Kamis, 24 November 2016

Andai Anda Seorang Salafy Pasti Anda Protes Imam Bukhari, Karena Ia Menghina Sahabat Idola Anda!!

Makam Imam Bukhari

Sayyiduna Abu Bakar & Sayyiduna Umar Membuat Keributan dan Kegaduhan Di Hadapan Rasulullah saw. Sehingga Allah Menegur Mereka!

Andai aku seorang Sunni sejati pasti aku akan protes Imam Bukhari yang membongkar data pristiwa yang dapat mengindikasikan keburukan akhlak idolaku; Abu Bakar dan Umar!

Dengan meriwayatkan data-data rahasia itu, berarti Bukahri telah membongkar sikap kurang hormat dan membuat kegaduhan dan keributan di hadapan Nabi mulia saw. dengan mengangkat suara bersengketa dan saling menghujat… sementara mereka berdua sedang berada di sisi Rasul utusan Allah.. manusia termulia… yang wajib atas setiap Muslim untuk menghormatinya!

Mungkin karena berita tentang pristiwa itu adalah pasti dan sudah sedemikian masyhur sehingga Imam Bukhari pun tak kuasa merahasiakannya!


Perhatikan riwayat Imam Bukahri dii bawah ini:

Hadis Pertama:

حَدَّثَنِي ‏ ‏إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ ‏ ‏أَنَّ ‏ ‏ابْنَ جُرَيْجٍ ‏ ‏أَخْبَرَهُمْ عَنْ ‏ ‏ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ ‏ ‏أَنَّ ‏ ‏عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الزُّبَيْرِ ‏ ‏أَخْبَرَهُمْ ‏أَنَّهُ ‏ ‏قَدِمَ رَكْبٌ مِنْ ‏ ‏بَنِي تَمِيمٍ ‏ ‏عَلَى النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فَقَالَ ‏ ‏أَبُو بَكْرٍ ‏ ‏أَمِّرْ ‏ ‏الْقَعْقَاعَ بْنَ مَعْبَدِ بْنِ زُرَارَةَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏عُمَرُ ‏ ‏بَلْ أَمِّرْ ‏ ‏الْأَقْرَعَ بْنَ حَابِسٍ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏أَبُو بَكْرٍ ‏ ‏مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ ‏ ‏عُمَرُ ‏ ‏مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ ‏ ‏فَتَمَارَيَا ‏ ‏حَتَّى ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ ‏{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا ….} حَتَّى انْقَضَتْ ‏

Ibrahim ibn Musa menyampaikan hadis kepada kami….. dari Ibnu Abi Mulaikah: “Sesungguhnya Abdullah ibn Zubair mengabarkan kepada mereka bahwa delegasi suku Bani Tamîm datang menemui Nabi saw.,[1] lalu Abu Bakar berkata, ‘(Wahai Nabi) angkatlah Qa’qâ’ ibn Ma’bad ibn Zurârah sebagai amir.’ Umar berkata, ‘(Wahai Nabi), jangan tetapi angkatlah Aqra’ ibn Hâbis sebagai amir.’ Abu Bakar berkata, ‘Engkau tidak bermaksud melainkan menyengaja menyalahiku.’ Umar berkata. ‘Tidak! Aku tidak bermaksud menyalahimu.’

Maka keduanya rebut sampai suara mereka meninggi. Maka turunlah ayat:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَ رَسُولِهِ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَميعٌ عَليمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al Hujurat:1).


Hadis Kedua:

Dalam riwayat lain disebutkan pristiwa yang sama hanya saja dikatakan bahwa ayat teguran atas sikap mereka berdua yang Allah turunkan adalah ayat 2-3 surah al Hujurat:

حَدَّثَنَا ‏ ‏مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ ‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏وَكِيعٌ ‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏نَافِعُ بْنُ عُمَرَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ ‏ ‏قَالَ: كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا ‏أَبُو بَكْرٍ ‏ ‏وَعُمَرُ ‏لَمَّا قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَفْدُ ‏‏بَنِي تَمِيمٍ ‏ ‏أَشَارَ أَحَدُهُمَا ‏ ‏بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ التَّمِيمِيِّ الْحَنْظَلِيِّ أَخِي ‏ ‏بَنِي مُجَاشِعٍ ‏ ‏وَأَشَارَ الْآخَرُ بِغَيْرِهِ فَقَالَ ‏ ‏أَبُو بَكْرٍ ‏ ‏لِعُمَرَ ‏إِنَّمَا أَرَدْتَ خِلَافِي فَقَالَ ‏‏عُمَرُ ‏ ‏مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏فَنَزَلَتْ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ ‏ ‏إِلَى قَوْلِهِ ‏ ‏عَظِيمٌ } ‏

“Muhammad ibn Muqâtil mengabarkan kepada kami …. Dari Ibnu Abi Mulaikah, ia berkta, “Dua orang baik itu; Abu Bakar dan Umar nyaris celaka. Ketika datang kepada Nabi saw. delegasi bani Tamim, seorang dari keduanya (Abu Bakar dan Umar) mengusulkan agar Aqra’ ibn Hâbis at Tamimi al Handzali diangkat sebagai amir. Sedangkan yng lain mengusulkan agar yang lainnya saja diangkat sebagai amir. Maka Abu bakar berkata kepada Umar, ‘Engkau tidak bermaksud melainkan menyalahiku.’ Umar berkata, ‘Aku tidak bermaksud menyalahimu.’

Maka suara keduanya terangkat keras di sisi Nabi saw. lalu turunlah ayat:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْواتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَ لا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمالُكُمْ وَ أَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS al Hujurat:2).

يَغُضُّونَ أَصْواتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولئِكَ الَّذينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوى‏ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَ أَجْرٌ عَظيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS al Hujurat2-3).

قَالَ ‏ ‏ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏ابْنُ الزُّبَيْرِ ‏ ‏فَكَانَ ‏ ‏عُمَرُ ‏ ‏بَعْدُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ ‏ ‏يَعْنِي ‏ ‏أَبَا بَكْرٍ ‏ ‏إِذَا حَدَّثَ النَّبِيَّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏بِحَدِيثٍ حَدَّثَهُ كَأَخِي السِّرَارِ لَمْ يُسْمِعْهُ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ ‏

Abu Mulaikah berkata, “Ibnu Zubair berkata, ‘Dan adalah Umar setelah itu (di sini ia tidak menyebut tentang ayahnya yaitu Abu bakar) jika berbicara kepada Nabi saw. dengan sebuah pembicaraan selalu dengan suara seperti bisik-bisik. Nabi tidak mendengarnya sehingga beliau menanyakan apa yang ia bicarakan.”


Hadis Ketiga:

حدثنا ‏ ‏يسرة بن صفوان بن جميل اللخمي ‏ ‏حدثنا ‏ ‏نافع بن عمر ‏ ‏عن ‏ ‏ابن أبي مليكة ‏ ‏قال ‏ ‏كاد الخيران أن ‏ ‏يهلكا ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏وعمر ‏ ‏رضي الله عنهما ‏ ‏رفعا أصواتهما عند النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏حين قدم عليه ‏ ‏ركب ‏ ‏بني تميم ‏ ‏فأشار أحدهما ‏ ‏بالأقرع بن حابس ‏ ‏أخي ‏ ‏بني مجاشع ‏ ‏وأشار الآخر برجل آخر قال ‏ ‏نافع ‏ ‏لا أحفظ اسمه فقال ‏ ‏أبو بكر ‏ ‏لعمر ‏ ‏ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك فارتفعت أصواتهما في ذلك فأنزل الله ‏: يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْواتَكُمْ . الآية
‏‏قال ‏ ‏ابن الزبير ‏ ‏فما كان ‏ ‏عمر ‏ ‏يسمع رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏بعد هذه الآية حتى يستفهمه ولم يذكر ذلك عن أبيه ‏ ‏يعني ‏ ‏أبا بكر ‏

Para Ulama Sepakat Menyebut Ayat Itu Turun Terkait Dengan Aksi Abu Bakar dan Umar

Mengingat Imam Bukhari dan para ahli hadis ternama lainnya telah meriwayatkan sebab nuzulnya ayat-atat di atas terkait dengan aksi Abu Bakar dan Umar di hadapan Nabi saw. maka para ulama dan ahli tafsir sepakat bahwa ayat-ayat di atas memang berhubungan dengan mereka berdua.


Di antaranya Ibnu Katsir berkata:

وَقَدْ رُوِيَ أَنَّهَا نَزَلَتْ فِي الشَّيْخَيْنِ أَبِي بَكْر وَعُمَر رَضِيَ اللَّه عَنْهُمَا

“Dan telah diriwayatkan bahwa ayat ini turun terkait dengan Syaikhain; Abu Bakar dan Umar ra.”


Setelahnya ia menyebutkan beberapa riwayat dari Imam Bukhari dan para muhaddis lainnya.

Al Qurthubi juga menagaskan hal sama, ketika sampai pada ayat ini, ia lengsung menyebutkan riwayat-riwayat Imam Bukhari yang menegaskan bahwa ia turun untuk Abu bakar dan Umar!

Adab Yang Allah SWT Wajibkan atas kaum Muslimin terhadap Nabi saw.

Dalam banyak ayat Al Qur’an, Allah telah menetapkan adab dan tata krama yang harus diindhkan oleh setiap Muslim di hadapan Nabi saw, dan terhadap Nabi saw.!

Tentang ayat-ayat di atas Ibnu Katsir –seorang mufassir terkenal Ahlusunnah- menerangkan:

هذه آيات أدب الله تعالى بها عباده المؤمنين فيما يعاملون به الرسول صلى الله عليه وسلم من التوقير والاحترام والتبجيل والإعظام فقال تبارك وتعالى” يا أيها الذين آمنوا لا تقدموا بين يدي الله ورسوله ” أي لا تسرعوا في الأشياء بين يديه أي قبله بل كونوا تبعا في جميع الأمور

“Dengan ayat-ayat ini, Allah mendidik hamba-hamba-Nya yang Mukmin bagaimana cara bermu’amalah/bergaul dengan Rasulullah saw. yaitu harus dengan penghormatan, pengagungan dan pemuliaan. Allah Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”.

Artinya “Janganlah kalian terburu dalam segala sesuatu di hadapan beliau, akan tetapi hendaknya kalian mengikuti beliau dalam segala urusan.” Maksudnya apa yang dilakukan oleh Sayyiduna Abu Bakar dan Sayyiduna Umar dengan mendahulukan pendapatnya walaupun dalam bentuk usulan adalah termasuk ketegori kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya! Karenanya, ayat ini diturunkan sebagai teguran atas sikap mereka berdua!.

Setelahnya Ibnu Katsir menukil ketarangan dari tafsir generasi salaf yang mendukung makna di atas!.

Al Qurthubi ketika menerangkan ayat di atas juga berkata:

قَالَ الْعُلَمَاء : كَانَ فِي الْعَرَبِيّ جَفَاء وَسُوء أَدَب فِي خِطَاب النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَلْقِيب النَّاس . فَالسُّورَة فِي الْأَمْر بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاق وَرِعَايَة الْآدَاب. وَقَرَأَ الضَّحَّاك وَيَعْقُوب الْحَضْرَمِيّ : ” لَا تَقَدَّمُوا ” بِفَتْحِ التَّاء وَالدَّال مِنْ التَّقَدُّم . الْبَاقُونَ ” تُقَدِّمُوا ” بِضَمِّ التَّاء وَكَسْر الدَّال مِنْ التَّقْدِيم . وَمَعْنَاهُمَا ظَاهِر , أَيْ لَا تُقَدِّمُوا قَوْلًا وَلَا فِعْلًا بَيْن يَدَيْ اللَّه وَقَوْل رَسُوله وَفِعْله فِيمَا سَبِيله أَنْ تَأْخُذُوهُ عَنْهُ مِنْ أَمْر الدِّين وَالدُّنْيَا . وَمَنْ قَدَّمَ قَوْله أَوْ فِعْله عَلَى الرَّسُول صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ قَدَّمَهُ عَلَى اللَّه تَعَالَى لِأَنَّ الرَّسُول صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَأْمُر عَنْ أَمْر اللَّه عَزَّ وَجَلَّ .

“Para ulama berkata, ‘Pada watak orang Arab terdapat kekakuan dan kurang ajar dalam berbicara kepada Nabi saw. surah ini memuat perintah untuk menjalankan akhlak mulia dan memelihara sopan santun. Dhahhak membaca ayat ini: . لَا تَقَدَّمُوا . sedangkan para ahli qira’at lainnya membacanya: تُقَدِّمُوا. . Makna keduanya jelas yaitu: Janganlah kalian menngedepankan ucapan atau tindakan di hadapan Allah dan di hadapaan ucapan dan tindakan Rasul-Nya dalam hal di mana kalian harus mengambilnya terkait urusan agama dan urusan dunia. Dan barang siapa mendahulukan ucapan dan tindakannya atas Rasul saw. maka ia telah mendahulukannya atas Allah. Sebab sesungguhnya Rasul saw. memerintahkan atas perintah Allah –Azza wa Jala-.“.

Kemudian ia menyebutkan sebab turunnya ayat di atas. Ia berkata:

وَاخْتُلِفَ فِي سَبَب نُزُولهَا عَلَى أَقْوَال سِتَّة :
الْأَوَّل : مَا ذَكَرَهُ الْوَاحِدِيّ مِنْ حَدِيث اِبْن جُرَيْج قَالَ : حَدَّثَنِي اِبْن أَبِي مُلَيْكَة أَنَّ عَبْد اللَّه بْن الزُّبَيْر أَخْبَرَهُ أَنَّهُ قَدِمَ رَكْب مِنْ بَنِي تَمِيم عَلَى رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , فَقَالَ أَبُو بَكْر : أَمِّرْ الْقَعْقَاع بْن مَعْبَد . وَقَالَ عُمَر : أَمِّرْ الْأَقْرَع بْن حَابِس . فَقَالَ أَبُو بَكْر : مَا أَرَدْت إِلَّا خِلَافِي . وَقَالَ عُمَر : مَا أَرَدْت خِلَافك . فَتَمَادَيَا حَتَّى اِرْتَفَعَتْ أَصْوَاتهمَا , فَنَزَلَ فِي ذَلِكَ : ” يَا أَيّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْن يَدَيْ اللَّه وَرَسُوله – إِلَى قَوْله – وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُج إِلَيْهِمْ ” . رَوَاهُ الْبُخَارِيّ عَنْ الْحَسَن بْن مُحَمَّد بْن الصَّبَّاح , ذَكَرَهُ الْمَهْدَوِيّ أَيْضًا .
الثَّانِي : مَا رُوِيَ أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَسْتَخْلِف عَلَى الْمَدِينَة رَجُلًا إِذَا مَضَى إِلَى خَيْبَر , فَأَشَارَ عَلَيْهِ عُمَر بِرَجُلٍ آخَر , فَنَزَلَ : ” يَا أَيّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْن يَدَيْ اللَّه وَرَسُوله ” . ذَكَرَهُ الْمَهْدَوِيّ أَيْضًا .

“Diperselisihkan tentang sebab nuzulnya ayat ini.

Pendapat pertama: Yaitu apa yang disebutkan oleh al Wâhidi … (kemudian ia menyebutkan triwayat Bukhari seperti kami sebutkan di atas.)

Pendapat kedua: Yaitu apa yang diriwayatkan bahwa Nabi saw. berniat untuk mengangkat seseorang menggantikan beliau dalam mengurus kota Madinah ketika beliau hendak pergi ke Khaibar. Maka Umar mengusulkan agar orang lain saja yang beliau tunjuk. Maka turunlah ayat:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَ رَسُولِهِ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَميعٌ عَليمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al Hujurat:1).

Riwayat sebab nuzul ini juga disebutkan oleh al Mahdawi.

Pristiwa itu juga telah diriwayatkan oleh at Turmudzi, sepereti dikutipi Ibnu Hajar dalam Syarah Bukharinya. Ia berkata:

وَوَقَعَ عِنْد التِّرْمِذِيّ مِنْ رِوَايَة مُؤَمِّل بْن إِسْمَاعِيل عَنْ نَافِع بْن عُمَر بِلَفْظِ ” إِنَّ الْأَقْرَع بْن حَابِس قَدِمَ عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو بَكْر: يَا رَسُول اللَّه اِسْتَعْمِلْهُ عَلَى قَوْمه , فَقَالَ: عُمَر لَا تَسْتَعْمِلهُ يَا رَسُول اللَّه ” الْحَدِيث

“Dan terdapat dalam riwayat at Tumudzi dari jalur Muammal ibn Ismail dari Nâfi’ ibn Umar denagn redaksi: “Sesungguhnya Aqra’ ibn Hâbis datang menemui Nabi saw., maka Abu Bakar berkata, Wahai Rasulallah, pakailah dia untuk menjadi wakilmu atas kaumnya.’ Umar berkata, ‘jangan pakai dia wahai Rasulullah…. “ (Lalu terjadi seperti apa yang diriwayatkan dalam hadis Imam Bukhari.).


Ibnu Jakfari Berkata:

Dari keteragan para ulama, para mufassir dan juga pensyarah Shahih Bukari dapat dimengerti bahwa apa yang dilakukan oleh Sayyiduna Abu Bakar dan Sayyiduna Umar termasuk dalam dalam katagori: kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya! Dan juga tergolong: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebahagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.!.


Hukum Mengangkat Suara di atas Suara Nabi saw.

Ayat tersebut di atas telah tegas-tegas menerangkan kepada kita ancaman Allah atas siapapun yang melanggar aturan dan sopan santun yang Allah SWT tetapkan dalam bermu’amalah dengan Rasul-Nya. Dalam akhir ayat tersebut Allah menegaskan ancaman-Nya itu dengan firman-Nya:

أَنْ تَحْبَطَ أَعْمالُكُمْ وَ أَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ

“… supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.”.


Tentang ancaman Allah ini, Ibnu Katsir berkata:

أَيْ إِنَّمَا نَهَيْنَاكُمْ عَنْ رَفْع الصَّوْت عِنْده خَشْيَة أَنْ يَغْضَب مِنْ ذَلِكَ فَيَغْضَب اللَّه تَعَالَى لِغَضَبِهِ فَيَحْبَط عَمَل مَنْ أَغْضَبَهُ وَهُوَ لَا يَدْرِي كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيح ” إِنَّ الرَّجُل لَيَتَكَلَّم بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَان اللَّه تَعَالَى لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يُكْتَب لَهُ بِهَا الْجَنَّة وَإِنَّ الرَّجُل لَيَتَكَلَّم بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَط اللَّه تَعَالَى لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي النَّار أَبْعَدَ مَا بَيْن السَّمَاء وَالْأَرْض “

“Yaitu sesungguhnya Kami melarang kalian yang demikian karena khawatir Rasulullah murka karenanya, maka Allah akan murka karena murka Rasul-Nya, maka amal orang yang dimurkainya akan digugurkan semantara ia tidak mengetahuinya. Seperti dalam hadis shahih, “Sesungguhnya seorang berbicara dengan sebuah kata yang tidak dia anggap dari keridhaan Allah maka ditetapkan baginya surga. Dan sesungguhnya seorang berbicara dengan sebuah kata yang tidak dia anggap dari kemurkaan Allah maka ia tersungkur ke dalam neraka seperti jauhnya antara langit dan bumi.”.

Qurthubi menyebutkan bahwa:

وقيل : كان المنافقون يرفعون أصواتهم عند النبي صلى الله عليه وسلم , ليقتدي بهم ضعفة المسلمين فنهي المسلمون عن ذلك .

“Ada yang mengatakan bahwa kaum munafik mengangkat suara mereka di sisi Nabi saw. agar ditiru kaum Muslimin maka Allah melarang kaum Muslimin darinya.”.

Inilah sekilas adab islami yang Allah wajibkan atas umat Islam untuk memperhatikannya.


Ibnu Jakfari:

Dalam hadis asbâb nuzûl ayat seperti disebutkan sebelumnya dikatakan bahwa setelah teguran keras itu, Umar tidak lagi berani berbicara keras.. bahkan sampai-sampai jika berbiacara kepada Nabi saw., Umar sangat memelankan suaranya seperti orang yang sedang berbisik-bisik sehingga Nabi pun tidak mengerti apa yang ia omongkan…


Benarkah klaim di atas? Atau justru data-data menunjukkan sebaliknya?

Di sini sekali lagi Bukhari mengecewakan kaum Sunni (paling tidak dalam anggapan sebagian pengamat)… Bukahri justru membongkar kembali sikap tidak hormat yang dilakoni oleh Umar dan kemudian diikuti oleh para pendukungnya… Dan ironisnya, keributan itu justru terjadi di hari-hari terakhir hidup Nabi saw. ketika beliau sedang sakit dan sebagian sahabat menjenguknya (entah diharap atau tidak kedatangan mereka itu).. Ketika Nabi saw. (manusia yang paling peduli akan kebahagian umat Islam) hendak menuliskan sepucuk surat wasiat yang akan menjamin keselamatan dan kebahagian dunia akhirat… Maka tiba-tiba menyuarakan suara lantang terlontar dari mulut Sayyiduna Umar ra. memecah kekhusyu’an dan mengagetkan nabi saw. dan para mengunjung! Umar berkata, “Cukup bagi kita Al Qur’an saja! Kami tidak perlu dengan surat wasiatmu itu!

Nabi mengigau/yahjur !

Setelah suara keras yang menghantam jiwa lembut Nabi saw. terjadilah keributan yang dipicu oleh sikap Umar… sebagian meminta agar nabi dita’ati! Sedangkan Umar Cs tetap bersikeras tidak memberikan kertas dan pena seperti yang diminta Nabi saw (yang hingga sa’at masih sah dan resmi menjadi nabi… belum dilengserkan)…

Mungkin dengan meriwayatkan hadis-hadis itu (yang tidak sedikit ia menyebutkannya) Imam Bukhari ingin menyadarkan kita bahwa anggapan yang mengatakan bahwa Umar telah berhenti berkata kasar dan membuat kegaduhan di hadapan Nabi itu adalah sebuah kepalsuan belaka!

Atau jangan-jangan Imam Bukhari itu seorang yang terpengaruh doktrin sesat Abdullah ibn Saba’ sehingga berpikiran “kesyi’ah-syi’ahan”!

Atau Wallahu A’lam apa maksudnya dengan membongkar data-data tidak menguntungkan yang seharusnya dirahasiakan atau kalau perlu dimusnahkan saja!

Untuk mengusir penasaran Anda silahkan ikuti hadis-hadis Bukhari di bawah ini:


Hadis Pertama:

حدثنا ‏ ‏يحيى بن سليمان ‏ ‏قال حدثني ‏ ‏ابن وهب ‏ ‏قال أخبرني ‏ ‏يونس ‏ ‏عن ‏ ‏ابن شهاب ‏ ‏عن ‏ ‏عبيد الله بن عبد الله ‏ ‏عن ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏قال‏:‏
لما اشتد بالنبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وجعه قال ‏ ‏ائتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده قال ‏ ‏عمر ‏ ‏إن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏غلبه ‏ ‏الوجع وعندنا كتاب الله حسبنا فاختلفوا وكثر ‏ ‏اللغط ‏ ‏قال قوموا عني ولا ينبغي عندي التنازع ‏
‏فخرج ‏ ‏ابن عباس ‏ ‏يقول ‏ ‏إن ‏ ‏الرزية ‏ ‏كل ‏ ‏الرزية ‏ ‏ما حال بين رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏وبين كتابه ‏

Dari ibnu Abbas ra., ia berkata : Ketika sakit Nabi saww. semakin parah , beliau bersabda : “Berikan kepadaku selembar kertas , aku akan tuliskan untuk kalian sebuah tulisan (pesan) yang kamu tidak akan tersesat setelahnya”. Umar berkata:”sesungghuhnya Nabi saww. telah dipengaruhi dan di kalahkan oleh sakitnya, dan kita sudah memiliki kitabullah, cukup bagi kita kitbullah”. Lalu para penjenguk berselisih dan keributanpun memuncak, (kemudian melihat yang demikian) Nabi saw. (marah dan) berkata: “Menyingkirlah kalian dariku! Tidak sepantasnya terjadi perselisihan (keributan) di hadapanku”. Maka Ibnu Abbas keluar dan berkata: Sesungguhnya bencana yang sebenar banar arti bencana ialah penghalangan antara Rasulullah saw. dan penulisan wasiat beliau.


Hadis Kedua:

حَدَّثَنَا ‏ ‏إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى ‏ ‏أَخْبَرَنَا ‏ ‏هِشَامٌ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏مَعْمَرٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏الزُّهْرِيِّ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏ابْنِ عَبَّاسٍ ‏ ‏قَالَ:
‏لَمَّا حُضِرَ النَّبِيُّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ وَفِي الْبَيْتِ رِجَالٌ فِيهِمْ ‏ ‏عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ‏ ‏قَالَ ‏ ‏هَلُمَّ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ قَالَ:‏ ‏عُمَرُ ‏ ‏إِنَّ النَّبِيَّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَكُمْ الْقُرْآنُ فَحَسْبُنَا كِتَابُ اللَّهِ وَاخْتَلَفَ أَهْلُ الْبَيْتِ وَاخْتَصَمُوا فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ قَرِّبُوا يَكْتُبْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ مَا قَالَ ‏ ‏عُمَرُ ‏ ‏فَلَمَّا أَكْثَرُوا اللَّغَطَ ‏ ‏وَالِاخْتِلَافَ عِنْدَ النَّبِيِّ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏قَالَ قُومُوا عَنِّي
قَالَ ‏ ‏عُبَيْدُ اللَّهِ ‏ ‏فَكَانَ ‏ ‏ابْنُ عَبَّاسٍ ‏ ‏يَقُولُ إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَبَيْنَ أَنْ يَكْتُبَ لَهُمْ ذَلِكَ الْكِتَابَ مِنْ اخْتِلَافِهِمْ وَلَغَطِهِمْ ‏

…. Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata:

Ketika Rasulullah saw. terbaring sakit yang menghantar wafat dan ketika itu di dalam rumah ada banyak orang (penjenguk), di antara mereka adalah Umar bin Khaththab, Nabi saww. bersabda: “Berikan kepadaku (kertas), aku akan tuliskan untuk kalian sebuah wasiat yang dengannya kalian tidak akan tersesat”. Lalu (spontan) Umar berkata: “Sesungguhnya ia telah dikuasai oleh sakitnya itu, dan kalian telah memliki Al-Qur’an, cukup bagi kita kitabullah”. Maka berselisih dan ributlah penghuni rumah (para penjenguk), di antara mereka ada yang berkata: “Berikan pada Rasulullah kertas itu agar beliau menulis wasiat yang dengannya kalian tidak akan tersesat selamanya” dan di antara mereka ada yang berkata seperti ucapan Umar.

Maka ketika mereka berselisih dan banyak berbuat keributan dan perselisihan di hadapan Nabi saw. beliau bersabda (mengusir): “Menyingkirlah kalian!”.

Ubaidullah berkata: Ibnu Abbas berkata: Bencana yang sebenar-benar bencana adalah penghalangan antara Rasulullah saw. dan penulisan wasiat untuk mereka dikarenakan keributan dan perselisihan mereka.

Sumber Bukhari Online Situs Kementrian Agama Saudi Arabia:

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=10932&SearchText=%DB%E1%C8%E5+%C7%E1%E6%CC%DA&SearchType=root&SearchLevel=root&Scope=all&Offset=0

Baca juga di:

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=6393&SearchText=%DB%E1%C8%E5+%C7%E1%E6%CC%DA&SearchType=root&SearchLevel=root&Scope=all&Offset=0


Hadis Ketiga:

حَدَّثَنَا ‏ ‏قَبِيصَةُ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏ابْنُ عُيَيْنَةَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سُلَيْمَانَ الْأَحْوَلِ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏ابْنِ عَبَّاسٍ ‏ ‏رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ‏ ‏أَنَّهُ قَالَ: ‏يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى ‏ ‏خَضَبَ ‏ ‏دَمْعُهُ الْحَصْبَاءَ.
فَقَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏ ‏وَجَعُهُ يَوْمَ الْخَمِيسِ, فَقَالَ:‏ ‏ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا! فَتَنَازَعُوا وَلَا يَنْبَغِي عِنْدَ نَبِيٍّ تَنَازُعٌ فَقَالُوا هَجَرَ رَسُولُ اللَّهِ ‏ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
‏قَال:َ دَعُونِي فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ مِمَّا تَدْعُونِي إِلَيْهِ

“Hari kamis! Tahukah kamu apa hari kamis itu?! kemudian ia menangis sehingga janggut beliau terbasahi oleh air mata, lalu beliau melanjutkan: Sakit Rasulullah saw. makin keras, lalu beliau bersabda:“Bawakan kepadaku selembar kertas ,aku akan menuliskan sepucuk surat wasiat, kalian tidak akan tersesat sama sekali setelahnya!”. Lalu mereka berselisih membuat keributan -dan tidaklah pantas di hadapan Nabi ada keributan-, mereka berkata: Rasulullah saw. melantur.

Nabi saw. bersabda: Tinggalkan aku, apa yang aku alami lebih baik dari apa yang kalian mengajak kepadanya.”

( Sumber Bukhari Online Situs Kementrian Agama Saudi Arabia: http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=4811 )



Ibnu Jakfari:

Jadi sepertinya, teman-teman Wahhabi/Salafy perlu meyakinkan umatnya bahwa hadis-hadis riwayat Imam Bukhari (dan para ulama hadis lainnya) di atas dan juga hadis-hadis lainnya yang seperti itu, perlu dipertaykanan keshahihannya … atau jika perlu, biar tidak merusak keyakinan yang sudah mapan, dikatakan palsu saja!

Atau barang kali kalian mau komentar di sini? Silahkan kami pasti akan muat dengan penuh amanat! [1] Ibnu Hajar dalam syarah Bukhari dan para ahli sejarah lainnya mengatakan bahwa kedatangan delegasi suku Bani Tamim itu adalah pada tahun Sembilan Hijrah. Artinya di tahun-tahun terakhir kehidupan nabi saw. setelah belasan tahun Abu Bakar dan Umar memeluk agama Islam dan bersahabat dengan Nabi saw. dan mendapat banyak didikan tentang sopan santun dan akhlak karimah dalam bergaul dengan sesame manusian biasa! Apalagi dengan seorang nabi dan rasul utusan Allah SWT.

(Jakfari/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

0 komentar: