Kamis, 24 November 2016

Kata Ulama Sunni (Wahabi Bagian Dari Sunni): Siti Aisyah Ra Mengandalkan Kaum Waria Untuk Memilihkan Calon Istri Bagi Saudaranya!


Ketika Abdurrahman, saudara Ummul Mukmini Aisyah berniat untuk menikah, Siti Aisyah segera menemui dan berkonsultasi dengan seorang waria bernama Annah untuk menunjukkan wanita yang cocok untuk dinikahi Abdurrahman; saudaranya!

Ibnu Hajar meriwayatkan dari kitab ash Shahâbah karya al Bârûdi dari jalur Ibrahim bin Muhâjir dari Abu Bakar bin hafsh, bahwa:

Aisyah berkata kepada seorang mukhannas/waria bernama Annah, ‘Sudikah engkau menunjukkan kepada kami seorang wanita untuk kami lamar buat Abdurrahman bin Abu Bakar! Maka Annah berkata, “Ya.” Lalu waria itu mensifatkan seorang wanita gemol yang badanya padat berisi yang jika ia datang menghadap dengan empat lekukan di bagian perut dan dadanya dan jika ia membelakangi ia tampat berlekuk kedepan. Mendengar ocehan tidak senonoh dan cabul si waria itu, Nabi saw. marah dan segera mengusirnya dari kota Madinah menuju Hamrâ’ al Asad, “Hai Annah keluarlah engkau dari kota Madinah ke Hamrâ’ al Asad, jadikan desa itu tempat tinggalmu!”.[1]


Ibnu Jakfari:

Anda pasti sadar bahwa memilih pasangan hidup adalah untuk membina rumah yang Islami. Tentunya hal itu akan terwujud dengan meminang wanita yang shalehah. Dan untuk mengenali wanita shalehah tentunya dengan berujuk kepada para wanita shalehah yang mengenal gadis-gadis shalehah. Tetapi jika mencari informasi calon pendamping dengan berkonsultasi kepada seorang waria yang jorok tutur katanya dan cabul prilakakunya, maka tidak mungkin kita akan ditunjukkan kepada gadis shalehah…. pasti yang akan kita terima adalah informasi cabul seperti yang di sampaikan si Annah kepada Siti Aisyah!!

Apa kira-kira yang akan diraih Aisyah ra. dengan berkonsultasi kepada si Annah, si waria andalannya itu?

Setujukah dengan apa yang dilakukan Siti Aisyah ra.?

Bukankah riwayat sejarah di atas termasuk penghinaan terhadap Istri Nabi saw.?!

Mengapa ulama Sunni menghina Istri Nabi saw.?! Apa maksud mereka?!


Referensi:

[1] Fathu al Bâri,19398.

(Jakfari/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

0 komentar: