Minggu, 26 Juni 2016

Benarkah Tuduhan Bahwa Sayidah Aisyah Tidak Pantas Sebagai Ummul Mukminin ??? Berikut Jawabannya


Dalam buku panduan yang dibuat beberapa orang anggota MUI berjudul "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia" tertulis :

“Melecehkan dan menfitnah Sayidah Aisyah ra tidak pantas menjadi Ummul Mukminin” (hal. 34)

Untuk mengklarifikasi demi tetap terjaganya Ukhuwah Islamiah di Indonesia khususnya, berikut tanggapan yang disampaikan oleh cendikiawan muda dari Medan Ust. Candiki Repantu :

MMPSI melontarkan tuduhan di atas kepada syiah telah berdasarkan buku Antologi Islam (2012: 59-60, dan 67-69), padahal buku tersebut tidak ada menyatakan demikian. Yang ada adalah bahwa buku tersebut menolak Sayidah Aisyah—dan juga isteri-isteri Nabi saaw yang lain—sebagai ahlul bait yang disucikan Allah swt dalam Q.S. al-Ahzab : 33.

Buku Antologi Islam tersebut bukan menolak Aisyah sebagai Ummul Mukminin, tetapi menolak argumentasi sunni yang menyatakan bahwa kedudukan sebagai ummul mukminin, membuat Aisyah—atau isteri Nabi saaw yang lain—dapat dimasukkan sebagai ahlul bait yang disucikan Allah swt. Bagi penulis Antologi Islam, kedudukan sebagai ummul mukmini atau isteri Nabi saaw tidaklah membuat mereka maksum dan bebas dari kesalahan. Bahkan faktanya Sayidah Aisyah banyak melakukan tindakan kesalahan dibandingkan isteri-isteri Nabi saaw yang lain, meskipun dia lebih banyak meriwayatkan hadis-hadis Nabi saaw. Perhatikan ungkapan buku Antologi Islam, hal. 59 berikut ini :

“Salah satu hal yang digunakan oleh saudara-saudara Sunni dalam memasukkan Aisyah ke dalam Ahlulbait adalah bahwa dia Ummahatul Mukminin. Namun, mari kita renungkan fakta – fakta berikut ini.
Ambillah contoh seorang mukmin. Secara alamiah, ibu orang itu tentu menjadi ibu orang mukmin. Apakah julukan itu secara otomatis berarti bahwa ibu tersebut adalah seorang mukmin yang baik? Tentu saja tidak. Menjadi ibu seorang mukmin tidak lantas menjadikan ibu tersebut sebagai seorang mukmin yang baik dan saleh. Argumen yang sama dapat pula diterapkan kepada `ibu-ibu kaum mukmin’ (ummahatul mukminin). (Antologi Islam, hal. 59).

Kemudian buku Antologi Islam menjelaskan bahwa meskipun Sayidah Aisyah dan isteri Nabi saaw yan lain, berkedudukan sebagai ummahatul mukminin yang harus kita hormati, tetapi jika mereka berlaku tidak baik dan melanggar agama, seperti menentang perintah Rasul, memimpin pemberontakan, membunuh orang-orang tak berdosa, maka kita tidak boleh mengikutinya. Kita harus berlepas diri dari perbuatan mereka yang melanggar syariat tersebut. Perhatikan tulisanAntologi Islam berikut :

“Menurut ajaran Islam seorang mukmin diharuskan menghormati ibunya. Bagaimanapun, bilamana ibu tersebut menentang perintah Rasulullah, melakukan dan memimpin pemberontakan, dan membunuh orang-orang yang tak berdosa, kita, menurut ajaran Islam diharuskan untuk berlepas diri dari ibu semacam itu (maksudnya berlepas diri dari perbuatannya—pen)…” (Antologi Islam, hal. 59).

Berikutnya, buku Antologi Islam ini menjelaskan rahasia mengapa isteri-isteri Nabi disebut sebagaiummahatul mukminin, yakni karena mereka tidak boleh dinikahi oleh orang lain setelah wafatnya Rasulullah saaw. berikut keterangannya :

“Memang, terdapat alasan yang bagus mengapa Allah SWT memberi mereka julukan ‘ibu-ibu Kaum Mukminin’. Allah memberikan julukan ini untuk mencegah orang lain menikahi mereka setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Bukankah kita tidak dapat menikahi ibu kita sendiri? Seandainya Allah SWT tidak memberikan julukan tersebut kepada mereka, beberapa orang yang berpengaruh tentu telah menikahi mereka dan kemudian bisa jadi telah memiliki anak dan memerintahkan orang-orang untuk mengikuti mereka sebagai Ahlulbait, atau bahkan yang lebih buruk, mereka bisa jadi mengklaim sebagai putra-putra Nabi yang sesungguhnya dan mengklaim keNabian bagi mereka, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang berbahaya. Karena itulah Allah SWT memberikan julukan “ibu-ibu kaum mukminin’ kepada mereka untuk mencegah perkawinan semacam itu. (Antologi Islam, hal. 59-60).

Selanjutnya, untuk membuktikan klaimnya atas perbuatan Sayidah Aisyah yang melanggar perintah Nabi saaw dan syariat, maka Antologi Islam menurunkan bukti-bukti yang diambil dari kitab-kitab sunni. Karenanya, jika MMPSI menganggap ini pelecehan dan fitnah, maka yang pertama harus di tuduh MMPSI melakukan pelecehan dan fitnah kepada Sayidah Aisyah adalah ulama-ulama sunni itu sendiri. Berikut beberapa contoh pelanggaran Sayidah Aisyah yang dikemukan oleh tim penulisAntologi Islam, hal. 66-69 yang mereka kutip dari buku-buku sunni :
1. Siti Aisyah menghina Siti Khadijah sehingga Nabi saaw marah. Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, dikatakan pada satu kesempatan ketika Nabi Muhammad SAW menyebutkan Khadijah di depannya, maka Aisyah cemburu dan berkata, ‘Apa yang membuatmu teringat kepada seorang perempuan tua di antara perempuan-perempuan tua Quraisy seorang perempuan (dengan mulut yang tak bergigi) bergusi merah dan telah meninggal sejak lama, dan yang Allah telah menggantikan tempatnya dengan memberimu seseorang yang lebih baik dari dia?” Nabi Allah SAW menjadi sangat marah mendengar perkataan itu sehingga rambut beliau berdiri.
2. Siti Aisyah cemburu dan memecahkan piring. Aisyah mengakui hal ini sebagaimna diriwayatkan Imam Ahmad, an-Nasai dan Bukhari bahwa, “Shafiyah istri Nabi (suatu ketika) mengirimkan sepiring makanan yang dia buat untuk beliau ketika beliau sedang bersamaku. Ketika aku melihat sang pelayan perempuan, aku gemetar karena gusar dan marah, dan aku ambil mangkuk itu dan melemparkannya. Nabi Muhammad SAW lalu memandangku. Aku melihat kemarahan di wajah beliau dan aku berkata kepadanya, Aku berlindung dari kutukan Rasulullah hari ini.’ Nabi Muhammad SAW berkata, ‘Ganti!’ Aku berkata, ‘Apa gantinya duhai Nabi Allah?’ Beliau berkata, ‘Makanan seperti makanan dia (Shafiyah) dan sebuah mangkuk seperti mangkuknya!”
3. Siti Aisyah mencurigai dan memata-matai Nabi saaw. Imam Ahmad dalam musnadnya meriwayatkan bahwa Aisyah berkata, ‘Aku kehilangan jejak Rasulullah SAW. Aku curiga dia telah pergi ke salah seorang istrinya yang lain. Aku pergi mencarinya dan menemukannya sedang bersujud dan berseru, ‘Duhai Tuhanku, maafkan aku!”
4. Siti Aisyah menyatakan mulut Nabi saaw berbau busuk. Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya dari Aisyah, “Nabi biasa meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan suka tinggal di sana/bersama dia (Zainab). Maka Hafsah dan aku dengan diam-diam bersepakat bahwa jika beliau datang kepada salah seorang dari kita, kita akan berkata kepada beliau, ‘Nampaknya kamu telah memakan maghafir (sejenis getah yang berbau busuk), sebab aku mencium bau maghafir dalam dirimu.” Maka diturunkanlah ayat,“Wahai Nabi! Mengapakah engkau haramkan atas dirimu apa yang Allah telah menghalalkannya bagimu….. (QS. at-Tahrim : 1-4).”
5. Siti Aisyah mempengaruhi isteri Nabi saaw sehingga Nabi menceraikannya. Ibnu Saad meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW menikahi Malikah binti Ka’ab yang dikenal karena kecantikannya yang menonjol. Aisyah pergi mengunjungi dia dan berkata, “Tidaklah kamu malu menikahi pembunuh ayahmu sendiri?” Dia (Malikah) lalu mencari perlindungan dari Rasulullah, dan atas kejadian itu lalu beliau menceraikannya. Orang-orangnya lalu datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, dia masih muda dan kurang memiliki pengetahuan. Dia telah ditipu, karena itu ambillah dia kembali!” Rasulullah SAW menolak permintaan mereka, padahal pembunuh ayah Malikah adalah Khalid bin Khandama.
6. Siti Aisyah memerangi imam Ali as sebagai Khalifah yang sah dan adil sehingga menyebabkan tewasnya ribuan orang yang tidak berdosa. (Antologi Islam, hal. 67-69).

Dengan beragam kasus-kasus seperti di atas, maka bagi tim Antologi Islam tidak sesuai jika Sayidah Aisyah dikategorikan sebagai Ahlul Bait yang disucikan Allah swt, sedangkan sebagai Ummul Mukminin, maka hal itu tetap melekat pada dirinya. Tidak ada yang mengingkarinya baik sunni maupun syiah.

(Perpustakaan-Kajian-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

0 komentar: