Minggu, 03 Januari 2016

Rahbar: Mengapa Iran Bela Bahrain? Berikut Ulasannya


Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei seperti biasanya selalu berbicara depan masyarakat Iran di Komplek Suci Imam Ali Al Ridho as, Mashad pada setiap awal tahun hijriah syamsiah yang juga diistilahkan Hari Raya Nouruz. Pada awal tahun baru 1390 HS, Rahbar hari Senin (21/3) berpidato di hadapan ribuan peziarah Imam Ali Al-Ridha as yang juga Imam Kedelapan dari Ahlul Bait as. Dalam pidatonya, Rahbar menyatakan tahun 1390 HS sebagai Tahun Jihad Ekonomi dan menegaskan berlanjutnya kekalahan-kekalahan AS di kawasan.

Rahbar memulai pidatonya dengan mengucapkan selamat tahun baru Nouruz bagi bangsa Iran dan bangsa-bangsa yang merayakannya. Setelah itu, Rahbar menyinggung keberhasilan-keberhasilan bangsa Iran pada tahun 1389 HS di bawah slogan "Tekad Ekstra dan Upaya Ekstra." Rahbar dalam pidatonya menyinggung langkah-langkah yang sudah ditempuh pada tahun 1389 HS seperti sains dan teknologi, subsidi terarah, sikap tegas dan cerdas dalam mereaksi sanksi Barat.

Dalam bagian pidatonya, Rahbar juga menekankan persatuan para pejabat Republik Islam Iran.

Dikatakannya, "Ini adalah skenario besar musuh untuk menciptakan perpecahan internal. Mereka tengah menempuh berbagai cara dengan alasan suku, madzhab, kecenderungan politik dan lain-lain." Kemudian Rahbar menambahkan, "Beruntung sekali bahwa bangsa Iran sadar, dan bahkan semua pihak menunjukkan kecintaan mereka atas sistem demokrasi agama yang menjadi kebanggaan bangsa Iran, saat ini. Untuk itu, semua elemen bangsa harus bersatu dan solid."

Rahbar juga menasehati para pejabat supaya tidak menyampaikan keluhannya kepada masyarakat umum, meskipun keluhan itu benar. Menurut Rahbar, menyampaikan keluhan di hadapan masyarakat dapat menghantam persatuan bangsa.

"Saya memperingatkan masalah ini dengan serius, kepada para pejabat negara, " tegas Rahbar.
Lebih lanjut Rahbar juga menyinggung perkembangan terbaru di kawasan. Dikatakannya, perkembangan terbaru di kawasan seperti Mesir, Tunisia, Libya, Bahrain merupakan masalah penting di dunia Arab dan Islam yang menunjukkan kebangkitan Islam. Rahbar mengatakan, ada dua unsur mendasar dalam perkembangan terbaru di kawasan. Kedua unsur itu adalah partisipasi fisik masyarakat dan gerakan ke arah agama. Rahbar menambahkan, "Partisipasi fisik masyarakat di kancah adalah peristiwa yang pernah terjadi pada Revolusi Islam Iran. Sementara itu, partai-partai dan para analis tidak dapat melakukan apapun."

"Kemuliaan dan kehormatanlah yang menyebabkan masyarakat Mesir, Tunisia dan negara-negara lain turun ke jalan -jalan. Sebab, harga diri mereka dilukai tangan-tangan rezim lalim, " jelas Rahbar.

Rahbar menyinggung langkah-langkah diktator Hosni Mubarak yang bersedia menyertai Rezim Zionis Israel dalam memblokade Jalur Gaza. Dikatakannya, "Masyarakat Mesir terluka ketika menyaksikan presiden mereka mewaliki Zionis Israel melakukan kriminalitas yang terburuk."

Rahbar mengatakan, kebangkitan Islam di kawasan akan membuahkan hasil karena itu adalah janji ilahi. Kemudian Rahbar juga menyebut AS sebagai pihak hipokrit yang sebenarnya.

Menyingggung agresi Barat ke Libya, Rahbar mengatakan, "AS dan Barat mengklaim sebagai pendukung warga dan memasuki Libya dengan menggelar operasi militer. Pada kenyataannya, klaim semacam ini sama sekali tak dapat diterima. Jika benar-benar merasa kasihan, mereka tidak membiarkan masyarakat Libya yang dibombardir dalam sebulan terakhir ini. Sekarang, mereka ingin melibatkan diri. AS dan Barat bukan membela masyarakat Libya, tapi mencari minyak di negara ini."

Rahbar juga menyinggung gejolak di Bahrain dan menyebutnya sebagai peristiwa yang sama seperti gejolak di negara-negara kawasan. Dikatakannya, "Masalah Bahrain tidak berbeda dengan masalah Mesir, Tunisia dan Libya. Sebab, masyarakat di Bahrain juga mengalami perlakuan pemerintah yang tak menghiraukan hak-hak mereka."

"Tuntutan mereka hanyalah menggelar pemilu yang setiap satu suara sama dengan satu orang. Apakah ini tuntutan yang berlebihan?!! " jelas Rahbar.

Rahbar juga menjelaskan, Barat menggunakan kesempatan di Bahrain sebagai isu Sunni dan Syiah. Dikatakannya, "Karena Syiah, masyarakat Bahrain tak patut dibela dan didukung. Televisi-televisi yang menyiarkan detail peristiwa di kawasan, namun tak memberitakan pembantaian massal di Bahrain."

"Sejumlah politisi dan kolomnis di negara-negara Teluk Persia mengeluarkan pernyataan-pernyataan kosong dan menganggap masalah Bahrain sebagai masalah Sunni-Syiah. Padahal masalahnya bukanlah demikian. Masalahnya adalah aksi protes sebuah bangsa atas kezaliman yang ada. Masalah Bahraian tidak berbeda dengan masalah Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman, " jelas Rahbar.

Rahbar menambahkan, "Mengapa bangsa Iran membela bangsa Bahrain? Bangsa Iran membela semua bangsa yang tertindas. Kami selama 32 tahun mendukung bangsa Palestina. Adakah negara yang membela bangsa Palestina seperti Iran?!! Apakah bangsa Palestina bermadzhab Syiah?!! Terkait Gaza, masyarakat Iran benar-benar berusaha keras membantu bangsa tertindas Gaza. Bahkan para pemuda Iran mendatangi bandara supaya diberangkatkan ke Gaza dan berperang terhadap Israel. Masyarakat Iran menunjukkan solidaritas yang luar biasa kepada Gaza, Palestina, Tunisia dan Mesir. Padahal mereka bukan Syiah. Ini bukan masalah Sunni dan Syiah. Akan tetapi AS dan Barat berupaya mengangkat masalah Bahrain sebagai isu Sunni-Syiah."

Di penghujung pidatonya, Rahbar menyatakan bahwa intervensi militer Arab Saudi terhadap Bahrain adalah langkah keliru. Dikatakannya, "Langkah ini menyebabkan Arab Saudi dibenci masyarakat dunia."

Lebih lanjut Rahbar menjelaskan,"Jika AS dibenci masyarakat di kawasan, maka itu tidaklah terlalu penting karena jarak AS yang sangat jauh dengan kawasan. Akan tetapi jika Arab Saudi dibenci di masyarakat kawasan, maka itu adalah kerugian yang besar. Untuk itu, Arab Saudi telah melakukan kesalahan dan negara manapun yang melakukan langkah ini juga akan dihadapkan pada kekeliruan yang sama."

(IRIB-Indonesia/andikfn/ABNS)

0 komentar: