Minggu, 10 Juli 2016

Aneh! MENURUT WAHABI – KULIAH ADALAH KEGIATAN YG MELANGGAR HUKUM ALLAH SWT. MENURUT WAHABI – KULIAH ADALAH PERBUATAN SYIRIK. MENURUT WAHABI – KULIAH ADALAH KEGIATAN MAKSIAT. MENURUT WAHABI – JIKA ANDA KULIAH, BERARTI ANDA ADALAH ORANG YANG ZHALIM


Postingan kali ini lagi-lagi saya copaskan LANGSUNG DARI BLOG WAHABI, . . dan jika anda ingin langsung membacanya dari SUMBERNYA silahkan klick LINK SUMBERNYA DI BAWAH .

Kalau ingin membaca langsung maka di bawah ini adalah Copasannya, selamat membaca , memahami, dan meneliti :
_________________________________________

Wasiat untuk Maksiat
Posted on 05/03/12 |

INGIN KULIAH karena IKUTI WASIAT BUNDA DAN AYAH
Ditulis oleh:
Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory
–semoga Allah mengampuni dosa-dosanya-

ADA SESEORANG BERTANYA:

بسم الله الرحمن الرحيم

Bagaimana kalau Ibukita sebelum meninggal dunia berwasiat agar saya kuliah!

Dan saudara-saudariku mengingkinkan pula agar saya kuliah, begitu pula paman-paman dan bibi-bibiku mengingkan agar saya kuliah. Dan saya berkeinginan untuk kuliah dengan mengambil jurusan elektro atau computer supaya saya memiliki ketrampilan!. Dari Hisyam Al-Limbory (081344xxxxxx).

KEMUDIAN DI JAWAB OLEH MEREKA (WAHABI) :

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الملك الجبار، الواحد القهار، وأشهد أن لاإله إلاالله وحده لاشريك له، رب السموات والأرض ومابينهما العزيز الغفار، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله المصطفى المختار، صلى الله عليه وعلى آله وصحبه الأخيار. أما بعد:

Mentaati kedua orang tua adalah suatu kewajiban bagi setiap muslim, tentunya setelah mentaati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, Allah Ta’ala berkata:

 ﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا﴾[الإسراء: 23] 

“Dan Robbmu telah memerintahkan supaya kalian jangan beribadah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya, jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam tanggung jawabmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya: “’Uf” (cih) dan janganlah kamu membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia”. (Al-Isra: 23).

Bila kedua orang tua memerintahkan untuk berbuat kemaksiatan atau memerintahkan untuk menempuh jalan yang menjurus kepada kemaksiatan maka perintah tersebut tidak boleh ditaati, karena Allah Ta’ala berkata:

 ﴿وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا﴾[لقمان: 15] 

“Dan jika kedua (orang tuamu) memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentang itu, maka janganlah kamu mentaati (mengikuti) keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang baik”. (Luqman: 15).

Berbuat syirik adalah termasuk dari kezhaliman dan kemaksiatan yang paling besar, sebagaimana Allah Ta’ala katakan:

 ﴿إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾[لقمان: 13] 

“Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang besar”. (Luqman: 13). Dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan untuk tidak mentaati siapa saja yang memerintahkan untuk berbuat maksiat; baik itu maksiat berupa kesyirikan ataupun kebid’ahan, Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

 «لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ». 

“Tidak ada ketaatan dalam memaksiati Allah, hanyalah ketaatan itu dalam kebaikan”. (HR. Muslim, Abu Dawud dan At-Tirmidzy dari hadits ‘Ali bin Abi Thalib).

Adapun wasiat Ibu penanya -semoga Allah merahmatinya- adalah wasiat sebatas pengetahuannya, karena dia hanya mempertimbangkan dari sisi dunia saja dan dia -semoga Allah merahmatinya- tidak melihat perkara masa depan yang panjang (akhirat), padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

 «كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ» 

“Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan orang asing atau orang yang melakukan perjalanan (safar)”. (HR. Al-Imam Ahmad, Al-Bukhary dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Umar). Orang asing atau yang menempuh perjalanan menuju negri tujuannya tentu bercita-cita untuk selamat sampai tujuannya, oleh karena itu hendaknya dia mempersiapkan bekal, Allah Ta’ala berkata:

 ﴿وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ﴾[البقرة: 197] 

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. (Al-Baqarah: 197).

Bila seseorang sudah membekali dirinya dengan bekal taqwa maka ketika melewati jalan-jalan menuju tempat tujuannya dengan pernuh waspada dan kehati-hatian, jangan sampai dia terhenti di tengah jalan atau dia salah jalan yang kemudian dia terjatuh ke dalam jurang kebinasaan.

Bila seseorang menempuh perjalanan dengan tidak dibekali dengan bekal taqwa maka ketika melewati suatu perkumpulan orang-orang yang sedang berikhtilat (campur baur antara laki-laki dan prempuan) dia pun mampir dan ingin melihat ternyata ketika sudah berada di tengah-tengah perkumpulan tersebut dia pun asyik ikut menjadi penggemar ikhtilat dan berpaling dari tujuannya, sehingga dengan perbuatannya itu kemudian dia lupa dengan tujuan utamanya, ketika dia sudah lupa dengan tujuan utamanya, dia pun akhirnya dilupakan, Allah Ta’ala berkata:

 ﴿وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (124) قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آَيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126)﴾[طه: 124-126] 

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Dia berkatalah: “Ya Robbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Dia berkata: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan”. (Thaahaa: 124-126).

Ketika seseorang sudah mendapatkan pengajaran seperti itu, maka dia memperhatikan perjalanan safarnya, sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Aiyah bintu Hadiyinah –semoga Allah merahmatinya- kepada anak-anaknya: “Tujuilah cita-cita kalian dan perhatikanlah tujuan kalian serta jangan menoleh ke kiri dan ke kanan”. Sebelum memberikan kesimpulan terhadap permasalahan yang ditanyakan maka terlebih dahulu kita perlu mengetahui hukum mempelajari ilmu yang berkaitan dengan dunia.

Pada asalnya mempelajari ilmu dunia dalah boleh, sebagaimana Allah Ta’ala telah mengajari Adam ‘Alaihis Salam tentang semua nama-nama yang ada, termasuk nama-nama segala sesuatu yang ada di dunia ini, Allah Ta’ala berkata:

 ﴿وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا﴾ [البقرة: 31] 

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya”. (Al-Baqarah: 31), namun bila ada yang mempelajari ilmu dunia tersebut melalaikannya dari ilmu agama dan beribadah kepada Allah Ta’ala serta ilmu dunia tersebut bertolak belakang dengan ilmu agama atau mempelajarinya dengan cara melanggar hukum-hukum Allah Ta’ala seperti ikhtilat (campur baur dengan lawan jenis) atau bisa mempelajari ilmu dunia tersebut dengan cara menyogok maka dia tidak boleh mempelajarinya karena sebab yang telah disebutkan.

Merupakan suatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu dunia bisa diperoleh dengan cara selain kuliah, orang yang pernah kuliah tentu lebih tahu dengan permasalahan ini.

Ilmu dunia yang diperoleh di tempat kuliah hanya beberapa persen, adapun selain itu maka diperoleh di luar kuliah; adakalanya diperoleh dengan cara kursus, mengikuti privat, seminar, praktek atau belajar dengan para alumni.

Walaupun seseorang kuliah tentang ilmu dunia seperti kuliah pada jurusan komputer selama bertahun-tahun, tapi kalau dia tidak memiliki komputer maka apa yang dia pernah dapatkan di tempat kuliah akan hilang dengan cepat (lupa), begitu sebaliknya, kalau orang yang tidak kuliah akan tetapi dia memiliki komputer dan memiliki kemauan untuk belajar dengan orang yang bisa menggunakan komputer maka dengan izin Allah dia akan bisa dan memiliki ketrampilan, sungguh telah kami dapati kawan kami Abu Jauhar Adam bin Ahmad Al-Bandawy semoga Allah merahmatinya tidak pernah kuliah namun memiliki keahlian dalam masalah komputer; mulai dari masalah program komputer sampai pada masalah instal dan bahkan beliau mampu merancang dan membuat situs, orang yang pernah kuliah pun terkadang bertanya kepadanya tentang masalah komputer dan internet.

Begitu pula masalah yang berkaitan dengan ilmu dunia seperti kemiliteran, teknik dan teknologi hanya dengan bermodal mengikuti petunjuk Allah Ta’ala:

 ﴿فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾[النحل: 43] 

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang memiliki ilmu jika kalian tidak mengetahui” (An-Nahl: 43), dengan sebab menjalankan petunjuk Allah Ta’ala tersebut seseorang dalam waktu yang sangat singkat dengan izin Allah mampu memperolah pengetahuan tentang sesuatu yang berkaitan dengan dunia yang dia butuhkannya.

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa orang-orang yang memotivasi anak-anaknya untuk kuliah tidak lain dengan harapan supaya anak-anak mereka memperoleh ijazah, dengan ijazah itu nantinya bisa digunakan untuk mencari pekerjaan atau untuk mencalonkan dirinya sebagai pegawai negri atau anggota dewan.

Demi untuk mendapatkan ijazah atau mendapatkan pangkat dan kedudukan, mereka berani menerjang dan melanggar hukum-hukum Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berkata:

 ﴿وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة: 229] 

“Barang siapa melanggar batasan-batasan Allah maka mereka itu adalah orang-orang yang zhalim”. (Al-Baqarah: 229).

Allah Ta’ala juga berkata:

 ﴿وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ﴾[الطلاق: 1] 

“Demikian itulah batasan-batasan Allah, dan barang siapa yang melanggar batasan-batasan Allah maka sungguh dia telah menzhalimi dirinya sendiri”. (Ath-Thalaq: 1).

Permasalahan ini sebenarnya telah ada dalam tulisan “Jangan Bersedih, Jadikan Penderitaan Sebagai Pembersih” dan ada pula dalam buku “Harapan Pembimbing, Habis Gelap Terbitlah Terang”, namun sengaja kami singgung lagi pada kesempatan ini sebagai perwujudan dari perkataan Allah Ta’ala:

 ﴿وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ﴾ [الذاريات: 55] 

“Dan berilah peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat untuk orang-orang yang beriman”. (Adz-Dzariyat: 55).

Selesai dijawab oleh Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory pada hari Senin 2 Rabiuts Tsany 1433 Hijriyyah di Matras Indonesia, Depan Kediaman Asy-Syaikh Ahmad Al-Wushaby-Darul Hadits Salafiyyah Dammaj-Sho’dah-Yaman.

SUMBER POSTINGAN:
http://kebenaranhanya1.wordpress.com/2012/03/05/wasiat-untuk-maksiat/

(Salafy/Wahabi-News/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

0 komentar: