Minggu, 10 Juli 2016

KAUM GLOBALIS MENCIPTAKAN TERORISME ‘WAHABI-SALAFY’ UNTUK MENGHANCURKAN ISLAM


Mengikuti prinsip dialektika Hegel, kaum Globalis 1] menciptakan 2 kekuatan yang saling berlawanan : Demokratik Liberal yang diwakili Barat, versus Terorisme, yang diwakili Islam politis, untuk memaksa kita agar menerima pilihan akhir mereka, Tatanan Dunia Baru (New World Order). 2]

Barat dan Islam mempunyai masa penyesuaian yang panjang, namun sejarah ini telah ditolak demi memelihara mitos “Benturan Peradaban” (Clash of Civilizations). Dalam rangka mengobarkan sentimen Barat terhadap Islam, kita fokuskan perhatian kita pada hantu Wahabi fanatik, dan lebih spesifik, eksponen yang dikenal mempunyai nama buruk, Osamah bin Laden.

Bagaimana pun, sebagaimana diuraikan dalam artikel Peter Goodgame yang brilian,The Globalists and the Islamists, kaum Globalis mempunyai andil di dalam pembentukan dan pembiayaan seluruh organisasi teroris Abad 20, termasuk Mujahidin Afghanistan. Tetapi sejarah muka-dua (kemunafikan) mereka masih bisa kita lihat, pada abad 18, ketika Organisasi Rahasia Inggris (British Freemasons) menciptakan sekte Wahabi Saudi Arabia, untuk tujuan imperialistis mereka.

Agen Rahasia Inggris, Hempher, bertanggung-jawab atas pembentukkan ajaran ekstrim Wahabi, yang disebut-sebut di dalam Mir’at al-Haramain, tulisan seorang Turki bernama Ayyub Sabri Pasha antara 1933-1938. Kebijakan Inggris di dalam jajahan-jajahannya sering terlibat dalam penciptaan sekte-sekte sesat, dengan tujuan memecah-belah dan menaklukkan (to Divide and Conquer), sebagaimana kasus sekte Ahmadiyyah Qadiyyan di India pada abad 19.

Rincian konspirasi ini digambarkan dalam dokumen kecil yang sudah banyak diketahui :The Memoirs of Mr. Hempher 2b] yang dipublikasikan dengan berseri (dalam 7 bagian) di dalam surat kabar berbahasa Jerman, Spiegel, yang kemudian juga dipublikasikan surat kabar terkemuka Perancis. Seorang dokter Libanon menerjemahkan dokumen ini ke dalam bahasa Arab dan dari sini dokumen tersebut diterjemahkan ke bahasa Inggris dan berbagai bahasa.

Dokumen ini merupakan laporan pertanggung-jawaban tangan pertama, oleh Hempher dalam misinya untuk pemerintah Inggris, yang mengirimnya ke Timur Tengah untuk menemukan cara meruntuhkan Kesultanan Turki Utsmani (the Ottoman Empire).

Di antara cara-cara busuk pemerintah Inggris adalah mensponsori rasisme, nasionalisme, alkohol, perjudian, perzinahan, dan melucuti hijab perempuan-perempuan Muslim.

Namun strategi terpenting mereka adalah ajaran-ajaran anti bid’ah ke dalam pemikiran kaum Muslim dan kemudian mengkritik Islam untuk menjadi sebuah agama teror. Untuk tujuan ini, Hempher menempatkan secara khusus seorang tercela bernama Muhammad Ibn Abdul-Wahhab.

Untuk memahami jenis fanatisme yang ditanamkan Wahabisme, pertama-tama Anda perlu mengenal bahwa Islam (sejati) menyeru kepada seluruh kaum Muslim, dengan mengabaikan ras atau kebangsaan mereka, untuk melihat ke diri mereka sebagai saudara seiman dan membunuh Muslim lainnya secara tegas dilarang.

Bagaimana pun, sebagai bagian strategi Memecah-belah dan Menaklukkan (Devide & Conquer), pemerintah Inggris ingin mengadu-domba Muslim Arab dengan saudara Turki mereka. Satu-satunya cara untuk mewujudkannya adalah menemukan celah atau lasan dengan menggunakan hukum Islam sehingga orang-orang Arab (badui) ini dapat menyatakan bahwa orang-orang Turki telah menyimpang dari agama Islam.

Akhirnya, Muhammad bin Abdul-Wahhab dijadikan alat oleh pemerintah Inggris agar bisa menyatakan secara tidak langsung gagasan busuk ini kepada kaum Muslim Jazirah Arab ini.

Pada dasarnya, Ibn Abdul-Wahhab ini hanya menyusun gagasan sederhana dengan membid’ahkan tindakan-tindakan semisal berdoa kepada para awliya’ (kekasih Tuhan) dan mengkafirkan saudara-saudara seiman mereka, orang-orang Turki, sehingga dengan demikian orang-orang Arab badui – pengikut Ibn Abdul-Wahhab – ini dibolehkan secara hukum untuk membunuh/memerangi siapa saja (termasuk orang-orang Turki) yang menolak gagasan pembaharuan mereka dan memperbudak wanita-wanita serta anak-anak mereka. Gagasan Ibn Abdul-Wahhab ini berlaku untuk siapa pun di dunia ini, kecuali mereka yang bersedia menerima gagasan Wahabi yang telah jauh menyimpang ini.

Tentu saja Gerakan Wahabi ini tidak berarti apa-apa tanpa bantuan dari keluarga Saudi, yang meskipun menyatakan sebaliknya, sebenarnya mereka adalah keturunan para pedagang Yahudi (Jewish merchants) dari Irak.

Para ahli hukum dari Ahlus-Sunnah wal Jamaah pada masa itu mencap kaum Wahabi telah menyimpang dan mengutuk fanatisme dan ketidaktoleranan mereka. Meskipun demikian, kaum Wahabi justru memperlihatkan kejijikan mereka – karena menganggap diri merekalah yang sebenarnya beriman – tanpa pandang bulu membantai kaum Muslim dan non-Muslim.

Kemudian kaum Wahabi menghancurkan semua makam-makam dan tanah suci kaum Muslim. Mereka mencuri harta benda peninggalan Nabi (saw), termasuk kitab-kitab berharga, karya-karya seni dan barang-barang berharga yang tak terkira banyaknya lalu mengirimnya ke kota. Kitab-kitab kuno berharga yang ditulis di atas kulit, dijadikan sandal oleh Wahabi-wahabi kriminal ini.

Kesultanan Turki Utsmani ini berhasil mematahkan pemberontakan Wahabi yang pertama, namun sekte Wahabi ini dibangkitkan kembali di bawah kepemimpinan Saudi Faysal I. Gerakan ini kemudian dipulihkan kembali sampai sekali lagi dibinasakan pada ujung abad 19.

Setelah Perang Dunia I, wilayah-wilayah kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani dipecah-pecah menjadi rezim-rezim boneka. 3]

Karena membantu pemerintah Inggeris (pihak Barat) dalam mengikis-habis kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani, Ibn Saud dihadiahi dengan mendirikan Kerajaan Saudi Arabia (the Kingdom of Saudi Arabia) pada 1932.

Setahun kemudian, pada 1933, keluarga Saudi memberikan konsesi minyak kepada California Arabian Standard Oil Company (Casoc), yang merupakan afiliasi perusahaan minyak Standard Oil of California (Socal, sekarang Chevron), yang dikepalai oleh agen Rothschild, dan Rockefeller, yang semuanya adalah kerjasama perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat. 4]

Sejak itu, Kerajaan Saudi Arabia telah menjadi sekutu paling utama Barat di Timur Tengah, tidak hanya siap menyediakan akses cadangan minyak yang berlimpah, tetapi juga melunakkan agresi Arab terhadap Israel.

Berkaitan dengan kemunafikan nyata rezim ini (Saudi), adalah perlu menindas secara brutal orang-orang yang berbeda paham dengan mereka. Aspek-aspek penting lainnya adalah MELARANG KERAS para ulama membicarakan POLITIK, agar dengan demikian tak seorang pun bisa mengkritik rezim ini.

Di dalam buku The Two Faces of Islam, Stephen Schwartz menulis, “Mereka (para pangeran dan raja Saud) senang mengunjungi kedai-kedai minuman (keras), tempat judi (casino), rumah-rumah bordil…mereka membeli mobil-mobil mewah, jet-jet pribadi, kapal pesiar yang seukuran dengan kapal perang. Mereka menanam modal dengan membeli karya-karya seni Barat yang mereka sendiri tidak memahami atau menyukainya dan sering menyakiti perasaan ulama Wahabi. Mereka berfoya-foya sekehendak hati mereka, menjadi pelindung (patron) perbudakan seks internasional dan eksploitasi anak-anak.”

Itulah hasilnya, agar tampak mendukung Islam, rezim Saudi dan ulama-ulama bonekanya telah mengembangkan sebuah Islam versi mereka (Wahabi) yang menekankan rincian aturan-aturan agama, dengan membantu memahami realitas politik yang lebih luas. Perilaku mereka yang mendorong penafsiran hukum-hukum Islam secara literal, secara otomatis mengijinkan Bin Laden mengeksploitasi al-Quran untuk pembenaran tindakan membunuh orang-orang yang tak berdosa.

Akhirnya, keberlimpahan petro-dollar Rothschild memenuhi koper-koper keluarga Saudi memungkinkan mereka mempropagandakan Islam versi mereka yang nilainya rendah (Wahabisme) ke seluruh penjuru dunia, terutama ke AS, di mana mereka mensubsidi di atas 80% masjid-masjid di sana, versi Islam yang menggantikan kesadaran politik pengikutnya dengan desakan dogma pada fanatisme ritual.

Pada 1999, Raja Fahd dari Kerajaan Saudi Arabia menghadiri pertemuan Bildberg, untuk mendiskusikan perannya dalam minatnya yang lebih jauh untuk pemerintahan dunia. Secara jelas, keluarga Saudi merupakan bagian dari manuver kebohongan dari the Illuminati network. 5] Keterlibatan mereka dalam akumulasi petro-dollar merangsang mereka untuk membiayai terorisme global, dari Afghanistan sampai Bosnia, hanya dengan tujuan agar dunia membenci dan melawan Islam.

___________________________________
Diterjemahkan secara bebas oleh Quito R. Motinggo dari artikel Globalists Created Wahhabi Terrorism To Destroy Islam – No More Islamic Than Billy Graham karya David Livingstone. David Livingstone adalah penulis The Dying God: The Hidden History of Western Civilization

Catatan Penterjemah :
[1] AS, Zionis Israel & Uni-Eropa (pent.)
[2] Istilah New World Order ini mencuat lagi ketika AS, Israel dan Uni-Eropa memaksa pemerintah Libanon mengikuti keinginan-keinginan mereka, dan menghasut mereka agar bersedia melucuti senjata Hizbullah yang berhasil mengalahkan Israel pada perang 32 hari pada Juli 2006 lalu. (pent.)
[2b] Anda bisa download dokumen ini di : www.cami24.de atauhttp://www.sunna.info/antiwahabies/wahhabies/htm/spy1.htm
[3] Hal ini pula yang ingin dilakukan oleh AS dan sekutu-sekutunya dinegeri-negeri Islam. (pent)
[4] Tampaknya ini pula yang sedang diusahakan oleh AS di Irak dan Afghanistan.
[5] Sebuah organisasi rahasia yang berbasis di Inggeris.

(All-About-Wahhabi/Wahabi-News/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

0 komentar: