelompok itulah yang pengesa Allah secara murni tanpa terpolusi dengan kesyirikan. Sedang kelompok-kelompok lain yang tak sepaham mereka anggap sebagai kelompok pelaku syirik, bid’ah dan khurafat yang sesat.

Kemudian Muhammad bin Abdul Wahab pindah ke Uyaynah. Dalam khotbah-khotbah Jumat di Uyaynah, ia terang-terangan mengkafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi. Di kota itu ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi. Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah (di luar Ahlusunah), lalu kaum Sufi, kemudian ia mulai melanjutkan penyerangan terhadap kaum Ahlusunah secara keseluruhan dengan cara yang brutal. Dengan mengecap mereka dengan berbagai julukan buruk seperti Quburiyuun (pemuja kubur) dikarenakan mereka semua sepakat bahwa kuburan para nabi, rasul dan para kekasih Ilahi (Waliyullah) harus dihormati sesuai ajaran pendahulu (Salaf) yang sesuai dengan ajaran Rasul, para Sahabat setia beliau, juga para Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in.

Tatkala masyarakat mulai merasa seperti duduk di atas bara, Muhammad bin Abdul Wahab diusir oleh penguasa [amir] setempat pada tahun 1774. Ia lalu pindah ke Al-Dar’iyyah, sebuah oase ibu kota keamiran Muhammad bin Sa’ud, masih di Najd Tahun 1744. Di situlah Muhammad bin Abdul Wahab mendapat angin segar dalam menyebarkan ajaran sesatnya. Ia dihidupi, diayomi dan dilindungi langsung oleh sang Amir Dar’iyah, Muhammad bin Saud. Akhirnya Amir Muhammad bin Saud dan Muhammad bin ‘Abdul Wahab saling membaiat dan saling memberi dukungan untuk mendirikan negara teokratik dan mazhab Muhammad bin Abdul Wahab pun dinyatakan sebagai mazhab resmi wilayah kekuasaan Ibnu Saud. Dan Muhammad bin ‘Abdul Wahab akhirnya diangkat menjadi qadhi (hakim agama) wilayah kekuasaan Ibnu Saud. Hubungan keduanya semakin dekat setelah Ibnu Saud berhasil mengawini salah seorang putri Muhammad bin ‘Abdul Wahab.

Penaklukan dan pembantaian pun dilakukan, terutama terhadap kabilah-kabilah dan kelompok Ahlusunah yang menolak mazhab mereka (Wahaby), hingga terbentuklah sebuah emirat lalu diubah menjadi monarki dengan nama keluarga, Saudi Arabia, sejak tahun 1932 hingga kini.

Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syi’ah di kota Karbala’ (salah satu kota suci kaum Syiah di Irak). Seorang penulis Wahabi menuliskan: “Pengikut Ibnu Saud mengepung dan kemudian menyerbu kota itu. Mereka membunuh hampir semua orang yang ada di pasar dan di rumah-rumah. Harta rampasan [ghanimah] tak terhitung Mereka hanya datang pagi dan pergi tengah hari, mengambil semua milik mereka. Hampir dua ribu orang dibunuh di kota Karbala”.

Muhammad Finati, seorang muallaf Italia yang ikut dalam pasukan Khalifah daulah Usmaniyyah yang mengalahkan kaum Wahabi menulis : “Sebagian dari kami yang jatuh hidup-hidup ke tangan musuh yang kejam dan fanatik itu, dipotong-potong kaki dan tangan mereka secara semena-mena dan dibiarkan dalam keadaan demikian. Sebagian dari mereka, aku saksikan sendiri dengan mata kepala tatkala kami sedang mundur. Mereka yang teraniaya ini hanya memohon agar kami berbelas kasih untuk segera mengakhiri hidup mereka”.

Kabilah-kabilah yang tidak mau mengikuti mazhab mereka dianggap kafir, ‘yang halal darahnya’. Dengan demikian mereka (Wahaby) tidak dinamakan perampok dan kriminal lagi, tapi kaum ‘mujahid’ yang secara teologis dibenarkan membunuh kaum ‘kafir’ termasuk wanita dan anak-anak, merampok harta dan memperkosa istri dan putri-putri mereka yang dianggap sah sebagai ghanimah (rampasan perang). Hanya sedikit yang dapat melarikan diri.

Setelah lebih dari 100 tahun kemudian, kekejaman itu masih juga dilakukan. Tatkala memasuki kota Tha’if tahun 1924, mereka menjarahnya selama tiga hari. Para qadhi dan ulama diseret dari rumah-rumah mereka, kemudian dibantai dan ratusan yang lain dibunuh.

Kerajaan Inggris membantu Wahabisme dengan uang, senjata dan keterampilan, sehingga kekuasaan Ibnu Saud menyebar ke seluruh jazirah Arab yang pada masa itu berada dalam kekhalifahan Usmaniyah dengan tujuan melemahkan khilafah itu. Jadi yang menggembosi kekuasaan daulah dan kekhalifahan Usmani adalah kelompok yang terkenal dengan sebutan Wahaby yang sekarang ini mengaku sebagai kelompok Salafy. Orang bisa membacanya dalam buku Hempher, ‘Confession of a British Spy’. Hampher seorang orientalis yang menjalin persahabatan dengan Ibnu Abdul Wahab. Tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai dan keamiran berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia.

Umumnya kaum intelektual dan ulama Ahlusunah – penganut 4 mazhab ‘resmi’ Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali– menganggap kaum Wahhabi, termasuk pendirinya, sebagai orang-orang yang berpikir sangat linier, literer sambil menolak metafoar [Majaz], sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadis. Mereka menganggap mazhab selainnya (Wahaby) sebagai sesat dan menyesatkan dengan berpatokan pada hadis: “Kullu bid’ah dhalaalah wa kullu dhalaalah fî n-naar”. (semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka). Kata “bid’ah” yang mereka tuduhkan hanyalah kata pelembut, untuk ‘kafir’, dan menganggap berziarah ke kubur termasuk kubur Nabi, tawassul, baca qunut, talqin, tahlil, istighatsah, berzikir berjamaah, membaca maulid diba’ ataupun burdah yang berupa puji-pujian pada Nabi yang biasa dilakukan kaum Muslimin adalah sebagai bid’ah, dan pelakunya akan masuk neraka, alias kafir. Dari sinilah akhirnya kaum Wahaby yang mengaku sebagai pengikut Salafy ini layak diberi gelar “Kelompok Takfir” (jama’ah takfiriyah), kelompok yang suka mengkafirkan golongan lain yang tidak sepakat dengan ajarannya.

Oleh karena itu, tempat-tempat bersejarah Islam seperti rumah tempat lahir Nabi, rumah Ummul Mu’minin Khadijah tempat tinggal Nabi dan banyak tempat-tempat bersejarah lain yang masuk wilayah kerajaan Arab Saudi kini telah dihancurkan. Kalau tidak mendapat protes dari segenap kaum Muslimin sedunia niscaya kuburan Nabi pun sudah diratakan dengan tanah, sebagaimana yang terjadi di makam para sahabat dan syuhada’ Uhud di Baqi’ (Madinah) dan para keluarga Rasul di Ma’la (Makkah).

Di Indonesia, misalnya, kaum Nahdhiyyin (NU) ‘kebingungan’, karena kaum Wahabi ‘membajak’ atribut Ahlussunnah Wal Jamaah, padahal istilah ini yang biasa dipakai oleh penganut keempat mazhab Sunnah; mazhab Syafi’i, Hanbali, Hanafi dan Maliki. Akhir-akhir ini mereka ikut-ikutan memakai jubah dan serban seperti yang dikenakan kaum Nahdhiyin. Walau demikian, sangat mudah untuk melihat tanda-tanda zahir dari kelompok tersebut. Mereka suka mesyirikkan dan membid’ahkan kelompok muslim lainnya. Dari sisi penampilan pun mereka mempunyai ciri khas sendiri. Selain suka mencukur rambut kepala, mereka juga berlomba dalam masalah panjang-panjangan jenggot dan tinggi-tinggian celana bahkan bisa sampai ke pertengahan betis.

Belakangan ini kita sering mendengar berita tentang eskalasi kekerasan di Saudi Arabia, termasuk penghancuran pipa minyak yang dilakukan oleh kaum fundamentalis Wahhabi, yang disebut-sebut sebagai tempat kelahiran Al-Qaeda. Bin Laden sang ketua al-Qaedah adalah seorang Wahabi tulen kelahiran Arab Saudi. Ia dibesarkan dan dijadikan anak angkat oleh CIA - USA. Konon anak angkat itu kini telah menjadi anak durhaka terhadap ibu angkatnya, USA. Bidan yang melahirkan wahabisme adalah kekuatan Imperialis Inggris, dan kini menjadi ‘kartu as’ pemerintahan biadab USA untuk menciptakan perpecahan dalam tubuh umat Islam. Nampaknya, skenario keji ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirkan bagi USA dan kekuatan anti Islam lainnya ketika isu-isu tentang ancaman perang saudara di Irak menjadi headline seluruh media Barat yang diikuti secara ‘latah’ oleh media-media Indonesia. Jadi antara Inggris (pembonceng Zionis di Tim-Teng), keluarga Saud, Wahabisme dan USA (sekutu Inggris dan Israel) adalah mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karenanya tidak terlalu mengherankan jika Wahaby selalu menghamba terhadap kerajaan Saudi. Dan sementara keluarga Saudi selalu bertekuk lutut di hadapan USA saudara kembar Inggris (penyokong kekuasaan keluarga Saud) dalam banyak masalah, termasuk memberi dukungan secara sembunyi-sembunyi terhadap Zionisme Internasional dan turut membenci negara-negara yang anti Israel. Hal itu karena Israel mendapat dukungan penuh dari USA dan Inggris.

(andikfn/STI)

KARUNIA ROSULULLAH SAW


Oleh: Imam Ali Khamenei

Tujuan Rasulullah saw. ialah menyampaikan pesan-pesan kebebasan, kesadaran dan kebahagian manusia ke segenap hati dan jiwa. Tujuan besar ini tidak akan tercapai kecuali dengan menciptakan sebuah sistem unggul dan model penuntun. Adapun sebasar apa umat Islam dapat melanjutkan pembangunan ini, dan sejuah apa generasi-genarasi setelahnya sanggup mendekatkan realitas hidup mereka dengan sistem dan model nabawi tersebut, ini amat bergantung pada kesungguhan itikad mereka sendiri. Rasulullah saw. telah membangun model dan mengetengahkannya ke hadapan semua bangsa dan sejarah.

Sebagai pribadi, Rasulullah saw. berada di puncak piramida alam cipta; baik pada dimensi-dimensi yang bisa disentuh pikiran manusia seperti; akal, kreatifitas, kecerdasan, kemuliaan, kelembutan, toleransi, ketegasan dan nilai-nilai luhur insani lainnya, ataupun pada dimensi-dimensi di atas tingkat ketajaman pikiran; yaitu dimensi-dimensi yang merefleksikan tempat penampakkan ism a’zham ‘nama teragung’ Al-Haq pada wujud Rasulullah yang agung dan martabat kedekatannya di sisi Al-Haq. Dari dimensi-dimensi terakhir ini kita hanya mendengar sebuah nama dan sekilas gambaran; kita hanya sadar bahwa hakikatnya semata-mata ada pada ilmu Al-Haq dan awliya’ besar.

Poros Persatuan
Sepadan dengan ketinggian pribadi Rasulullah saw., misinya juga merupakan misi terbaik dan terutama bagi
kebahagian manusia; misi tauhid, misi peningkatan martabat dan penyempurnaan wujud manusia.

Benar bahwa sampai sekarang umat manusia masih belum berhasil menerapkan misi tersebut secara utuh dalam segenap aspek kehidupan mereka, namun percayalah, proses kemajuan dan kesempurnaan mereka suatu hari akan sampai di akhir proses ini. Dan sekalipun kita asumsikan proses pemikiran, pemahaman, pencapaian dan keberhasilan manusia bergerak menuju kemajuan dan misi Islam, tak syak lagi bahwa pada suatu hari misi ini akan mendapatkan posisi yang selayaknya dalam kehidupan masyarakat manusia.

Kebenaran misi nabawi, kebenaran tauhid Islam, pelajaran Islam tentang hidup dan jalan Islam untuk kebahagian dan kemajuan, semua ini akan mendekatkan manusia kepada satu titik yang di sana ia menemukan jalan yang terang dan mulus, menapakkan kaki di atasnya dan melangkah maju ke arah kesempurnaan. Hal yang penting bagi kita kaum Muslimin ialah usaha-usaha kita menambah poin-poin pengenalan kita akan Islam dan Rasulullah saw.

Hari-hari ini, salah satu masalah besar dunia Islam ialah perpecahan umat. Dan wujud suci Rasulullah amat bisa menjadi poros persatuan dunia Islam; ia sosok yang berperan nyata sebagai titik sentral segenap emosi semua manusia. Kita umat Islam tidak punya satu titik pun sejelas dan seluas wujud suci Rasulullah saw.; semua kaum Muslimin percaya padanya, dan di samping kepercayaan ini wujud suci itu sampai sekarang telah menciptakan sebuah keterikatan emosional dan spiritual antarhati dan perasaan kita umat Islam. Wujud suci Rasulullah saw. adalah sebaik-baiknya poros persatuan.

Sistem Pemerintahan
[kembali ke masa pembentukan masyarakat islami] tujuan Rasulullah saw. hijrah ke Madinah ialah melakukan perbaikan di lingkungan yang korup dan memerangi sistem-sistem politik, ekonomi dan sosial yang zalim yang saat itu mendominasi masyarakat dunia. Tujuan Rasulullah bukan semata-mata menentang orang-orang kafir Mekkah. Misi yang diangkat di sini adalah misi dunia secara global dan menyeluruh. Rasulullah saw. lelah memperjuangkan misi ini. Ia menanamkan benih pemikiran dan iman di mana saja kondisi memungkinkan; dengan harapan bahwa benih itu akan berakar dan tumbuh berkembang kapan saja kondisi memungkinkan.

Tujuan Rasulullah saw. ialah menyampaikan pesan-pesan kebebasan, kesadaran dan kebahagian manusia ke segenap hati dan jiwa. Tujuan besar ini tidak akan tercapai kecuali dengan menciptakan sebuah sistem unggul dan model penuntun. Untuk itulah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah dalam rangka membangun sistem tersebut. Adapun sebasar apa umat Islam dapat melanjutkan pembangunan ini, dan sejuah apa generasi-genarasi setelahnya sanggup mendekatkan realitas hidup mereka dengan sistem dan model nabawi tersebut, ini amat bergantung pada kesungguhan itikad mereka sendiri. Rasulullah saw. telah membangun model dan mengetengahkannya ke hadapan semua bangsa dan sejarah.

Sebuah sistem yang telah dibangun Rasulullah saw. terbentuk dari beberapa unsur. Yang terutama dan paling menonjol di antara unsur-unsur sistem ini ialah:
Iman dan spiritualitas. Motivasi dan penggerak utama dalam sistem nabawi ialah sebentuk iman yang bangkit dari sumber mata hati dan kesadaran masyarakat; masyarakat yang mengerahkan tangan, lengan, kaki dan segenap wujud mereka searah dengan kebenaran. Oleh karena ini, unsur pertama ialah menghembuskan ruh iman dan spiritualitas ke dalam jiwa-jiwa dan menanamkan keyakinan dan pemikiran yang lurus kepada mereka. Unsur ini telah diawali peletakkannya oleh Rasulullah saw. sejak masih di Mekkah dan baru mengibarkan benderanya dengan perkasa di Madinah.

Unsur kedua ialah keadilan. Prinsip kerja dan asas penyelenggaraan ialah keadilan dan meletakkan setiap hak pada setiap pemiliknya tanpa pandang bulu.

Unsur ketiga ialah ilmu dan pengetahuan. Dalam sistem nabawi, asas segala sesuatu ialah tahu dan sadar. Sistem ini tidak mengaktifkan individu dengan mata tertutup, akan tetapi membina masyarakat di atas kesadaran, pengetahuan dan kekuatan menimbang dan menjadikan mereka sebagai basis-basis yang aktif; bukan arus pasif.

Unsur keempat ialah ketulusan dan persaudaraan. Dalam sistem nabawi, segala macam pertikaian yang berasal dari motif-motif palsu dan kepentingan-kepentingan pribadi dan oportunis dibenci dan akan dihadapi dengan perlawanan. Suasana sistem nabawi adalah suasana ketulusan, persaudaraan dan simpati.

Unsur kelima ialah kualitas moral dan kebersihan perilaku. Sistem nabawi bekerja untuk membina jiwa-jiwa manusia sehingga bersih dari segala bentuk kerusakan, kebusukan dan kehinaan, dan berhias dengan akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur. “... dan membersihkan jiwa mereka serta mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah” (Al-Jumu’ah;62:2). Tazkiyah ‘membersihkan jiwa’ merupakan bagian dari asas-asas utama sistem. Setiap Rasulullah diutus dan bekerja untuk memberikan pembinaan ruhani kepada stiap orang dan memanusiakan mereka seutuh-utuhnya.

Unsur keenam ialah ketangguhan dan kehormatan. Sistem nabawi bukanlah sistem yang di dalamnya masyarakat jadi bermental inferior, ikut-ikutan dan menggantungkan kebutuhannya kepada pihak luar, tetapi sistem yang mengangkat mereka sehingga berada sebagai manusia-manusia terhormat, tangguh dan penentu nasib; yaitu tahu kemaslahatan diri mereka dan berusaha keras mewujudkannya serta memperjuangkannya tetap maju.

Dan unsur terakhir ialah bekerja, bergerak dalam rangka kemajuan berkelanjutan. Stagnasi dan keadaan mandek dalam sistem nabawi tidak lagi berarti, yang tampak adalah dinamika gerak, kerja dan kemajuan secara ekstensif. Tentu, ini kerja yang memuaskan dan menyenangkan, dan proses yang melelahkan ataupun menjemukan. Ini kerja dan proses yang memberi semangat, kekuatan dan gairah kepada pelaku.[afh]

Keterangan: Saduran dari pidato Rahbar ‘pemimpin tertinggi Revolusi’ Imam Ali Khamenei dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat pemerintah Republik Islam Iran pada hari besar Maulid Nabi saw. 18,Rabi’ul Awal,1421 HQ.

(andikfn/STI)

Mengenal Diri Jalan untuk Mengenal Tuhan


Oleh: Laogi Mahdi

"Dan disebutkan bahwa di salah satu tempat ibadah Apollo di Delphi, di gerbangnya tertera tulisan, "Pergilah dan kenali dirimu". Pesan moral inilah yang banyak menjadi muatan utama dalam filsafat Socrates dan Pyhtagoras.Sedemikian penting usaha dan proyek mengenal diri ini sehingga natijahnya seorang yang meniti perjalanan mengenal diri ini, tidak hanya akan mengenal kosmos tapi juga akan mengenal Tuhan pencipta kosmos. Apakah mengenal diri dalam diktum di atas adalah mengenal diri manusia secara fisikal yaitu mengenal panca indra dan anggota tubuh lainnya, secara esoteris dan eksoteris atau lebih subtil dan sublim dari itu? Pengenalan diri ini termasuk dalam ilmu atau pengenalan apa? Pengenalan diri di sini adalah termasuk pengenalan panca indra dan angota tubuh lainnya, fisiologis, esoteris dan eksoteris."

Konon, pada suatu masa hidup seorang peniaga minyak yang biasa menjajakan minyaknya dari desa ke desa, kampung ke kampong dengan menggunakan kuda sebagai tunggangannya. Suatu hari seseorang bertanya kepadanya, bagaimanakah engkau dapat mengenal Tuhan? Si penjaja minyak tersebut berkata, "Dengarkan baik-baik! Aku setiap waktu meniti jalan semenjak awal untuk menjajakan minyak, setelah mengisi penuh wadah ini dengan minyak, dengan kain atau nilon aku menutupnya dengan kuat. Dan selepas itu, mengikatnya dengan benang sekencang-kencannya. Dengan semua langkah antisipatif itu, toh minyak tetap menetes setetes demi setetes dari wadah tersebut. Akan tetapi Tuhan sedemikian Dia menciptakan kita sehingga dalam keadaan bagaimanapun kalau kita tidak ada hajat maka aktivitas penolakan (dâfe'e) tidak akan terlaksana. Dan buang air kecil atau besar tanpa adanya kehendak dari nafs, tidak akan terjadi. Sementara pada saat yang sama ia tidak memerlukan nilon atau benang sebagaimana minyak yang diletakkan pada suatu wadah untuk menjaga minyak tersebut tidak tumpah! Aku dengan perenungan dan kontemplasi seperti ini aku menemukan dan mengenal wujud Tuhan!Mengenal Tuhan dengan menyaksikan fenomena-fenomena natural yang terjadi di sekeliling kita, dengan perenungan dan kontemplasi, kabut eksistensi yang menyelimuti semesta dapat disingkirkan dan wujud Tuhan dapat kita jumpai. Jalan yang dilakukan dengan merenungi eksistensi diri, menyelami jiwa dan raga secara fisiologis, eksoteris dan esoteris, dengan menatap batin sebagai sebuah fenomena yang dinamis, memandang diri sebagai bagian kecil dari tatanan kosmos ini adalah apa yang sering disebut sebagai sair anfusi. Sair anfus merupakan jalan atau argumen yang sering disebut berdampingan dengan sair afaqi. Sair anfusi atau mengenal Tuhan dengan jalan mengenal diri (nafs) umumnya akrab digunakan dalam bidang Akhlak atau bahkan Irfan. Dalam bidang ini diktum "barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya" sangat sering diketengahkan. Khususnya dalam bidang akhlak, tidak satu buku yang mengupas masalah moral dan etika yang tidak menyebutkan diktum di atas. Dan disebutkan bahwa di salah satu tempat ibadah Apollo di Delphi, di gerbangnya tertera tulisan, "Pergilah dan kenali dirimu".

Pesan moral inilah yang banyak menjadi muatan utama dalam filsafat Socrates dan Pyhtagoras.Sedemikian penting usaha dan proyek mengenal diri ini sehingga natijahnya seorang yang meniti perjalanan mengenal diri ini, tidak hanya akan mengenal kosmos tapi juga akan mengenal Tuhan pencipta kosmos. Apakah mengenal diri dalam diktum di atas adalah mengenal diri manusia secara fisikal yaitu mengenal panca indra dan anggota tubuh lainnya, secara esoteris dan eksoteris atau lebih subtil dan sublim dari itu? Pengenalan diri ini termasuk dalam ilmu atau pengenalan apa? Pengenalan diri di sini adalah termasuk pengenalan panca indra dan angota tubuh lainnya, fisiologis, esoteris dan eksoteris. Namun secara umum manusia merupakan maujud yang secara esensial, sifat dan perbuatan memiliki warna dan corak Ilahi. Yang ditekankan dalam tema ini adalah lebih pada dimensi esoteris dan ruhaninya. Dan dapat dikatakan bahwa antara Tuhan dan manusia terdapat persamaan, akan tetapi secara dzati, karena esensi manusia dan nafs natiqa-nya merupakan maujud mujarrad yang tidak terpengaruh oleh kantuk dan tidur dan secara sifat karena nafs manusia memiliki peran manager dan pengelolah anggota tubuh. Di sini nafs memiliki peran sifat, seperti menarik, menolak, mengendali, menghafal, mengelola, mengatur, bijaksana, melihat, mengetahui, mendengar dan mencipta dan sebagainya. Di mana pada hakikatnya seluruh sifat ini dapat dicerap dan diabstraksikan dari sifat-sifat manusia. Dan sifat perbuatan Tuhan juga seperti, pemberi rizki, pencipta, mendengar, mengetahui dan sebagainya demikian juga dapat dicerap dan diabstraksikan dari sifat-sifat perbuatan Tuhan.


Definisi Nafs dan Ma'rifat an-Nafs

Banyak definisi yang diberikan oleh para filosof dan urafa tentang nafs. Sebagian mereka dalam menjelaskan hakikat nafs terdapat empat belas mazhab dan pendapat. Dan sebagian yang lain menganggap bahwa dalam mengekplanasi realitas nafs terdapat empat puluh mazhab dan pendapat. Dan sebagian lain berkata bahwa, "para qudama dan ulama kiwari senantiasa masygul dan berselisih pendapat tentang definisi nafs natiqah ini, mereka beranggapan bahwa pendapat dan definisi yang disampaikan hingga kini ada seratus pendapat." Tapi yang benar adalah bahwa nafs merupakan substansi yang kosong dari materi dan sifat-sifat materi dan ia menempel pada badan; menempel maksudnya di sini adalah bahwa nafs bagi badan adalah pengendalli dan pengatur, dan tingkatan badan adalah tingkatan turunan dari nafs. Selain definisi yang disebutkan paling akhir, barangkali keliru atau mereka harus menakwilkan nafs sebagaimana definisi ini. ('Uyun Masâil Nafs wa Syarh ?n, hal. 16) Adapun definisi ihwal ma'rifat an-nafs atau mengenal diri sebagaimana yang disebutkan pada awal-awal pembahasan ini, bukanlah sekedar mengenal anggota tubuh dan panca indra. Atau berkaitan dengan pengetahuan akan nama seseorang, nama ayah, atau tanggal dan tempat lahirnya. Ma'rifat an-nafs lebih banyak berkenaan dengan dimensi spiritual, esoteris dan ruhani seseorang.


Urgensi Mengenal Diri

Semakin urgen sesuatu nilai dan harganya semakin melambung tinggi. Terlebih apabila nilai dan harga barang tersebut menyangkut sukses tidaknya seseorang, berjaya tidaknya seseorang, bahagia tidaknya seseorang dan paling akhir, selamat tidaknya seseorang dalam kehidupannya. Manusia yang dual-dimensi, dimensi ragawi dan dimensi ruhani, adalah makhluk yang memiliki warna dan corak Ilahi. Tentu apabila ia tidak mengaktualkan potensi yang diberikan Tuhan kepadanya, sekali-kali ia tidak akan menjelma menjadi manusia unggul dan sempurna. Setiap manusia berhajat kepada kesempurnaan. Fitrah manusia menegaskan bahwa ia cinta dan kasih kepada kesempurnaan. Apabila kita melakukan kontra-predikasi (naqsh al-haml) atas diktum di atas, barang siapa yang mengenal dirinya, mengenal Tuhannya, menjadi barang siapa yang tidak mengenal dirinya tidak mengenal Tuhannya. Karuan saja ia tidak akan pernah meraih derajat kesempurnaan. Manusia untuk meraup kesempurnaan dan mentransendental, mau tidak mau ia harus mengenal tipologi, karakteristik dan segala potensi yang diberikan Tuhan kepadanya. Lantaran dunia kiwari dengan kerusakan moral dan kejahilan akan pengenalan diri telah terjerembab dalam jurang alienasi diri. Mereka telah melupakan diri dan Tuhannya. Mereka tak mengenal dirinya sehingga tidak sampai gilirannya untuk mengenal Tuhannnya.

Pertanyaan-pertanyaan eksistensial darimana datangnya, kemana jalan yang ia tuju dan untuk tujuan apa ia ada tak akan pernah dapat terjawab bagi orang-orang seperti ini. Oleh karena itu, pembahasan pengenalan diri ini menemukan urgensinya apabila insan dengan mengaktualkan potensi yang dimilikinya maka ia akan dapat meraih kesempurnaan insani dan maknawi yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Tentu saja kali ini kita tidak lagi berada pada arsy dan tataran pembahasan argumentasi pembuktian wujud Tuhan dan wujud judgment day (hari kiamat). Pembahasan kita kali ini adalah sequel dari seri argumentasi pembahasan tentang wujud Tuhan. Dimana sebelumnya lebih banyak menitikberatkan pada pembahasan sairi afaki.

Sebagai pelengkap, di sini kita akan mengambil manfaat dari cahaya hadis yang memotivasi dan mendorong setiap orang untuk mengenal diri dan kediriannya. Di nukil dari Sayidina Ali Ra bahwa ia bersabda: "Pengenalan terhadap diri merupakan sebaik-baik dan seuntung-untungnya pengenalan. (Mîzân al-Hikmah, vol. 6, hal. 142, no. 11923) Atau dari hadis yang lain, "Puncaknya pengetahuan (atau pengenalan) manusia adalah pengenalan terhadap dirinya." (Mîzân al-Hikmah, vol. 6, hal. 141, no. 11902)


Kegunaan Mengenal Diri

Sangat banyak kegunaan dan manfaat dari makrifat diri ini. Di sini kami akan menyebutkan empat hal saja dari selaksa manfaat dan keutamaan yang ada tentang kegunaan pengenalan diri ini.

Pertama, kegunaan atau faidah praktis dari pengenalan diri adalah memberikan peluang kepada manusia untuk lebih familiar terhadap kemampuan dan bakatnya. Hal ini akan banyak membantu seseorang dalam hidupnya, misalnya mencegahnya dari memilih bidang studi atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan bakat yang diberikan Tuhan kepadanya.

Kedua, di samping itu pengenalan diri sangat bernilai karena manusia dapat menyadari bahwa ia bukanlah sosok atau maujud yang mengada dengan sendirinya atau wujudnya tidaklah mandiri (self-existent). Hal ini penting, lantaran akan membantu seseorang untuk memahami bahwa sehebat apa pun ia atau setinggi apa pun kedudukan dan status sosialnya, toh ia hanyalah seorang yang berhajat dan berkeinginan, bahkan dalam terminologi Mulla Shadra, sifat berhajat dan berkeinginan pada manusia adalah bersifat dzati (faqr adz-dzati) dimana esensi (dzat) manusia adalah butuh dan berhajat kepada Dia, yang wujudnya secara dzati kaya dan tidak memiliki hajat kepada apa dan siapa pun (ghani adz-dzati).

Ketiga, Pengenalan diri sangat efektif bagi sistem dan mekanisme pengembangan diri; bahkan seseorang dapat mengatakan bahwa makrifat diri atau mengenal diri mirip dengan "bio-feed back therapies" yang dikembangkan oleh banyak fisikawan di beberapa negara Barat yang menganjurkan kepada para pasiennya yang aktif dalam proses healing (penyembuhan) atau kepada pasien yang telah angkat tangan dari perawatan medikal moderen.
Keempat, mengenal diri akan membantu seseorang memahami bahwa ia tidak tercipta secara kebetulan (by chance). Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan kita, diri kita, dengan argumen-argumen atau bahkan tanpa memerlukan argumen, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang tak-terelakkan bahwa Tuhanlah yang mencipta seluruh keberadaan. Kita tidak mewujud dengan sendirinya atau hanya karena persemaian antara sperma dan ovum dari kedua orang tua kita. Manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya. Ia akan melakukan monologue pada dirinya ihwal Darimanakah kedatanganku?Ke mana langkah yang aku tuju? Untuk tujuan apa keberadaanku? Dengan mengenal diri, ia akan menuai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial ini.


Apakah Nafs itu Ada?

Pertanyaan ontologis yang mendasar yang harus diajukan di sini adalah apakah wujud nafs itu dapat dibuktikan secara filosofis dan logis. Atau sederhananya, apakah nafs itu ada dan eksis dalam diri kita. Ibn Sina dalam berargumen tentang wujud nafs ia mengemukakan beberapa dalil dan demonstrasi. Dalil pertama, perhatian manusia kepada Akunya sebagai sebuah realitas selain badan dan raga. Penalaran dan argument Ibn Sina ini dikenal sebagai "argumen manusia yang terangkum dalam ruang." Ia berkata, setiap manusia pada masa meleknya dan bahkan pada saat tidur atau mabuknya, ia mengenal dirinya. Dan ia tidak pernah lalai dan alpa dari realitas "Aku" ini. Sekarang mari kita melihat penjelasan Ibn Sina tentang burhan yang dimaksud ini: "Perhatikan diri Anda secara seksama! Apakah ketika Anda berada dalam kesehatan yang normal dan bahkan dalam ketika Anda menderita sakit, sepanjang Anda tidak kehilangan ingatan dan memori, sekali-kali Anda tidak akan pernah merasa kehilangan dari diri Anda? Artinya sedemikian Anda tahu bahwa Anda ada dan wujud? Aku tidak percaya kepada ingatan semacam ini, bahkan seseorang yang tertidur dan atau mabuk sementara ia tidak tahu siapa dirinya, kendati perhatian kepada dirinya tidak terlintas dalam pikirannya. Dalil kedua, Ibn Sina menegaskan bahwa nafs bukanlah badan. Penalaran Ibn Sina bersandar kepada landasan bahwa manusia dapat menemukan dirinya sebagai sesuatu selain badan. Oleh karena itu, manusia selain dari badan, ia memiliki nafs non-jasmani. Dalam menguraikan inferensi ini, Ibn Sina menjelaskan: Hakikat dan realitas nafs yang terdapat pada diri manusia dapat dibuktikan dengan jalan efek dan perbuatan-perbuatan.

Seperti dengan memperhatikan bahwa manusia memiliki gerak, perasaan dan mencerap, kita bertanya kepadanya bahwa sumber gerakan dan perasaan ini darimana datangnya? Sangatlah jelas bahwa gerakan tidak dapat bersumber dari jasmani dan raga manusia, lantaran apabila raga dan jasmani dapat menjadi sumber gerakan, maka seluruh raga dan jasmani mampu bergerak dengan sendirinya, sementara kenyataannya tidaklah demikian. Bagaimana mungkin kita menganggap gerakan bersumber dari jasmani, sementara jasmani dan mixture jasmani, kadangkala ketika bergerak, menahan manusia dari bergerak pada sebuah arah khusus dan kadangkala juga menahan manusia dari gerakan aslinya. Oleh karena itu, jasmani dan mixture jasmani dan tabiat jasmani tidak dapat dianggap sebagai sumber gerakan kehendak manusia. Maka dalam diri manusia haruslah terdapat sesuatu yang menjadi sumber gerakan dan itulah nafs yang disebut manusia sebagai "diri".



Klasifikasi Nafs

Ibn Sina sebagaimana para filosof sebelumnya beranggapan bahwa nabat (flora), hewan dan manusia memiliki nafs. Nafs atau ruh merupakan sebuah realitas atau hakikat dimana ia membuat format-format nabat (flora), hewan dan manusia. Nafs merupakan sumber kekuatan-kekuatan dan efek-efek dan aktifitas-aktifitas dimana materi yang tanpa jiwa tidak memiliki hal tersebut. Adapun kekuatan dan kemampuan nafs nabati adalah, kekuatan memberi makan, berkembang dan tumbuh dan kekuatan untuk reproduksi dan memperbanyak keturunan. Nafs hewani di samping memiliki kekuatan yang telah disebutkan pada nafs nabati, ia memiliki dua kekuatan tambahan, yaitu, kekautan untuk mencerna dan kekuatan bergerak. Nafs dan ruh manusia, di samping kekuatan-kekuatan yang telah disebutkan di atas, ia memiliki kekuatan tipikal seperti kekuatan berpikir dan menalar. Kekuatan-kekuatan tipikal ini, berdasarkan domain dan ranah aktifitas manusia dapat dibagi menjadi dua bagian:

1. Akal teoritis yang mencakup masalah-masalah ontologi.

2. Akal praktis yang cakupannya merangkum pengenalan terhadap nilai-nilai. [bersambung]

(andikfn/alhassanain/ABNS)

Rabu, 30 Desember 2015

Antara Khawarijsme, Wahabisme dan Radikalisme


Oleh: Faisal Djindan

1400 tahun yang lalu, ketika sekelompok orang yang kemudian dikenal dengan nama Khawarij dikepung dan kemudian sebagian besar dari mereka terbunuh dan sebagian kecil lainnya melarikan diri dalam sebuah pertempuran di tepi sungai Nehrawan Irak. Komandan perang Islam saat itu Malik al-Asytar datang kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib menyampaikan laporan sekaligus kabar gembira dengan keberhasilan operasi mereka dalam menghadapi kelompok tersebut. Maka sang Khalifah pun berkata; “Demi Allah tidak dan belum, mereka masih berada dalam sulbi lelaki dan rahim wanita, bilamana seorang pemimpin muncul dari kalangan mereka maka ia akan dipancung sampai yang terakhir dari mereka akan menjadi pencuri dan perampok” (Nahj al-Balaghah, khotbah 59).

Kelompok Khawarij yang tersebut diatas adalah sebuah kelompok dengan ideologi keagamaan saat itu dengan sifat arogan, radikal serta tak memiliki belas kasih membunuh siapa saja yang dianggap memiliki perbedaan dengan faham dan penafsiran dari teks-teks keagamaan dari yang mereka yakini.

Salah satu syiar atau motto mereka adalah “tidak ada hukum (yg dipakai) kecuali hukum Allah”. Motto mereka ini tentunya mereka petik dari salah satu ayat dalam Alquran yang jika diterjemahkan secara parsial dan tekstual akan memiliki interprestasi tunggal sebagaimana yang mereka yakini. Alhasil penafsiran yang mereka buat lalu dilegalkan dalam sebuah praktek praktek yang kemudian berujung kepada sadisme dan brutalisme. Agama (baca:Islam) yang awalnya mengajak umat manusia kepada kasih sayang, akhlak & moral terpuji, membangun peradaban tinggi, menghargai hak-hak sesama kemudian berubah menjadi horor, sadisme, brutalisme, mudah tersulut emosi, anti peradaban, intoleran dan kaku.

Kelompok ini awalnya muncul di era kekhalifaan Ali bin Abi Thalib yang berada pada kurun 30-35H. Khalifah Ali pada saat melihat motto mereka yang diambil dari teks suci Alquran yang mampu menyihir dan mengelabui banyak dari orang awam dengan tegas mengatakan “Perkataan mereka benar tetapi maksudnya salah”, dengan kata lain beliau mengingatkan kepada umat saat itu bahwa teks-teks yang dipakai sebagai argumen adalah benar adanya karena bersumber pada kitab suci Alquran akan tetapi penafsiran yang mereka pakai adalah salah. Jadi era tersebut juga dikenal dengan istilah periode Takwil atau interprestation periode. Dimana saat Nabi saw berdakwa dinamakan periode Tanzil atau wahyu periode maka periode pasca Nabi adalah periode Takwil yang artinya semua sudah menerima Alquran sebagai wahyu tapi problematikanya kemudian bergeser pada interprestasi yang jika sebuah kelompok melakukan true claim dan mengaplikasikannya dalam arogansi dan radikal akan menjadi sebuah ancaman serius bahkan dapat menganulir ruh dari agama itu tersebut.

Menurut sejarawan Islam, pengkafiran paling awal dalam Islam gemar dilakukan oleh kelompok khawarij. Mereka mengkafirkan siapa pun yang berbeda sikap dan pandangan dari mereka. Jargon “hukum hanya milik Allah” telah mengesampingkan peran akal manusia dalam memahami pesan-pesan wahyu.

Aksi-aksi Khawarij ini telah menjadi preseden buruk bagi generasi muslim berikutnya. Dengan aksi-aksi kejam dan destruktifnya mereka tidak hanya mengacaukan stabilitas politik, tetapi juga mendistorsi logika berfikir umat islam dan ini terus di wariskan dari generasi ke generasi. Dewasa ini, para ulama lazim menyebut siapa pun yang mewarisi kebiasaan buruk khawarij sebagai neo-khawarij.

Perkataan Ali bin Thalib yang kami nukil diawal tulisan ini dapat memberikan kepada kita semacam gambaran bahkan ramalan akan sepak terjang mereka. Darinya kita memperoleh pemahaman bahwa radikalisme dan intoleranisme bukan hanya terjadi saat itu, walaupun kelompok Khawarij telah berhasil ditumpas saati itu sang khalifah berujar bahwa “mereka masih ada di sulbi lelaki dan rahim wanita” yang berarti akan lahir disetiap zaman dengan nama atau julukan yang berbeda. Jika saat itu mereka dikenal dengan khawarij maka saat ini mungkin saja mereka dikenal dengan Alqaedah, Taliban, Jabhat Nusra, Boko Haram, Asyabab atau ISIS. Jika dahulu syiar atau motto mereka adalah “tidak ada hukum kecuali milik Allah” maka saat ini syiar dan motto mereka adalah”mendirikan Syariat Allah”..... jadi sekali lagi mereka akan tetap ada di setiap zaman.

Faham Salafi-Wahabi

Pada tahun 1746 aliansi Wahabisme secara resmi memproklamasikan jihad terhadap siapa pun yang memiliki pemahaman Tauhid berbeda. Kampanye mereka biasanya dengan tuduhan Syirik, Bidah atau Khurafat. Siapa pun yang memiliki pemahaman yang tidak sepaham dengan mereka maka akan dianggap murtad dan diwajibkan memeranginya. Dengan demikian predikat muslim hanya merujuk secara eksklusif kepada para pengikut Salafi-Wahabi seperti yang digunakan dalam, buku ‘Unwan al-Majd fi Tarikh al-Najd yang merupakan salah satu buku sejarah resmi Wahabi

Pemahaman ekstrem, kaku, dan keras ala Salafi-Wahabi yang terus dipelihara dan diperjuaangkan oleh pengikutnya hingga saat ini adalah hasil pembacaan tekstual atas sumber sumber ajaran islam. Ini pula yang menyebabkan mereka menolak rasionalisme, tradisi dan berbagai khazanah intelektual islam yang sangat kaya.

Literarur Salafi-Wahabi telah membuat teks teks suci menjadi corpus dan tertutup terhadap pembacaan selain gaya tekstual ala mereka. Pemahaman ini telah memutus teks-teks suci dari konteks risalah maupun konteks masa kini. Islam yang semula sangat apresiatif dan penuh perasaan dalam merespon permasalahan umat tiba-tiba di tangan Salafi-Wahabi menjadi kaku, keras dan tidak berperasaan.

Beberapa tabiat buruk Khawarij pada awal abad pertama islam kini diwarisi kelompok Salafi-Wahabi. Wahabi memang tidak bisa dikatakan sebagai penerus khawarij, bahkan ia dianggap sebagai fenomena yng sama sekali baru dan tidak punya pendahulu sebelumya dalam sejarah islam (Hamid Algar, wahabism: A critical Essay- cet. New York, Islamic Publication International, 2002). Hal ini didasari pada kenyataan bahwa dalam sejarah pemikiran islam Salafi-Wahabi tidak menempati posisi penting apa pun bahkan secara intelektual marjinal. Jika hari ini Wahabisme menjadi signifikan bukan karena kekayaan pemikirannya tapi karena kekuasaan polituk Ibn Saud dan Reyalnya.

Dari perspektif Salafi-Wahabi, memahami agama secara tekstual dan indoktrinal mungkin untuk menghindari kompleksitas pemahaman dan praktik hukum, teologi dan tasawuf umat islam yang telah tumbuh sejak berakhirnya periode wahyu. Namun membayangkan setiap individu dan masyarakat akan mengamalkan islam secara harfiah dari kitab suci dan hadits, tanpa pengaruh tradisi dan budaya setempat tentu sangat tidak realistis dan merupakan mimpi belaka. Justru usaha memahami teks keagamaan secara harfiah ala wahabisme lebih disebabkan ketidakmampuan memahami kompleksitas realitas sosial dalam kaitannya dengan kompleksitas pesan-pesan luhur ajaran islam. Akibatnya semua direduksi sesuai dengan daya tampung atau daya paham si pembaca. Dengan kata lain, keluhuran dan keluasan pesan agama kandas oleh keterbatasan daya pikir mereka yang kaku.

Wahabisme dan Indonesia

Selama beberapa dekade, pelajaran dibangku sekolah sering menceritakan adanya sebuah perang di Sumatra barat yang terjadi di era kolonial yang dikenal dengan perang Padri. Hanya saja perang padri tersebut tidak penah diungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.

Gerakan Padri bermula dari perkenalan haji Miskin, Haji Abdrahman dan Haji Muhammad Arif dengan faham Wahabisme saat menunaikan ibadah haji pada awal abad ke 19, yang ketika itu Makkah dan Madinah sudah dikuasai Wahabi. Terpesona dengan gerakan faham Wahabisme ketiga tokoh tersebut dengan bantuan tokoh tokoh lainnya berusaha menularkannya ke tanah air dengan semangat baru yaitu gerakan pemurnian agama yang merupakan slogan gerakan Wahabi. Salah satu gerakan mereka saat itu adalah memberikan vonis sesat terhadap gerakan tasawwuf Tarekat Syatariyyah dan tarekat tarekat lain secara umum. Tuduhan bidah, khurafat dan syirik mereka layangkan kepada kelompok tasawwuf ini yang keberadaannya sudah ada sejak beberapa abad sebelumnya di Minangkabau.

Beberapa kekerasan yang dilakukan Padri selain mengikuti gerakan kegemaran Wahabisme seperti memusyrikkan, mengkafirkan, membidahkan atau memurtadkan siapapun yang berbeda dengan mereka, juga menerapkan hukun yang sama sekali asing dalam diktum hukun islam. Seperti kewajiban memelihara jenggot yang melanggar didenda dengan 2 Suku (setara dengan 2 Gulden), denda 2 Suku bagi laki laki yang terlihat bagian lututnya dan denda 3 Suku bagi wanita yang terlihat auratnya. Lalu ada denda 5 Suku bagi yang meninggalkan shalat fardhu untuk pertama kali dan hukuman mati bagi yang meninggalkan shalat fardhu untuk berikutnya (http://oman.uinjkt.ac.id/2007/11/kontroversi-kaum-paderi-jika-bukan.html).

Para padri juga melegalkan perbudakan, Tuanku Imam Bonjol seorang tokoh padri terkenal konon mempunyai tujuh puluh orang budak laki-laki dan perempuan. Budak-budak tersebut sebagian berasal dari pampasan perang yang mereka lancarkan kepada sesama muslim karena dianggap telah kafir. (Abdul A’la; genealogi Radikalisme Muslim Nusantara)

Adapun dewasa ini, faham Wahabisme sudah menjalar keseluruh bidang. Jika zaman terdahulu mereka hanya berada pada lingkup dakwah dan majelis ilmu maka sekarang ini mereka eksis dibidang sosial dan politik. Hanya kebanyakan umat islam Indonesia kerap tidak menyadari bahaya laten yang dibawa kelompok garis keras beserta fahamnya. Sebaliknya karena awamnya umat mereka cenderung melihat islam sebagai identik dengan Arab. Mungkin karena faktor inilah umat islam Indonesia tempak enggan mengkritisi Wahabisme yang merupakan faham resmi Kerajaan Arab Saudi dan tentunya faham resmi bagi semua kelompok radikal diseluruh negara-negara islam.

Dalam konteks kebangsaan faham Wahabisme adalah ancaman bagi disitegrasi bangsa. Praktek penyesatan dan pengkafiran dangan basis true claim sepihak ala mereka telah menjadi faktor yang selama ini terbukti menjadi pemicu intoleransi yang terjadi diberbagai tempat. Pemaksaan ajaran secara arogan juga ikut andil dalam menciptakan kekerasan dalam bingkai agama. Sementara dalam konteks politik munculnya ormas-ormas yang berhaluan Wahabisme dengan tegas dan terang-terangang menvonis pancasila dan system demokrasi sebagai Thoghut dan produk haram. Siapa saja dari umat silam yang mendukung ideologi pancasila dan mendukung diberlakukannya demokrasi maka mereka juga dianggap telah menjadi kafir. Maka tak heran ormas semacam HTI, JI dan JAT memiliki cita-cita untuk mengganti ideologi pancasila yang berbhineka dan mengayomi keberagaman dan perbedaan dengan ideologi Khilafah dan penerapan syariat islam yang tentunya sesuai dengan penafsiran tekstual dan indoktrinal mereka.

Sebenarnya, benih gerakan garis keras sudah hadir di Indonesia modern sejak dekade 1970-an, walaupun saat itu kehadirannya bermanis muka dan belum menunjukkan tujuan yang sebenarnya. Karena mereka sadar belum memiliki kekuatan yang memadai. Kekuatan mereka menjadi tampak saat kekuasaan orde baru runtuh. Lalu dengan memanfaatkan atmosfer demokrasi dan kebebasan mereka eksis dan berlindung dibalik legal hukum formal dengan tujuan yang sangat demokratis dan membungkam kebebasan. Ada diantaranya yang yang memilih aksi-aksi jalanan sebagai media pemaksaan ideologinya namun ada juga yang memilih jalur politik praktis dan parlementer.

Secara ringkas bisa dikemukakan bahwa agenda utama kelompok-kelompok garis keras adalah untuk meraih kekuasaan politik melalui formalisasi agama. Mereka beranggapan jika syariah diterapkan sebagai hukum positif dan jika khilafah ditegakkan maka seluruh permasalahan akan selesai.

Seperti diketahui, kelompok kelompok garis keras yang berfaham Wahabi memahami teks-teks keagamaan secara harfiah dan mengabaikan ayat-ayat dan hadist-hadist yang tidak mendukung kepentingan mereka. Maka akhirnya pesan agama pun direduksi sebatas makna atau pesan yang bisa disampaikan dalam rangkaian huruf-huruf saja sesuai dengan ideologi mereka. Ayat-ayat atau hadits-hadits tentang peminum khamr, pencuri atau pembunuh misalnya diturunkan kedalam diktum hukum yang sangat harfiah dan dengan sanksi bermotif dendam.


(Ikmal-Online/STI)

Analisa Penafian Sifat-sifat Tuhan dalam Perkataan Imam Ridha as


Oleh: Dr. Muhammad Nur Jabir

Pendahuluan

Persoalan Tuhan tak pernah surut untuk dikaji. Bagi mereka yang tak meyakini Tuhan berusaha membuktikan penafian keberadaan Tuhan sebagaimana yang kita saksikan dalam argumentasi-argumentasi mereka. Sebaliknya, bagi mereka yang meyakini Tuhan senantiasa memperbaharui argumentasi-argumentasi tentang Tuhan, baik itu berkenaan dengan keberadaan-Nya maupun berkenaan dengan sifat-sifat-Nya. Namun usaha kaum ateis selalu saja gagal dalam membunuh Tuhan, mereka lupa bahwa jalan menuju Tuhan sebanyak nafas manusia. Jalan terbaik menuju Tuhan adalah jalan fitrah karena tak lagi butuh pembuktian dan tak butuh argumentasi karena dapat dirasakan secara langsung. Fitrah manusia berpotensi merasakan langsung kehadiran Tuhan, khususnya fitrah yang belum terkontaminasi dengan hal-hal yang negatif.

Selain pembahasan pembuktian keberadaan Tuhan, persoalan mengenai sifat-sifat Tuhan termasuk persoalan yang menarik dan penting untuk disuguhkan kembali. Akhir-akhir ini masyarakat kembali menyorot pernyataan yang ‘menghebohkan’ yaitu ‘tuhan membusuk’ yang diangkat oleh salah satu kampus negeri islam dalam acara ospek mahasiswa. Kami tidak akan membahas persoalan ini. Kami hanya ingin mengingatkan, meskipun persoalan Tuhan dapat dipahami secara fitrah yang tak begitu membutuhkan argumentasi dan pembuktian, namun perlu memahamkan dengan baik konsep-konsep tentang Tuhan sehingga tidak terjebak dalam persoalan seperti itu. Pemahaman ini tentu membutuhkan sebuah pendekatan dan pendekatan yang terbaik adalah melalui pendekatan filosofi karena hanya dengan pendekatan filosofi mampu menjawab beragam keeambiguan mengenai persoalan konsep Tuhan.


Perkataan Imam Ridha Tentang Sifat Tuhan

Sebagaimana dipahami bahwa Tuhan adalah hakekat yang tak terbatas, tak terhingga, tanpa akhir, tak ada bagi-Nya ruang dan waktu, tak disifatkan pada-Nya ‘mana’ dan ‘kapan’, bahkan pertanyaan mengenai ‘kebagaimanaan’ tak lagi bermakna bagi-Nya. Tak ada pertanyaan tentang ‘awal’ dan ‘akhir’. Dia adalah wujud yang tak terbatas dan meliputi segala realitas serta hadir dalam segala ruang dan waktu.

Salah satu hadits yang menarik dari Imam Ridha as berkenaan dengan penafian sifat-sifat pada Tuhan. Dalam kitab Tauhid Syekh Shoduq Imam Ridha as menjelaskan,’sistem tauhid Allah adalah dengan menafikan sifat-sifat atas-Nya’. Pertanyaannya adalah bagaimana kita memaknai pernyataan Imam berkenaan dengan penafian sifat-sifat Tuhan. Bukankah Tuhan disifatkan dengan sifat-sifat MahaPencipta, MahaPemberi rezeki, MahaPengampun, dan sifat-sifat lainnya ?

Dalam Nahjul Balaghah Imam Ali as juga menjelaskan hal yang sama berkenaan dengan penafian sifat Tuhan. Dalam khotbah pertama Imam Ali as menjelaskan, ‘. . . dan kesempurnaan kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya . . . .

Baik Imam Ali as maupun Imam Ridha as menjelaskan tentang penafian sifat-sifat Tuhan. Dalam menjelaskan persoalan ini, sebelumnya perlu dipahami bahwa hakekat Tuhan itu tak terbatas. Ketidakterbatasan Tuhan tersebut sekaligus menjelaskan kepada kita bahwa terdapat satu maqam dimana hakekat-Nya tak mungkin digapai. Dalam Nahjul Balaghah khotbah pertama juga dijelaskan, ‘. . . orang yang tinggi kemampuan akalnya tak dapat menilai, dan penyelaman pengertian tak dapat mencapai-Nya . . . . Hakekat yang tak mungkin diraih ini oleh para teolog, filsuf, dan arif menyebutnya dengan maqam zat. Imam Ridha as menjelaskan, ‘adapun pelarangan sifat-sifat tersebut ialah pada zat-Nya’


Penafian Sifat-Sifat Tuhan pada Maqam Zat

Berdasarkan pembahasan sebelumnya, penafian sifat Tuhan ini tidak bersifat mutlak. Maksudnya penafian sifat Tuhan tersebut tidak berlaku pada seluruh maqam Tuhan. Hanya pada maqam zat saja penafian sifat-sifat kepada Tuhan tersebut dibenarkan. Oleh karenanya seluruh sifat-sifat yang disifatkan kepada Tuhan adalah setelah maqam zat, bukan pada maqam zat. Dalam kata lain, Tuhan pada maqam zat hanya bisa dipahami dalam bentuk negasi (salbī). Berdasarkan hal ini, gagasan teologi negasi (ilahiyah salbīyah) dapat dibenarkan jika persoalannya dibatasi pada maqam zat. Karena maqam setelah zat dapat dipahami sifat-sifat-Nya sebagaimana Quran sendiri memperkenalkan sifat-sifat Tuhan kepada kita dan tak mungkin Quran memperkenalkan kepada manusia jika manusia tak mampu memahaminya.

Terdapat beberapa dalil dalam membuktikan bahwa zat Tuhan bukan lokus penyifatan berbagai sifat:

1. Dalam kitab Ushūl Kāfī Imam Ridha as memaparkan alasan mengapa tidak diperkenankan menyifatkan sifat-sifat kepada zat Tuhan. Kesimpulannya bahwa jika kita menyifatkan satu sifat tertentu kepada zat Tuhan maka akan meniscayakan pembatasan terhadap zat Tuhan yang tak terbatas. Qadhi Sa’id Qummi dalam mengomentari pernyataan Imam Ridha as menjelaskan, ‘sifat-sifat tersebut tidak bisa dipredikatkan kepada zat Tuhan karena jika sifat-sifat dilekatkan kepada-Nya, Dia yang tak terbatas menjadi terbatas disebabkan mempersepsi sifat-sifat-Nya. karena ‘zat sebagaimana zat’ lebih dahulu dari sifat, baik itu sifat dalam pengertian zat itu sendiri, maupun sifat dalam pengertian diluar dari zat. Dan juga akan melazimkan bahwa meskipun sifat berada setelah maqam zat namun terbatas, tentu hal ini bertentangan ketidakterbatasan-Nya dan ketakterhinggaan-Nya’.

2. Argumentasi selanjutnya dari Imam Ridha as, ‘oleh karena penyaksian akal bahwa segala sifat dan yang disifatkan adalah makhluk’. Segala sifat dan yang disifatkan adalah makhluk dan makhluk ini mumkin wujud. Jika Tuhan adalah wajibul wujud maka tak mungkin ‘mumkin wujud’ disematkan kepada diri-Nya. Oleh karena itu sifat yang dimaksud disini adalah sifat yang tidak sepadan disematkan kepada subjek yang disifatkan. Maksudnya sifat-sifat makhluk tidak mungkin disematkan kepada Tuhan. Imam Ali as dalam lanjutan khotbahnya mengatakan, ‘. . . dan kesempurnaan kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa sifat itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu . . .’.

Dari dua argumentasi diatas dapat dipahami bahwa pada maqam zat Tuhan, bagaimana pun bentuk sifat tersebut, baik itu sifat adalah zat itu sendiri maupun sifat diluar zat Tuhan, tak mungkin disematkan kepada zat Tuhan dengan alasan-alasan tersebut. Apalagi menyifatkan sifat-sifat makhluk kepada Tuhan, sebab jika demikian, maka subjek yang menjadi wadah penyifatan bukan Tuhan akan tetapi makhluk.

Mulla Sadra yang terilhami dari perkataan maksumin mengatakan, ‘sesungguhnya tak ada konsep apapun yang menyertai wajibul wujud’. Mulla Sadra meyakini jika zat Tuhan dipahami sebagai wujud murni yang tak bercampur dengan apapun, maka tak bisa kita menarik satu konsep tertentu darinya. Karena jika kita bisa menarik satu sifat tertentu, konsekwensinya sifat-sifat tersebut sudah terpisah satu sama lain sehingga terjadi pembedaan, dan pembedaan ini tentunya akan meniscayakan bilangan dan huduts (kebaruan).

Oleh karenya Mulla Sadra meyakini bahwa zat Tuhan itu basith (sederhana). Maksudnya bahwa zat Tuhan tidak memiliki rangkapan sama sekali. Jadi semua sifat Tuhan satu sama lain tidak berbeda pada zat Tuhan karena peleburan sifat-sifat tersebut pada maqam zat. Oleh karenanya pada zat Tuhan dapat kita katakan ilmu-Nya adalah qudrah-Nya dan qudrah-Nya adalah ilmu-Nya, dan begitu juga dengan sifat-sifat zat lainnya.

Kesimpulan:
Penafian sifat-sifat kepada Tuhan tidak berlaku pada seluruh tingkatan. Penafian sifat ini hanya berlaku pada zat Tuhan. Oleh karenanya, penyifatan sifat-sifat kepada Tuhan pada maqam setelah zat, bukan pada maqam zat.

Penafian sifat-sifat pada zat Tuhan, bukan dalam pengertian bahwa zat Tuhan tidak memiliki sifat sama sekali. Namun seluruh sifat-sifat tersebut tenggelam dalam zat Tuhan sehingga antara satu sifat dan sifat yang lainnya identik satu sama lain. Semunya eksis dengan satu wujud Tuhan. Inilah yang dimaksudkan Sadra dengan kebashitan wujud Tuhan.

(Ikmal-Online/STI)

Dari Ghadir Sampai Asyura


Oleh: Ahmad Hafidz Alkaff, MA

Mungkin tak ada hari seindah hari itu, kala seratus ribu orang lebih datang silih barganti untuk membaiat Ali bin Abi Thalib, disaksikan oleh Sang Pemimpin Agung, Rasulullah Saw. Semua datang untuk memenuhi seruan Nabawi, “Man kuntu maulahu fa’aliyyun maulahu”, “Siapa yang menjadikan aku pemimpinnya maka Ali juga pemimpinnya”. Terasa lega di hati banyak orang yang mempertanyakan nasib Islam dan kepemimpinan umat Islam setelah kepergian Rasul Saw. Umat sudah menunaikan kewajiban yang semestinya mereka laksanakan. Masalah kepemimpinan sudah terselesaikan.

Itulah gambaran sederhana dari peristiwa Ghadir Khum yang terjadi pada tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah. Di balik peristiwa Ghadir Khum dan pengangkatan Ali (as) secara resmi sebagai penerus dan ‘calon’ pengganti kepemimpinan Rasulullah ada banyak hakikat yang mesti dicermati.

Pertama, Ghadir menunjukkan pentingnya masalah pemerintahan dan kepemimpinan untuk membimbing umat dan menghadiahkan kesejahteraan di bawah naungan ajaran Ilahi. Dengan menyebut Ali sebagai maula untuk umat Islam berarti Nabi Saw telah menyadarkan mereka bahwa masyarakat tidak mungkin bisa hidup tanpa pemimpin. Kepemimpinan bagi sebuah masyarakat ibarat kepala bagi tubuh. Bahkan, dalam sejumlah riwayat disebutkan jika harus memilih memiliki pemimpin yang bejad atau tidak memiliki pemimpin maka alternatif pertamalah yang mesti dipilih.

Kedua, dengan diangkatnya Ali oleh Rasul Saw sebagai pemimpin umat atas perintah Allah berarti Islam telah menggariskan ketentuan syarat yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin. Tanpa syarat-syarat itu, orang tidak layak duduk sebagai pemimpin umat, apalagi menyandang gelar penerus misi risalah. Keimanan, ketaqwaan, keberanian, ilmu yang dalam, kearifan, keadilan, kejujuran, dan sederet sifat-sifat mulia lain yang ada pada diri Ali adalah sifat-sifat dan karakter yang mesi dimiliki oleh seorang pemimpin bagi masyarakat Muslim.

Ketiga, pengangkatan Ali sebagai pemimpin oleh Nabi Saw di Ghadir Khum menunjukkan bahwa masalah kepemimpinan, pemerintahan, dan kekuasaan tak terpisahkan dari masalah agama. Dengan kata lain, Islam menolak sekularisme dan pemikiran yang memisahkan politik, sosial dan pemerintahan dari agama. Islam bukan agama yang hanya berurusan dengan hubungan manusia dengan Tuhan di sudut mihrab. Dalam Islam, ada serangkaian hukum seperti jihad, qisas, rajam dan lainnya yang tak mungkin dilaksanakan kecuali oleh tangan penguasa. Karena itu, penguasa dalam Islam harus memiliki sederet sifat yang menunjukkan jatidiri keislaman yang sesungguhnya.

Keempat, antusiasme umat untuk membaiat Ali (as) di Ghadir Khum dan menyambut seruan Nabi Saw dengan sepenuh jiwa adalah sebuah kondisi umum kaum muslimin. Sebab, hal itu merupakan bukti keislaman dan kepatuhan mereka kepada agama ini. Mereka cenderung menaati ajaran agama yang sudah mereka terima. Akan tetapi, kondisi ini terkadang redup, terkubur dan tak nampak saat ada suara nyaring yang menggiring ke arah lain. Walaupun, tentunya suara senyaring apapun jika bertentangan dengan apa yang dipandang sebagai inti dari agama, seperti tauhid dan risalah, tak akan pernah didengar.

Tentunya masih banyak hal lain yang bisa dicermati dari balik peristiwa Ghadir Khum. Para sahabat tentunya masih ingat senyum indah yang tersungging di bibir suci beliau kala menyaksikan mereka berbaiat kepada Ali (as). Walaupun dalam hati, beliau sedih karena mengetahui kelak umat akan menyia-nyiakan pemimpin yang telah dipersiapkan ini. Ketika terdengar suara sumbang yang sangat nyaring, umat seakan melupakan bahwa mereka pernah berbaiat kepada Sang Haidar, penakluk benteng Khaibar. Seakan suara Rasul di Ghadir yang memanggil mereka redup di tengah bisingnya suara sumbang, dan Ali-pun dicampakkan.

Berpuluh tahun berlalu, hingga tiba masa ketika suara sumbang itu tak lagi nyaring. Umat tergugah untuk melaksanakan dan kembali kepada apa yang diajarkan oleh Nabi Saw. Itu terjadi saat Muawiyah bin Abi Sufyan menyeru kaum muslimin untuk berbaiat kepada anaknya yang bernama Yazid. Umat sadar, bahwa mereka memerlukan pemimpin. Tapi sosok yang ditawarkan bukanlah pemimpin yang bisa diikuti. Mereka sadar, bahwa khalifah umat Islam harus menghiasi diri dengan ajaran Islam, dan Yazid bukan orangnya. Mereka sadar, bahwa masalah kepemimpinan dan kekuasaan tak bisa dipisahkan dari agama.

Kelompok demi kelompok mengirimkan surat dan kurir kepada Abu Abdillah al-Husain (as) yang berisi pernyataan janji setia jika sang Imam bersedia memimpin mereka. Ribuan surat diterima oleh Imam Husein hanya dalam waktu yang singkat. Beliau lantas mengirim utusannya, Muslim bin Aqil untuk melihat kondisi di Kufah. Antusiasme besar dari masyarakat untuk berbaiat kepada utusan al-Husain menjadi pemandangan yang sangat indah. Ada kemiripan dengan pemandangan yang terjadi di Ghadir Khum 18 Dhulhijjah tahun 10 Hijriyah. Muslim melaporkan apa yang disaksikannya. Imam pun lantas membulatkan tekad untuk menjadikan Kufah sebagai pusat kegiatannya menegakkan kembali ajaran Nabi Saw.

Namun, ketulusan dan keinginan untuk kembali ke jalan Islam yang sesungguhnya terhalang oleh munculnya suara sumbang yang sangat nyaring. Suara Ibnu Ziyad yang beraroma pedang dan darah telah menghalangi kembalinya kekuasaan dan kepemimpinan atas umat ini kepada yang berhak. Dan untuk menyelamatkan agama ini, al-Husain, Sang Pelita Hidayah rela mengorbankan jiwanya.

(Ikmal-Online/STI)

Perayaan Asyura di Mancanegara


Oleh: Fajruddin Mukhtar

Tanggal 10 Muharram menjadi puncak dari perayaan muharram untuk memperingati syahadahnya Imam Husein as beserta para keluarga dan sahabatnya. Para pencinta ahlu bait Nabi di berbagai tempat di Manca Negara melakukan berbagai cara untuk memperingati hari yang sangat penting ini.

Di Iran, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor berita IRNA, Perayaan Asyura ini juga disandingkan dengan Hari Perlawanan terhadap Imperialisme Global, yang jatuh pada tanggal 13 Aban [bertepatan dengan 4 November]. Perayaan tahun ini selain diisi renungan perjuangan Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya, dilanjutkan pula dengan demonstrasi anti Amerika dan Israel di depan bangunan bekas kedutaan besar AS di Tehran.

Dalam peristiwa sejarah Iran, tanggal 13 Aban (4 November) memiliki makna tersendiri . Pada hari tersebut para mahasiswa Iran menduduki kedutaan besar AS di Tehran yang telah berubah fungsi menjadi markas spionase dan propaganda anti-Revolusi Islam Iran.

Di London Ummat Islam juga memperingati hari yang sangat penting dan bersejarah ini. Hawzah News Agency melaporkan bahwa para pencinta Al Husein as sudah berkumpul di Islamic Center London. Peringatan Asyura ini dimulai dengan shalat Dzhuhur yang diimami oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Dr. Syumali yang merupakan Ketua dari Islamic Center London.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan Tausiyah, pembacaan maqtal huseini dan ziarah Asyura. Dalam tausiahnya, Dr. Syumali mengingatkan akan pelajaran-pelajaran dan tujuan-tujuan penting perjuangan Imam Husein as.

Dr. Syumali mengatakan bahwa tujuan perjuangan agung Al Husein adalah menjaga kesucian Al Qur’an agama dan menegakan amar makruf nahi munkar. Dr. Syumali juga menekankan arti penting mengikuti perjuangan Imam Husein as. Di masa seperti ini.

Al Ghadeer Channel melaporkan juga kegiatan-kegiatan Asyura yang dilaksanakan di beberapa Negara Eropa seperti Prancis, Belgia, ukraina dan Spanyol. Dikabarkan bahwa perayaan asyura diisi dengan pembacaan maqtal huseini dan ditutup dengan ziarah asyura.

Sementara di beberapa Negara perayaan Asyura berjalan aman, di Irak justru perayaan Asyura bersimbah darah. Sebuah bom meletus di tengah tengah peziarah huseini. Letusan bom ini mengakibatkan syahidnya 39 orang peziarah.

Diperkirakan sekitar dua juta orang berkumpul di Karbala, tempat makam Imam Hussein, cucu Nabi Muhammad, yang tewas di tangan tentara Yazid pada 680 AD, di puncak perpecahan agama Islam.

Peristiwa pemboman ini terjadi di saat puluhan ribu peziarah memasuki kota Karbala untuk merayakan puncak ritual Asyura. Pelaku bom bunuh diri beraksi di kawasan berpenduduk mayoritas Syiah di provinsi Diyala, sebelah utara Baghdad. Kejadian ini adalah serangan ketiga dengan sasaran umat Syiah sepanjang hari asyura ini.

Sebelumnya, sebuah serangan bom terjadi di kota Hafriyah, sebelah selatan Baghdad, yang menewaskan sembilan orang. Di Kikruk yang merupakan konsentrasi kaum syiah dan merupakan kota minyak dua buah bom meledak dan mencederai lima orang peziarah.

Di Pakistan sebuah bom juga meledak di arena Asyura. Peristiwa itu mengakibatkan 7 orang meninggal dunia, beberapa di antaranya adalah anak-anak. Sumber kepolisian Distrik Banun Syuranj di kawasan Ismail Khan mengatakan bahwa bom diletakan persis di tempat lewat rombongan peziarah Asyura.

Sementara itu dilaporkan oleh Al Alam, bahwa telah terjadi pemboman di wilayah Bobby Utara< Nigeria. Kejadian ini telah menyebabkan 23 orang syahid dan lebih dari 50 orang terluka parah. Saksi mata mengatakan bahwa para penyerang bom ini menjadikan orang-orang yang sedang shalat dan mengikuti kegiatan Asyura sebagai targetnya.

(Ikmal-Online/STI)