Minggu, 27 Desember 2015

Selintas Tentang Acara Safeh di Haram Suci Razavi


14 Rekal yang Terbuka

Acara pembacaan Al Quran ‘’Safeh’’ memiliki usia yang begitu lama sehingga mungkin catatan tentang kapan waktu pertama kali dimulainya acara ini tidak diketahui dan hilang ditelan debu sejarah.
Namun sebagian sejarawan percaya bahwa acara pembacaan Al Quran khusus di makam suci Imam Ridha as ini dimulai pasca kesyahidan beliau, yaitu lebih dari 12 abad lalu acara Safeh sudah digelar di bumi Khorasan. Akan tetapi tedapat juga sejumlah dokumen dan surat wakaf yang menununjukkan bahwa acara pembacaan Quran, Safeh di Haram Suci Razavi dimulai sejak tahun 1859 dan berlanjut hingga sekarang.
Tepat ketika Matahari terbit dan cahayanya menyinari Haram Suci Razavi, suara pembacaan Al Quran, Safeh pun terdengar. Setiap pagi, setengah jam setelah terbitnya matahari dan setiap malam segera setelah shalat Maghrib dan Isya.

Acara Safeh sebelumnya digelar di serambi Darul Hufaz, yaitu di serambi yang terletak di depan makam suci Imam Ridha as, akan tetapi sekarang acara itu digelar di serambi Darul Salam, sebuah serambi indah yang terletak di Tenggara Haram Suci Imam Ridha as dan di Timur Darul Hufaz.

Di awal acara sejumlah Farashan, pelayan bagian karpet (seluruh pelayan Haram Suci Razavi dibagi ke dalam empat kelompok, Hufaz, penghafal Quran, Farashan, bagian karpet, Darbanan, penjaga pintu dan Kafshdaran, penjaga penitipan sepatu) menyiapkan tempat digelarnya acara Safeh dan mengarahkan para peziarah untuk meninggalkan serambi Darul Salam. Sebelum acara dimulai, dengan penghormatan khusus, mereka membawa 14 rekal dan Al Quran langka berukuran besar ke tempat acara. Rekal-rekal dan Quran itu dibagi dua sama rata dan di bagian kiri serta kanan depan serambi Darul Salam diletakkan secara teratur dengan jarak yang sama.

Tujuh jilid Al Quran langka diletakkan di sebelah kanan dan tujuh lainnya di sebelah kiri, para pelayan Haram Suci Razavi juga meletakkan 14 lilin di depan setiap rekal. Semua Al Quran dan rekal dalam acara Safeh, dengan penghormatan khusus digunakan secara bergantian, seolah-olah cahaya secara bergilir berpindah-pindah tangan dan menyinari seluruh ruangan.

Salah seorang pelayan kemudian menyalakan lilin-lilin di dalam tempatnya. 14 pelayan memasuki Darul Salam dan masing-masing berdiri di belakang rekal. Para pelayan dan petugas karpet yang bertugas siang hari juga berdiri di sebelah kiri dan kanan dengan khusyu serta penuh penghormatan. Kepala para pelayan yang berugas hari ini, wakilnya dan para sayid (keturunan Nabi Muhammad Saw) berdiri di bagian atas serambi. Di depan setiap kepala pelayan diletakkan sebuah lilin terang yang terdapat di dalam tempat yang terang juga.

Semua Al Quran dibuka. Lilin-lilin mulai meleleh. 14 pria berpakaian warna biru tua berdiri dengan lututnya dengan penuh hormat di belakang rekal. Mereka adalah 14 qari dan penghafal Quran yang dikenal dengan Hufaz dan kedudukan ini mereka dapat secara turun temurun atau karena mendapat kehormatan. Mereka satu persatu menempati posisi di belakang rekal-rekal yang sudah terbuka. Para peziarah juga mengikuti acara dari jauh. Pembacaan Al Quran mulai terdengar. Seolah-olah situasi di sana membuat semua orang terbuai.

Dinding dan tembok serambi pun ikut melantukan ayat-ayat suci Al Quran. Kata-kata merdu memenuhi ruangan dan memanjakan setiap telinga yang mendengarnya. Hati semua orang sedikit demi sedikit bergetar dan mata mulai meneteskan air mata. Qari membaca Sadaqallahu Al Aliyil Adzim. Tangan-tangan kanan menempel di dada sebelah kiri, tempat jantung. Setiap penghafal Quran melantunkan satu bait syair 14 Orang Suci as atau 12 Imam as yang merupakan karya Khoja Nasiruddin Thusi, dengan suara tinggi, indah dan merdu.

Di saat membacakan syair 14 Masum as, semua Hufaz langsung berdiri ketika sampai pada nama Imam Ridha as, memberi hormat kepada Imam kemudian kembali duduk. Masing-masing Hufaz secara bergiliran melantunkan syair dan ketika tiba giliran, Hufaz itupun membacakan khutbah juga syair Imam. Ketika sampai pada bait 14 Imam Masum dan penjelasan nama suci Imam Mahdi af, kembali mereka berdiri.
Setelah selesai membacakan bait syair yang ke-14, khatib Hufaz membacakan khutbah khusus. Dengan berakhirnya acara, para pelayan Haram Suci Razavi bersujud syukur. Setelah itu kepala pelayan atau wakilnya mengumpulkan kembali Al Quran, rekal-rekal dan tempat-tempat lilin. Alat-alat itu dibawa secara bergilir dari tangan ke tangan dengan penuh hormat sampai ke ruangan khusus penyimpanan Quran di sebelah Tenggara serambi Darul Hufaz.

Acara Safeh dalam Dokumen Sejarah
Di dalam dokumen-dokumen sejarah tetulis, sekitar satu abad setengah lalu, seorang pria bernama Imam Vardikhan Bayat Mokhtari memulai tradisi pembacaan Al Quran, Safeh. Dalam sebuah surat wakaf ia menetapkan bahwa penghasilan yang diperoleh dari wakafnya digunakan untuk acara tersebut. Bayat Mokhtari juga menetapkan agar para pelayan Hufaz membacakan ayat-ayat suci Al Quran dan 12 bait tawasul Khoje Nasiruddin Thusi di serambi Tauhid Khane (salah satu serambi di Utara Haram Suci Razavi dan terletak di antara serambi Darul Feiz dan halaman Enghelab) setiap pagi dan malam.

(News-Aqr/STI)

0 komentar: