Rabu, 30 Desember 2015

Di Balik Makna Kematian


Oleh: Hasyim Adnan, MA

Selama ini manusia belum bisa memastikan esensi sebuah kematian. Selama ini mereka hanya mendefinisikan semata. Secara umum, kematian adalah keluarnya ruh dari jasad atau tubuh. Namun kematian bagi sebagian ulama didefinisikan sebagai ketiadaan kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa kematian adalah antonim dari kehidupan.

Kemudian menurut M. Quraisy Syihab, agama-agama samawi menyebutkan bahwa kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, dimana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai ragam siksa dan kenistaan.

Ragib Isyfahani dikutip oleh M. Quraisy Syihab dalam buku Membumikan Al-Qur’an:

“Kematian merupakan tangga menuju kebahagiaan abadi. Ia merupakan perpindahan dari tempat ke tempat lain, sehingga dengan demikian ia merupakan kelahiran baru bagi manusia. Manusia dalam kehidupannya di dunia ini, dan dalam kematiannya, mirip dengan keadaan telur dan anak ayam. Kesempurnaan wujud anak ayam adalah menetasnya telur tersebut dan keluarnya anak ayam tadi meninggalkan tempatnya selama di dalam telur. Demikian pula manusia, kesempurnaan hidupnya hanya dapat dicapai melalui perpindahannya dari tempat ia hidup di dunia ini, sehingga dengan demikian kematian adalah pintu menuju kesempurnaan, kebahagiaan, syurga yang abadi.”

Lalu Muhammad bin Ali (Al-Baqir) as berpendapat mengenai esensi kematian. Ia berkata: “Ali bin Husain suatu saat pernah ditanya mengenai hakikat kematian. Dia berkata: Bagi yang beriman (kematian itu) seperti melepas pakaian kotor yang dipenuhi serangga kecil seperti melepas pakaian kotor yang dipenuhi serangga kecil serta melepas rantai dan belenggu berat, kemudian menggantinya dengan pakaian paling mewah dan harum serta kendaraan dan rumah yang paling nyaman dan teduh. Bagi kafir, (kematian) ibarat melepas pakaian mewah dengan pakaian paling kotor, kasar, dan pindah dari rumah yang nyaman menuju rumah yang amat sepi serta siksa yang paling pedih.

Dahulu, Imam Muhammad bin Ali (Al-Baqir) as pernah ditanya, “Apakah kematian itu?” Ia menjawab, “Kematian adalah tidur yang kalian alami setiap malam. Hanya saja, yang ini waktunya berlangsung lama. Orang yang tertidur semacam ini baru akan terbangun di hari kiamat.” Hal ini selaras dengan Qs. az-Zumar (39) ayat 42:

“Allah memegang jiwa orang ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”

Jadi, esensi kematian adalah suatu keadaan yang menunjukkan keberlanjutan kehidupan. Ia tidak berarti musnah dan hilang, melainkan selalu hidup berlanjut dalam alam yang berbeda. Walaupun mati, kita tetap ada dan hidup, meski di alam yang berbeda. alam yang berbeda inilah yang sering disebut dengan alam barzakh. Sebuah alam medium antara alam dunia dan alam akhirat. Alam ini tentunya memiliki karakteristik dan keadaan yang berbeda dengan alam dunia.

Mulla Shadra mengungkapkan, “Kematian tidak berarti lenyapnya kehidupan. Kehidupan akan terus berlangsung karena kematian hanyalah proses alami pemisah antara kehidupan pada tingkat duniawi dengan kehidupan pada tingkat berikutnya.

Ada sebuah kisah dari Imam Ali. Suatu ketika, ia menjenguk salah seorang sahabatnya yang sedang sakit keras. Sahabatnya itu sungguh ketakutan dan gelisah karena kematian yang akan menjemput dirinya. Imam Ali dengan bijak berbicara kepadanya:

“Wahai sahabatku, sungguh kamu takut mati karena kamu tidak memahami dengan benar. Jika tubuhmu masih berlumuran tanah maka kamu akan merasa sakit, tidak bahagia dan dipenuhi dengan luka, dan kamu telah mengetahui bahwa mencuci di kolam pemandian akan menghilangkan semua kotoran dan rasa sakitmu, lantas apakah kamu tidak ingin membantu dirimu sendiri pergi ke kolam pemandian supaya kotoranmu menjadi bersih?”

Kemudian sahabat yang sedang sakit itu menjawab, “Wahai saudara Nabi, saya lebih memilih mencuci diri saya agar menjadi bersih.”

Imam Ali pun melanjutkan perkataannya, “Ketahuilah bahwa kematian itu adalah laksana kolam pemandian. Ia merepresentasikan kesempatan terakhirmu untuk membersihkan dirimu dari dosa, dan menyucikanmu dari sifat-sifat buruk. Jika kematian datang kepadamu sekarang, pasti kamu akan terbebas dari kesusahan dan rasa sakit, dan mencapai kebahagiaan serta kesenangan abadi.”

Mendengar perkataan imam Ali, sahabat itu berubah menjadi tenang dan bahagia. Bahkan ia menunggu moment-moment agar cepat bisa memandikan diri melalui kematian. Ia pun bertaubat dan berpasrah kepada Allah, kematiannya kian mendekat. Tak lama berselang, ia pun menghembuskan nafas terakhir. Dan ia pun menempati tempat tinggal abadi.

Jadi kematian sebenarnya adalah gerbang yang harus dilalui oleh setiap manusia bahkan oleh setiap makhluk dalam menuju kesempurnaannya.

Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat : bahwa kematian adalah pintu gerbang menuju alam akhirat ( alam keabadian ). Karena alam dunia sesuai dengan asal katanya yadhna yadhnu dunu yang berarti pendek dan dekat ini menunjukkan bahwa dunia bukan kampung keabadian. Karenanya semua kenikmatan apapun yang ada didunia ini tidak akan pernah sempurna dan penderitaan apapun didunia ini tidak akan pernah abadi.

(Ikmal-Online/STI)

0 komentar: