Tampilkan postingan dengan label ABNS TARBIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ABNS TARBIYAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2016

Ayatullah Gorgani: Wujud Imam Zaman afs, Manifestasi Kuasa Ilahi


Imam Baqir as mengatakan “maksud dari bintang yang tersembunyi dan terbenam ialah wujud suci Imam Zaman afs, dimana para manusia menjadi bingung karena tersembunyinya Imam Mahdi afs.

Shabestan News Agency, dilansir dari Masjid Jamkaran, dalam sebuah acara yang dilangsungkan kemarin di Masjid Jamkaran, Ayatullah Muhammad Ali Alawi Gorgani, menjelaskan bahwa Imam Makshum as selalu menekankan bahwa “Imam Zaman afs akan menyelamatkan manusia dari kebingungan dan kebimbangan.

Dengan begitu sudah semestinya di zaman sekarang ini, untuk menyelamatkan umat manusia dari kebingungan dan kebimbangan, kita melakukan kegiatan-kegiatan dakwah, kebudayaan dan mengenalkan Imam Zaman afs kepada mereka semua, sehingga mereka bisa semakin dekat dengan Imam Zaman afs, jelas Ayatullah Gorgani.

Marja’ taklid Syi’ah ini menambahkan, dalam Al-Qur’an surat At-Takwir ayat 15-16 disebutkan “Aku bersumpah demi bintang-bintang, yang beredar dan terbenam. Dalam menjelaskan ayat ini Imam Baqir as mengatakan “maksud dari bintang yang tersembunyi dan terbenam ialah wujud suci Imam Zaman afs, dimana para manusia menjadi bingung karena tersembunyinya Imam Mahdi afs.

Dalam sebuah haditsnya, Imam Hasan Mujtaba as bersabda “keturunan kesembilan dari saudaraku Al-Husain as, setelah mengalami gaib yang sangat panjang ia akan muncul dengan wujud zahir yang masih muda, yang kira-kira belum mencapai 40 tahun.”

Awet muda seseorang yang sudah berusia ribuan tahun merupakan salah satu kuasa Allah swt, yang jika Dia menghendaki maka terjadilah, ujar Ayatullah Gorgani.

Pada sebagian doa pembuka ziarah disebutkan bahwa wujud Imam Zaman afs merupakan manifestasi dari kuasa Ilahi, yakni pada hakikatnya Allah swt ingin menunjukan kuasanya pada wujud suci Imam Mahdi afs, pungkas Ayatullah Alawi Gorgani.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Mengenalkan Budaya Intizhar Kepada Masyarakat


Mengenai peringatan 9 Rabi’ul Awal yang merupakan hari dimulainya Imamah Imam Zaman afs harus dijadikan salah satu hari raya mazhab Syi’ah. Karena yang pertama kali merasa bahagia ialah Imam Zaman afs.

Shabestan News Agency, menjelang 9 Rabi’ul Awal yang merupakan peringatan dimulainya Imamah Imam Zaman afs, sejumlah petinggi lembaga kebudayaan Imam Mahdi Maw’ud afs bertemu dengan Ayatullah Shafi Golpaigani.

Dalam pertemuan ini Ayatullah Shafi mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras dan kegiatan-kegiatan lembaga ini, beliau mengatakan bahwa para panggung jawab “dalam setiap melakukan kegiatan yang berhubungan dengan Imam Mahdi afs harus selalu perhatian terhadap Imam afs, karena Imam afs juga akan semakin memberikan perhatiannya.

Marja taklid Syi’ah ini juga menekankan, dan mengenai peringatan 9 Rabi’ul Awal yang merupakan hari dimulainya Imamah Imam Zaman afs harus dijadikan salah satu hari raya mazhab Syi’ah. Karena yang pertama kali merasa bahagia ialah Imam Zaman afs.

Saat ini Imam dalam keadaan hidup dan ada di tengah-tengah kita, oleh karenanya kita harus selalu mengenalkan budaya Intizhar kepada orang-orang, jelas Ayatullah Shafi Golpaigani.

“kita harus berusaha keras supaya seluruh lapisan masyarakat kita lebih mengenal maqam dan kedudukan Imam Mahdi as,” ungkap Ayatullah Shafi.

Ayatullah Shafi lebih lanjut menyampaikan, musuh Islam selalu melakukan konspirasi untuk melunturkan keyakinan masyarakat terhadap Imam Mahdi as. Untuk itu, seberapa pun langkah yang telah kita ambil dalam bidang ini, masih saja ada langkah-langkah baru yang harus dijalani.

“Kita harus menjelaskan etika mahdawi kepada seluruh lapisan masyarakat luas sehingga etika para pengikut Syiah sejalan dengan pemimpin mereka,” ujarnya.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Menyelamatkan Orang Yang Teraniaya, Semangat Spiritual akan Muncul


Munculnya Imam Zaman afs bukan hanya untuk menyelamatkan perorangan saja, namun untuk menyelamatkan semua umat manusia.

Salah seorang anggota penelitian ilmu-ilmu dan budaya Islam, Hujjatul Islam Rahim Kargar dalam sebuah Channel Telegramnya menulis tentang “kajian dan analisa akhir zaman dan tanda-tanda kemunculan Imam Zaman afs”.

Keinginan merasakan masyarakat yang dijanjikan serta bersama Imam Zaman afs, otomatis akan menimbulkan antusiasme tersendiri, namun keinginan dan permintaan ini harus disertai dengan kenyataan dan realita. Keinginan munculnya Imam Zaman afs bukan hanya untuk menyelamatkan perorangan saja, namun menyelamatkan dalam harapan Mahdawi adalah menyelamatkan semua umat manusia.

Ini berarti keselamatan untuk seluruh umat manusia dari beban penderitaan, ketidak mampuan, penindasan dan ketidak adilan. Dan disaat kita mengatakan bahwa kita harus merindukan dan memiliki semangat spiritual.

Di samping kita memiliki kesedihan dan kegundahan, kita juga harus merasakan penderitaan orang-orang yang tertindas, yakni pola pandangan kita harus pandangan yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, karena kita juga harus merasakan perasaan orang-orang selain kita, yang mereka tertindas dan teraniaya.

Dan kita juga harus berusaha dalam setiap doa yang kita lakukan bersama, dan semoga dalam setiap doa yang kita sampaikan mengena kemunculan Imam Zaman afs, semoga kemunculan beliau afs semakin dipercepat, karena akhir segala permasalahan ini akan terwujud dengan kemunculan Imam Zaman afs, namun yang terpenting ialah di samping semangat dan antusias, kita juga harus bergerak, yakni berusaha untuk menyingkirkan kezhaliman dan menyelamatkan orang-orang yang tertindas.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Saat Kebangkitan Dimulai, Taubat Orang-orang Berdosa Tidak Akan Diterima


Orang-orang yang sampai dimulainya kebangkitan Imam Mahdi afs namun belum juga beriman, keimanan mereka tidak akan ada artinya sama sekali.

Salah seorang pakar dalam pembahasan Mahdawi, Hujjatul Islam Khodamurad Sulaimian dalam bukunya “Peran masyarakat dalam revolsui global Imam Mahdi afs” beliau menulis :
Selain yang disebutkan dalam riwayat mengenai kemunculan Imam Zaman afs, seperti dibangkitkannya kembali Rasulullah saww, selain itu yang bisa disebutkan ialah bahwa Imam afs sebelum mengungkapkan kebangkitannya yang meliputi seluruh dunia, beliau afs akan menyampaikan pesannya untuk bangkit menghadapi musuh-musuh dan menyelesaikan hujjahnya kepada mereka semua.

Dalam riwayat lainnya juga disebutkan bahwa orang-orang yang sampai dimulainya kebangkitan Imam Mahdi afs namun belum juga beriman kepadanya, meskipun mereka telah beriman bersamaan dengan dimulainya kebangkitan Imam Zaman afs maka keimanan mereka tidak akan ada artinya sama sekali.

Maka jelaslah bahwa jika yang dimaksud dengan kebangkitan adalah kemunculan Imam Zaman afs, maka riwayat tersebut bermakna kapanpun Imam Mahdi afs itu muncul, maka iman seseorang yang sebelumnya belum beriman tidak akan diterima, karena setelah itu Imam Zaman afs akan melakukan kebangkitan dan revolusi global.

Pandangan Penulis
1. meskipun sebagian riwayat dan ucapan para ulama menyatakan tentang berbarengannya antara kemunculan dengan kebangkitan Imam Zaman afs, namun sebagian riwayat juga menyatakan bahwa kebangkitan terjadi setelah kemunculan Imam afs.
2. pernyataan yang membedakan antara kemunculan dan kebangkitan, lebih sesuai dengan ajaran-ajaran agama dan kalam Ahlul Bayt as, karena menganggap satu antara kedua hal ini maka akan bermakna bahwa seketika Imam afs muncul maka saat itu juga akan memulai kebangkitan globalnya, dan jika melihat pada kebangkitan agung ini maka perlu pada persiapan yang matang, di antaranya ialah orang-orang harus menerima Imam afs tanpa takut akan pedang.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Ziarah, Kesamaan Antara Syi’ah dan Ahlusunnah


Masalah ziarah ini bukan hanya budaya milik Syi’ah saja, karena banyak riwayat baik dalam Syi’ah maupun Ahlusunnah yang membahas tentang ziarah ke makam Rasulullah saww, Imam Makshum as dan begitu juga orang-orang mukmin.

Shabestan News Agency, beberapa hari terakhir pasca serangan teroris di Hillah Iraq yang menewaskan dan melukai puluhan orang peziarah Karbala, menyebabkan banyak yang mempertanyakan, khususnya di media sosial tentang syubhat-syubhat yang masuk ke dalam dasar ziarah Imam Husain as.

Mengenai hal ini, Hujjatul Islam Najmuddin Thabasi menjelaskan bahwa terdapat banyak riwayat yang dinukil dari Imam Makshum as mengenai ziarah. Namun masalah ziarah ini bukan hanya budaya milik Syi’ah saja, karena banyak riwayat baik dalam Syi’ah maupun Ahlusunnah yang membahas tentang ziarah ke makam Rasulullah saww, Imam Makshum as dan begitu juga orang-orang mukmin.

Kira-kira sebanyak 600 riwayat yang dinukil di kitab Wasa’il As-Syi’ah, dan sebanyak 400 riwayat yang dinukil di kitab Mustadrak Al-Wasa’il yang membahas tentang ziarah, namun meski demikian yang harus digaris bawahi adalah bahwa budaya ziarah bukan hanya khusus milik Syi’ah saja, karena Ahlusunnah juga meyakini hal ini, sebagaimana dalam kitab-kitab fiqih mereka dalam pembahasan haji dianjurkan untuk menziarahi makam Rasulullah saww dan para Imam di Baqi’.

Hujjatul Islam Thabasi lebih lanjut menyampaikan, dalam kitab “Al-Ikhtiyar Lita’lil Al-Mukhtar” yang ditulis oleh Abdullah Al-Moushuli Hanafi pada abad ke-7, dalam kitab tersebut disebutkan bahwa menziarahi makam Rasulullah saww adalah sunnah yang luar biasa, dan bahkan bisa dikatakan wajib.

Dalam kitab tersebut juga disunahkan untuk menziarahi pekuburan baqi’, khususnya makam Hamzah, Imam Hasan as, Imam Zainal Abidin as, Imam Baqir as, Imam Shadiq as dan makam-makam istri-istri dan sahabat-sahabat Rasulullah saww.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)